Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

JANGAN PANDANG MASA LALU NYA (BAGIAN 1)

JANGAN PANDANG MASA LALUNYA

JANGAN PANDANG MASA LALU NYA (BAGIAN 1) – Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di mata-Nya, namun adakala manusia ini melakukan kesalahan baik di sengaja ataupun tidak, dalam hal kecil maupun hal besar, Tidak ada manusia yang sempurna yang bebas dari kesalahan dan ujian yang menimpanya. Allah saja memaafkan hamba-Nya Ketika terjerumus ke dalam kesalahan jikalau hamba-Nya tersebut bertaubat dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulanginya lagi. Masa kita sebagai manusia Ketika ada teman, saudara, bahkan pasangan kita yang mempunyai masa lalu yang curam malah menjauhi bahkan sampai ada menjadikan ini ghibah dan sebagai bahan sindir menyindir dengan tujuan si pelaku tadi mengingat kisah masa lalunya, padahal Allah subhanahu wa ta’ala sudah menutupi aibnya didunia dan di akhirat serta mengampuni dosa-dosanya dengan taubatnya pendosa tersebut. Allah berfirman dalam Q.S At-Tahrim: 8

يَاأَيُّهَا الِّذِينَ آَمَنُوا تُوبُواإِلَى اللَّهِ تَوْبَةًنَصُوحًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (Q.S At-Tahrim: 8).

Dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nasuhaa) sebagaimana kata para ulama adalah:

  • Menghindari dosa untuk saat ini,
  • Menyesali dosa yang telah lalu,
  • Bertekad tidak mengulanginya lagi di kemudian hari,
  • Jika dosa itu berkaitan dengan hak sesama manusia maka ia harus menyelesaikannya terlebih dahulu.

Dulu ada sebuah kisah pada zaman rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al-Khudri, Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh Sembilan puluh Sembilan nyawa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Pertama, ia ditunjuki pada seorang rahib (pendeta). Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, jika seseorang telah membunuh Sembilan puluh Sembilan nyawa, apakah taubatnya diterima? Rahib pun menjawabnya, ‘orang yang seperti itu tidak diterima taubatnya.’lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah seratus nyawa yang telah ia bunuh.

Kemudian ia Kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut. ’jika ia telah membunuh seratus jiwa, apakah taubatnya diterima? Orang ‘alim itu pun menjawab. ‘ya masih diterima. Dam siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah subhanahu wa ta’ala, maka sembahlah Allah Bersama mereka. Dan janganlah kamu Kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.’

Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya , terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata ‘ orang ini datang dalam keadaan taubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah’ . namun malaikat azab berkata ‘ orang ini belum melakukan kebaikan sedikitpun’ lalau datanglah malaikat dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ’ukurlah jarak antara kedua tempat tersebut, jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.’ Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya, ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim, no.2766).

Faedah dari hadits ini:

Pertama:

luasnya ampunan Allah.

Hadits ini menunjukkan luasnya ampunan Allah. Hal ini dikuatkan dengan hadits lainnya dari Anas bin Malik, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَا لَ اللَّهُ يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَخَوْتَنِى غَفَرْ تُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ فِيْكَ وَلَاأُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْبَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَا لِى يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْأتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لَا تُشْرِكُ بِى شَيْأًلأَ تَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Allah berfirman (yang artinya), “wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya kau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi, no.3450. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini gharib. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kedua:

Allah akan mengampuni setiap dosa meskipun dosa besar hingga kekafiran selama mau bertaubat dengan taubat yang tulus.

Selain faedah dari hadis ini, kita dapat melihat pada firman Allah,

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“katakanlah: “hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri merek sendiri, janganlah kamu berputus sa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar:53).

Ketiga:

janganlah membuat seseorang putus asa dari rahmat Allah. Seperti pada QS. Az-Zumar: 53 barang siapa yang membuat orang berputus asa maka ia telah menentang kitabullah. akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat sampai Allah memberi taufik padanya untuk bertaubat.

Keempat:

seseorang yang melakukan dosa beberapa kali dan ia bertaubat, Allah pun akan mengampuninya.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang diceritakan dari Rabbnya,

ada seorang hamba yang berbuat dosa, lalu ia mengatakan.’Allahummagfirliy dzanbiy’[Ya Allah ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosanya dan menghukumi setiap perbuatann dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut  mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan .’Ay robbi agfirli dzanbiy’ [wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ’hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.” (HR. Muslim, no.2758).

