Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

PROBLEM SOLVING REMAJA MUSLIM

problem solving remaja muslim

PROBLEM SOLVING REMAJA MUSLIM – Perkembangan hidup para remaja tidak lepas dari problema yang harus di hadapinya. Semakin berat problem yang di hadapi semangkin besar pula tenaga, pikiran dan waktu yang dibutuhkan. Akan tetapi semangkin banyak problema yang bisa di selesaikan dengan tuntas akan membuat seseorang hamba mangkin tangguh, dewasa, matang dan mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga.

Cintailah sesuatu yang Anda kerjakan, jangan hanya mengerjakan sesuatu yang Anda cintai, biasakan berbuat kebenaran jangan hanya membenarkan kebiasaan yang yakinilah sesuatu yang Anda ucapkan jangan hanya mengucapkan sesuatu yang Anda yakini, karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

ولا تكسب كل نفس إلا عليها ولاتزروا زرة وزر أخرى

Artinya: “Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudhoratkannya akan kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa yang lain.” (QS. Al-An’am: 164).

Permasalahan yang menghambat kemajuan, merusak karier, menganggu prestasi mengumpulkan bakat dan membuat suram masa depan anak, antara lain:

1. Kurang Bertanggung Jawab

Bertanggung jawab merupakan sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap kaum muslimin dalam setiap kondisi. Tanggung jawab adalah setiap dimana kita harus bersedia menerima akibat dan resiko dari apa yang telah kita perbuat, karena orang hebat adalah orang yang mampu bertanggung jawab atas resiko tindakannya. Selain itu, tanggung jawab juga merupakan sikap di mana kita harus berkonsekuen dengan apa yang telah kita percayakan pada kita.

Dan bila seseorang kehilangan sikap tanggung jawab, yang akan terjadi seseorang menjadi pengecut, berlepas tangan dari masalah dab melempar ke orang lain, lemah kemauan, suka mengkambing hitamkan orang lain, dan kurang bergairah serta apatis menjalankan hidup, sementara meraih kemuliaan butuh kerja keras.

Sikap kurang bertanggung jawab tumbuh di sebabkan karena faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Minder

Minder adalah sikap seseorang yang selalu merasa dirinya bodoh, tidak memiliki pendidikan yang cukup, merasa tidak mampu melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain, merasa tidak enak, merasa dirinya tidak berguna, merasa dirinya selalu salah dan suka iri hati dengan kelebihan orang lain.

Rasa malu dan tidak percaya diri (minder) bila berkelanjutan akan mengakibatkan kecemasan yang sangat tinggi, karena seseorang yang merasa malu dalam pergaulan sosial dan selalu menutup diri akan merasakan kesepian yang mendalam. Perasaan minder tidak bisa hilang dengan cara memaksakan diri untuk percaya diri. Karena minder semangkin dilawan, semakin kuat. Oleh karena itu orang tua harus bisa membangkitkan  kembali kepercayaan dari anak-anaknya agar tidak menyerah dan mencintai tantangan karena lezatnya hidup hanya dapat di raih dengan banyak tantangan.

Minder berawal dari sikap orang tua yang over protektif, harapan kepada anak yang berlebihan, sikap otoriter dan keras kepada anak serta problematika rumah tangga orang tuanya. Bagaimana menumbuhkan sikap percaya diri pada anak? Orang tua harus mengubah sikap dan melakukan pendekatan kepada anak.

  1. Picik

Picik menurut kamus bahasa tidak luas atau sempit, orang yang picik adalah orang yang memiliki pandangan sempit tidak terpikir panjang dan biasanya mudah emosi dan selalu berpikir negatif. Sikap picik terbentuk karena lingkungan yang rusak, pendidikan yang salah, terlalu dimanja, banyak dihina dan direndahkan atau mental orang tua picik sehingga menular ke anaknya. Tipikal yang licik senantiasa menghadiri suasana galau pada orang-orang sekitarnya, menghasut, menakut-nakuti, membuat gambaran buruk pada setiap usaha yang akan dilakukan, bersikap oportunis dan mematahkan semangat orang lain untuk melakukan perbaikan, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الذين يبخلون ويأمرون الناس بالبخل

Artinya: “(yaitu) orang –orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir.” (QS. An-Nisa’: 37).

