Skip to content

Ujian Hidup Adalah Bukti Cinta Allah

ykkokut
11 menit baca
ujian hidup adalah bukti cinta Allah

Ujian Hidup Adalah Bukti Cinta Allah – Allah menciptakan kehidupan di dunia sebagai tempat ujian bagi seluruh manusia. Tidak seorang pun dapat menghindari ujian, baik berupa kesenangan maupun kesulitan. Ada yang diuji dengan kesehatan, ada yang diuji dengan penyakit, ada yang diuji dengan kekayaan, dan ada pula yang diuji dengan kemiskinan. Sebagian orang diuji dengan kehilangan orang yang dicintai, sedangkan yang lain diuji dengan keberhasilan, kedudukan, dan kemuliaan. Semua itu merupakan bentuk ujian yang telah Allah tetapkan sesuai dengan hikmah-Nya.

Manusia sering mengira bahwa musibah merupakan tanda kemurkaan Allah, sedangkan kenikmatan merupakan bukti bahwa Allah meridhainya. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam Islam, nikmat maupun musibah sama-sama merupakan ujian. Perbedaannya terletak pada bagaimana seorang hamba menyikapi ujian tersebut. Orang yang bersabar ketika mendapatkan musibah dan bersyukur ketika memperoleh nikmat termasuk orang-orang yang berhasil dalam ujian hidupnya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya: “Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tujuan diciptakannya kehidupan bukan sekadar mencari kesenangan dunia, tetapi sebagai sarana ujian. Allah tidak menilai siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling tinggi kedudukannya, melainkan siapa yang paling baik amalnya. Amal yang baik ialah amal yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Ujian merupakan sunnatullah yang berlaku bagi seluruh manusia tanpa memandang status sosial, usia, maupun kedudukannya. Bahkan para nabi dan rasul yang merupakan manusia pilihan Allah juga menghadapi ujian yang sangat berat. Nabi Nuh عليه السلام berdakwah selama ratusan tahun tetapi hanya sedikit yang beriman. Nabi Ibrahim عليه السلام dibakar hidup-hidup oleh kaumnya, diperintahkan meninggalkan keluarganya di padang pasir yang tandus, kemudian diperintahkan menyembelih putranya yang sangat dicintai. Nabi Yusuf عليه السلام dimasukkan ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara tanpa kesalahan. Nabi Ayyub عليه السلام diuji dengan penyakit yang sangat lama hingga kehilangan harta dan keluarganya. Rasulullah sendiri menghadapi berbagai bentuk gangguan, penghinaan, pemboikotan, peperangan, hingga kehilangan orang-orang yang beliau cintai.

Hal ini menunjukkan bahwa ujian bukanlah tanda rendahnya kedudukan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, semakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar pula ujian yang mungkin diberikan kepadanya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Artinya: “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa ridha maka baginya keridhaan Allah, dan barang siapa murka maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. At-Tirmidzi No. 2396).

Hadis tersebut menjadi dalil yang sangat jelas bahwa ujian dapat menjadi tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. Allah menghendaki kebaikan bagi orang-orang yang beriman dengan cara membersihkan dosa-dosa mereka, meningkatkan kualitas iman, mengangkat derajat mereka, serta mempersiapkan pahala yang besar di akhirat.

Selain itu, Allah telah menegaskan bahwa setiap manusia pasti akan menghadapi berbagai bentuk ujian selama hidup di dunia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat ini menunjukkan bahwa ujian merupakan kepastian yang tidak dapat dihindari. Allah menyebutkan beberapa bentuk ujian yang umum dialami manusia, seperti rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan anggota keluarga, serta berkurangnya hasil usaha. Semua itu merupakan bagian dari ketetapan Allah yang mengandung hikmah besar bagi orang-orang yang mau bersabar dan mengambil pelajaran.