Imam Nawawi dalam syarh shahih muslim mengatakan bahwa yang dimaksud “beramallah sesukamu” adalah selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.

Imam Nawawi juga mengatakan ‘seandainya seseorang berulang kali melakukan dosa hingga seratus kali, seribu kali atau lebih lalu ia bertaubat setiap kali berbuat dosa maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali ia bertaubat, dosa-dosanya pun akan gugur. Seandainya ia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah ia melakukan semua dosa tadi, taubatnya pun sah.” (syarh shahih muslim, 17:75).

Kelima:

diterimanya taubat seorang pembunuh.

Keenam:

orang yang bertaubat hendaknya berhijrah dari lingkungan yang jelek.

Imam Nawawi mengatakan.” Hadits ini menunjukkan orang yang ingin bertaubat dianjurkan untuk berpindah dari tempat ia melakukan maksiat.”

Ketujuh:

memperkuat taubat dengan cara berteman dengan orang yang saleh.

Imam Nawawii mengatakan.” Hendaklah orang yang bertaubat mengganti temannya dengan teman-teman yang baik, saleh, berilmu, ahli ibadah, punya sifat wara’, dan orang-orang yang meneladani mereka-mereka tadi. Hendaklah ia mengambil manfaat Ketika bersahabat dengan mereka.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita. Salam hadits disebutkan dari Abu Musa radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَشَلُ الْجَلِيْسِ الصَّا لحِ وَالْجَلِيْسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَا حِبِ الْمِسْكِ, وَكِيْرِ الْحَدَّادِ,لا َيَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ,أَوْتَجِدُرِيْحَهُ,وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْثَوْبَكَأوْتَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيثَةً

“seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik inyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya tidak enak.” (HR. Bukhari. No.2101)

Ibnu Hajar Al- Asqalani radhiyallahu anhu mengatakan,” hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberi manfaat dalam agama dan dunia.” (Fath Al-Bari, 4:324).

Kedelapan:

keutamaan ilmu dan orang yang berilmu.

Dalam hadits ini dapat kita ambil pelajaran pula bahwa orang yang berilmu memiliki keutamaan yang luar biasa dibanding ahli ibadah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya, dari Abu Darda’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَا لِمِ عَلَى الْعَا بِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَا ءِرِ الْكَوَاكِبِ

“Dan keutamaan orang yang berilmu dibanding seorang ahli ibadah adalah bagaikan keutamaan bulan pada malam purnama dibanding bintang-bintang lainnya.” (HR. Abu Daud, no. 3641, 2682).

Kesembilan:

orang yang berfatwa tanpa ilmu hanya membawa kerusakan.

Lihatlah kerusakan yang diperbuat oleh ahli ibadah yang berfatwa tanpa dasar ilmu. Ia membuat orang lain sesat bahkan kerugian menimpa dirinya sendiri. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin ‘Abdul ‘Aziz radhiyallahu anhu,

مَنْ عَبَدَاللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan.” Lihat Al-Amru bi Al-Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar, hlm.15, Mawqi’Al-Islam.

Jadi dari kisah di atas dapat kita simpulkan bahwa kita sebagai manusia harus menutupi aib saudara kita sendiri, bahkan Allah saja mengampuni dosa yang terus dilakukan berulang oleh hamba-Nya, namun Ketika seorang hamba mengingat dan ia tahu bahwa ia mempunyai Allah maka Allah hapuskan dosa-dosanya yang banyak tersebut. Karna seseorang tidaklah lepas dari sebuah dosa meski hanya sebiji Zahrah, dan sebagai muslim yang baik Ketika ada seseorang yang ingin melakukan dosa atau sudah melakukan dosa maka kita harus mengingatkan dan menasihati bukan malah menjauhinya. Karena hidayah itu datang dari mana saja, dan tingkat keshalihan seseorang bukan dilihat dari luar saja. Semoga kita bisa belajar dari kisah ini dan menjadi hamba-Nya selalu berdzikir agar terhindar dari perbuatan yang membawa celaka.

 

Diringkas dari buku: Jangan Pandang Masa Lalunya, Muhammad Abduh Tuasikal

Ditulis oleh: Marisa Daniati (pengajar PONPES DQH OKU TIMUR)

“Jangan Pandang Masa Lalu nya”
“Jangan Pandang Masa Lalu nya”
“Jangan Pandang Masa Lalu nya”

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.