Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

40 NASIHAT MEMPERBAIKI RUMAH TANGGA (1)

40 nasihat memperbaiki rumah tangga - 01

40 NASIHAT MEMPERBAIKI RUMAH TANGGA (1) – Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, kita memuji-Nya serta memohon pertolongan dan ampunan dari-Nya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wata’ala dari kejahatan nafsu-nafsu kita dan dari kejahatan perbuatan kita. Barangsiapa ditunjuki oleh Allah Subhanahu Wata’ala, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala maka tak seorangpun yang bisa menunjukinya. Sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada nabi akhir zaman Muhammad, para ahli bait beliau dan para sahabat-sahabat beliau radiallahu ‘anhum ajmain.

Rumah Adalah Nikmat

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَاللهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوْتِكُمْ سَكَنَ

Artinya: “Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.”[1]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan kesempurnaan nikmat-Nya atas hambanya, dengan apa yang Dia jadikan bagi mereka berupa rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka. Mereka kembali kepadanya, berlindung, dan memanfaatkannya dengan berbagai macam manfaat.”[2]

Banyak sekali kegunaan rumah bagi seseorang ia adalah tempat makan, tidur, istirahat, dan berkumpul dengan keluarga, isteri dan anak-anak, juga tempat melakukan kegiatan yang paling pribadi dari masing-masing anggota keluarga.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِى بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُوْلَى

Artinya: “Dan hendaklah kamu tetap dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.”[3]

Jika kita merenungkan keadaan orang-orang yang tidak memiliki rumah, yakni orang-orang yang hidup di pengasingan, di emper-emper jalan serta para pengungsi yang terusir di perkemahan-perkemahan sementara, niscaya kita memahami benar nikmatnya ada di rumah.

Tentu kita terenyuh dan haru mendengar orang yang misalnya dia mengatakan, “Saya tidak punya tempat tinggal tetap, terkadang saya tidur di rumah si Fulan, terkadang di kedai kopi, kebun atau pantai, lemari bajuku ada di dalam mobil.” Dengan demikian kita pun akan memahami makna keberserakan karena tidak memiliki tempat tinggal atau rumah.

Ketika Allah Subhanahu Wata’ala menyiksa orang-orang Yahudi Bani Nadhir, Allah Subhanahu Wata’ala mengambil dari mereka nikmat rumah ini, Allah Subhanahu Wata’ala mengusir mereka dari kampung halaman mereka. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

هُوَ الَّذِى أَخْرَجَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ

Artinya: “Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung pada saat pengusiran pertama kali.”[4]

Kemudian Firman-Nya,

يُخْرِبُوْنَ بُيُتَهُمْ بِأَيْدِيْهِمْ وَأَيْدِى الْمُؤْمِنْيْنَ فَاعْتَبِرُوْا يَأُوْلِى الْأَبْصَارِ

Artinya: “Mereka memusnahkan rumah-rumah kampung mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”[5]

Yang Mendorong Seorang Muslim Memperhatikan Ishlah (Perbaikan) Rumahnya

  1. Menjaga diri dan keluarga dari api Neraka Jahanam dan selamat dari siksanya yang menyala-nyala.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”[6]

  1. Besarnya tanggung jawab yang dibebankan terhadap pemimpin rumah di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala pada hari perhitungan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَ اللهَ تَعَالَى سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ، أَحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَهُ، حَتَّى يُسْأَلَ الرَّجُلُ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ.

Artinya: “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya.”[7]

  1. Rumah adalah tempat menjaga diri dan keselamatan dari berbagai kejahatan dan menolak dari bahaya manusia lain; rumah adalah tempat perlindungan ketika terjadi fitnah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

طُوْبَى لِمَنْ مَلَكَ لِسَانَهُ وَوَسِعَهُ بَيْتُهُ وَبَكَى عَلَى خَطِيْئَتِهِ

Artinya: “Beruntunglah orang yang mengusai lisannya, dan rumahnya melapangkannya, serta menangisi kesalahannya.”[8]

Dan beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

خَمْسٌ مَنْ فَعَلَ وَاحِدَةً مِنْهُنَّ كَانَ ضَامِنَا عَلَى اللهِ، مَنْ عَادَ مَرِيْضًا، أَوْ خَرَجَ غَازِيًا، أَوْ دَخَلَ عَلَى إِمَامِهِ يُرِيْدُ تَعْزِيْرَهُ، أَوْ قَعَدَ فِى بَيْتِهِ فَسَلِمَ النَّاسُ مِنْهُ وَسَلِمَ مِنَ النَّاسِ.

