Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Didiklah Anakmu Sekalipun Ia Telah Menikah

didiklah anakmu sekalipun ia telah menikah

Didiklah Anakmu Sekalipun Ia Telah Menikah – ALHAMDULILLAH WASSHALATUWASSALAM ‘ALA RASULILLAH, Ammaba’du. Segala puji Hanya Milik Allah Subhanahu Wata’ala yang masih melimpahkan Rahmat-Nya dan hidayah-Nya sehingga kita bisa melakukan aktivitas keseharian kita, Shalawat beserta salam kita sanjungkan kepada utusan Allah yaitu Nabi Muhammad, beserta para sahabat, istri-istri beliau dan keluarga beliau dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.

Kaum muslimin Rahimakumullah, mendidik Anak tidak hanya ketika dia masih kecil Saja akan tetapi sesudah anak kita menikah pun kita harus mendidik mereka, baik itu mendidik mereka dalam berumah tangga dan masih banyak didikan-didikan lainya.

Mendidik Anak Tak Terputus Setelah Anak Menikah

Terkadang orang tua merasa lepas dari tanggung jawab menasihati anaknya ketika anak sudah menikah. Ini adalah kesalahan. Karena anak, dimanapun dia berada tetap berharap bimbingan dan nasihat dari orang tuanya, terutama anak perempuan yang kurang akal dan agamanya, walaupun dia sudah lama menikah, apalagi anak yang baru menikah, tentu akan menghadapi dengan masalah keluarga yang belum pernah di alami sebelumnya. Perhatikan kisah yang sangat mulia, bagaimana Rasulullah mendidik putri-Nya sudah menikah, dan bagaimana sikapnya terhadap menantunya tatkala terjadi perselisihan dalam rumah tangga mereka.

Sahl bin Sa’d Radhiyallahu Anhu berkata, “Tidak ada nama julukan yang paling di sukai Ali selain Abu turab, dan dia sangat senang apabila di panggil dengan nama tersebut, suatu ketika Rasulullah datang ke rumah Fatimah, namun beliau tidak menjumpai Ali di rumahnya. Beliau bertanya, ‘Di manakah sepupumu?’ Fatimah menjawab,  ‘sebenarnya di antara saya dan dia ada masalah, malah dia memarahiku. Setelah itu, ia keluar dan enggan beristirahat siang di sini.’ Rasulullah bersabda kepada seseorang, ‘Lihatlah, dimanakah dia berada!’ Kemudian, orang tersebut datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sekarang dia tengah tidur di masjid.’ Setelah itu Rasulullah mendatangi Ali saat dia sedang berbaring, sementara kain selendangnya jatuh dari lambungnya hingga banyak debu yang tertempel di badannya. Kemudian Rasulullah mengusapnya seraya berkata, ‘bangunlah, Abu turab! Bangunlah abu turab!” (HR. al-bukhari: 430)

Inilah kebaikan beliau sebagai orang tua yang senantiasa memperhatikan putrinya. Walaupun putrinya sudah menikah, beliau sering mengunjungi rumah putrinya. Tatkala beliau di laporkan oleh putrinya, bahwa dia ada  masalah dengan suaminya, beliau berlaku lembut kepada putrinya, tidak memancing masalah baru, dan beliau mencari menentunya. Apa yang di lakukan oleh beliau ketika menantunya tidur di masjid? Disuruhnya bangun dengan kata yang lembut, dan beliau membersihkan kain selendang menantunya yang jatuh terkena debu. Beginilah seharusnya mertua berbuat baik kepada anak dan menantunya, agar tetap terjalin hidup mawaddah warohmah.

Membantu Menantu Berarti Berbuat Baik Kepada Anak

Tidaklah diingkari bahwa ketika anak menikah, beban orang tua menjadi ringan. Karena ketika anak sudah menikah, kedua pasangan suami istri akan saling membantu dalam semua urusan. Namun dalam kehidupan berkeluarga, tentu anak yang baru menikah tidak lepas dari kekurangan dan Problema, sebagaimana orang tua pada masa mudanya, bahkan ketika sudah lanjut usia. Karena manusia memang punya sifat kekurangan dan butuh bantuan.

Tatkala orang tua berbuat baik dan mau membantu menantunya, tentu menantu sangat berbahagia, karena merasa dibantu urusan hidupnya. Itu akan menjadi sebab dia berbuat baik kepada istri dan anaknya. Membantu menantu bisa dengan harta. Jika orang tua memiliki kelebihan harta, ikut memecahkan persoalan keluarganya, memudahkan urusan pekerjaannya, atau menyayangi cucunya. Rasulullah senantiasa mencintai dan memperhatikan keadaan cucunya, dan berbuat baik lainnya.

