Year: 2022

  • Fenomena Ghuluw

    Fenomena Ghuluw

    FENOMENA GHULUW

    Bismillahirahmannirrohim, segala puji dan syukur kita kehadirat Allah subhanahu wataala yang dengan rahmat-Nya lah kita masih diberi nikmat sehat dan waktu luang serta kesempatan untuk bisa menuntut ilmu syari dan mendalami kaidah-kaidah fiqh serta mengikuti sunnah-sunnah Nabi.

    Sikap ghuluw (melampaui batas atau berlebih-lebihan) dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Banyak sekali dalil al quran dan sunnah yang memperingatkan dan mengharamkan ghuluw atau sikap melampaui batas tersebut.

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُه وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رَاكِعُوْنَ

    Artinya: “Katakanlah:”hai ahli  kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.“ (QS. Al-ma’idah /5: 77).

    Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata: “pada pagi hari di mudzalifah ketika itu Rasulullah berada diatas ontanya, beliau berkata padaku: “Ambillah beberapa buah batu untukku” maka akupun mengambil tujuh buah batu untuk beliau yang akan digunakan melempar jumrah. Kemudian berkata:

    أَمْثَالَ هَؤُلاَءِ فَارْمُوْا ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

    Artinya: “Lemparlah dengan batu seperti ini “ kemudian beliau melanjutakan: “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama. (shahih, HR. Ibnu Majah (3029))

    BEBERAPA ISTILAH UNTUK SIKAP BERLEBIH-LEBIHAN DALAM AGAMA

    Ada beberapa ungkapan lain yang digunakan oleh syariat selalin ghuluw ini, diantaranya:

    -Tanaththu’ (Sikap ekstrim).

    Abdullah bin mas’ud Radhiyallahu Anhu meriwayatkan dari Rasulullah beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    هلك  المتنطعون

    Artinya: “Celakalah orang-orang yang ekstrim”  beliau mengucapkanya tiga kali.” (HR. Muslim)

    -Tasyadud (Memberat-bertakan diri).

    Anas bin malik meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ

    Artinya: “Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah membertkan diri mereka,  lalu Allah memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (kerahiban) padahal kami tidak mewajibkanya atas mereka.” (HR. Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtaroh (2692))

    Dalam hadits lain pula Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ

    Artinya: “Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tiada seorang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah (gagal). (shahih, HR. Nasa’i (5049))

    -I’tida’ (melampaui ketentuan syariat).

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

    Artinya: “Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-baqarah /2: 190).

    Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

    تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

    Artinya: “Itulah batasan-batasan hukum Allah, maka janganlah kalian melampauinya.” (Qs al-baqarah/2: 187)

    -Thakalluf (memaksa-maksa diri).

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

    Artinya: “Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan,” (QS. As-Shad/38: 86)

    SEBAB MUNCULNYA SIKAP GHULUW

    Sebab-sebab munculnya sikap ghuluw ini bermacam-macam, diantaranya:

    1. Ketidaktahuan dalam agama. Ini meliputi ketidaktahuan terhadap tujuan inti syariat islam dan kiadah-kaidahnya serta kebodohan dalam memahami nash-nash al quran dan sunnah. Sehingga kita lihat sebagian pemuda yang memiliki semangat akan tetapi masih dangkal pemahaman dan ilmunya terjebak dalam sikap ghuluw ini.
    2. Taqlid (ikut-ikutan). Taqlid hakikatnya adalah kebodohan. Termasuk diantaranya adalah mengikuti secara membabi-buta adat istiadat manusia yang bertentangan dengan syariat islam serta mengikuti tokoh-tokoh adat yang menyesatkan. Kebanyakan sikap ghuluw dalam agama yang berlaku ditengah-tengah masyarakat berpangakal oleh sebab ini.
    3. Mengikuti hawa nafsu. Timbangan hawa nafsu ini adalah akal dan perasaan. Sementara akal dan perasaan tanpa bimbingan wahyu akan bersifat liar dan keluar dari batasan-batasan syariat.
    4. Berdalil dengan hadits-hadits lemah dan palsu. Hadits-hadits lemah dan palsu tidak bisa dijadikan sandaran hukum syar’i. dan pada umumnya hadits-hadits tersebut dikarang dan dibuat-buat bertujuan menambah semangat beribadah atau untuk mempertebal sebuah keyakinan sesat.

    BENTUK-BENTUK GHULUW

    Secara garis besar, ghuluw ada tiga macam: dalam keyakinan, perkataan dan amal perbuataan.

    Ghuluw dalam bentuk keyakinan misalnya sikap berlebih-lebihan terhadap para malaikat, nabi dan orang-orang shalih dengan meyakini mereka sebagai tuhan. Atau meyakini para wali dan orang-orang shalih dan sebagai orang-orang yang ma’shum (bersih dari dosa). Contohnya adalah keyakinan orang-orang syi’ah rafidhoh terhadap ahli bait dan keyakinan orang-orang sufi terhadap orang-orang yang mereka anggap wali.

    Ghuluw dalam bentuk ucapan misalnya, puji-pujian yang  berlebihan terhadap seseorang, doa-doa dan dzikir-dzikir bid’ah, misalnya puji-pujian kaum sufi terhadap Nabi dan wali-wali mereka, demikian dzikir-dzikir mereka yang keluar dari ketentuan syari’at. Contoh lainya adalah menambah-nambahi doa dan dzikir, misalnya menambah kata sayyidina dalam sholawat Nabi (didalam shalat).

    Ghuluw dalam bentuk amal perbuatan misalnya mengikuti was-was dalam bersuci atau ketika hendak bertakbiratul ihram, sehingga kita dapati seseorang berulang-ulang berwudhu’ karena mengikuti was-was. Demikian seseorang yang berulang-ulang bertakhbiratul ihram karena belum sesuai niatnya.

    Sebenarnya, ada satu jenis ghuluw lagi yang perlu diwaspadai yaitu ghuluw dalam semangat. Jenis ini biasanya merasukii para pemuda yang memiliki semangat keagamaan yang berlebih-lebihan akan tetapi dangkal pemahaman agamanya. Sehingga mereka jatuh dalam sikap sembrono dalam menjatuhkan vonis kafir, fasik dan bid’ah.

    VIRUS GHULUW

    Virus ghuluw ini biasanya Diawali dengan sesuatu yang sepele namun dalam waktu singkat akan digandrungi sehingga kemudian meluas. Orang-orang yang bersikap ghuluw dalam agama akan berbicara tentang Allah tanpa kebenaran, tentang agama tanpa ilmu, sesingga akhirnya mereka sesat dan menyesaykan orang lain dari jalan  yang lurus. Sikap ghuluw inilah yang merupakan penyebab munculnya seluruh penyimpangan dalam agama, demikian juga penyimpangan dalam sikap dan perbuatan.

    Islam telah menentang semua perkara yang mengarah kepada sikap ghuluw. Semoga Allah merahmati Syaikhul islam ibnu taimiyah yang berkata: “Agama Allah adalah agama pertengahan, antara sikap exstrim (berlebih-lebihan) dan sikap meremehkan (terlalu longgar),”

    Kesimpulanya ,kita harus menjauhi segala macam bentuk ghuluw dalam agama, baik berupa keyakinan, ucapan maupun perbuatan yang diatas namakan agama. Dan hendaknya kita juga harus waspada jangan sampai tergelincir dalam sikap tasqhir. Disamping itu, janganlah sembrono dan serampangan dalam menilai ‘ghuluw’ tanpa ilmu.

    Penulis : Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

    Referensi : buku as-sunnah EDISI 04/THN.XIII/RAJAB 1430H/JULI 2009M

    Peringkas : RICO MUZAKKI

    Jabatan : Pengabdian

    Baca juga artikel:

    Kerinduan Salafush Shalih Mengharapkan Surga

    Orang Yang Kebingungan

  • Kerinduan Salafush Shalih Mengharapkan Surga

    Kerinduan Salafush Shalih Mengharapkan Surga

    Kerinduan Salafush Shalih Mengharapkan Surga

    Seringkali kita ingin mendapatkan sesuatu yang terbaik dan berharga,baik itu berupa pelayanan, barang, pakaian,makanan dan yang lainnya. Dan untuk itu, kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan seperti apa yang kita inginkan.

    Demikian juga tatkala seseorang menginginkan surga, dia harus bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.

    Kalau untuk mendapatkan kenikmatan kenikmatan dunia butuh perjuangan dan usaha, maka untuk meraih surga di butuhkan semangat serta usaha yang jauh lebih besar karena Rasulullah  telah mengabarkan bahwa surga adalah barang dagangan Allah yang mahal dan barang siapa ingin mendapatkannya maka ia harus berusaha, Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    من خاف أدلج ومن أدلج بلغ المنزل، ألا إن سلعة الله غالية ألا إن سلعة الله غالية

    Artinya: Barang siapa yag takut maka dia akan mulai perjalanan di awal malam, dan barang siapa yang berjalan dari awal malam pasti akan sampai tujuan, ketahuilah barang dagangan Allah mahal, dan ketahuilah barang dagangan Allah adalah surga”. (HR. At tirmidzi. No: 2450/552)

    Nikmat surga lebih baik dari nikmat dunia, kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang abadi namun kehidupan yang suatu saat pasti akan berakhir. Begitu pula kenikmatan yang ada di dalamnya bukanlah kenikmatan yang sempurna dan abadi.

    AllahSubhanahu Wata’ala  berfirman:

    وما الحياة الدنيا إلا لعب ولهو وللدار الاخرة خير للذين يتقون أفلا تعقلون

    Artinya: “Dan tidaklah kehidupan dunia melainkan hanya permainan dan senda gurau dan negeri akhirat lebih baik bagi orang orang yang bertakwa, tidakkah mereka berfikir” .  (QS. Al-an’am: 32).