  1. Biasa meremehkan urusan

Meremehkan urusan orang lain dan menyepelekan kebaikan adalah awal dari kehancuran. Urusan dan kebaikan sekecil apa pun selagi mendatangkan ridho Allah, setiap muslim harus mengerjakan dan mengejarnya dengan serius.

Meremehkan urusan merupakan sikap kurang tanggung jawab dan penghianat karena boleh jadi orang yang menghianatimu bukan orang yang meremehkan dirimu, tetapi siapa yang meremehkan dirimu secara otomatis telah berkhianat terhadap dirimu. Maka orang yang meremehkanmu secara otomatis menghianatimu, namun tidak setiap orang menghianatimu secara otomatis meremehkanmu.

  1. Sikap plinplan

Seorang muslim harus tegas dalam bersikap, tidak plinplan. Plinplan adalah tidak ada kesinambungan niat dengan ingatan, tidak sesuai antara kata-kata dengan tindakan. Sikap plinplan akan membuat seseorang tidak di hormati, karena kehormatan seseorang terletak di ketegasan kita untuk memajukan yang baik.

Watak plinplan bisa menumbuhkan kemunafikan dan senang memutar balikan fakta, sehingga orang yang plinplan akan menganggap berat urusan ringan, membesar-besarkan urusan kecil, menganggap kecil kesalahan yang besar, dan menganggap besar kebaikan yang kecil serta menganggap suatu mustahil untuk diselesaikan kecuali dengan upaya besar di luar kemampuan yang ada.

  1. Berpura-pura tawadhu’

Sikap berpura –pura tawadhu adalah sikap yang ingin mengelak dari tanggung jawab, sikap ini sering kita temukan pada orang yang memiliki kelebihan, namun tidak mau memanfaatkannya, karena faktor malas, pengecut atau enggan menanggung risiko. Atau, ada sebagian orang yang di karuniai Allah rezeki, tetapi tidak mau membelanjakannya untuk kebajikan dengan alasan bukan orang berada. Atau, orang yang mampu mengubah kemungkaran atau berdakwah, tetapi tidak melakukan dengan alasan bukan seorang Ustadz atau bukan sosok yang pas untuk menangani bidang tersebut, dan sering mengelak dari tanggung jawab.

2. Gagal belajar

Ketahuilah bahwa, tujuan utama mencari ilmu adalah untuk meluruskan aqidah, menuntut kepada ilmu syari, mencari keridhoan Allah, menghilangkan kebodohan, mengamalkan ilmu, memperbaiki ibadah, meraih keibadaan abadi, dan mencari ilmu untuk akhirat. Sehingga barang siapa yang menuntut ilmu bukan untuk tujuan di atas, ia akan di kenakan ancaman Rasulullah.

Bila tidak ada keutamaan ilmu kecuali ilmu menjadikan para penuntut ilmu disegani orang-orang bodoh, dicintai orang-orang berilmu, dan di hormati orang-orang awam, maka cukup menjadi alasan untuk terus istiqomah menuntut ilmu. Sementara manfaat ilmu sangat banyak, antara lain; membimbing kepada kebaikan agar di amalkan dan menujukan keburukan agar dijauhi. Dengan demikian ilmu menumbuhkan semangat beramal kebaikan dan kebenaran, sehingga sangat jarang kita temukan orang menjadi baik tanpa melalui ilmu kecuali karena watak dasarnya memang baik.