Dalam ayat tersebut Allah juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran merupakan kunci utama dalam menghadapi setiap ujian. Kesabaran bukan berarti menyerah terhadap keadaan, melainkan tetap teguh menjalankan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan, dan menerima ketetapan-Nya dengan hati yang lapang sambil terus berusaha mencari jalan keluar yang halal.

Orang yang memahami hakikat ujian tidak akan mudah berprasangka buruk kepada Allah. Ia menyadari bahwa setiap musibah mengandung hikmah yang mungkin belum mampu dipahami saat itu juga. Oleh karena itu, seorang mukmin akan terus memperbaiki dirinya, memperbanyak istighfar, meningkatkan ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Ujian juga menjadi pembeda antara orang yang benar-benar beriman dan orang yang hanya mengaku beriman. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka belum diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur dan benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 2–3).

Ayat ini menegaskan bahwa keimanan bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan harus dibuktikan melalui keteguhan hati ketika menghadapi berbagai ujian. Orang yang benar imannya akan tetap istiqamah dalam ketaatan meskipun menghadapi berbagai kesulitan, sedangkan orang yang lemah imannya mudah berpaling ketika musibah menimpanya.

  • Hikmah Ujian dalam Kehidupan Seorang Muslim

Setiap ketetapan Allah mengandung hikmah yang sempurna, meskipun tidak seluruhnya mampu dipahami oleh akal manusia. Demikian pula dengan ujian yang diberikan kepada hamba-Nya. Seorang mukmin meyakini bahwa tidak ada satu pun musibah yang terjadi secara sia-sia. Semua berada dalam ilmu, kehendak, dan hikmah Allah. Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk bersabar, berbaik sangka kepada Allah, serta terus berusaha memperbaiki diri ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Salah satu hikmah terbesar dari ujian adalah untuk meningkatkan kualitas keimanan seorang hamba. Keimanan bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui kesabaran, keteguhan, dan ketaatan kepada Allah dalam berbagai keadaan. Ketika seseorang mampu tetap menjalankan salat, menjaga akhlak, memperbanyak zikir, dan tidak meninggalkan syariat meskipun berada dalam kesulitan, maka keimanannya akan semakin kuat.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal Allah belum mengetahui siapa di antara kamu yang berjihad dan siapa yang bersabar.” (QS. Ali ‘Imran: 142).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa jalan menuju surga bukanlah jalan yang mudah. Allah menguji hamba-Nya agar tampak siapa yang benar-benar sabar, istiqamah, dan tetap berpegang teguh kepada agama-Nya.

Hikmah berikutnya adalah agar seorang hamba senantiasa mengingat Allah. Ketika manusia berada dalam kenikmatan yang berlimpah, tidak sedikit yang lalai dalam beribadah. Mereka merasa cukup dengan kekuatan, harta, ilmu, maupun kedudukan yang dimiliki. Akan tetapi, ketika musibah datang, manusia akan menyadari bahwa tidak ada tempat bergantung selain kepada Allah. Kesadaran inilah yang menjadi sebab bertambahnya ketakwaan dan kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Selain itu, ujian juga mengajarkan pentingnya sifat tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang maksimal. Seorang mukmin memahami bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah, sehingga ia tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kegagalan maupun kesulitan.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Talaq: 3).

Ayat ini memberikan ketenangan kepada setiap muslim bahwa pertolongan Allah akan selalu menyertai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Oleh sebab itu, ujian seharusnya tidak menjadikan seseorang semakin jauh dari Allah, tetapi justru semakin mendekat kepada-Nya.

Hikmah lainnya ialah melatih kesabaran. Kesabaran merupakan salah satu akhlak yang paling utama dalam Islam. Tanpa kesabaran, seseorang akan mudah mengeluh, marah, bahkan menyalahkan takdir ketika mendapatkan musibah. Sebaliknya, orang yang bersabar akan memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Ayat tersebut menunjukkan besarnya kedudukan orang yang sabar. Allah tidak menyebutkan batas tertentu bagi pahala mereka, yang menunjukkan bahwa balasan bagi kesabaran sangat besar dan tidak dapat dihitung oleh manusia.