    Setelah Allah menyebutkan nikmat dunia yang yang sangat di cintai seseorang, Allah menyebutkan bahwa nikmat surga lebih baik bagi orang orang yang bertakwa: “Katakanlah: “maukah aku kabarkan kepada kalian apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”Untuk orang orang yang bertakwa(kepada Allah), pada sisi tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri istri yang disucikan serta keridaan Allah. Dan  Allah maha melihat akan hamba hamba-Nya.” (QS. Ali imron: 14)

    Oleh karena itu ketika Rasulullah  di berikan pilihan antara kehidupan dan kenikmatan dunia atau kehidupan dan kenikmatan akhirat, beliau lebih memilih akherat. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Abu sa’ad Al khudri bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah duduk di atas mimbar lalu bersabda:

    إن عبدا خيره الله بين أن يؤتيه من زهرة الدنيا ماشاء بين ما عنده فاختارماعنده

    Artinya: “Seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara di berikan perhiasan dunia yang ia inginkan atau diberikan apa yang di sisi allah, maka beliau memilih apa yang ada di sisi Allah”. (HR. Ibnu Hibban (686))

    Dan yang di maksud hamba di atas adalah Rasulullah.Dan itu berarti ajal beliau sudah dekat karena beliau memilih akherat dan meninggalkan dunia.

    Namun diantara kita lebih tertipu dengan kenikmatan dunia dan melupakan nikmat Allah yang kekal dan abadi. Hal itu setidaknya terlihat dari dua hal:

    Pertama: Gemar mengumpulkan dunia dan memperbanyaknya, sehingga luput dari banyak ibadah dan keutamaan yang bisa membawa kita ke surga Allah.

    Kedua: Sedikitnya usaha dan amal ibadah yang di lakukan sebagai bekal untuk mendapatkan surga Allah.

    Gambaran surga banyak di sebutkan di dalam Al-qir’an dan hadist hadist Rasulullah. Cukuplah kita melihat satu hadist yang menyebutkan nikmat yang di dapatkan oleh seorang mukmin yang paling terakhir masuk surga, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:”Sesungguhnya aku aku mengetahui penghuni neraka yang paling terakhir keluar dari neraka dan penghuni surga yang paling terakhir masuk kedalam surga, yaitu seorang yang keluar dari neraka dengan merangkak. Kemudian Allah berkata kepadanya: “Pergilah dan masuklah kedalam surga!. Kemudian orang tersebut mendatangi surga dan di perlihatkan kepadanya surga telah penuh, kemudian ia kembali dan mengatakan : Ya rabbi! Aku mendapatkan surga telah penuh. Maka allah berkata kepadanya:”Pergilah dan masuklah kamu kedalam surga! Kemudian orang tersebut mendatangi surga dan diperlihatkan surga sudah penuh,kemudian ia kembali dan mengatakan : Ya rabbi aku mendapati surga telah penuh. Maka Allah berkata kepadanya:” Pergilah dan masuklah kedalam surga maka kamu akan mendapakan yang semisal dengan dunia dan sepuluh kali lipat (dari nikmat dunia) atau untukmu sepuluh kali lipat dari dunia. Rasulullah berkata:” Kemudian orang itu berkata : Ya Allah! Apakah engkau menghinaku atau mentertawakanku sementara engkau adalah Maha Raja! Berkata Ibnu Mas’ud : Sungguh aku melihat Rasulullah  tertawa sampai terlihat gigi serinya, beliauberkata: itulah penghuni surga  yang paling rendah drajatnya. (HR. Muslim).

    Kalau yang terakhir masuk surga mendapatkan sepuluh kali lipat dari kenikmatan dunia, bisa kita bayangkan orang yang masuk surga lebih dahulu tentu akan mendapatkan yang lebih dari yang di sebutkan di dalm hadist di atas.

    Kalau demikian gambaran nikmat yang di peroleh penghuni surga maka sangat pantas apabila mereka di dunia bersungguh-sungguh di dalam beribadah, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam banyak ayat tentang kesungguhan mereka dalam beribadah, di antaranya beberapa ayat berikut ini:

    والذين يبتون لربهم سجدا وقياما

    Artinya: “Dan orang yang memulai malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka”. (QS. al-furqan: 63).

    كانوا قليلا من الليل ما يهجعون وبالأسحار هم يستغفرون

    Artinya: “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, Dan di waktu sahur mereka memohon ampunan(kepada Allah)”. (QS.  Adz-dzariat: 17-18).

    تتجافی جنوبهم عن المضاجع يدعون ربهم خوفا وطمعا ومما رزقناهم ينفقون

    Artinya: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian rezeki yang kami berikan kepada mereka”.(QS. As-sajadah: 16).

    Mereka jauh dari tempat tidur karena malam hari melakukan shalat malam dan sedikit tidur.

    أمن هو قانت آناء الليل ساجداوقائمايحذر الاخرة ويرجو رحمة ربه

    Artinya: “Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu waktu malam dengan bersujud dan berdiri,sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?”.  (QS. Az-zumar: 9).

    Semua ayat diatas dengan semua penjelasan yang berkaitan dengannya menunjukkan kesungguhan mereka untuk mendapatkan sura Allah. Mereka memperbanyak ibadah dan amalan sholeh kepada Allah, menghabiskan malam malam mereka dengan khusyuk’ beribadah kepada Allah diringi dengan rasa takut kepada adzab neraka dan mengharap keridoan serta surga Allah.

    Contoh kesabaran seorang wanita menahan sakit untuk mendapatkan surga. Semangat serta kesabaran para sahabat Rasulullah dalam beramal tidak di dominasi oleh kaum peria laki laki saja, tetapi dari kaum sahabat wanita juga. Seperti yang di kisahkan dalam shahih muslim dari hadist Abdullah bin Abbas, bahwa Atho’ bin Abi Robbah Rahimahullah berkata:

    “Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata: “Maukah aku tunjukkan sorang wanita penghuni surga? Aku berkata : Tentu, berkata Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma: “Seorang wanita berkulit hitam, ia mendatangi Rasulullah dan berkata: Sesungguhnya aku kerasukan jin dan pakaiyanku tersingkap ketika kumat, maka mohonkanlah kepada Allah untuk kesembuhanku! Rasulullah  berkata : “Jika engkau sabar maka engkau akan mendapatkan aurga, dan jika engkau ingin aku akan memohon kepada Allah untuk menyembuhkanmu”

    Perempuan itu mengatakan: Aku akan sabar, tetapi pakaiyanku tersingkap maka mohonlah kepada Allah agar pakaiyanku tidak tersingkap lagi. Maka Rasulullah  berdo’a untuknya.

    Lihatlah kesabaran seorang wanita untuk mwnahan rasa sakit yang berkepanjangan. Namun keinginannya untuk mendapatkan surga menjadikannya bisa sabar dari penderitaan yang tentu tidak seentar.

    Tapi lihat di aiai lain, ia tidak suka pakaiyannya tersingkap sehingga akan nampak auratnya, padahal hal tersebut tanpa kesengajaannya, ini sangat bertentangan dengan kebanyakan wanita zaman ini yang dengan sengaja tanpa rasa malu menggunakan pakaiyan yang sangat jelas memperlihatkan aurat dan bentuk tubuhnya, padahal ancaman Rasulullah  kepada wanita yang berpakaiyan yang tidak menutupi autratnya dengan sempurna sangatlah keras:

    “Ada golongan penghuni neraka yang belum pernah saya lihat,                                                                                                                              pertama : Suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi,dengannya mereka memukul manusia, kedua: Wanita yang berpakaiyan tapi telanjang, berjalan dengan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang bergoyang, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya sementara baunya bisa di cium dari jarak sekian dan sekian”. (HR. Muslim, no. 149).

    Kita berdo’a kepada Allah semoga kita menjadi lebih semangat untuk meraih surga Allah dengan semakin memperbaiki dan memperbanyak ibadah kepada Allah.

    Dan semoga Allah memasukkan kita kedalam surgaNya, yang tertinggi yaitu surga firdaus sertabmengumpulkan kita bersama Bapak Ibu kita, saudara saudara kita dan semua kaum muslimin di dalam Surga, Sesungguhnya Allah maha mendengarkan do’a dan mengabulkannya. Aamiin… Wallahu ta’ala a’lam.

    Refrensi:

    Kerinduan & Semangat salafus shalih meraih surga

    Majalah Lentera Qalbu, edisi 4 tahun 2015

    Diringkas oleh: Budi Abu Yazid (Pegawai Ponpes DQH)

    Baca juga artikel:

    Sikap Musyrikin Terhadap Rasulullah

    Bertaqwa Kepada Allah

  • Sikap Musyrikin Terhadap Rasulullah

    Sikap Musyrikin Terhadap Rasulullah

    Sikap Kaum Musrikin Terhadap Rasulullah

    Beragam penindasan terhadap kaum muslimim di awal tahapan dakwah yang kedua yakni dakwah secara terang-terangan semakin menjadi hingga akhirnya merekapun lakukan itu kepada Rasulullah sendiri, yang mana  Rasulullah kala itu tidaklah mengalami siksaan yang sedemikian.  Beliau adalah orang yang terhormat, berwibawa dan sosok yang langka.  Baik kawan maupun lawan semuanya segan dan mengagungkannya.  Setiap orang yang berjumpa dengannya, pasti akan menyambutnya dengan rasa hormat dan pengagungan.  Tidak seorangpun yang berani melakukan perbuatan tak senonoh dan perbutan buruk lainya terhadap beliau selain manusia manusia kerdil dan picik.  Terlebih lagi, beliau juga mendapatkan perlindungan dari pamannya, Abu Thalib, yang merupakan tokoh yang diperhitungkan di Makkah, terpandang nasabnya dan disegani orang.  Oleh karena itu, amatlah sulit bagi seseorang untuk melecehkan orang yang sudah dalam perlindungannya.  Kondisi ini tentu amat mencemaskan kaum quraisy dan membuat mereka terjepit sehingga tidak dapat berbuat banyak

    Hal ini, memaksa  mereka untuk memikirkan secara jernih jalan keluarnya tanpa harus berurusan dengan tapal larangan yang bila tersentuh akan berakibat tidak baik.  Problem tersebut malah memberi inspirasi bagi mereka untuk memilih jalan berunding dengan sang sesepuh terbesar, Abu Thalib.  Akan tetapi tentunya dengan lebih banyak melakukan pendekatan secara hikmah dan ekstra tegas, disisipi dengan trik menantang dan ultimatum terselubung sehingga dia mau tunduk  dan mendengarkan apa yang mereka katakan.