Sikap seseorang dalam menuntut ilmu bervariasi, sesuai dengan target dan tujuan yang ingin di capainya, namun secara umum, penuntut ilmu yang gagal terbagi menjadi tiga kelompok:

Pertama: kelompok yang malas belajar, enggan menuntut ilmu sama sekali dan tidak pernah mau berusaha mencari ilmu meskipun ilmu-ilmu yang wajib di pelajari banyak seperti mempelajari aqidah ahlussunnah waljamaah atau sifat sholat nabi.

Kedua: kelompok yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu bukan untuk mengejar keutamaan, menghilangkan kebodohan, membersihkan kotoran hati, atau mengajarkan kepada orang lain, melainkan hanya untuk mengejar ijazah formal gelar sarjana dan lapangan kerja. Ia menyangka akan meraih sukses secara materi dan dapat menjamin masa depan dunianya. Sementara yang bisa menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat adalah ketakwaannya kepada Allah adapun ijazah formal dan sarjana hanya menjanjikan kebahagiaan semu.

Ketiga: kelompok yang bersungguh-sungguh mencari ilmu tetapi hanya untuk mengalahkan saingannya, mengungguli orang bodoh dalam berdebat, bisa bersanding dengan ulama dan memalingkan perhatian umat kepadanya. Maka orang seperti ini belum menunaikan hak ilmu, bahkan belum tahu kemuliaan ilmu. Mereka mengira setelah mendapatkan popularitas atau bisa mengungguli saingan tujuan mencari ilmu telah berhasil.

3. Terpedaya fatamorgana dunia

Peradaban manusia saat ini sudah jatuh dari nilai-nilai Islam, dengan menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan yang bertebaran baik di kota besar maupun kota-kota kecil membuat anak –anak remaja hidup konsumerisme, membuang-buang waktu dan menghambur-hamburkan uang tanpa tujuan. Padahal kelak di akhirat uang mereka hamburkan itu akan dimintai pertanggung jawabannya.

Sikap terbaik dalam membelanjakan harta adalah membelanjakannya harta untuk kebaikan misalnya membantu tetangga yang membutuhkan bantuan, sanak kerabat yang terlantar dan orang-orang yang kondisi dunianya sangat mengenaskan serta di belanjakan untuk membantu dakwa Islam. Harta yang di keluarkan bukan untuk kebaikan adalah mubazir meskipun jumlahnya kecil dan bila di belanjakan di jalan Allah adalah suatu kemuliaan meskipun jumlahnya besar.

Membayar harta yang wajib di keluarkan hukumnya fardhu ain, membagi harta termasuk sikap dermawan, mengalah untuk menutupi kebutuhan hidup orang lain dan dirinya tidak tertimpa bahaya merupakan suatu keutamaan, sedang menghalangi harta yang wajib di keluarkan hukumnya haram.

Adapun sikap seseorang yang terlihat senang memberi, bermurah hati, dan dermawan tetapi suka mengungkit-ungkit dan menyakiti perasaan si penerima, pahalanya akan hilang sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

يأيها الذ ين ءامنوا لاتبطلوا صد قتكم بالمن والأذى

Artinya: “Hai orang –orang yang beriman, janganlah kamu menghilang kan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah:264).

 

Oleh karena itu, Islam melarang sikap boros karena tindakan tersebut merusak harta dan juga melarang sikap bakhil karena kebakhilan menujukan kemauan yang rendah dan akhlak yang tercela, merusak agama dan mencederai muru’ah. Bahkan dapat menyeret pelakunya kepada penderitaan, membuat dada sempit, hati gundah, jiwa kerdil, dan hidup kurang ceria, bahkan banyak di rundung duka nyaris tidak terselesaikan dan tidak tercapai apa yang di cari.