Rasulullah Subhanahu Wata’ala juga bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

Artinya: “Barang siapa berusaha untuk bersabar, niscaya Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari No. 1469 dan Muslim No. 1053).

Hadis ini menjelaskan bahwa kesabaran merupakan karunia yang sangat agung. Kesabaran bukan hanya sifat bawaan, tetapi juga dapat dilatih melalui usaha yang sungguh-sungguh. Semakin sering seorang mukmin menghadapi ujian dengan penuh kesabaran, maka Allah akan menambah kekuatan hatinya.

Di samping itu, ujian juga mengajarkan manusia agar tidak terlalu mencintai kehidupan dunia. Dunia bersifat sementara, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal. Musibah mengingatkan manusia bahwa semua kenikmatan dunia dapat hilang kapan saja sesuai kehendak Allah. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya menjadikan dunia sebagai tempat beramal, bukan tujuan utama kehidupannya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: “Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kenikmatan dunia hanyalah sementara. Ujian yang dialami seorang mukmin akan terasa ringan apabila ia selalu mengingat bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan di akhirat.

Dengan memahami berbagai hikmah tersebut, seorang muslim tidak akan memandang ujian sebagai hukuman semata. Ia akan menyadari bahwa setiap musibah mengandung pelajaran, penghapus dosa, peningkatan derajat, penguat iman, serta jalan untuk semakin dekat kepada Allah. Sikap seperti inilah yang akan menjadikan seorang mukmin mampu menghadapi berbagai ujian dengan hati yang tenang, penuh harapan kepada rahmat Allah, dan tetap istiqamah dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.

  • Bentuk-Bentuk Ujian yang Allah Berikan kepada Manusia

Allah memberikan ujian kepada setiap hamba dalam bentuk yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah, karena Dia lebih mengetahui keadaan, kemampuan, serta kebutuhan setiap hamba-Nya. Ada orang yang diuji dengan kesulitan, sementara yang lain diuji dengan kemudahan. Ada yang diuji melalui kekurangan, sedangkan yang lain diuji melalui kelimpahan nikmat. Seluruh bentuk ujian tersebut bertujuan untuk melihat bagaimana seorang hamba menyikapinya, apakah dengan kesabaran, rasa syukur, atau justru dengan keluh kesah dan kemaksiatan.

Salah satu bentuk ujian yang sering dialami manusia adalah ujian berupa rasa takut. Rasa takut dapat muncul karena berbagai sebab, seperti ancaman terhadap keselamatan, kekhawatiran akan masa depan, kehilangan pekerjaan, ataupun keadaan yang tidak menentu. Islam mengajarkan agar seorang mukmin menghadapi rasa takut dengan memperkuat keimanan, memperbanyak doa, dan bertawakal kepada Allah. Ketenangan hati hanya akan diperoleh apabila seseorang yakin bahwa seluruh urusan berada dalam kekuasaan Allah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat tersebut menjelaskan beberapa bentuk ujian yang umum dialami manusia. Pertama adalah rasa takut, yang dapat menguji keteguhan iman seseorang. Kedua adalah kelaparan atau kesulitan ekonomi yang menguji kesabaran dan tawakal. Ketiga adalah berkurangnya harta benda, yang menguji sejauh mana seseorang tetap bersyukur dan tidak berputus asa. Keempat adalah kehilangan jiwa, baik karena wafatnya orang yang dicintai maupun musibah lainnya. Kelima adalah berkurangnya hasil usaha atau rezeki yang menguji keteguhan hati seorang mukmin.

Bentuk ujian lainnya adalah kesehatan dan penyakit. Kesehatan merupakan nikmat yang sangat besar, tetapi banyak manusia yang baru menyadari nilainya ketika sakit. Penyakit dapat menjadi sarana penghapus dosa, peningkatan derajat, sekaligus pengingat agar manusia lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya, kesehatan juga merupakan ujian, karena seseorang akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana ia memanfaatkan nikmat tersebut untuk beribadah dan melakukan kebaikan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari No. 6412).

