10 Kunci Kesuksesan

10-kunci-kesuksesan

Kesuksesan dalam segala urusan merupakan dambaan serta tujuan yang dikejar oleh setiap manusia baik sukses dalam menyelesaikan segala pekerjaan, kesuksesan dalam meraih apa yang diharapkan dan kesuksesan dalam menggapai kebahagiaan hidup di dunia. Hal tersebut tidaklah bisa dipungkiri, namun bagi seorang mukmin ada sebuah kesuksesan yang mutlak harus ia kejar, yaitu kesuksesan meraih keridhoan Alloh dan selamat di dunia dan akhirat.

Tentunya agar sampai kepada kesuksesan tersebut seseorang harus mengetahui kunci-kuncinya agar selanjutnya ia bisa memasuki pintu-pintu kesuksesan dengan mudah. Dalam Islam telah disebutkan isyarat-isyarat mengenai kunci-kunci keberhasilan tersebut, dan inilah 10 kunci yang telah diisyaratkan dalam agama Islam:

  1. Keikhlasan Niat.

Dalam melakukan sebuah amal perbuatan seseorang tertuntut benar-benar melakukannya secara tulus. Bekerja penuh dengan ketulusan, kerelaan dan niat yang baik merupakan diantara kunci kesuksesan. Ketika melaksanakan ibadah pun seseorang mesti meniatkannya dengan baik, dan untuk Alloh. Agar yang ia lalukan membuahkan yang baik sesuai dengan harapan dan yang diinginkan.

Alloh I berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi : 110).

Imam Ibnu Katsir berkata:

Ini adalah dua rukun amalan yang diterima, harus ikhlas untuk Alloh dan benar sesuai dengan syariat Rosululloh  . [1]

Rosululloh telah bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقْبَلُ مِنَ اْلعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Alloh tidak menerima dari suatu amalan melainkan apa yang murni untuk-Nya dan ditujukan dengannya untuk menggapai wajah-Nya.” [2]

Oleh karena itu Umar bin Khoththob memohon agar diberi keikhlasan dalam beraktivitas.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِيْ كُلَّهُ صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ لِوَجْهكَ خَالِصًا، وَلاَ تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيْهِ شَيْئًا.

“Ya Alloh, jadikanlah amalanku semuanya sholih, jadikanlah ia ikhlas untuk (mengharapkan)  wajah-Mu, dan janganlah Engkau jadikan (amalku) untuk seseorang meskipun hanya sedikit saja.”[3]

Apabila seseorang mengikhlaskan niat dalam berusaha, berupaya, bekerja beraktivitas dan beramal, maka berbagai limpahan karunia akan diperoleh.

Imam Ahmad berpesan kepada putranya:

يَا بُنَيَّ اِنْوِ الْخَيْرَ، فَإِنَّكَ لاَ تَزَالُ بِخَيْرٍ مَا نَوَيْتَ الْخَيْرَ.

Wahai Anakku, berniatlah kebaikan, sesungguhnya engkau akan senantiasa berada di atas kebaiknya selama engkau meniatkan kebaikan.[4]

Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata:

كُلُّ مَا لاَ يُرَادُ بِهِ وَجْهُ اللهِ يَضْمَحِلُّ.

Setiap sesuatu yang tidak diharapkan dengan-nya wajah Alloh maka akan menjadi lenyap/sirna.[5]

  1. Memiliki ilmu dan keahlian dalam segala yang dibidangi:

Berilmu merupakan kunci meraih kesuksesan dan keberhasilan di dunia dan akhirat. Ayat yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca. Bahkan Rosululloh n   juga masih diperintahkan agar berdoa memohon tambahan ilmu:

Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha : 114).