4. Malas beribadah

Malas beribadah sudah tidak asing lagi dikalangan remaja. Setan telah berhasil mengalahkan para remaja dengan televisi, gadget, game, konser music, olah raga dan lain sebagainya. Orang tua harus mengawasi sholat anak-anaknya, baik sholat wajib maupun nafilah, jangan membiarkan mereka tidur larut malam, sehingga tidak bisa bangun sholat subuh pada tepat waktunya. Jangan membiarkan mereka main game, internet atau bergadang di depan TV hingga larut malam misalnya, yang mengakibatkan terlambat sholat, dan terganggu belajarnya, bahkan bergadang akan membuat badan sakit-sakitan, jiwanya buruk dan malas sehingga nabi berwasiat kepada Fatimah dan kepada Ali ketika beliau suatu kali melewati mereka pada malam hari,

ألا تصلون ؟

Artinya: “tidakkah kalian berdua melakukan sholat (malam)?” (Diriwayatkan bukhori dalam shahihnya, (7465)).

Melatih anak untuk rajin beribadah membutuhkan kerja keras, telaten, kesabaran dan keteladanan.

5. Suka bersandiwara

Pandai berakting atau bersandiwara merurut sebagian orang dianggap prestasi, tetapi menurut kaca mata agama adalah suatu kemunafikan, karena ia menampilkan bukan sikap aslinya, kadang terlihat orang yang alim, kadang terlihat seorang penjahat, kadang glamor dan kadang zuhud. Penampilan zhohir tergantung dengan suasana hati, kalau sedang kagum dengan ulama maka penampilannya seperti ulama, ketika kagum dengan artis, atlit atau pemusik maka ia pun meniru tingkah laku mereka, maka tanpa mereka sadar telah melakukan perilaku kemunafikan.

Orang tua harus tegas dalam mendidik dan mengarahkan anak atas pilihan gaya hidup dan bakat sesuai dengan tuntunan syariat.

6. Terfitnah dengan syahwat

Banyak remaja muslim yang terlena oleh glamornya dunia dan syahwat, sehingga kebiasaan hidupnya hanya untuk mencari kenikmatan dunia dan memuaskan syahwat, bahkan mereka lebih rakus dan buas dari serigala.

Sifat rakus telah banyak membelenggu umat manusia, elit politik, pengusaha dan anak-anak gendongan, bahkan orang yang kelihatan alim juga banyak yang terjerat oleh sifat ini yang terakhir di jeruji besi. Kenapa mereka bisa terbelenggu dengan ketamakan, karena ketidaktahuan mereka akan tabiat dunia. Bukankah dunia itu tidak lebih dari bangkai kambing cacat.

Beberapa bentuk terlena oleh syahwat dan kemewahan dunia yang harus dihindari oleh anak sholeh antara lain:

  1. Berlebihan makan dan minum.

Berlebihan dalam makan dan minum akan membuat hati keras, pikiran tumpul, ibadah malas, muncul berbagai macam penyakit jasmani dan pemicu tindak kejahatan. Untuk mengantifikasi hal itu Rasulullah memberi rambu-rambu makan yang bisa menyehatkan dan menajamkan pikiran.

Hati-hati terhadap kekenyangan, karena karena memicu kemalasan dalam sholat dan rusak badan. Dan pegang teguhlah kesederhanaan dalam makanan kalian, karena demikian itu lebih menjauhkan kalian dari kepongahan, lebih sehat untuk badan kalian dan lebih kuat untuk ibadah. Dan seseorang tidak dihancurkan selagi tidak mengutamakan syahwatnya di atas agamanya.

وكلوا واشربوا ولا تسرفوا

Artinya: “dan makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

  1. Banyak tidur

Sebagaimana halnya banyak makan dan minum, banyak tidur pun akan membuat hati keras, mudah meracuni, karena kebanyakan tidur akan membuat orang larut dalam kelezatan tidur paling sehat dan paling bagus adalah tidurnya Rasulullah. Beliau segera tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kemudian berdiri dan bersiwak lalu melakukan sholat tahajud. Dengan melaksanakan sholat, badan melakukan olahraga secara sempurna sehingga manusia hidup sehat badan, rohani, dunia dan akhirat.