    Ibnu Ishaq Rahimahullah berkata, “sekelompok tokoh bangsawan kaum quraisy menghadap Abu Thalib, lalu berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Thalib! Sesungguhnya keponakanmu telah mencaci tuhan-tuhan kita, mencela agama kita, menganggap kita menyimpang dan menganggap nenek kita menyimpang dan menganggap nenek moyang kita sesat.  Karenanya, engkau hanya punya dua alternatif: mencegahnya atau membiarkan kami dan dia menyelesaikan urusan ini.  Sesungguhnya kondisimu adalah sama seperti kami, tidak sependapat dengannya, oleh karena itu kami berharap dapat mengandalkanmu dalam menghentikannya.

    Abu Thalib berkata kepada mereka dengan tutur kata yang lembut dan menjawabnya dengan jawaban yang halus dan baik.  Setelah itu merekapun akhirnya undur diri.  Sementara itu, Rasulullah tetap melakukan aktivitas seperti biasanya:  menampakan agama Allah dan mengajak manusia kepadanya.[1]

    Akan tetapi, orang-orang quraisy tidak dapat berlama-lama sabar manakala melihat Rasulullah terus melakukan aktivitas dan dakwahnya.  Bahkan hak itu semakin membuat mereka mempersoalkan dan saling memprovokasi.  Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk menghadap Abu Thalib sekali lagi.  Kali ini, dengan cara yang lebih kasar dan keras daripada sebelumnya.

    Para pemuka kaum quraisy Kembali mendatangi Abu Thalib seraya berkata kepadanya, “wahai Abu Thalib! Sesunggguhnya usia, kebangsawanan dan kedudukanmu bernilai di sisi kami.  Dan sesungguhnya pula, kami telah memintamu menghentikan polah keponakanmu itu, namun engkau tidak mengindahkannya.  Demi Allah, sesungguhnya kami tidak sabar lagi atas perbuatanya mencela nenek moyang kami, menganggap kami sesat dan mencemooh tuhan-tuhan kami, kecuali jika engkau mencegahnya sendiri atau kami yang akan membuat perhitungan dengannya dan denganmu sekaligus setelah itu,  kita lihat siapa diantara dua pihak ini yang akan binasa.”

    Ancaman dan ultimatum yang keras tersebut dirasakan berat oleh Abu Thalib, karenanya dia menyongsong Rasulullah seraya berkata kepadanya, “Wahai keponakanku! Sesungguhnya kaummu telah mendatangi dan mengatakan ini dan itu kepadaku.  Maka, kasihanilah aku dan dirimu juga.  Janganlah engkau membebaniku dengan sesuatu yang tak mampu aku lakukan!”

    Rasulullah mengira bahwa dengan ini, pamannya telah menghentikannya dan tak mampu lagi melindungi dirinya, maka beliau pun menjawab, “wahai pamanku! Demi Allah, andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya,” beliau mengungkapkannya dengan berlinang air mata dan tersedu,  lalu berdiri dan meninggalkan pamannya, namun pamannya memanggilnya dan tatkala beliau menghampirinya, dia berkata kepadanya, “pergilah wahai keponakanku! Katakanlah  apa yang engkau suka demi Allah,  sekali kali aku tidak akan pernah menyerahkanmu kepada siapapun![2]

    Lalu dia merangkai beberapa untai bait puisi (artinya),

    Demi Allah! Mereka semua tidak dapat menjamahmu

    Hingga aku mati berkubang tanah

    Sampaikanlah dengan lugas urusanmu, tiada cela bagimu.

    Karenanya bergembiralah kamu dan bersuka citalah[3]

    Tatkala kaum Quraisy melihat Rasulullah masih melakukan aktivitasnya, tahulah mereka bahwa Abu Thalib tak beringinan untuk menghentikan pembelaannya pada Rasululah dan hatinya telah bulat untuk memisahkan diri dan memusuhi mereka.  Maka sebagai upaya untuk membujuknya, mereka mambawa Imarah bin Al-Walib bin Al-Mughirah ke hadapannya seraya berujar, “Wahai Abu Thalib! Sesungguhnya ini adalah seorang pemuda yang paling gagah dan tampan di kalangan kaum quraisy!  Ambilah dia dan engkau boleh menjadi penanggung jawab dan pembelanya.  Jadikanlah dia sebagai anakmu, maka dia jadi milikmu.  Lalu serahkan kepada kami keponakanmu yang telah menyelisihi agamamu dan agama nenek moyangmu itu, mencerai beraikan persatuan kaummu dan menganggap sesat kaum cendekiawan mereka agar kami dapat membunuhnya,  ini adalah barter antar manusia dengan manusia diantara kita.“

    Abu Thalib menjawab, “Demi Allah! Sungguh tawaran kalian tersebut sesuatu yang murahan! Apakah kalian ingin memberikan kepadaku anak kalian ini agar aku memberinya makan demi kalian, sementara aku memberikan ana ku untuk kalian bunuh? Demi Allah! Ini tidak akan pernah terjadi”

    Al-Muth’im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf berkata, “Demi Allah, wahai Abu Thalib! Kaummu telah berbuat adil terhadapmu dan berupaya untuk membebaskanmu dari hal yang tidak engkau sukai.  Jadi, apa sebabnya aku lihat engkau tidak mau menerima sesuatu dari tawaran mereka?”

    Dia manjawab, “Demi Allah! Kalian bukannya berbuat adil terhadapku, akan tetapi engkau telah bersepakat menghinakanku dan mengkonfrontasikan dengan kaum quraisy.  Karenanya, lakukakanlah apa yang ingin kalian lakukan!”[4]

    Manakala kaum quaraisy gagal dalam perundingan tersebut dan tidak berhasil membujuk Abu Thalib untuk mencegah Rasulullah dan menghentikan dakwahnya kepada Allah, maka merekapun memutuskan untuk memilh Langkah yang sebelumnya mereka berupaya untuk mereka hindari dan mereka jauhi karena khawatir akan akibat serta implikasinya, yaitu mencelakakan Rasulullah.

    Kaum quraisy akhirnya membatalkan sikap pengagungan dan penghormatan yang dulu pernah mereka tampakan terhadap Rasulullah semenjak munculnya dakwah Islamiyah di lapangan.  Memang sulit mengubah sikap yang terbiasa dengan kebengisan dan kesombongan untuk berlama-lama sabar, maka dari itu, mereka mulai mengulurkan tangan permusuhan terhadap Rasulullah sebagai implementasinya, mereka melakukan berbagai bentuk ejekan, hinaan, pencemaran nama baik, pengaburan, penggangguan, dan lain sebagainya.  Tentunya, sudah lumrah bila yang menjadi garda terdepan dan ujung tombaknya adalah Abu Lahab, sebab dia adalah salah seorang pemuka suku Bani Hasyim.  Dia tidak pernah memikirkan pertimbangan apapun sebagaimana yang selalu dipertimbangkan oleh tokoh-tokoh quraisy lainnya.  Dia adalah musuh bebuyutan Islam dan para pemeluknya.  Sejak pertama, dia sudah menghadang Rasulullah sebeum kaum quraisy berkeinginan melakukan hal itu.  Telah kita ketahui di muka bagaimana perilaku Abu Lahab terhadap nabi di Majlis bani Hasyim dan di bukit Shafa.  Sebelum beliau diutus, Abu Lahab telah mengawinkan kedua anaknya: Utbah dan Utaibah dengan kedua putrinya Rasulullah Rukayyah dan Ummu Kultsum.  Namun tatkala beliau diutus menjadi rasul, dia memerintahkan kedua anaknya agar menceraikan kedua putri beliau dengan cara yang kasar dan keras, hingga keduanyapun menceraikan kedua putri Rasulullah tersebut.[5]

    Ketika Abdullah, putra kedua Rasulullah wafat, Abu Lahab amat gembira dan mendatangi semua kaum musyrikin untuk memberitakan perihal Muhammad yang sudah menjadi orang yang terputus (keturunannya).[6]

    Telah disebutkan di atas, bahwa Abu Lahab selalu menguntit di belakang Rasulullah saat musim haji dan di pasar-pasar sebagai upaya untuk mendustakannya. Dalam hal ini, Thariq bin Abdullah al-Muaharibi meriwayatkan suatu berita yang intinya bahwa yang dilakukannya tidak sekedar mendustakan Rasulullah. akan tetapi lebih dari itu, dia juga memukuli beliau dengan batu hingga kedua tumit beliau berdarah.[7]

    Istri Abu Lahab, Ummu Jamil bin Harb bin Umayyah, saudara perempuan Abu Sufyan, tidak kalah pula frekuensi permusuhannya terhadap Nabi dibanding sang suami.  Dia pernah membawa duri dan menyerakkan di jalan yang dilaluinya oleh Nabi bahkan di depan pintu rumah beliau pada malam harinya.  Dia adalah sosok perempuan yang galak, selalu mencaci Rasulullah, mengarang berita dusta dan berbagai isu, menyulut api fitnah serta mengobarkan perang membabi buta terhadap Rasulullah.  Oleh karena itulah, Al-Quran menjulukinya sebagai Hmmah al-Hathab (Wanita pembawa kayu bakar)

    Ketika dia mendengar ayat Al-Quran yang turun mengenai dirinya dan suaminya, dia langsung mendatangi Rasulullah yang sedang duduk duduk bersama Abu Bakar ash-Shidiq di dekat Ka’bah.  Tidak lupa, dia membawa segenggam batu ditangannya, namun ketika dia berdiri di hadapan keduanya, Allah membutakan pandangannya dari beliau sehingga hanya dapat melihat Abu Bakar, lantas dia berkata, “wahai Abu Bakar” mana sahabatmu itu? Aku mendengar bahwa dia telah mengejekku,  Demi Allah, andai aku menemuinya, niscaya akan aku tampar mulutnya dengan batu yang ada di genggamanku ini. Demi Allah! Sesungguhnya aku adalah seorang penyair! Kemudian dia menguntai bait syair berikut (baitnya):

    Si tercela yang kami tentang

    Urusannya yang kami tentang

    Dinnya yang kami benci

    Kemudian dia berlalu, setelah kepergiannya, abu Bakar berkata, “wahai Rasulullah! Tidakkah engkau lihat dia dapat , melihatmu?”