Seseorang yang melakukan suatu pekerjaan tanpa di dasari ilmu akan jauh dari kesuksesan, yang akibatnya ia akan menanggung kerugiannya. Rosululloh n  bersabda:

مَنْ تَطَبَّبَ وَلَمْ يُعْلَمْ مِنْهُ طِبٌّ فَهُوَ ضَامِنٌ

“Barangsiapa yang melakukan pengobatan, padahal belum diketahui bahwa dia memiliki pengetahuan tentang kedokteran, maka ia bertanggung jawab terhadap resikonya.”(HR. Abu Dawud, no. 4586, Ibnu Majah, no. 3466 dan lain-lain. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 6153, ash-Shahihah, no. 635). [6]

Apabila seseorang menangani suatu permasalahan, pekerjaan, aktivitas, kegiatan ataupun amalan-amalan tanpa didasari ilmu, maka yang terjadi adalah kerusakan dan kehancuran.

Rosululloh bersabda:

إذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إلى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.”[7]

Hadits tersebut berbicara mengenai kiamat serta tandanya, namun hal tersebut juga mengisyaratkan bahwa menangani sesuatu tanpa didasari keahlian adalah suatu hal yang tidak baik dan akan mengantarkan kepada kehancuran.

Imam Syafii berkata: “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka wajib berilmu, dan barangsiapa yang menghendaki akhirat, maka wajib berilmu.”[8]

  1. Keinginan dan semangat yang inggi.

Untuk menggapai keberhasilan, maka diperlukan pula tekad yang besar, dan cita-cita yang luhur dan mulia.

Rosululloh bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، واسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Alloh serta jangan lemah.” [9]

  1. Memohon pertolongan dari Alloh

Apabila seseorang berusaha dengan susah payah, akan tetapi tidak mendapatkan pertolongan dan taufiq dari Alloh, maka usahanya tidak akan mengantarkannya kepada kesuksesan. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللهِ لِلْفَتَى # فَأَكْثَرُ مَا يُجْنَى عَلَيْهِ اِجْتِهَادُهُ

Jika tiada pertolongan Alloh kepada seseorang pemuda

Maka kebanyakan yang akan terkorbankan adalah semangatnya[10]

Oleh karena itu Rosululloh memerintahkan kita agar memohon pertolongan kepada Alloh dalam sabda beliau:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، واسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Alloh serta jangan lemah.” [11]

Kita mengakui kelemahan kita dan kekuasaan Alloh untuk melakukan segala sesuatu. Oleh karenanya kita setiap harinya berdoa kepada Alloh dalam sholat memohon pertolongan Alloh ketika membaca Al-Fatihah.

Demikian pula ketika kita menjawab seruan adzan hayya `alash sholâh, dan hayya `alal falâh, kita ucapkan lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh).[12]

  1. Kesungguhan

Kesungguhan dan semangat dalam melakukan sesuatu merupakan modal besar yang akan menjadikan seseorang meraih kesuksesan yang diinginkan. Rosululloh menganjurkan untuk bersemangat dan bersungguh-sungguh melakukan apa segala yang bermanfaat:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، واسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Alloh serta jangan lemah.” [13]

Ibnul Qoyyim berkata: “Rosululloh n  memerintahkan agar bersemangat dalam mengambil sebab yang dapat mengantarkan kepada akibat, meminta tolong kepada Alloh yang menjadikan sebab itu  dan melarang dari perbuatan lemah yaitu:

  1. Kurang dalam (mengambil) sebab, dan tidak bersemangat dengannya
  2. Kurang dalam isti’anah (meminta pertolongan) kepada Alloh …”. [14]

Pepatah mengatakan:

بِقَدْرِ مَا تَتَعَنَّى، تَنَالُ مَا تَتَمَنَّى

“Sebesar jerih payahmu, engkau akan mencapai apa yang diangan-angankan.”[15]

  1. Bersikap menerima apa adanya (qona`ah):

Diantara kunci kesuksesan adalah menerima sesuatu yang telah Alloh karuniakan kepadanya dengan apa adanya tanpa berkeluh kesah.