  1. Berlebihan dalam bersolek

Berhias dalam batas yang wajar bagian dari sunnah nabi. Bahkan Allah menganjurkan kepada hamba-Nya agar memakai perhiasan ketika datang ke masjid dalam langka ibadah. Berlebihan dalam berhias, bersolek dan memaksa diri untuk berdandan adalah perbuatan yang tercela. Apabila memaksakan diri untuk meraih derajat sempurna sehingga menghabiskan waktu berjam-jam di depan kaca hias, dan menghambur-hamburkan jutaan rupiah hanya untuk membeli alat kosmetik dan parfum. Bukan itu mubazir? Sementara kita tahu, mubazir termasuk tindakan setan.

7. Gemar mengkritik

Mengeritik adalah sebuah bentuk kepedulian seseorang terhadap suatu hal, bila dilakukan dengan benar dan bertujuan untuk memperbaiki suatu keadaan, hal tersebut bagus, tetapi kalau keritik yang di berikan dengan nada penghinaan atau merendahkan akan membuat orang lain tidak nyaman. Orang yang suka mencela dan gemar mengkritik biasanya kurang cakap berbuat, siapa yang sibuk berbicara kebanyakan kurang pandai berkarya dan siapa yang berbuat maka akan sedikit berbicara.

Perbincangan seseorang itu terbagi menjadi tiga kelompok:

Pertama, mereka yang berbicara ngawur, tidak paham dengan apa yang dia bicarakan, apakah pembicaraan tersebut bisa merusak kebenaran dan mengatakan kebatilan, atau pembicaraan tersebut bisa menjerumuskan dirinya atau orang lain. Sikap seperti ini bisa mendominasi oleh manusia di zaman sekarang.

Kedua, mereka berbicara tentang sesuatu yang mereka anggap benar dan membantah sesuatu yang mereka anggap bathil, tetapi tidak mencoba untuk mengali akar permasalahan. Bahkan keras kepala terhadap suatu yang telah diyakini. Kelompok ini pun cukup banyak namun tidak sebanyak yang pertama.

Ketiga, mereka berbicara pada tempatnya dan demikian itu lebih mahal dari belerang merah. Oleh sebab itu anak sholeh harus berbicara pada tempatnya, dan jangan berbicara jika pembicaraan tersebut tidak di perlukan dan tidak ada manfaatnya, karena orang yang banyak bicara akan di benci Rasulullah.

8. Banyak keluh kesah

Manusia hidup tidak mungkin lepas dari ujian ataupun musibah baik yang mengenai dirinya, keluarga atau pun hartanya dan hal itu akan selalu ada hingga ajal menjemput. Akan tetapi manusia tidak bersabar menghadapinya dengan banyak keluh kesah, meratap dan suka mengadukan nasibnya kepada orang lain. Dan jarang di antara mereka yang yang mengadukan masalah yang dihadapinya kepada Allah dengan memperbaiki ibadah dan bertaubat dari perbuatan dosa.

9. Pandai menghayal

Cita-cita yang diharapkan tidak mungkin tercapai dengan angan-angan kosong dan khayalan belaka. Keberhasilan hanya bisa di raih dengan kerja keras, kesabaran, keuletan, dan mendekatkan kepada Allah, Allah berfirman kepada orang –orang yang beriman:

ليس بأمانيكم ولا أمانى أهل الكتب

Artinya: “(pahala dari Allah) itu bukan menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula angan-angan ahli kitab.” (QS. An-Nisa’: 23).

Kondisi remaja saat ini banyak yang terbuai oleh mimpi indah hidup bahagia. Mereka berupaya untuk mengejar mimpi tapi puas hanya demean hayalan dan enggan untuk berkarya. Bila mimpi di kejar hanya dengan khayalan maka suatu yang di raih hanyalah frustasi yang tak berujung pada keberhasilan dan tak berpangkal pada kesuksesan. Mimpi harus dikejar dimanapun dia pergi dengan usaha, ilmu dan memohon pertolongan kepada Allah.

