Mengawali Kehidupan Anak dengan Ketaatan: Sunnah-Sunnah Setelah Kelahiran (Bagian 1)
Mengawali Kehidupan Anak dengan Ketaatan: Sunnah-Sunnah Setelah Kelahiran (Bagian 1) – Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulilah, wa ba’da. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Ta’ala Rabb semesta alam, Dzat yang Maha Esa tidak ada sekutu baginya, Dzat yang memilki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia, Ialah yang telah menciptakan segala sesuatu dan mengistimewakan sebagiannya dari sebagian yang lainnya. Shalawat dan salam kita haturkan kepada suri tauladan kita Nabi yang mulia Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang telah menyampaikan risalah dari Allah, mengajarkan Al-Qur’an dan hikmah, tidak ada jalan yang menghantarkan ke surga-Nya kecuali telah Beliau perintahkan, dan tidak ada jalan yang menghantarkan ke neraka kecuali telah Beliau peringatkan.
Kelahiran anak adalah momen yang sangat dinantikan dan disyukuri oleh setiap keluarga. Sebagai orangtua, kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita, termasuk mengawali kehidupannya dengan ketaatan dan keberkahan. Dalam Islam, ada beberapa sunah yang dianjurkan untuk dilakukan setelah kelahiran anak, yang akan membantu mengantarkan anak kita menuju jalan yang lurus dan diberkahi. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa sunah tersebut dan bagaimana kita dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak kita dapat tumbuh menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada orangtua.
Setelah kelahiran anak, dianjurkan bagi orangtua atau wali dan orang di sekitarnya melakukan hal-hal berikut:
1. Menyampaikan Kabar Gembira dan Ucapan Selamat Atas Kelahiran
Begitu melahirkan, sampaikanlah kabar gembira ini kepada keluarga dan sanak famili, sehingga semua akan bersuka cita dengan berita gembira ini.
Allah berfirman tentang kisah Nabi Ibrahim bersama malaikat:
وَأَمْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِن وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ
Artinya: “Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya’qub.” (QS. Hud: 71)
Allah Ta’ala juga berfirman tentang kisah Nabi Zakariya:
فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بيحيى
Artinya: “Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya), ‘Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, ….” (QS. Ali Imran: 39).
Adapun tahni’ah (ucapan selamat), tidak ada nash khusus dari Rasulullah shallahu alaihi wassalam dalam hal ini, kecuali apa yang disampaikan Aisyah Radhiyallahu Anha:
كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ يُؤْتَى بِالصَّبْيَانِ فَيَدْعُو لَهُمْ بِالْبَرَكَةِ وَيُحَبِّكُهُم
Artinya: “Rasulullah biasa dibawakan anak-anak bayi, maka beliau mendoakan keberkahan bagi mereka dan mentahnik mereka (mengolesi langit-langit mulut mereka dengan kurma atau madu).” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Abu Bakr bin al-Mundzir menuturkan, Diriwayatkan kepada kami dari al-Hasan al-Bashri, bahwa seorang laki-laki datang kepadanya di mana pada saat yang sama terdapat seorang laki-laki di sampingnya yang baru saja mendapatkan kelahiran seorang anak laki-laki. Orang tadi berkata, “Selamat, Anda telah mendapatkan seorang penunggang kuda.” Maka al-Hasan berkata, “Dari mana kau tahu? Bisa jadi dia penunggang kuda atau justru keledai?” Maka orang itu bertanya, “Lalu apa yang mesti kita ucapkan.” Al-Hasan al-Bashri berkata, “Ucapkanlah,
بُوْرِكَ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ.
Artinya: “Semoga engkau diberkahi atas pemberian (kelahiran) anak, kamu pun bersyukur kepada Dzat Pemberi, semoga engkau diberikan juga karunia baktinya, dan dia mencapai kedewasaannya.“
2. Menyerukan Adzan Pada Telinga Bayi
Abu Rafi’ menuturkan:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِقٍ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَة
Artinya: “Aku melihat Rasulullah (membisikkan), adzan pada telinga al-Hasan bin Ali setelah Fathimah melahirkannya. ” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Hikmahnya, wallahu a’lam, supaya adzan yang berisi pengagungan Allah dan dua kalimat syahadat itu merupakan suara yang pertama kali masuk ke telinga bayi. Juga sebagai perisai bagi anak, karena adzan berpengaruh untuk mengusir dan menjauhkan setan dari bayi yang baru lahir, yang ia senantiasa berupaya untuk mengganggu dan mencelakakannya. Ini sesuai dengan pernyataan hadits:
إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ، لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ.
Artinya: “Jika adzan dikumandangkan untuk shalat, setan lari terbirit-birit dan ia memiliki suara kentut hingga ia tidak mendengar seruan adzan. ” (Muttafaqun ‘Alahi)
3. Tahnik (Mengolesi Langit-langit Mulut Bayi dengan Kurma atau Madu)
Termasuk Sunnah yang seyogyanya dilakukan pada saat mendapat kelahiran bayi adalah tahnik, yaitu melembutkan sebutir kurma dengan mengunyah atau menghaluskannya dengan cara yang sesuai (dengan cara yang diajarkan Nabi), lalu dioleskan pada langit-langit mulut bayi. Caranya, dengan menaruh sebagian kurma yang sudah lembut di ujung jari lalu dimasukkan ke dalam mulut bayi dan digerakkan dengan lembut ke kanan dan ke kiri sampai merata ke mulut bayi, baik dengan kurma, atau madu atau gula. Bahkan jika tidak ada kurma, maka boleh dengan apa saja yang manis.
