Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Bodoh Tapi Pintar Menyesatkan

Oleh Ust. Brilly El-Rashed

Walaupun ilmu pengetahuan dan teknologi terus saja berkembang pesat dan cepat, tidak ada jaminan manusia menjadi semakin pintar. Boleh saja disebut ahli jika dikaitkan dengan ilmu-ilmu dunia. Di balik itu, pintar yang sejati adalah dalam ilmu-ilmu din (agama) yang itu juga bersangkut paut dengan ilmu qolbu.


Coba saja, banyak orang yang mendalam pengetahuannya tentang ekonomi, kedokteran, sains, politik, sosial, budaya dan sebagainya, tapi untuk urusan bagaimana mendidik anak agar menjadi sholih saja mereka tidak ahli, bagaimana membina rumah tangga yang samara juga tidak banyak yang ia pahami, bagaimana mengelola harta waris yang sesuai kehendak Alloh pun kosong sama sekali, dan seterusnya.
Hal ini karena ukuran pintar yang hakiki adalah menurut pandangan Alloh, yaitu pintar dalam ilmu syariat. Dari Abu Huroiroh, Rosululloh n berkata,
إنَّ اللهَ تَعَالَى يَبْغَضُ كُلُّ عَالِمٌ بِالدُّنْيَا جَاهِلٌ بِالآخِرَةِ
“Sesungguhnya Alloh Yang Mulia membenci setiap orang yang pintar urusan dunia tapi bodoh urusan akhirat.” (Shohih Al-Jami’ no. 1879)
Di akhir zaman kelak, dan mungkin sudah sedari sekarang kita rasakan, akan banyak orang-orang bodoh soal syari’at. Nabi bersabda,
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَ يُثْبَتَ الْجَهْلُ
“Diantara tanda-tanda qiyamah: Diangkatnya ilmu, dan kokohnya (banyaknya) kejahilan”. (Shohih Al-Bukhori no. 80; Shohih Muslim no. 2671)
Nabi n bersabda,
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ الْعِلْمُ
“Sesungguhnya di depan hari qiyamah ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat”. (Shohih Al-Bukhori no. 6654)
Nabi n bersabda,
يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ
“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah (masalah), diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan. (Shohih Al-Bukhori no. 989; Shohih Muslim no. 157)
Mungkin kita sudah merasakan hal ini. Tapi ternyata ulama terdahulu sudah merasakannya jauh sebelum kita. Salah satunya dikeluhkan oleh Ibnu Baththol, Semua yang dikandung oleh hadits ini berupa tanda-tanda qiyamah sungguh kami telah melihatnya dengan mata kepala. Ilmu sungguh telah diangkat, kejahilan muncul, diletakkannya penyakit rakus dalam qolbu, fitnah (musibah) merata, dan pembunuhan banyak. (Lihat Fat-h Al-Bari 13/16)
Yang perlu kita sadari, hilangnya ilmu itu bukan dengan tiba-tiba, dimusnahkan oleh Alloh. Melainkan Alloh mentaqdirkan kematian yang segera bagi orang-orang yang pintar ilmu syari’at. Nabi bersabda,
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُسًا جُهَّالًا فُسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا
“Sesungguhnya Alloh tidak mengangkat ilmu dengan sekali mencabutnya dari manusia. Akan tetapi Alloh mencabut ilmu dengan mematikan para ulama sehingga apabila Alloh tidak menyisakan lagi seorang ulamapun, maka manusiapun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka (para pemimpin tsb) ditanyai, lalu merekapun memberikan fatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (manusia). (Shohih Al-Bukhori no. 100; Shohih Muslim no. 2673)
An-Nawawi berkata, “Hadits ini menjelaskan maksud tercabutnya ilmu dalam hadits-hadits lalu yang mutlak (umum), bukan menghapusnya dari dada para penghafal (pemilik) ilmu itu. Akan tetapi maknanya, para pembawa ilmu itu (yakni para ulama) akan mati. Lalu manusia mengangkat orang-orang jahil (sebagai pemimpin dalam agama). Orang-orang jahil itu memutuskan perkara berdasarkan kejahilan-kejahilannya. Lantaran itu ia sesat, dan menyesatkan orang”. (Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim ibnu Al-Hajjaj 16/224, cet. Dar Ihya` At-Turats Al-Arobi)
Inilah yang dimaksud oleh Rosululloh, dalam kesempatan lain, bahwa orang-orang yang bodoh terhadap ilmu syari’at akan dijadikan panutan atau pemimpin yang menjawab problematika kehidupan dengan memposisikan diri sebagai orang yang pintar padahal bodoh. Rosululloh berkata,
إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ الْأَئِمَّةَ الْمُضِلُّوْنَ
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan atas umatku adalah pemimpin kesesatan.” (Shohih: Shohih Al-Jami’, no. 1551)