Rosululloh telah menjelaskan adanya tiga kunci kemenangan dan kesuksesan yang salah satunya adalah qana’ah dengan apa  yang dikaruniakan. Alloh kepadanya.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntunglah orang yang Islam, diberi rejeki yang cukup dan Alloh jadikan menerima apa adanya sesuatu yang diberikan kepadanya.” [16]

Orang yang qona`ah laksana penguasa dunia. Imam Syafi`i mengatakan:

إِذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوْعٍ # فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءُ.

“Jika engkau memiliki hati yang penuh dengan qona’ah, maka engkau dan pemilik dunia adalah sama.” [17]

Beliau juga berkata:

مَنْ رَضِيَ بِاْلقَنُوْعِ زَالَ عَنْهُ الْخُضُوْعُ.

Barangsiapa yang rela denga penuh qana’ah, maka akan lenyap darinya ketundukan (kepada orang lain untuk mengharapkan pemberiannya). (Muqaddimah Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, hlm. 31).

  1. Tawakkal

Ungkapan-ungkapan Para ulama berbeda-beda ketika menjelaskan tentang definisi tawakkal. Akan tetapi hakikat bertawakkal adalah “melakukan berbagai sebab dengan sepenuh hati bersandar kepada Alloh yang menciptakan sebab dan berkeyakinan bahwa sebab adalah berada di tangan-Nya”.

Bertawakkal kepada Alloh memiliki banyak manfaat dan faidah, antara lain:

  1. Menjadi sebab diperolehnya kecukupan. Alloh berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. Ath-Thalaq: 3).

  1. Sebab diperolehnya rejeki

Rosululloh bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَيْرُ تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا.

“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Alloh dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rejeki sebagaimana burung diberi rejeki, ia pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong, dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang”.[18]

Ibnu Rojab mengatakan: “Hadits ini adalah dasar/pokok dalam masalah tawakkal dan bahwasanya (tawakkal itu) adalah sebab yang paling agung yang dapat mendatangkan rejeki”.[19]

  1. Memperhatikan orang-orang miskin dan yang kekurangan.

Di antara sebab mendapatkan kesuksesan adalah memperhatikan orang-orang yang lemah, kekurangan dan orang-orang yang miskin dengan memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka, sehingga merekapun mendoakan kebaikan bagi kita.

Rosululloh bersabda:

هَلْ تُنْصَرُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ ؟ بِدَعْوَتِهِمْ وَ إِخْلاَصِهِمْ

“Tidaklah kalian itu mendapatkan pertolongan melainkan melalui perantara orang-orang yang lemah di antara kalian. Yaitu dengan doa mereka dan keikhlasan mereka.” [20]

Dalam hadits yang lain Rosululloh juga menjelaskan:

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidaklah kalian mendapatkan pertolongan dan diberi rejeki melainkan karena orang-orang yang lemah di antara kalian.”[21]

  1. Mempergauli manusia dengan cara yang baik:

Diantara kunci kesuksesan adalah bermuamalah dengan sesama manusia secara baik. Dalam segala keadaan, kita dituntut untuk berbuat baik kepada orang lain. Ramah dan bersikap baik kepada orang lain serta berbicara yang lembut kepada mereka tanpa menyinggung kerasaan mereka adalah faktor besar mencapai kesuksesan.

Dalam berjual beli Rosululloh telah memberikan arahan agar bersikap baik kepada penjual maupun pembeli. Diantara bentuk sikap baik tersebut adalah seorang penjual menjelaskan kekurangan barang dagangannya. Sebaliknya seorang pembeli pun dengan jujur menyampaikan kepada penjual perihal sebab barang dagangan tersebut rusak saat berada di tangannya dan lain sebagainya. Maka hal tersebut akan menjadi sebab keberkahan bagi mereka berdua.

Seorang penjual maupun pembeli pun tertuntut untuk bersikap jujur dengan tidak bersumpah ataupun memberikan kesaksian ataupun pernyataan dusta. Maka hal tersebut termasuk mu`amalah yang baik yang akan mengantarkan kepada kesuksesan.