10. Bangga dengan nasab

Untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan yang terhormat seseorang pasti melakukan suatu usaha yang panjang dan melelahkan. Namun anak cucu mereka menikmati sesuka hatinya dengan tidak berusaha untuk menjaga dan melestarikan. Maka mereka sombong dengan membanggakan prestasi dan kemuliaan yang telah dicapai nenek moyangnya dan tidak berusaha mengejar prestasi, kemuliaan, atau menjadi teladan mengikuti jejak para pendahulunya, sehingga menjadi orang hebat seperti mereka. Mereka hanya bangga dengan kebesaran nasab dan keturunan tanpa menujukan kehebatan dirinya.

11. Berlebihan dalam bercanda

Bercanda bisa mencairkan suasana, menghilangkan penat, mengusir rasa bosan, menyehatkan badan dan menggembirakan teman. Bercanda tidak dilarang oleh Islam asalkan tidak keluar dari syariat dan tidak mengandung unsur dusta, karena Rasulullah terkadang bercanda dengan para sahabatnya.

Segala sesuatu yang ada permulaannya dan awal mula permusuhan adalah canda. Seandainya bercanda itu pejantan, maka ia tidak dikawinkan kecuali dengan keburukan. Wahai anak saleh, jangan bercanda dengan orang mulia, sehingga ia dengki kepadamu dan jangan pula bercanda demngn orang yang hina, sehingga ia berani bersikap kurang ajar kepadamu. Sebagai ahli hikmah berkata, “sesungguhnya gurau itu adalah makian tapi pelakunya sambil tertawa.”

12. Putus asa melakukan perbaikan

Anak shaleh harus berlatih mengendalikan hawa nafsu dan mengekang syahwat hingga mampu membimbing dirinya di atas keimanan, ketaatan dan kemuliaan serta meninggalkan sesuatu yang menghancurkan dirinya. Karena orang yang berakal seharusnya paham bahwa sumber dari setiap kehancuran adalah mempertuntutkan kebiasaan buruk.

Tidak sedikit para pemuda yang berbuat dosa dan maksiat yang telah lampaui batas, mereka berputus asa melakukan perbaikan sehingga dosa dan maksiat melekat dengan dirinya dan sulit untuk di lepas. Maka janganlah kalian ikuti keinginan hawa nafsu dan dorongan syahwat, dengan pengorbanan kebahagiaan abadi.

13. Malas bekerja

Di antara penghambat kemajuan remaja muslim adalah malas bekerja, tidak mau berusaha mencari rezeki, minder dalam persaingan, kurang mandiri dalam berusaha, dan suka minta-minta. Islam mencela pemalas, membenci peminta-minta, dan mengunci mati semua bentuk ketergantungan kepada orang lain. Islam memuji orang yang bersabar dan menahan diridengan tidak meninta uluran tangan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, karena akan menimbulkan keburukan dan kemunduran. Bahkan Allah member jaminan bagi orang yang mampu memelihara diri untuk tidak meminta-minta.

14. Mencontoh orang pander

Orang jahil dan pander cenderung memusuhi apa yang tidak di ketahuinya. Sehingga, ajakan para nabi mereka tolak karena kebodohan. Bahkan mereka tidak segan-segan memusuhi kebenaran, mencela kebaikan, merusak dakwah dan mendukung maksiat. Benar, apa yang di tegaskan Ali bin Abu Thalib, “Dan lawan setiap orang adalah kejahilannya, dan orang –orang yang jahil menjadi musuh para ulama.”

Kalau orang bodoh menjadi musuh dirinya, bagaimana bisa menjadi teman untuk orang lain. Dan ketahuilah, bahwa perbedaan antara orang yang bodoh demean kedelai, kalau kedelai masih bermanfaat. Oleh karena itu orang yang patut dijadikan teladan hanya orang yang berakal, berakhlak mulia, tidak berbuat kefasikan dan bukan orang yang rakus terhadap dunia.