Artinya: “Lima hal yang barangsiapa mengerjakan salah satu darinya, maka ia akan mendapat jaminan dari Allah. Yaitu: Orang yang menjenguk orang sakit, orang yang pergi berperang, atau orang yang masuk (menemui) pemimpinnya dengan maksud memuliakan dan menghormatinya, atau ia duduk di rumahnya sehingga orang-orang selamat dari (gangguannya) dan ia selamat dari (gangguan) mereka.”[9]

Dan beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

سَلَامَةُ الرَّجُلِ فِى الْفِتْنَةِ أَنْ يَلْزَمَ بَيْتَهُ.

Artinya: ”Keselamatan seseorang dalam kerusuhan/musibah yaitu ketika ia senantiasa mendiami rumahnya.”[10]

Orang Muslim akan merasakan faidah ini ketika ia dalam keadaan terasing, saat ia tidak bisa mengubah kemungkaran-kemungkaran yang ada, maka dia memiliki tempat berlindung ketika kembali ke rumahnya. Rumah itu akan menjaga dirinya dari perbuatan dan pandangan yang dilarang, menjaga istrinya dari tabarruj (pamer kecantikan dan hiasan), serta menjaga anak-anaknya dari teman-teman yang jahat.

  1. Sesungguhnya sebagian besar manusia menggunakan waktunya di dalam rumah, terutama pada musim hujan, permulaan dan akhir siang, ketika selesai dari kerja atau sekolah, karena waktu-waktu tersebut semestinya digunakan dalam ketaatan, jika tidak, tentu akan habis untuk melakukan hal-hal yang dilarang.

Ini yang terpenting, bahwa perhatian terhadap rumah merupakan sarana yang paling besar untuk membangun masyarakat muslim. Karena sebuah masyarakat terdiri dari rumah-rumah. Rumah-rumah adalah unsur dasar suatu perkampungan dan perkampungan-perkampungan itu adalah masyarakat. Jika unsur dasarnya baik, niscaya akan kuatlah masyarakat kita dengan hukum-hukum Allah Dan beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, tegar dalam menghadapi musuh-musuh Allah Dan beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, memancarkan kebaikan, dan tidak menimbulkan kejahatan.

Dari sebuah rumah yang Islami akan lahir penopang-penopang perbaikan bagi masyarakat, berupa da’i-da’i teladan, penuntut ilmu, mujahid yang sesungguhnya, istri shalihah, ibu pendidik dan unsur pembangun kebaikan lainnya. Jika sedemikian penting problem tersebut, sementara rumah-rumah kita penuh dengan kemungkaran dan kelalaian, meremehkan, dan melampaui batas, maka dari sini timbul tanda tanya besar:

APA SAJA SARANA-SARANA UNTUK MEMPERBAIKI RUMAH TANGGA?

 

Nantikan serial artikel berikutnya.

 

Sumber:

40 Nashihatun Li Ishlaahil Buyuuti, karya: Syaikh DR. Muhammad bin Shalih al-Munajjid.

Diringkas oleh : Fadwa Ummu Ashfa Fadiyah (Staf Pengajar di Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

[1] Q.S An Nahl: 80

[2] Tafsir Ibnu Katsir, cet. Dar asy Sya’bi, 4/509.

[3] Q.S Al Ahzab: 33

[4] Q.S Al Hasyr: 2

[5] Q.S Al Hasyr: 2

[6] Q.S At Tahrim: 6

[7] Hadits Hasan, diriwayatkan oleh an Nasa’i dalam ‘Isyrah an-Nisa, no. 292 dan Ibnu Hibban dari Anas dan tercantum dalam Shahih al-Jami’, no. 1775; ash-Shahihah, no. 1636

[8] Hadits Hasan, diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Tsauban dan terdapat dalam Shahih al-Jami’, no. 3824

[9] Hadits riwayat Ahmad, (5/241) dan hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib, no. 3471

[10] Hadits Hasan, diriwayatkan oleh ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dari Abu Musa; dan hadits ini tercantum dalam Shahih al-Jami’, no. 3543 dan lafazh ini tercantum dalam as-Sunnah milik Ibnu Abi ‘Ashim, no. 1021. Dalam takhrijnya dikatakan, “Hadits ini shahih.”

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.