    Beliau menjawab “dia tidak dapat melihatku. Sungguh! Allah telah membutakan pandangnnya dariku.”[8]

    Abu Bakar Al-Bazzar meriwayatkan kisah di atas,  di dalam riwayatnya itu disebutkan bahwa Ketika dia (ummul Jamil) berdiri dihadapn Abu Bakar! Sxahabatmu itu telah mengejek kami!”

    Abu Bakar menjawab, “Tidak, demi Rabb bangunan ini (ka’Bah)! Dia tidak pernah berbicara dengan merangkai syair atau melantunkannya.”

    Dia menjawab “sungguh! Engkau selalu membenarkan (Muhammad)”

    Demikianlah pula yang dilakukan Abu Lahab, padahal dia adalah paman beliau sekaligus tetangganya, rumahnya menempel dengan rumah beliau. Sama seperti tetangga beliau yang lain yang selalu menggangu beliau di saat sedang berada di rumahnya.

    Berbeda lagi dengan perlakuan Ummayyah bin Khalaf; bila melihat Rasulullah  dia langsung mengumpat dan mencelanya, karena itu turunlah terhadapnya ayat,

    ويل لكل همزة لمزة

    Artinya: “kecelakaan bagi setiap pengumpat (al-Humazah) dan pencela, “ (QS. Al-Humazah: 1)

    Bentuk pelecehan lainnya, al-Akhnas bin Syariq at-Tsaqafi sellau mencaci maki Rasalullah karena itu Al-Quran melabelkan terhadapnya Sembilan sifat yang menyingkap perangainya tersebut, yaitu firman Allah  Subhanahu Wata’ala:

    وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ ﴿١٠﴾ هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍۙ ﴿١١﴾ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ ﴿١٢﴾ عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍۙ ﴿١٣

    Artinya: “Dan jangalah kamu ikuti setia orang yang banyak bersumpah lagi hina.  Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang enggan berbuat baik, yang melalui batas lag banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu yang terkenal kejahatannya. “ (QS. Al-Qalam: 12-13)

    Beragam penindasan yang dilakukan kaum quraisy yang merupakan tetangganya tersebut tidak sampai disini, dan akan dibahas di bagian selanjutnya.  Semoga semakin menguatkan tekad kita dan menjadi teladan bagi kita dalam kesabaran.

    Referensi          : Sirah Nabawiah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad

    Penulis                 : Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri

    Diringkas oleh    : Iis Rosmi Rojibah S.S. (pengajar di Ponpes Darul Qur’an Wal-Hadist)

    [1] Ibnu Hisyam, op.cit., hal. 205.

    [2] Ibnu Hisyam, op.cit., hal. 165-166.

    [3] Lihat Dala ‘il an-Nubuwwah, karya al-Baihaqi, 2/188.

    [4] Ibnu Hisyam, op.cit., hal 266,267.

    [5] Usd al-Ghabah, op.cit., 6, pada Biografi Rukayyah dan Ummu Kultsum.

    [6] Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Kaustar: (orang-orang di Zaman jahiliyah mempunyai anggapan apabila seseorang kehialnagn putraputranya karena wafat, maka terputuslah sejrahnya. Karena garis keturunan tersambung melalui anak laki-laki bukan anak perempuan.

    [7] Kanz al-Ummal. 12/449.

    [8] Lihat shirah Ibnu Hisyam, op.cit., hal. 335, 336.

    Baca juga artikel:

    Pengertian Berbuat Ihsan dan Durhaka

    Sikap Kita Terhadap Ahlul Bid’ah

  • PENGERTIAN BERBUAT IHSAN DAN DURHAKA

    PENGERTIAN BERBUAT IHSAN DAN DURHAKA

    PENGERTIAN BERBUAT IHSAN & DURHAKA 

    Menurut Allah atau bahasa, Al-Insan berasal dari kata ahsana  yuhsinu ihsanan yang berarti berbuat baik.

    Adapun maksud Ihsan dalam tema bahasa ini adalah berbakti kepada kedua orang tua, yaitu menyampaikan menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu diri kita, dan Jika memungkinkan kita mencegah gangguan terhadap keduanya. Menurut Imam Ibnu Athiyah rahimahullah kita wajib mentaati kedua orang tua kita dalam hal-hal yang mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya, dan menjauhi apa-apa yang dilarang.

    Secara bahasa artinya memotong atau seperti halnya aqiqah yang berarti memotong kambing. sedangkan maknain adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan dari seorang anak kepada kedua orang tuanya yang berupa  perkataan yaitu dengan mengatakan atau, berkata dengan kalimat yang keras dan kasar ataupun menyakiti hati kedua orang tua,, menghardik, mencaci maki, melaknat, dan yang lainnya.

    Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar seperti menghentakkan kaki ke lantai, atau memukul pintu dengan tangan, atau menendang tembok, pintu, dan yang lainnya dengan kaki, apabila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya. Dan termasuk durhaka kepada kedua orang tua yaitu membencinya, tidak mempedulikannya, bahkan tidak berkunjung atau menengoknya, dan tidak bersilaturahmi atau tidak memberi nafkah kepada kedua orang tuanya yang miskin.

    Yang mewajibkan berbakti dan mengharamkan durhaka kepada orang tua

    Di dalam Alquran Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mewajibkan seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya. Sebagaimana  firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

    وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعبُدُوۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالوَالِدَينِ اِحسَانًا‌  اِمَّا يَـبلُغَنَّ عِندَكَ الكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَو كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنهَرهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَولًا كَرِيمًا

    Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al- isra: 23).

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

    Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil. ( QS. Al- isra’: 24)

    Dan berfirman- Nya:

    وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِه شَيْـئًا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا

    Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua….” (QS. An- Nisa : 36)

    Dan Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”  (Qs. Luqman 14-15)

    Adapun berbakti dan taat kepada orang tua terbatas hanya dalam perkara yang Ma’ruf atau perbuatan baik saja. Sedangkan jika orang tua menyuruh kepada kekafiran, atau kesyirikan, maka tidak boleh taat kepada keduanya.

    Allah Azza wa Jalla berfirman:

    وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا  ۗوَاِنْ جَاهَدٰكَ لِتُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

    Artinya: “Dan kami wajibkan kepada manusia agar berbuat kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka jangan engkau patuhi keduanya…..” (QS. Al-an kabut: 8)

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada manusia untuk memberikan nafkah kepada orang tua. Setiap anak wajib menafkahi orang tuanya jika orang tuanya tidak mampu. Menafkahi orang tua wajib didahulukan atas sana kerabat, anak yatim, orang miskin dan lainnya.

    Ada beberapa ayat dalam Alquran yang menyebutkan tentang wajibnya berbakti kepada kedua orang tua dan bersyukur kepada keduanya serta disebutkan juga tentang larangan mengikuti kedua orang tua apabila keduanya mengajak kepada kesyirikan.

     Berbakti kepada orang tua merupakan sifat yang menonjol dari para nabi

    Berbakti kepada kedua orang tua merupakan sifat yang menonjol dari para nabiyullah alaihissalatu wassalamu diantaranya, Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwasanya Isa bin Maryam Alaihissalam adalah anak yang berbakti kepada kepada ibunya.

    Allah berfirman yang artinya; ” dia (isa) berkata: ” Sesungguhnya aku hamba Allah, dia memberiku kitab Injil dan dia menjadikan aku Seorang nabi. Dan dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku melaksanakan salat dan menunaikan zakat selama aku hidup dan berbakti kepada Ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. ” (QS. Maryam: 30-32)

    Seluruh Nabi dan Rasul Alaihissalam berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan syariat yang umum. Setiap Nabi dan Rasul Shallallahu alaihi wasallam yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala kamu muka bumi selain diperintah untuk menyeru umatnya agar beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, dan mentauhidkannya serta menjauhkan segala macam perbuatan Syirik, mereka juga diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada kedua orang tuanya.

    Apabila ayat-ayat yang menjelaskan tentang berbakti kepada kedua orang tua diperhatikan, maka kita pun akan mengetahui bahwasanya berbakti kepada orang tua adalah permasalahan kedua setelah menjauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bila selama ini yang dikaji adalah masalah tauhid, masalah aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah, aqidah salam, Maka selanjutnya wajib pula bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengkaji masalah berbakti kepada kedua orang tua. Tidak boleh menjadi pada seorang yang bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya: setiap muslim, terutama bagi seorang tholabul illem atau penuntut ilmu wajib baginya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

    Di dalam ayat-ayat Alquran penyebut dan mengenai bertauhid kepada Allah selalu diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tua. Para ulama telah menjelaskan hikmah dari hal ini yaitu:

    Pertama: Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan manusia dan Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan rezeki kepadanya, maka itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala sajalah yang berhak untuk diibadahi. Sedangkan kedua orang tua merupakan sebab adanya anak, maka keduanya berhak untuk diperlakukan dengan baik. Karena itulah tanda komam kewajiban seorang anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala harus diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.

    Kedua Allah yang telah memberikan semua nikmat yang diperoleh hamba-hambanya, maka hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala yang wajib disyukuri. Kemudian, kedua orang tualah yang telah memberikan segala yang kita butuhkan seperti maka, minum, pakaian, dan lainnya sehingga wajib bagi kita untuk berterima kasih kepada keduanya. Oleh karena itulah, kewajiban seorang anak atas nikmat yang diberikannya adalah bersyukur kepada allah allah subhanahu wa ta’ala dan bersyukur kepada kedua orang.

    Ketiga: Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah rob yang membina dan mendidik manusia di atas manhajnya, maka Allah lah yang berhak untuk diagungkan dan dicintai. Demikian juga kedua orang tua yang telah mendidik Kita sejak kecil, juga kedua orang tua yang telah mendidik Kita sejak kecil, maka itu kita harus bersikap tawadhu atau merendahkan hati, atau kir atau menghormati atau beradab, dan telah tuh atau berlaku lemah lembut baik di dalam perkataan maupun dalam perbuatan kepada keduanya.