Karena orang berakal bila bersalah dengan kecerdikannya segera menghapuskannya dengan tobat, sedangkan orang yang bodoh seperti orang yang membangun suatu bangunan lalu ia hancurkan karena kebodohannya, atau orang yang beramal lalu ia merusak kebaikan amalnya.

15. Menyia-nyiakan waktu

Berhura-hura, berdagang, berjam-jam di depan televisi atau komputer hanya untuk facebookan, berjam-jam dengan HP hanya iseng serta kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya yang hanya sekedar untuk membuang-buang waktu. Membuang-buang waktu itu adalah bunuh diri secara terselubung, karena orang yang menghabiskan waktu tidak untuk yang bermanfaat akan tenggelam dalam kelalaian dan keteledoran. Nabi menganjurkan agar menghindari segala perkara yang tidak berguna seperti dalam sabdanya,

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

من حسن إسلا م المرء تركه ما لا يعنيه

Artinya: “Termasuk tanda kebaikan islam seseorang bisa meninggalkan sesuatu yang tidak berguna”. (Hadist hasan, diriwayatkan oleh imam Thirmidzi dalam shahihnya (2318)).

16. Congkak dan sombong

Sombong dan congkak merupakan dosa yang membuat iblis terusir dari surga dan menjadi makhluk yang terkutuk dan terlaknat. Agar tidak menjadi makhluk yang terkutuk anak sholeh yang menyingkirkan sifat sombong dan congkak, karena sombong dan congkak sangat mencela menurut syariat, akal dan fitnah. Orang yang sombong sangat di benci Allah dan Rasulnya dan para makhluknya.

Wahai orang yang sombong! Ingatlah asal-usul Anda yang menjijikkan yang terkadang bercampur dengan darah haid, yang berbau anyir, dua kali Anda keluar masuk dari jalan kotoran.

Pertama: saat orang tua Anda berhubungan suami istri.

Kedua: ketika Anda lagi dilahirkan, Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, “pernah Abu Bakar berhutbah mengingatkan kami dan berkata, sungguh, setiap manusia dia antara kalian pernah dua kali melalui jalan kotoran.’

17. Gampang berbohong

Kebiasaan berbohong merupakan perbuatan yang hina dan sifat tercela serta termasuk salah satu cabang kekufuran, karena kebiasaan orang berbohong untuk menutupi suatu kejahatan. Bahkan suka berbohong akan melahirkan kebiasaan mencuri, menipu dan memalsukan segala sesuatu. Sehingga berbohong bisa merusak nama baik, merontokkan reputasi dan menjadi penyebab hilangnya kepercayaan orang lain yang selama ini berhubungan dengannya. Bohong menujukan kerdilnya jiwa, hinanya martabat dan rendahnya kepribadian.

18. Hasud dan dengki

Hampir semua orang memiliki sifat hasud dan dengki meski dengan kadar yang berbeda-beda. Namun orang mulia mampu mengendalikannya, sementara orang hina melampiaskannya, dan hasud merupakan penyakit yang menular.

Sifat dengki yang melampiaskan, membawa jiwa menjadi gelap, hati menjadi hitam dan tidak mengenal pintu maaf walaupun hanya karena masalah sepele. Bahkan, kadang memendam dendam membara dan menunggu saat yang tepat untuk menumpahkannya. Pemilik sifat hasud sangat pantas mendapat bencana hidup; kegundahan yang tidak pernah putus, tertimpa musibah yang tidak berpahala, usaha hidup yang tidak teruji, mendapat murka Allah, dan pintu taufik tertutup rapat baginya.

 

REFERENSI:

Diringkas dari buku: Golden Ways Anak Sholeh

Penulis: Zainal Abidin bin Syamsuddin

Di ringkas oleh: Lia Maulana (pengajar ponpes darul Qur’an Wal-Hadist OKU timur).

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Ajukan Pertanyaan atau Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.