Hikmah Dan Faidah Adanya Penyakit
Hikmah Dan Faidah Adanya Penyakit – Segala puji hanya bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan kepadanya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Barang siapa yang Allah beri hidayah, maka tidak ada satu pun yang bisa menyesatkannya, dan siapa saja yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberi padanya hidayah. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Manusia akan diuji dengan segala sesuatu, baik dengan hal-hal yang disenanginya dan disukainya maupun dengan berbagai perkara yang dibenci dan tidak disukainya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ المَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعونَ 35
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 35)
Dari ayat ini, Ibnu Abbas mengatakan: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan serta maksiat, petunjuk dan kesehatan.”
Dalam riwayat lain darinya: ”Dengan kesenangan dan kesulitan, dan keduanya merupakan cobaan.” Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الأَرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَونَاَهُمْ بِالحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يُرْجَعُونَ 168
“Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; diantaranya ada orang-orang yang sholeh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali kepada kebenaran.” (QS. Al-A’raf: 168)
Dari ayat-ayat di atas, kita tahu bahwa cobaan kesehatan berupa penyakit itu merupakan bagian dari cobaan-cobaan Allah yang diberikan kepada hambanya, dan ia merupakan Sunnahtullah yang telah ditetapkan berdasarkan rahmat dan hikmahnya.
Ketahuilah bahwa saudaraku yang sedang sakit atau yang sedang tertimpa musibah, sesungguhnya Allah tidak menetapkan sesuatu, baik itu takdirkauni atau syari, melainkan didalamnya terkandung kebaikan dan rahmat bagi hambaNya. Di dalam cobaan sakit ini terkandung hikmah yang amat besar yang tidak mungkin bisa dinalar oleh akal manusia.
Berbagai cobaan, ujian, penderitaan, penyakit, kesulitan, dan kesengsaraan mempunyai manfaat dan hikmah yang sangat banyak. Berikut ini saya jelaskan sebagian kecil dari manfaat adanya penyakit serta hikmahnya:
- Sabar sebagai konsekuensi menghadapi kesulitan dan kesusahan
Allah menciptakan makhlukNya untuk memberikan cobaan dan ujian, lalu Dia menuntut konsekuensi dari kesenangan, yaitu bersyukur dan konsekuensi dari kesusahan, yaitu sabar. Jika seseorang benar-benar beriman, maka segala urusannya merupakan kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan ketika susah, ia bersabar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ المُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَةُ كُلَّهُ خَيْرٌ, وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدً إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ. إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ, فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.
Artinya: “Sungguh amat menakjubkan urusan orang Mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang Mukmin. Jika ia mendapat kegemberiaan, maka ia bersyukur dan ia meruapakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka ia bersabar dan itu merupakan kebaikan baginya.” (Muttafaqun Alaih)
- Menghapus dosa dan kesalahan
Wahai saudaraku yang sedang sakit! Musibah yang menimpamu dan penyakitmu itu merupakan sebab diampuninya kesalahan-kesahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan (mulut), dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Dan terkadang penyakit itu juga meruapan hukuman dari suatu dosa yang pernah dilakukan seseorang, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:
وَمَآ أَصَابَكُمْ مِن مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيَكُمْ وَيضعْفُوا عَن كَثِيرٍ 30
Artinya: “Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS.Asy-Syura:30)
Dicepatkannya hukuman bagi seorang Mukmin di dunia justru baik baginya sehingga dengan itu Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dan ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan bersih dan selamat.
- Dicatat berbagai kebaikan dan derajat ditinggikan
Di antara faedah penyakit, jika seseorang bersabar, ia akan diberi pahala dengan dituliskan kebaikan dan diangkatnya derajat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَا مِن عَبْدِ تُصِيبُهُ مُصِيبَةً فَيَقُولُ: (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ, اللَّهُمَّ أَجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيرًا مِنْهَا) إِلَّا أَجَرَهُ اللُه فِي مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيرًا مِنْهَا.
“Tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah lalu mengucapakan: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku ini, dan berikanlah ganti kepadaku dengan yang lebih baik daripadanya.’ Melainkan Allah mmberikan pahala dalam musibahnya itu dan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik daripadanya.” (Muttafaqun Alaih)
Bisa jadi seseorang mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah, tetapi dia tidak mempunyai amal yang bisa mengantarkannya kepada kedudukan tersebut. Lalu Allah mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya sehingga dia pun layak mendapatkan kedudukan itu dan sampai kepadanya.
- Jalan menuju surga
Surga tidak dapat diperoleh melainkan dengan sesuatu yang tidak disukai jiwa manusia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
حُفَّتِ الجَنَّةُ بِالمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
Artinya: “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan neraka itu dikelilingin dengan berbagai macam syahwat.” (Muttafaqun Alaih)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ قَالَ اللهُ تَعَالَى لِمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ, فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ, فَيَقُولُونِ: نَعَمْ, فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقٌولٌونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ, فَقُولُو اللهُ: اُبْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ.