    Inilah hikmah Mengapa dalam Alquran Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan tentang  berbakti kepada keduanya kemudian diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.

    REFERENSI:

    Diringkas dari buku: Birrul walidain

    Penulis : Yazid bin Abdul Qadir Jawas

    Cetakan ke 1 : Sya’ban 1436 H / Mei 2015 M

    Cetakan ke 4: Jumadil Awwal 1441 /januari 2020 M

    Diringkas oleh: Helmi Lia Putri

    Status: Pengabdian Ma’had Darul Qur’an wal Hadits OKU Timur

    Pondasi Dasar Agamaku Adalah Tauhid

    Mengapa Kita Harus Berdakwah Part II

     

  • PONDASI DASAR AGAMAKU ADALAH TAUHID

    PONDASI DASAR AGAMAKU ADALAH TAUHID

    PONDASI DASAR AGAMAKU ADALAH TAUHID

    Bismillah….. Tauhid adalah landasan pertama atau pondasi awal dari agama Islam oleh karena itu kita harus benar-benar memahami tauhid dengan pemahaman yang benar. Bahkan Tauhid ini adalah alasan diutusnya para Rasul kepada seluruh umatnya.

    Bahkan tauhid merupakan pokok yang dibangun diatasnya semua ajaran, maka jika pokok ini tidak ada, amal perbuatan menjadi tidak bermanfaat dan gugur, karena tidak sah sebuah ibadah tanpa tauhid.

    Pengertian Tauhid

    Tauhid secara bahasa ( etimologi ) berasal dari kata  العقد  yang artinya pengikatan. اعتقدت كذا  artinya saya ber’itikad begini.  Maksudnya saya mengikat hati terhadap hal tersebut. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan Dia mempunyai akidah yang benar itu berarti akidah nya bebas dari keraguan.

    Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenaran nya kepada sesuatu.

    Adapun tauhid secara Syara’adalah iman kepada Allah, para malaikatNya, para rasulNya, kitabNya kepada hari akhir serta kepada qadar yang baik maupun ang buruk. Dan mengimani segala konsekuensinya ang diterima dari keimanan tersebut dan kewajiban dalam menjalankan konsekuensi dari keimanannya.

    Macam-macam Tauhid

    Tauhid terbagi menjadi tiga bagian yaitu : Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah. Dan tauhid asma’ wa sifat

    1. Tauhid Rububiyah

    Tauhid rububiyah adalah beriman atau menyakini  seluruh perbuatan Allah, kita meyakini bahwa Allah lah yang telah menciptakan segala apa yang ada di lam semesta ini dan Dia lah ,yang mengatur segala urusan makhlukNya, Allah lah yang menghidupkan dan mematikan dan Allah yang yang memberi rezeki. Tauhid rububiyah ini berarti kita menyatakan bahwa tidak ada Tuhan Penguasa seluruh alam kecuali Allah yang menciptakan dan memberi mereka rizki. Dan Tauhid jenis ini adalah fitrah bagi manusia bahkan Tauhid ini juga telah diikrarkan oleh orang-orang musyrik pada masa dahulu. Mereka menyatakan bahwa Allah semata yang Maha Pencipta, Penguasa, Pengatur, Yang Menghidupkan,Yang Mematikan, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah ta’ala berfirman:

    وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُون

    Artinya: “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab,“Allah” maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)” (QS. Al-Ankabut: 61)

    Akan tetapi pernyataan dan persaksian mereka tidak membuat mereka masuk Islam dan tidak membebaskan mereka dari api neraka serta tidak melindungi harta dan darah mereka dari misi jihad islam, karena mereka tidak mewujudkan tauhid Uluhiyah, bahkan sebaliknya mereka berbuat syirik kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya dengan memalingkan ibadah mereka kepada selain Allah.

    2.. Tauhid Uluhiyah

    Tauhid uluhiyah ini adalah alasan diutus nya para rasul kepada umatnya, para rasul bertugas untuk menyampaikan dan mengajak para umatnya untuk mentauhidkan Allah dalam beribadah .

    Istilah uluhiyah berasal dari kata ilah, yang berarti zat yang disembah. Uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh namaNya ” Allah ” yang berarti ” yang memiliki uluhiyah”

    Tauhid Uluhiyah adalah tauhid ibadah, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh amalan ibadah yang Allah perintahkan, seperti: berdoa, khouf (takut), raja’ (harap), tawakkal, raghbah (berkeinginan), rahbah (takut), Khusyu’, Khasyah (takut disertai pengagungan), taubat, minta pertolongan, menyembelih, nazar dan ibadah yang lainnya yang diperintahkan-Nya.

    Dalilnya firman Allah ta’ala:

    وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

    Artinya: “Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun didalamnya di samping (menyembah) Allah” (QS. Al-Jin: 18)

    Manusia tidak boleh memalingkan sedikitpun ibadahnya kepada selain Allah ta’ala, tidak kepada malaikat, kepada para Nabi dan tidak juga kepada para wali yang shaleh dan tidak kepada siapapun makhluk yang ada. Karena ibadah tidak sah kecuali dilakukan dengan ikhlas untuk  Allah, maka siapa yang memalingkannya kepada selain Allah dia telah berbuat syirik yang besar dan semua amalnya gugur.

    Kesimpulannya adalah seseorang harus berlepas diri dari penghambaan (ibadah) kepada selain Allah, menghadapkan hati sepenuhnya hanya untuk beribadah kepada  Allah. Tidak cukup dalam tauhid sekedar pengakuan dan ucapan syahadat saja jika tidak menghindar dari ajaran orang-orang musyrik serta apa yang mereka lakukan seperti berdoa kepada selain Allah misalnya kepada orang yang telah mati dan semacamnya, atau minta syafaat kepada mereka (orang-orang mati) agar Allah menghilangkan kesusahannya dan menyingkirkannya, dan meminta pertolongan kepada mereka atau yang lainnya yang merupakan perbuatan syirik.

    1. Tauhid Asma’ dan Sifat

    Tauhid asma’ dan sifat Yaitu: beriman bahwa Allah ta’ala memiliki nama-nama ,sifat sifat-sifat dan zat yang tidak serupa dengan berbagai makhluk atau zat yang ada, dan Allah juga memiliki sifat yang tidak serupa dengan berbagai sifat yang ada. Dan bahwa nama-nama-Nya menyatakan dengan jelas akan sifat-Nya yang sempurna secara mutlak sebagaimana firman Allah ta’ala:

    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang meyerupainya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. As Syura: 11)

    Begitu juga halnya (beriman kepada Asma’ dan Sifat Allah) berarti menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dalam Kitab-Nya, atau apa yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya shallallahu `alaihi wa sallam dengan penetapan yang layak sesuai kebesaran-Nya tanpa ada penyerupaan dengan sesuatupun, tidak juga memisalkannya dan meniadakannya, tidak merubahnya, tidak menafsirkannya dengan penafsiran yang lain dan tidak menanyakan bagaimana hal-Nya. Kita tidak boleh berusaha baik dengan hati kita, perkiraan kita, lisan kita untuk bertanya-tanya tentang bagaimana sifat-sifat-Nya dan juga tidak boleh menyamakan-Nya dengan sifat-sifat makhluk.

    Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah tidak boleh mengandung empat hal yaitu :

    1. Ta’til yaitu meniadakan ( mengingkari ) keberadaan nama-nama atau sifat-sifat Allah baik mengingkari seluruhnya maupun sebagian.
    2. Takhyif yaitu menggambarkan atau mempersoalkan hakikat nama dan sifat Allah dengan bertanya ” bagaimana “.
    3. Tamtsil yaitu menyerupakan nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan makhluk-Nya
    4. Tahriif yaitu menyelewengkan atau mengubah lafaz atau makna yang sebenarnya. Contohnya

    Terdapat pada firman Allah dalam QS. Annisa 164 : وَكَلَّمَ اللهُ مُوسٰى تَكْلِيمًا dan Allah berbicara kepada Musa secara langsung. Mereka mengubah lafaz Allah dengan dibaca mansub ( fathah )  menjadi objek sehingga ayat tersebut berubah maknanyaَوكَلَّمَ اَللهَ مُوْسٰى تَكْلِيْمً  menjadi ” dan Musa berbicara dengan Allah secara langsung.

    Dan Wujud nyata Tauhid yang sebenarnya adalah: memahaminya dan berusaha untuk mengetahui hakikatnya serta melaksanakan kewajibannya, baik dari sisi ilmu maupun amalan, hakikatnya adalah mengarahkan ruhani dan hati kepada Allah baik dalam hal mencintai, takut (khauf), taubat, tawakkal, berdoa, ikhlas, mengagungkan-Nya, membesarkan-Nya dan beribadah kepada-Nya. Kesimpulannya tidak ada dalam hati seorang hamba sesuatupun selain Allah, عزوجل dan tidak ada keinginan terhadap apa yang Allah  عزوجل tidak inginkan dari perbuatan-perbuatan syirik, bid’ah, maksiat yang besar maupun kecil, dan tidak ada kebencian terhadap apa yang Allah عز وجل perintahkan.itulah hakikat Tauhid dan hakikat Laa Ilaaha Illallah.

    Referensi kitab : cara praktis memahami tauhid dan kitab tauhid jilid 1 dan internet

    Diringkas oleh : Hesti opitasari

    Baca juga artikel:

    Apakah Bayi Bisa Melihat Jin?

    Apakah Yang Kita Lakukan Untuk Agama Islam?

  • Apakah Bayi Bisa Melihat Jin?

    Apakah Bayi Bisa Melihat Jin?

    APAKAH BAYI BISA MELIHAT JIN?

    SOAL

    اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎

    Apa benar seorang Balita  itu bisa melihat mahkluk gaib? Kdg saya bingung menyikapinya terus apabila ada Balita yg menangis sampek lihat2 ke atas itu apakah Balita tersebut diganggu oleh syaiton?

    Yani, Belitang

    JAWABAN

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

    Bismillah. Alhamdulillah washshalatu wassalam ‘ala Rasulillah.