Jadilah  Mertua Yang Baik

Tatkala anak kita bermasalah dengan menantu, maka sebaiknya orang tua segera terjun menyelami keadaan anak dan menantunya, dan tidak terburu buru menyalahkan menantu serta membela anaknya. Apalagi anaknya perempuan yang biasanya kurang akal dan kurang ibadahnya. Bahkan bila mungkin, selalu menasihati anaknya, karena orang yang membantu keluarga di tengah kesulitan, Allah akan mudahkan urusannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ومن يسر على معسر يسرالله عليه في الدنيا والأخرة ومن ستر مسلما ستره الله في الدنيا والأخرة والله في عون العبد ماكان العبد في عون أخيه

Artinya: “Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membalaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan Akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di akhirat. Allah akan selalu menolong hambanya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim.” (HR. muslim: 7028)

Jika kita harus berbuat baik kepada sesama muslim karena mereka saudara kita seiman, maka bagaimana dengan menantu yang telah berbuat baik kepada anak kita? Bukankah kita harus berbuat lebih baik kepadanya?

Perhatikan kisah mertua, Ulia yang senantiasa berbuat baik kepada mantunya di bawah ini. Abu bakar dan Umar, tatkala putrinya, yaitu Aisyah binti abu bakar dan Hafshah binti Umar ada masalah, menuntut belanja yang tidak di punyai Rasulullah, dua orang tua ini tidak membela anaknya dan tidak memarahi menantunya, tetapi menasihati putrinya dengan kata sindiran yang berarti membuat gembira menantu mereka, yaitu Rasulullah.

Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma berkata: “Abu bakar berkunjung ke rumah Rasulullah, lalu dia minta izin masuk. Tiba-tiba Abu bakar melihat orang-orang duduk di muka pintu rumah Rasulullah tanpa ada seseorang pun yang di izinkan masuk.” Jabir berkata, “Kemudian Abu bakar di persilahkan masuk, lalu ia masuk. Setelah itu Umar menyusul di persilahkan masuk. Umar mendapati Nabi sedang duduk di kerumuni oleh istri-istri beliau. Nabi tampak murung dan tidak berkata-kata.” Kata jabir, “kemudian Umar berkata; Aku akan mengucapkan sesuatu yang bisa membuat Nabi tertawa.’ Umar berkata, ‘Rasulullah, seandainya engkau melihat anak perempuan Kharijah menuntut belanja yang berlebihan kepada saya, maka saya akan berdiri mendekatinya, lalu saya pegang lehernya.’ Lalu Rasulullah tertawa, kemudian berkata, ‘mereka para istriku mengerumuniku sebagaimana yang engkau lihat. Semuanya menuntut belanja yang mewah dariku.’ Mendengar itu, Abu bakar berdiri dan mendekati Aisyah, kemudian memegang leher Aisyah. Umar pun berdiri mendekati Hafshah. Kemudian berkata, ‘kalian meminta dari Rasulullah sesuatu yang beliau tidak miliki?! Katakanlah, ‘Demi Allah, kami tidak akan meminta kepada Rasulullah sesuatu yang tidak beliau miliki, selamanya!’ kemudian Rasulullah menghindari istri-istri beliau selama satu bulan atau 29 hari, lalu turunlah ayat berikut (artinya), ‘Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu…’sampai firman-Nya,’…bagi siapa yang berbuat adil di antaramu pahala yang besar.’ (QS al ahzab: 28-29) kata jabir,’ Lalu Rasulullah mulai memberikan penawaran kepada Aisyah. Beliau bertanya, ‘Aisyah, sesungguhnya aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu. Aku harap kamu pikirkan dengan matang, sehingga kamu  meminta pendapat kedua orang tuamu.’ Aisyah bertanya, ‘tawaran apa itu wahai Rasulullah? Rasulullah kemudian membacakan ayat  tersebut kepada Aisyah, Aisyah menjawab,’ ya Rasulullah, tidak mungkin saya meminta saran kedua orang tua saya ,mengenai engkau. Saya mohon kepada engkau agar tidak memberitahukan jawaban ini kepada istri-istri engkau yang lain.’ Rasulullah menjawab, ‘siapa pun  dari istri-istriku yang menanyakan jawabanmu kepadaku, pasti aku akan memberitahukannya, karena Allah tidaklah mengutusku untuk memberikan kesusahan, melainkan Allah mengutusku untuk memberikan petunjuk yang memudahkan. (HR. Muslim: 3763)

Ayyuhal ikhwan, hendaknya bagi kita para pemuda memilih calon mertua yang baik agamanya dan akhlaknya sehingga mudah bagi kita untuk mendidik istri-istri kita dengan bantuan mertua kita, jika mertua kita orang yang tidak memiliki agama yang cukup dan tidak memiliki akhlak yang mulia, mana mungkin permasalahan anak dan menantu bisa di selesaikan dengan baik? Tetapi sebaiknya, jika kedua orang tua pasutri  adalah orang yang mengikuti ajaran Rasulullah, insya Allah akan hilang ketegangan dan beralih dengan perdamaian dan kesejukan hati setelah kesedihan.

Semoga Allah senantiasa memberkahi hidup kita agar menjadi orang yang selalu berbuat baik kepada Anak dan menantu, dan di kumpulkan di kampung-Nya yang mulia. Amin.

 

referensi:

MAJALAH MAWADDAH MENUJU KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WAR ROHMAH [VOL.79]

Peringkas:  RAHMAT HIDAYAT

 

BACA JUGA :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.