Hadis ini menunjukkan bahwa kesehatan bukan hanya nikmat, tetapi juga amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Orang yang menggunakan kesehatannya untuk beribadah, menuntut ilmu, dan beramal saleh termasuk orang yang berhasil memanfaatkan nikmat tersebut dengan baik.

Selain itu, kekayaan dan kemiskinan juga merupakan ujian. Sebagian orang mengira bahwa orang kaya pasti dicintai Allah, sedangkan orang miskin pasti tidak mendapatkan kasih sayang-Nya. Anggapan tersebut tidak benar. Kekayaan dapat menjadi ujian yang lebih berat daripada kemiskinan apabila tidak disertai rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama. Sebaliknya, kemiskinan dapat menjadi sebab tingginya derajat seseorang apabila dihadapi dengan kesabaran dan tetap menjaga kehormatan diri.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۝ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ۝ كَلَّا

Artinya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak.” (QS. Al-Fajr: 15–17).

Ayat tersebut menegaskan bahwa kelapangan rezeki bukan ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah, demikian pula kesempitan rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya merupakan ujian yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Bentuk ujian berikutnya adalah keluarga. Anak, pasangan, dan kerabat merupakan nikmat yang sangat besar, tetapi pada saat yang sama juga menjadi ujian. Seorang muslim dituntut untuk mendidik keluarganya di atas ajaran Islam, menjaga mereka dari kemaksiatan, serta memenuhi hak-hak mereka dengan baik. Apabila keluarga justru melalaikan seseorang dari mengingat Allah, maka hal tersebut menjadi ujian yang harus dihadapi dengan penuh kebijaksanaan.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya harta bendamu dan anak-anakmu hanyalah ujian, sedangkan di sisi Allah terdapat pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15).

Ayat ini mengingatkan bahwa kecintaan kepada keluarga tidak boleh mengalahkan kecintaan kepada Allah. Seorang mukmin harus mampu menempatkan seluruh nikmat yang dimilikinya sebagai sarana untuk semakin mendekat kepada Allah, bukan sebaliknya.

Dengan memahami berbagai bentuk ujian tersebut, seorang muslim akan menyadari bahwa setiap keadaan yang dialaminya merupakan bagian dari ketetapan Allah. Baik kesulitan maupun kemudahan sama-sama membutuhkan sikap yang benar, yaitu bersabar ketika ditimpa musibah, bersyukur ketika memperoleh nikmat, serta senantiasa bertawakal kepada Allah dalam setiap keadaan.

REFERENSI:

Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. 2010. Jawaban bagi Orang yang Sabar. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’.

Diringkas Oleh : Tiara Aulia Sari, Santriwati Pengabdian Pondok Pesantren Darul Qur’an wal Hadits OKU Timur.

Baca juga artikel:

Dosaku Terlalu Banyak

Tanda-Tanda Kiamat

Bagikan:

Artikel Terkait

dosaku terlalu banyak
Muhasabah 18/09/2026

Dosaku Terlalu Banyak

Dosaku Terlalu Banyak – Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat-Nya kepada kita, dan karena nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Saat ini, umat Islam berada di bulan Zulhijah, namun sering kali sepuluh hari awal bulan Zulhijah ini tidak dirayakan semarak bulan Ramadan. Jarang sekali terdengar ucapan selamat memasuki sepuluh awal Zulhijah. Padahal, […]

betapa pentingnya waktu seri lanjutan
Muhasabah 20/05/2026

Betapa pentingnya waktu (Seri lanjutan)

Betapa pentingnya waktu (Seri lanjutan) – Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam Dialah rabb satu-satunya yang berhak untuk di ibadahi dan kami bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu alaihi wasallam adalah utusan Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Pada artikel kali ini, in syaa Allah kita akan melanjutkan pembahasan tentang urgensi waktu, tentang betapa pentingnya waktu itu. […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map