    Seorang bayi atau seorang manusia pada dasarnya tidak bisa melihat jin dengan wujud aslinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    {يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ}

    “Wahai anak keturunan Adam! Janganlah kalian ditipu oleh setan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga. Dia menanggalkan dari mereka pakaian mereka berdua untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dimana kalian tidak melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan sebagai wali-wali untuk orang-orang yang tidak beriman.” (QS Al-A’raf: 27)

    Adapun ketika mereka menampakkan diri kepada sebagian manusia dan tidak menampakkan kepada manusia yang lain atau berubah wujud menjadi bentuk yang bisa dilihat oleh manusia, baik berubah bentuk menjadi manusia, hewan atau yang lainnya, maka itu bisa dilakukan oleh jin sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    الْجِنُّ عَلَى ثَلاَثَةِ أَصْنَافٍ: صِنْفٌ كِلاَبٌ وَحَيَّاتٌ، وَصِنْفٌ يَطِيرُونَ فِي الْهَوَاءِ، وَصِنْفٌ يَحُلُّونَ وَيَظْعَنُونَ.

    “Jin itu ada tiga jenis, (yaitu): jenis berupa anjing-anjing dan ular-ular, jenis yang mereka terbang di udara dan jenis yang mereka menetap dan berjalan.”[1]

    Di dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ketika beliau menjaga baitul-mal, beliau menanggap pencuri yang berwujud manusia. Setelah tiga malam dan dilepaskan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

    أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: لاَ قَالَ ذَاكَ شَيْطَانٌ.

    “Sesungguhnya dia itu sudah jujur kepadamu, padahal dia adalah pendusta. Apakah kamu tahu dengan siapa  kamu berbicara selama tiga malam ini, wahai Abu Hurairah?” Dia berkata, “Tidak tahu.” Beliau mengatakan, “Dia adalah setan.”[2]

    Jadi, selama tiga malam Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tidak tahu jika yang datang itu adalah seorang jin.

    Dan berdasarkan pengalaman dan kabar-kabar yang terpercaya kita bisa mengetahui bahwa jin juga bisa berubah wujud menjadi sosok yang sering disebut dengan hantu, monster dan lainnya. Dia juga bisa menampakkan diri kepada sebagian orang dan tidak menampakkan kepada yang lain dan jin juga bisa membuat ilusi pada mata seseorang.

    Mengenai pertanyaan Saudari, Apabila ada Balita yg menangis sampek lihat2 ke atas itu apakah Balita tersebut diganggu oleh syaiton?” maka kami katakan bahwa kita tidak bisa memastikan hal tersebut, karena yang dialami oleh seorang bayi bisa jadi hanya sekedar halusinasi atau sugesti, atau bahkan mimpi yang terbawa ke dunia nyatanya. Meskipun kita katakan bahwa bisa saja Balita tersebut melihat jin dan kita yakin bahwa jin tersebut tidak akan bisa membahayakannya kecuali dengan izin Allah.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    { وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ }

    “Dan tidaklah mereka bisa  membahayakan dengannya kepada seseorang kecuali dengan izin  Allah.” (QS Al-Baqarah: 103)

    Dan jin juga makhluk yang lemah di hadapan Allah, sehingga kita tidak perlu takut kepadanya dan kita haruslah takut hanya kepada Allah.

    { إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا }

    “Sesungguhnya tipu daya setan itu sangatlah lemah.” (QS An-Nisa: 76)

     

    Apa yang seharusnya Saudari lakukan?

    1. Jauhkan pembicaraan tentang hantu dan hal-hal yang menakutkan dari anak Balita tersebut dan ajarkan ketakutan yang benar hanyalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala
    2. Bacalah Al-Qur’an di rumah Balita tersebut dengan rutin, dan juga rumah tersebut harus sering dipakai untuk beribadah, seperti: shalat dan membaca zikir-zikir serta zikir pagi petang. Dan yang paling baik adalah membacakan rumah tersebut surat Al-Baqarah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

    اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَدْخُلُ بَيْتًا يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.

    “Bacalah oleh kalian surat Al-Baqarah di rumah-rumah kalian! Sesungguhnya setan tidak masuk ke dalam rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.”[3]

    1. Ruqyah-lah anak tersebut dengan membaca doa:

    بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ أَوْ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ، بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ.

    “Dengan nama Allah saya me-ruqyah-mu dari segala sesuatu yang mengganggumu, dari segala jiwa atau ‘ain atau yang hasad. Mudah-mudahan Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah saya me-ruqyah-mu.”[4]

    Begitu pula me-ruqyah dengan membaca surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Nas.

    1. Diktekan dan ajarkan kepada anak Balita tersebut surat Al-Fatihah, dan surat-surat pendek lainnya, meskipun dia belum bisa membacanya. Ini sangat membantu dengan izin Allah untuk memudahkannya menghafal Al-Qur’an di kemudian hari.

    Demikian. Mudah-mudahan kita semua bisa meningkatkan keimanan dan ketakutan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bergantung serta berlindung hanya kepada-Nya. Amin.

    Wallahu a’lam bishhawab. Billahittaufiq.

    Dijawab oleh:

    Ust. Said Yai Ardiansyah, M.A.

    • Direktur Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur
    • Ketua Yayasan Kunci Kebaikan OKU Timur
    • S1 Alumnus Universitas Islam Madinah, KSA
    • Ustadz Pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia Korwil Palembang dan OKU

    [1] HR Ibnu Hibban no. 6156 (urutan Ibnu Balaban). Syaikh Syu’aib menyatakan, “Isnad-nya kuat.”

    [2] HR Al-Bukhari no. 2311.

    [3] HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 2062. Syaikh Al-Albani menyatakan, “Hadits ini isnad-nya hasan.”

    [4] HR At-Tirmidzi no. 972 dan Ibnu Majah no. 3523, ini adalah lafaz Ibnu Majah.

    Baca juga artikel:

    Hukum Pinjaman Asuransi atau Kredit

    Mengapa Kita Harus Terus Berdakwah?

  • Hukum Asuransi Pinjaman Atau Kredit

    Hukum Asuransi Pinjaman Atau Kredit

    Hukum Asuransi Pinjaman Atau Kredit

    SOAL : Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

    Bismillah, ana Rudi dari Baturaja. Afwan ustadz bagaimana hukum orang yang masih meminjam pinjaman di Bank Ribawi, akan tetapi orangnya meninggal dan dianggap lunas oleh pihak Bank. Bagaimana hukumnya ustadz? Syukron ustadz.

     

    JAWABAN

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

    Bismillah. Alhamdulillah washshalatu wassalam ‘ala Rasulillah.

    Sebenarnya orang yang meninggal tersebut tidak serta merta langsung dianggap lunas oleh pihak bank, tetapi sebenarnya orang yang meminjam uang tersebut (debitur) telah mengasuransikan utangnya ke pihak asuransi pinjaman atau asuransi kredit. Dengan membayar premi bulanan tertentu, maka pihak asuransi memberikan jaminan untuk melunasi utangnya jika terjadi apa-apa.

    Ada berapa risiko yang dijamin oleh rata-rata perusahaan asuransi jenis ini, di antaranya:

    1. Usaha debitur sudah tidak berjalan lagi.
    2. Debitur dinyatakan pailit oleh pengadilan negeri yang berwenang atau dalam keadaan tidak bisa membayar utang (insolvent)
    3. Debitur meninggal dunia.
    4. Debitur melarikan diri/menghilang/tidak diketahui lagi dimana keberadaannya.
    5. Dan lain-lain tergantung kesepakatan yang dibuat dengan pihak perusahaan asuransi.

     

    Tentunya kita katakan bahwa pinjaman uang ke bank adalah riba, karena pihak bank telah mengambil keuntungan dari apa yang telah dia pinjamkan kepada nasabah. Dan ketika nasabah mengasuransikan pinjamannya ke perusahaan asuransi, maka dia telah ikut dalam perjudian, karena unsur-unsur perjudian telah terpenuhi di dalamnya, yaitu: adanya harta yang dipertaruhkan, adanya yang akan mendapatkan keuntungan dari taruhan tersebut dan ada yang mendapatkan kerugian, serta tidak diketahuinya siapa yang akan mendapatkan keuntungan atau kerugian tersebut.

    Dengan meninggalnya debitur kemudian dia mendapatkan pelunasan dari pihak asuransi untuk melunasi utangnya di bank, maka dia telah mengambil keuntungan dari asuransi tersebut, atau dalam kata lain dia telah “memenangkan” perjudian.

    Oleh karena itu, saya menasihatkan kepada diri saya sendiri, Saudara Penanya dan Saudara Pembaca untuk benar-benar menjauhi segala bentuk pinjaman dan akad kredit yang terdapat riba, judi dan kezaliman di dalamnya.

    Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita semua dari riba, judi dan kezaliman. Amin.

     

    Wallahu a’lam bishhawab. Billahittaufiq.

     

    Dijawab oleh:

    Ust. Said Yai Ardiansyah, M.A.

    • Direktur Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur
    • Ketua Yayasan Kunci Kebaikan OKU Timur
    • S1 Alumnus Universitas Islam Madinah, KSA
    • Ustadz Pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia Korwil Palembang dan OKU

     

    BACA JUGA :

  • PENGUMUMAN HASIL TES PENERIMAAN CALON SANTRI DAN SANTRIWATI TAHUN AJARAN 2023/2024 Pondok Pesantren Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur (PKBM Miftahul-Khair)

    PENGUMUMAN HASIL TES PENERIMAAN CALON SANTRI DAN SANTRIWATI TAHUN AJARAN 2023/2024 Pondok Pesantren Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur (PKBM Miftahul-Khair)

    PENGUMUMAN HASIL TES PENERIMAAN CALON SANTRI DAN SANTRIWATI TAHUN AJARAN 2023/2024

    Pondok Pesantren Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur

    (PKBM Miftahul-Khair)

    Alhamdulillah, washsholatu wassalam ‘ala Rasulillah.

    Berikut ini pengumuman nama-nama santri dan santriwati baru angkatan KEDELAPAN pada tahun pelajaran 2023/2024 Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur.