Abu Musa menuturkan,
وُلِدَ لِي غُلَامٌ، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ، وَحَنَّكَهُ بِتَمْرٍ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ، وَدَفَعَهُ إِلَيَّ.
Artinya: “Seorang anak laki-laki dilahirkan untukku, maka aku datang kepada Nabi, maka beliau menamainya Ibrahim, lalu mentahniknya dengan sebiji kurma dan mendoakan keberkahan baginya, kemudian menyerahkannya kepadaku.” (Muttafaqun ‘Alahi)
Tahnik mempunyai pengaruh kesehatan sebagai-mana dikatakan para dokter. Di antara mereka adalah Dr. Faruq Masahil dalam tulisan beliau yang dimuat majalah al-Ummah, Qatar, edisi 50, menyebutkan, “Tahnik dengan ukuran apa pun merupakan mukjizat Nabi dalam bidang kedokteran yang tetap eksis di tengah umat manusia selama empat belas abad, agar umat manusia mengenal tujuan dan hikmah di baliknya. Para dokter telah membuktikan bahwa semua anak kecil (terutama yang baru lahir dan menyusui) terancam kematian, kalau terjadi salah satu dari dua hal:
- Jika kekurangan jumlah gula dalam darah (karena kelaparan).
- Jika suhu badannya menurun ketika terkena udara dingin di sekelilingnya.
4. Memberi Nama
Termasuk hak seorang anak terhadap orangtuanya adalah bahwa bapaknya memberi nama yang baik. Di riwayatkan dari Wahb al-Khats’ami bahwa Rasulullah bersabda:
تَسَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الْأَنْبِيَاءِ، وَأَحَبُّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ تَعَانَ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَأَصْدَقُهَا حَارِثٌ وَهَمَّامٌ، وَأَقْبَحُهَا حَرْبٌ وَمُرَّةٌ
Artinya: “Pakailah nama nabi-nabi, dan nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, sedang nama yang paling jujur (benar) adalah Harits dan Hammam, sedangkan nama yang paling buruk yaitu Harb (perang) dan Murrah (pahit).” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)
Pemberian nama merupakan hak bapak. Tetapi boleh baginya menyerahkan hal itu kepada ibu (yakni istrinya). Boleh juga diserahkan kepada kakek, nenek, atau selain mereka.
Rasulullah merasa optimis dengan nama-nama yang baik. Ibnul Qayim menyebutkan dalam Tuhfah al-Wadud bi Ahkam al-Maulud, bahwa Rasulullah tatkala melihat Suhail bin Amr datang pada hari Perjanjian Hudaibiyah, beliau bersabda:
سَهُلَ أَمْرُكُمْ.
Artinya: “Semoga urusan kalian mudah.” (Tuhfah al-Wadud, libnil Qayyim Al-Jauziyyah)
Dalam suatu perjalanan, beliau mendapatkan dua buah gunung, lalu beliau bertanya tentang namanya. Ketika diberitahu namanya Makhez dan Fadhih, beliau pun berbelok arah dan tidak melaluinya. 16
Termasuk tuntunan Nabi adalah mengganti nama yang jelek dengan nama yang baik. Beliau pernah mengganti nama seseorang, ‘Ashiyah (yang bermaksiat) dengan Jamilah (yang cantik), Ashram dengan Zur’ah. Imam Abu Dawud menyebutkan dalam kitab as-Sunan, “Nabi mengganti nama ‘Ashi (tukang maksiat), ‘Aziz (yang perkasa), Ghaflah (lalai), Syaithan (setan), al-Hakam (pemutus hukum) dan Ghurab (gagak). Beliau mengganti nama Syihab (meteor) dengan Hisyam, Harb (perang) dengan Aslam (damai), al-Mudhthaji’ (yang berbaring) dengan al-Munba’its (yang bangkit), Tanah Qafrah (tandus) dengan Khudrah (Hijau), Kampung Dhalalah (kesesatan) dengan Kampung Hidayah (petunjuk), dan Banu Zaniyah (Anak keturunan haram) dengan Banu Rasydah (Anak keturunan baik). “
Alhamdulillah peringkas sudah menulis sampai pada sunnah yang keempat, in syaa Allah pada artikel bagian ke-2 peringkas akan melanjutkan dari sunnah yang kelima.
Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan sempurna dalam mengawali kehidupan anak. Dengan mengikuti sunah-sunah setelah kelahiran, kita dapat membantu anak kita tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orangtua, dan memiliki akhlak yang mulia. Semoga kita semua dapat mengamalkan sunah-sunah ini dan mendapatkan keberkahan dari Allah Ta’ala. Aamiin..
Referensi :
Pendidikan Anak Dalam Islam penulis Yusuf Muhammad al-Hasan penerjemah Muhammad Yusuf Harun, MA, Penerbit Darul Haq, Dzulhijjah 1440 H. (08. 2019 M)
Diringkas oleh : Latifah Septia Kirana
BACA JUGA :