Sementara di akhirat sikap baik kepada orang lain adalah termasuk di antara sumber kebaikan dan kesuksesan terbesar, yaitu kesuksesan selamat dari api neraka. Rosululloh bersabda:

فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِيْ يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaknya ketika kematian datang kepadanya dalam keadaan beriman kepada Alloh dan hari akhir, dan hendaknya dia mempergauli manusia dengan cara yang ia suka untuk dipergauli dengannya.”[22]

Imam Qurthubi telah menjelaskan bahwa maksudnya adalah memperlakukan manusia dengan memberikan hak-hak mereka yang berupa nasihat (menginginkan kebaikan untuk orang lain) dan niat yang baik, sebagaimana ia suka untuk diperlakukan seperti itu. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya”.[23]

  1. Meninggalkan kemalasan:

Kemalasan merupakan penghalang kesuksesan yang terbesar, bahkan Nabi n berlindung kepada Alloh dari rasa malas dari melakukan kebajikan. Beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ ، وَالكَسَلِ ، وَالجُبْنِ ، والهَرَمِ ، والبُخْلِ ، وأعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وأعوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ

“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat penakut, pikun, sifat kikir dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur serta fitnah kehidupan dan kematian.”[24]

Kemalasan akan mendorong seseorang untuk menunda suatu pekerjaan atau bahkan sampai meninggalkan dan tidak mempedulikannya. Semoga Alloh memudahkan bagi kita untuk melakukan segala sebab tercapainya kesuksesan dalam segala hal di dunia dan akhirat.

[1] Tafsir Ibnu Katsir, IX/205

[2]  Diriwayatkan oleh Nasa’i, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shohihul Jâmi`, no. 1856

[3] Al-Istiqômah, Syaikhul Islam (II/229).

[4]  Ta’thîrul Anfâs, hal. 71

[5] Siyar A’lâmin Nubalâ’, IV/259

[6] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 4586, Ibnu Majah, no. 3466 dan lain-lain. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shohîhul Jâmi`, no. 6153, Ash-Shohîhah, no. 635.

[7] Diriwayatkan oleh Bukhori 1/ 23.

[8] Muqoddimah Al-Majmu`, 1/30.

[9]  Diriwayatkan oleh Muslim 8/ 56 (2664).

[10] . At-Tamtsîl wal Muhâdzaroh, hal. 10

[11]  Diriwayatkan oleh Muslim 8/ 56 (2664).

[12] HR. Muslim, dari Umar. Lihat Shohîhul Jâmi`, no. 714

[13]  Diriwayatkan oleh Muslim 8/ 56 (2664).

[14] Madârijus Sâlikîn, III/501

[15] Naf’uth Thib II/229

[16] HR. Muslim, dan lihat Shahih al-Jaami’, no. 4368

[17] Diwan Imam Syafi’I, hal. 25

[18]  HR. Tirmidzi, no. 2344  dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohih At-Tirmidzi

[19]  Jami`ul `Ulûm wal Hikam, hal. 588; At-Tawakkul Haqiqatuhu wa Anwâ`uhu, karya Ali bin Abdul Aziz Musa, hal. 92-97

[20] Shohîhul Jâmi`ish Shoghîr, no. 7034 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani

[21]  Shohîhul Jâmi`, no. 7035

[22] HR. Muslim. Lihat Shohîhul Jâmi`, no. 2403

[23] Al-Mufhim limâ Asykala Min Talkhish Kitab Muslim, IV/52

[24]  Diriwayatkan oleh Bukhori 8/ 97 (6363), 98 (6367), Muslim 8/ 75 (2706).

Sumber diambil dari majalah Lentera Qolbu

 

Baca juga artikel berikut:

MEMULIAKAN AL-QUR’AN

CARA SELAMAT DARI FITNAH

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.