    Daftar Nama Calon Santri/Santriwati Yang Diterima Di PSB 2023/2024

    Tingkat Al-Mutawassithah

    • PUTRA
    1 Andika Mukhlis Wibowo SD 94 OKU
    2 Arkan Alfaro SD IT Global Yamti School
    3 Muhammad Yasir Abdul Hafizh SD IT Global Yamti School
    4 Rafi Davansyah Rizky SD 59
    5 Abdan Hanif Hafidzien SD N Sukodadi
    6 Nando Yoga Pratama SD IT Global Yamti School
    7 Imam Anshor Afdhaly SD IT Rabbani
    • PUTRI
    1 Bening Praulda MIN
    2 Delisha Nadhira SDN 10 Pinggir
    3 Jingga Muslimah SDN 08 Buay Rawan
    4 Nazlah Aliya Nabilah MI Al Islamiyah
    5 Rara Asyifa SD 19 Martapura
    6 Sania Qotru Nada SDN 11 Buay Pemaca
    7 Zahira Natasyah SDN 16 Muaradua
    8 Afiyah Melani Zifa Emirates Islamic School
    9 Dhea Aliza SDN 09 Tanjung batu
    10 Fatma Az-zahra Lianti SD 24 Lawang kidul
    11 Chairunisa Devina Anggraini SD IT Talang Jawa
    12 J. Alzena Naomi SD Islam Abu Hurairah
    13 Jamila Tsabitha SDN 115 OKU
    14 Raisha Aurellia SDN 98
    15 Tania Zahira Indriani SDN Kutosari
    16 Valencia Taselah SDN 19 Martapura
    17 Zahwa Astriana SDN 16 OKU

    Tingkat Al-I’dad Al-Lughawi

    • PUTRI
    1 Nanda Mona Risa MTSN Martapura
    2 Fira Amilia SMP Islamic Centre Prabumulih
    3 Iin Vickynia SMPN 01 Sindang Danau
    4 Bersi Wulandri SMP N 9 OKU

    Tingkat I’dad Ad-Da’iyat Al-Mu’allimat

    • PUTRI
    1 Siti Istiqomah MAN 1 OKU Timur
    2 Anggina Srianita SMA N 6 OKU

    Kami ucapkan SELAMAT kepada seluruh santri dan santriwati yang sudah diterima di Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur.

    Untuk selanjutnya, seluruh orangtua/wali pendaftar yang diterima dapat melakukan daftar ulang (pembayaran pertama/DP) minimal Rp. 2.500.000. Pembayaran bisa ditransfer ke rekening BSI a.n Yayasan Kunci Kebaikan / PSB DQH : 111 2123 257

    kode dari bank lain: 451

    atau bisa bayar langsung di kantor ponpes Darul-Qur’an Wal-hadits OKU Timur pada Hari Senin – Sabtu (Jam 07.30 – 12.30 WIB). peta rute bisa dilihat di kuncikebaikan.com

    Konfirmasi ke Nomor Admin : Sdr. Tamim Abu Zubair (082278085665)

    Demikian pengumuman pengumuman ini kami sampaikan.

    Catatan:
    1. Bagi yang dinyatakan diterima tanpa persyaratan, wajib melakukan pelunasan daftar ulang paling lambat  tanggal 26 Mei 2022 . Jika tidak melakukan daftar ulang maka dianggap gugur.
    2. Bagi yang diterima bersyarat diwajibkan juga diwajibkan seperti poin 1 dan diwajibkan melengkapi persyaratan tambahan. Silakan menghubungi Panitia untuk mengetahui persyaratannya.

     

    BACA JUGA :

     

  • Mengenal Ikhwanul Muslimin dan Sururiyyah (Bagian 1)

    Mengenal Ikhwanul Muslimin dan Sururiyyah (Bagian 1)

    Mengenal Ikhwanul Muslimin Dan Sururiyyah Bagian 1. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Kami memuji dan meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami juga berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa dan buruknya amal perbuatan kami. Shalawat dan salam semoga senantiasa di tujukan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan para shahabatnya. Dalam pembahasan ini kami akan menjelaskan tentang pentingnya mengetahui firqah-firqah sesat yang mana mereka menisbatkan diri mereka dengan ahlus sunnah wal jama’ah, dengan ini kami berharap kaum Muslim bisa membedakan antara Ahlul Bid’ah dan Ahlus Sunnah.

    Ada sebagian kelompok yang menisbatkan diri mereka kepada “Ahlus sunnah” padahal hakekatnya mereka ahlul bid’ah, dan ada juga yang menisbatkan diri kepada “Salafiyyun” namun pada hakekatnya mereka adalah hizbiyyun dan harakiyyun, bukan Salafi. Sebagaimana di ketahui bahwa Allah menyebutkan tentang keyakinan kufur dari Yahudi, Nasrani, para penyembah berhala dan lainnya, supaya umat Islam berhati-hati tidak mengikuti agama dan keyakinan mereka.

    Begitu pula disebutkan oleh Rasulullah tentang akan terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan; 72 golongan masuk Neraka dan hanya satu golongan yang masuk Surga. Nabi menyebutkan dengan tegas dan jelas bahwa 72 golongan masuk Surga, yaitu golongan yang mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para Sahabatnya.

    Tidak diragukan lagi bahwa pembahasan tentang firqah, aliran, pemahaman sesat, madzhab-madzhab yang menyesatkan dan menyingkap kesesatan dan serta penyimpangan-penyimpangan mereka merupakan penjelasan tentang jalannya orang-orang yang berdosa.

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    (وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الأَيَاتِ وَلِتَسْتَبٍيْنَ سَبيْلُ المُجْرِمُوْنَ)

    Artinya:

    Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat al-Qur’an,(agar terlihat jelas jalan orang-orang yang shalih) dan agar terlihat jelas jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55)

    Dan diantara firqah-firqah tersebut salah satunya adalah Ikhwanul muslimin dan sururiyyah .

    • Ikhwanul muslimin (IM)

    Jama’ah Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Hasan Al-Banna rahimahullah mati terbunuh di kota Isma’iliyyah Mesir pada tahun 1346 H sebagai firqah pergerakan (harakah). Dan dialah yang menjadi Mursyid pertama bagi jama’ah ini. Hasan al-Bnna mati terbunuh pada tahun 1368 H. Lalu kepemimpinanya digantikan oleh Hasan al-Hudhaibi, kemudian di gantikan oleh Mahdi ‘akif.

    Di antara pendapat kelompok ini ialah:

    1. Mewajibkan kaum Muslimin mengikuti Ikhwanul muslimin
    2. Mereka lebih mendahulukan akal dari pada wahyu dan menganggap akal suci/ma’sum.
    3. Sumber talaqqi (mengambil ilmu) mereka adalah akal.
    4. Menurut mereka kesempurnaan itu hanya dapat diperoleh dengan mengikuti prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin.
    5. Mereka mengatakan bahwa seluruh jama’ah yang tidak berada di bahwa panji mereka adalah jam’ah yang bathil atau gagal.
    6. Adanya bai’at dalam Ikhwanul Muslimin dan 10 rukunnya.
    7. Ikut dalam parlemen thaghut dan ikut memerintahkan panggung demokrasi demi tegaknya daulah Islamiyyah?!!
    8. Menerima orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan syirik akbar untuk masuk dalam anggota mereka.
    9. Meremehkan tauhid ibadah dan tidak menjadikannya sebagai asas berpijak dalam berdakwah.
    10. Membolehkan tawassul yang merupakan jalan menuju syirik serta menganggapnya sebagai cabang permasalahan agama yang tidak terlalu penting.
    11. Menghadiri dan membuat perayaan-perayaan bid’ah.
    12. Mereka memusuhi ahli tauhid salafiyyah dan bersimpati kepada ahli bid’ah dan kaum musyrikin.
    13. Mereka memaafkan ketergelinciran pemerintah untuk mengobarkan pemberontakan dan mereka membolehkan dan melakukan demokrasi.

    Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat mereka yang menyesatkan. Diantara pecahan Ikhwanul Muslimin adalah sururiyyah  dan Quthbiyyah .

    • Sururiyyah

    Sururiyyah adalah sebuah kelompok yang dinisbatkan kepada seorang yang bernama Muhammad bin Surur bin Nayif Zainal ‘AbidIn. Dia tumbuh di lingkungan Ikhwanul Muslimin di Syria, dan dia sangat taklid buta dengannya.

    Muhammad Surur menyatakan sendiri tentang dirinya bahwa dia berasal dari kelompok Ikhwanul Muslimin yang fanatic terhadapnya, meskipun dia berpura-pura kepada pengikutnya bahwa dia telah berpindah dari taqlid buta menuju ilmu dan pengetahuan. Akan tetapi dia masih tetap dalam koridor hizbiyyah (fanatic golongan) yang samar-samar. Hal itu dapat dibuktikan Ketika menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan syaikhnya, dia menjelaskan secara mujmal (global) dan tidak merincinya. Penjelasa secara global adalah ciri-ciri hizbiyyin. Dia tidak menjelaskan bahwa syaikhnya adalah seorang da’i yang menyeru kepada pendekatan kepada orang-orang Nasrani, sosialisme Islam, dan pernah menyenandungkan qasidah syirik yang di dalamnya terdapat istighatsah  (meminta tolong disaat sulit) kepada Rasulullah.

    Pada tahun 1969 M, Ikhwanul Muslimin di Syria berpecah belah, dan ini di sebabkan oleh dasar pemikiran mereka. Kelompok Ikwanul Muslimin di Halab dan Hamah condong kepada pemikiran sufi, maka mereka bersama pemimpinya ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah, dan ini sealiran dengan Hasan Al-Banna. Oleh karena itu, mereka hidup bersama organisasi resmi Ikhwanul Muslimiin. Sedangkan jama’ah Ikhwanul Muslimin di Damaskus  condong kepada pemikiran Sayyid Quthub, oleh karena itu mereka di bawah kepemimpinan ‘Isham bin Aththar, dan Muhammad Surur masuk di kelompok ini.