Seperti yang kita saksikan di akhir zaman ini, telah menjamur sikap taqlid yang membabi buta. Keengganan untuk mengkaji ilmu syar’i secara mendalam, membuat banyak manusia akhirnya lebih memilih untuk pasrah, sendiko dawuh, sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat) kepada orang-orang yang dianggap alim terhadap syariat Islam. Orang-orang yang disebut-sebut sebagai ulama pewaris para nabi. Padahal orang-orang itu centang perenang pemahamannya terhadap syariat Alloh.
Sikap inilah yang kemudian melahirkan banyak pemimpin yang merasa dirinya dijadikan panutan, yang kemudian memimpin berdasarkan kebodohan, bukan dengan ilmu, dan pada klimaksnya para pengikutnya terjerumus pada kesesatan. Mereka itulah para pemimpin kesesatan. Fenomena inilah yang ditakutkan oleh Rosululloh terjadi pada umatnya semenjak dahulu.
Dan ekses selanjutnya adalah kebaikan dikatakan sebagai keburukan, keburukan diyakini sebagai kabaikan, sunah dituduh sebagai bid’ah, bid’ah dipercayai sebagai sunah. Islam pun tertutupi dan akhirnya di akhir zaman menjelang qiyamah kelak tidak akan tersisa kecuali kalimat La ilaha illalloh.
Nabi Muhammad berkata,
يَدْرُسُ اْلاِسْلاَمُ كَمَا يَدْرُسُ وَثْىُ الثَّوْبِ. حَتّٰى لاَيُدْرٰ مَاصِيَامُ وَلاَصَلاَةٌ وَلاَ نُسْكٌ وَلاَ صَدَقَةٌ، وَلَيُسْرٰى عَلٰى كِتَبِ اللهِ عَزَّوَجَلَّ فِى لَيْلَةٍ فَلاَ يَبْقٰى فِى اْلاَرْضِ مِنْهُ اٰيَةٌ وَيَبْقٰى طَوَاءِفُ مِنَ النَّاسِ اَشَّيْخُ الْكَبِيْرُ وَلْعَجُوْزُ، يَقُالُوْنَ اَدْرَكْنَا اٰبَاعَنَا عَلٰى هٰذِهِ الْكَلِمَةِ لاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ فَنَحْنُ نَقُوْلُهَا
“(Kelak) Islam akan mengalami kelunturan seperti lunturnya batik baju, sehingga tidak diketahui lagi apa itu shalat, puasa, ibadah dan shadaqah. Dan Al-Quran sungguh akan dibawa pergi, sehingga tak ada satupun yang tersisa di muka bumi ini. Golongan manusia yang tersisa adalah Kakek dan Nenek. Mereka berkata, Kami mendapatkan kalimat seperti ini dari nenek moyang kami. La ilaha illalloh, karena itu kami mengucapkannya. (Shohih: Sunan Ibnu Majah no. 4049. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah no. 87)
Lebih dahsyat lagi jika orang-orang bodoh yang dijadikan pemimpin itu di dalam qolbunya bercokol kemunafikan yang sangat parah. Nabi Muhammad berkata,
أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيْمِ اللِّسَانِ
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah semua orang munafiq yang pandai berbicara (bersilat lidah).” (Shohih: Shohih Al-Jami’, no. 239, 1554, 1556; Ash-Shohihah no. 1013)
Dalam Faidh Al-Qodir 1/286-Shamela, Al-Munawi menyebutkan tafsiran munafiq yang pandai berbicara adalah munafiq yang pandai ilmu syari namun ia menolak syariat dengan lisannya, rusak qolbunya, perusak aqidah, menipu manusia.
Al-Munawi menambahkan, munafiq yang pandai bicara adalah yang banyak ilmu komunikasinya, tapi rusak qolbu dan amalnya, mengambil ilmu untuk berbangga-bangga, untuk mencari kehormatan, mengajak manusia kepada Alloh, tapi ia sendiri lari dari Alloh, mencela air orang lain tapi ia sendiri melakukannya bahkan yang lebih tercela lagi, menampakkan diri di hadapan manusia sebagai hamba yang ahli ibadah.
Kemudian Al-Munawi menukil peringatan yang disampaikan oleh Az-Zamakhsyari, orang-orang munafiq itu lebih buruk kekufurannya dan lebih dibenci Alloh Yang Mulia dan paling dimurkai oleh-Nya oleh sebab pergumulan mereka dengan kekufuran. Az-Zamakhsyari lantas menyitir firman Alloh, Sesungguhnya orang-orang munafiq itu berada di tingkatan neraka paling dasar. (QS. An-Nisa`: 145). (Faidh Al-Qodir 2/531-Shamela)
Penjelasan yang disampaikan Al-Munawi ini benar-benar terjadi di zaman ini, yaitu lahirnya orang-orang liberalis, sekuleris, dan pluralis. Kita akui, mereka adalah orang-orang yang sedikit lebih jeli dibanding kita dalam mengkaji nash-nash syari. Mereka juga mengkaji kitab-kitab tafsir, hadits, fiqih, dan lainnya.
Tapi, sayang seribu sayang, seandainya mereka takut kepada Alloh, niscaya mereka tidak akan menggunakan ilmu yang mereka himpun untuk mengobrak-abrik fiqih yang dipegang teguh umat Islam. Mereka seolah-olah dibantu oleh setan-setan untuk menemukan celah dalam syariah Islam sehingga mereka dapat menggelincirkan dan menyesatkan pemahaman kaum muslimin.
Kita berdoa kebaikan untuk mereka, yaitu semoga Alloh menjadikan mereka bertaubat kembali kepada Islam yang diajarkan pertama kali oleh Rosululloh yang disyarah (dijelaskan) oleh para ulama yang benar-benar ulama. Kita jangan tergesa-gesa mendoakan keburukan bagi mereka. Kecuali jika mereka telah menjelek-jelekkan Islam dan kaum muslimin.

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.