Artinya: “Jika anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah ta ‘alaa akan berkata kepada para Malaikat-Nya: ‘apakah kalian telah mencabut nyawa anak hambaKu?’ para Malaikat menjawab: ‘Ya, benar.’ Setelah itu, Dia bertanya lagi: ‘Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?’ Mereka pun menjawab: ‘Ya.’ Kemudian, Dia berkata: ‘Apa yang dikatakan oleh hambaKu itu?’ Mereka menjawab: ‘Dia memanjatkan pujian kepadaMu dan mengucapkan kalimat istirja’. Allah berfirman: ‘Bangunkanlah untuk hambaKu sebuah rumah di dalam surga dan namailah dengan Baitul Hamd (rumah pujian).’” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)
- Membawa keselamatan dari api neraka
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الحُمَّى حَظَّ كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنَ النَّارِ
Artinya: “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang Mukmin dari api Neraka.” (HR. Ahmad, dll)
Karena itulah, tidak boleh bagi seorang Mukmin mencaci maki penyakit demam, karena Rasulullah pernah menjenguk orang yang sakit demam, kemudian dia berkata: “Tidak ada barakah padanya (dalam penyakit demam).’ Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا تَسُبِّي الحُمَّى. فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايًا بَنِي آدَمَ, كَمَا يُذْهِبُ الكِيْرُ خَبَثَ الحَدِيدِ
Artinya: “Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya demam itu akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (Muttafaqun Alaih)
- Mengembalikan hamba kepada rabbnya dan mengingatkan kelalaiannya
Di antara faedah penyakit, cobaan, ujiam, dan musibah ialah mengembalikan hamba yang tadinya ia jauh dan lalai dari mengingat Allah agar kembali kepadaNya. Kesadaran ini membuat dia berhenti dari perbuatan dosa dan kemaksiatan yang biasa ia lakukan.
Biasanya seseorang apabila dalam keadaan sehat wal ‘afiat, ia suka tenggelam dalam perbuatan dosa maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabbnya. Setan mempergunakan kesempatan ini untuk membuatnya lalai dan menyeretnya ke dalam kubangan syahwat dan kedurhakaan. Karena itu jika Allah mengujinya dengan suatu penyakit atau musibah, maka baru dia merasakan kelemahan, kehinaan dan ketidakmampuannya di hadapan Rabbnya. Dia menjadi ingat kelengahannya seghingga ia kembali kepada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri.
Alalh Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَى أُمَمٍ مِن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ 42
Artinya: “Dan sungguh, kami telah mengutus (Rasul-Rasul) kepada ummat-ummat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemleratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.” (QS. Al-An’am: 42)
- Mengingat nikmat Allah yang lalu dan yang ada
Di antara faedah penyakit adalah mengingat nimat dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu. Betapa banyak nikmat yang diberikan Allah kepadamu dan berapa banyak malapetaka yang dihindarkan darimu. Banyak nikmat yang engkau lalaikan tatkala engkau dalam keadaan sehat. Sebab engkau tenggelam dalam kesenangan karena keberadaan nikmat tersebut, maka bencana yang menimpamu bisa mengingatkanmu terhadap nikmat yang melimpah di sekitarmu. Berapa lama engkau dalam keadaan sehat, kemudian engkau mengingat nikmat yang ada padamu. Berapa banyak nikmat yang dilimpahkan pada saat ini dan engkau tidak ditimpa penyakit seperti yang sudah-sudah.
Sehingga dengan begitu engkau semakin bertambah syukur kepada Allah, dan kecintaan kepadaNya semakin bertambah di dalam hatimu. Inilah manfaat paling benar yang bisa dirasakan manusia. Seorang penya’ir berkata: “Seseorang tidak mengenal tanda-tanda sehat selagi dia belum tertimpa sakit.”
- Mensucikan hati dari berbagai macam penyakit
Keadaan yang sehat bisa mengundang seseorang bersikap sombong, bangga, dan takjub kepada diri sendiri, sebbab dalam keadaan sehat dia bebas berbuat dan beraktivitas apa saja. Namun jika penyakit sudah menguasainya dan penderitaan merundung dirinya, maka jiwanya bisa menjadi lunak, hatinya menjadi lembut, sifat-sifat tidak baik seperti sombong, takabbur, dengki, dan membangga-banggakan diri bisa hilang darinya, lalu akhirnya ia tunduk dan pasrah kepada Allah.
Referensi:
Hikmah di balik musibah dan ruqyah syar’iyyah karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Diringkas oleh: Intan Ayu Agustina
BACA JUGA :