    Kemudian Muhammad Surur pindah ke Saudi Arabia untuk bekerja di sana. Di mulai giat menyebarkan pemikiran Sayyid Quthub. Khususnya di daerah Qhasim. Dan dia mampu menarik banyak pengikut dari segala arah hingga dia mendirikan jam’iyyah Hizbiyyah dibawah kedok organisasi sosial.

    Muhammad Surur kemudian meninggalkan negeri kaum Muslimin dan tinggal di negeri kafir di London, Inggris. Di London dia mendirikan al-muntada al-Islami Bersama kanan kanannya Abu Anas Muhammad al-Abdah serta pengikutnya dari orang-orang Saudi dan menerbitkan majala Al-Bayan kemudian majalah as-Sunnah.

    Dari penjelasan diatas dapat di ketahui bahwa Muhammad Surur adalah pengikut Ikhwanul Muslimin sekaligus pengikut Sayyid Quthub. Kemudian Muhammad Surur semakin gencar menyebarkan pemikiran Quthubiyyah (Sayyid Quthub) dengan nama  Manhaj Ahlus Sunnah Waljama’ah, as-Salafiyyah at-Tajdidiyyah (salafiyyah reformasi), as-Salafiyyah al-Ishlahiyyah (Salafiyyah perbaikan), dan as-Salafiyyah asy-Syar’iyyah (Salafiyyah Syar’i). Dan hal ini mempunyai pengaruh besar terhadap tertipunya Sebagian pemuda Muslim yang dulunya pernah belajar dakwah Salafiyyah untuk bergabung dengan kelompok yang dikenal dengan Sururiyyah setelah terjadinya perang Teluk kedua.

    Namun Muhammad Surur mengingkari keberadaan Sururiyyah ini dengan alasanya bahwa hal tersebut adalah rekayasa musuh-musuhnya. Yang selayaknya diketahui bahwa disini tidak ada celaan terhadap para ulama yang menggunakan nama Sururiyyah untuk menamai kelompok Muhammad Surur, karena semua kelompok bid’ah disandarkan penamaannya kepada pencetusnya. Jahmiyah disandarkan kepada Jamh bin Shafwan, al-Ibadhiyyah di sandarkan kepada ‘abdullah bin ‘ibadh, dan Quthubiyyah di sandarkan kepada Sayyid Quthub. Adapun pengingkaran Muhammad bin Surur akan keberadaan kelompoknya ini maka ini adalah dusta. Dia sendiri telah mengakui hal tersebut di hadapan saudara kita Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah. Dan orang yang dulu bergabung dengannnya juga mengakui hal itu, seperti ‘Isham Barqawi seorang takifiri yang berkedok dengan nama lain Abu Muhammad al-Maqdisi dan bantahannya terhadap Muhammad Surur dan kelompoknya.

    Dia juga pernah mengakui akan hal itu kepadaku (Syaikh Salim) di saat dia berkunjung ke yordania pada tahun 1983 M, Ketika dia hendak mencetak bukunya yang berjudul Wal jaa-a Daurul Majuus melalui perantara Nizham Sakejaha pemilik penerbit al-Maktabah al-Islamiyya. Abu ‘Isham Muhammad Surur meminta kepada pemilik al-Maktabah al-Islamiyyah untuk mengatur pertemuan denganku dan sejak saat itulah aku mengetahui rencana jahatnya untuk memecah belah dakwah Salafiyyah.

    • Syubhat-syubhat sururiyah

    Syubhat pertama: Diantara syubhat yang di lontarkan Muhammad Surur yang menunjukan akan penyimpangannya dari dakwah salafiyah yaitu ucapannya dalam kitab Manhajul Anbiyaa’ fid Da’wati illah(1/8), ”aku perhatikan kitab-kitab ‘aqidah, maka aku dapati bahwa kitab-kitab itu di tulis bukan pada zaman kita, dan kitab-kitab itu adalah solusi bagi problematika yang ada pada zaman di tulisnya kitab itu, meskipun ada pentingnya dan adanya kemiripan problematikanya,

    tetapi pada zaman ini membutuhkan problem yang membutuhkan solusi baru. Kemudian juga, metode-metode kitab ‘aqidah itu kering, karena yang ada hanya nash-nash dan hukum-hukum. Oleh sebab itu kebanyakan pemuda berpaling dan tidak menyukaianya. Namun sebaliknya, metode al-Qur’anul karim membuatku takjub karena pemaparan masalah ‘aqidah didalamnya lewat kisah para Nabi dan jihad mereka melawan orang-orang musyrik. Contohnya masalah berhala,didalam kitab-kitab ‘aqidah anda akan mebaca definisinya secara Bahasa dan istilah,macam-macam berhala, dalil keharamannya dari al-Qur’an  dan As-Sunnah serta ucapan para Ulama serta tentang sisi kesyirikannya.

    Adapun penjelasan tentang berhala didalam al-Qur’an, maka ini berbeda. Anda akan mengetahui apa ada di kitab-kitab ‘aqidah lewat dialog para Nabi dan kaumnya. Terkadang para Nabi tersebut menjelaskan tentang ketidakberdayaan berhala, dia tidak dapat mendatangkan manfaat atau mudharat, dan terkadang menghancurkan berhala-berhala mereka -seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim ‘alaihis-salam-dan terkadang menggambarkan keberanian Nabi, kekuatan hujjah, dan keteguhannya di atas kebenaran, meskipun kaum mereka sangat berkeinginan untuk membunuhnya. Semua itu dipaparkan dengan metode harakah yang sesuai dengan fakta yang menarik.”

    • Jawaban dari syubhat di atas:

    Yang dimaksud Muhammad Surur dengan kitab ‘aqidah yang kering ialah kitab-kitab ‘aqidah Salafiyah yang murni, seperti  asy-Syarii’ah karya al-Aajurri, al-ibanatul Kubra dan as-shugra karya ibnu Baththah as-Sunnah karya ‘abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan masih banyak lagi. Diantara bukti akan hal itu adalah:

    1. Muhammad Surur mengaku sebagai pengikut ‘aqidah Salafiyah?!
    2. Perkataannya tentang berhala, kesyirikan, makna laa ilaaha illallah, tauhid uluhiyyah… ini adalah pembahasan kitab-kitab ‘aqidah salafiyah.
    3. Muhammad Surur mensifati kitab-kitab ‘aqidah bahwa kitab-kitab tersebut hanyalah nash-nash dan hukum-hukum, kemudian ia berkata,”Contohnya masalah berhala, di dalam kitab-kitab’aqidah anda hanya membaca definisinya secara Bahasa dan istilah, macam-macam berhala, dalil keharamannya dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta ucapan para ulama serta tentang kesyirikannya…”Nash-nash dan hukum-hukum (menurut dia) itu kering (tidak bisa menggerakan/menyemangati), oleh karena itu para pemuda pada berpaling darinya!! Menurut dia, dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta ucapan para ulama yang menetapkan keharaman berhala dan kesyirikan ‘aqidah adalah kering, dan olehnya para pemuda lari darinya… Akan tetapi mereka justru terjatuh dalam jaring-jaring tokoh ahli bid’ah yang mendoktrin mereka tanpa ilmu, dan memberi fatwa kepada mereka dengan akal mereka sendiri sehingga sesat dan menyesatkan .
    4. Metode Al-Qur’an menurut para da’i Quthbiyah adalah metode harakah yang sering di gembar gemborkan oleh Sayyid Quthub dalam kitab-kitabnya.

    Bersambung….

    Referensi  :

    Diringkas dari buku         : Mulia dengan Manhaj Salaf

    Penulis                                 : Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cetakan 20, Pustaka at-Taqwa th, tahun 2018

    Diringkas oleh                   : Mayang fitria rizki (pengajar ponpes Darul Qur’an wal Hadist Oku Timur)

    Baca juga:

     

  • Nabi ‘Isa Akan Memiliki Istri dan Anak, Benarkah?

    Nabi ‘Isa Akan Memiliki Istri dan Anak, Benarkah?

    Nabi ‘Isa Akan Memiliki Istri dan Anak, Benarkah?

    SOAL : Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

    Semoga Allah selalu menjaga ustadz dan keluarga serta seluruh kaum muslimin.

    Izin bertanya pak ustadz.

    Apa benar nabi isa nanti itu akan menikah dan punya anak?

    Terima kasih. jazaakallaahu khairan

    Faisal, Bekasi

     

    JAWABAN

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

    Bismillah. Alhamdulillah washshalatu wassalam ‘ala Rasulillah.

    Allahu a’lam, kita tidak mendapatkan dalil yang sangat jelas menerangkan bahwa nanti Nabi ‘Isa ‘alaihissalam akan memiliki istri dan anak. Memang kita mendapatkan sebagian perkataan ulama menyebutkan hal tersebut di dalam buku akidah, di antaranya adalah yang dikatakan oleh Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari rahimahullah:

    والإيمان بنزول عيسى ابن مريم عليه السلام ينزل فيقتل الدجال ويتزوج ويصلي خلف القائم من آل محمد صلى الله عليه و سلم ويموت ويدفنه المسلمون

    “Dan beriman akan turunnya ‘Isa bin Maryam ‘alahissalam. Beliau akan turun dan membunuh Ad-Dajjal, kemudian beliau menikah dan shalat di belakang pemimpin dari keturunan Keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau akan wafat dan dikuburkan oleh orang-orang Islam.” (Poin ke-20 dari kitab Syarhussunnah)

     

    Di dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan secara umum:

    وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).” (QS Ar-Ra’du: 38)

    Dan merupakan kesempurnaan martabat sosial bagi seorang manusia, dia memiliki istri dan anak.

    Untuk permasalahan ini, kita belum bisa memastikannya, sampai nanti Nabi ‘Isa ‘alaihissalam turun dan kita melihat apa yang akan beliau lakukan.

    Wallahu a’lam bishhawab. Billahittaufiq.

    Dijawab oleh:

    Ust. Said Yai Ardiansyah, M.A.

    • Direktur Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur
    • Ketua Yayasan Kunci Kebaikan OKU Timur
    • S1 Alumnus Universitas Islam Madinah, KSA
    • Ustadz Pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia Korwil Palembang dan OKU

     

    BACA JUGA :