KETIKA CINTAMU DIUJI

ketika-cintamu-diuji

Ketika cintamu diuji, alhamdulilah segala pujian hanyalah milik Allah Ta’ala yang telah menganugerahkan rasa cinta kepada setiap hamba-hambaNya. Dia telah memberikan hal tersebut sebagai wujud rahmat dan kasih sayangNya kepada makhluk-makhluk Nya. Shalawat dan salam semoga selalu Alllah limpahkan kepada Rasulullah Muhammad bi Abdillah, suri tauladan dan panutan ummat hingga akhir zaman. Semoga allah menjadikan dan memperbaiki keadaan dan urusan ummat ini.

Setiap orang yang mengaku dirinya adalah orang muslim, dia akan mengatakan bahwasanya dirinya cinta kepada Allah Ta’ala. Dia akan mengutarakan dan akan menympaikannya, bahkan apabila ditanya apakah anda cinta kepada Allah Ta’ala? Maka dia akan menjawab: “ya”.

Ketahuilah bahwasanya pernyataan cinta anda akan diuji. Pengakuan anda bahwasanya anda cinta kepada Allah Ta’ala akan diuji oleh Dzat yang mengaruniakan cinta tersebut.  Dan mampukah anda membuktikan ketulusan cinta anda ketika cintamu diuji? Apakah anda mampu membuktikan kesungguhan dan kebenaran pernyataan cinta anda ketika cintamu diuju? Atau pernyataan cinta tersebut hanyalah ucapan kosong tampa bukti nyata? Atau hanyakah sekedar pemanis bibir dan pengindah kata dalam prosa? Ataukah cinta yang tulus dan kokoh yang tidak terhanyut dan runuth dengan deburan ombak ujian cinta?

Ujian cinta yang sebenarnya telah dialami oleh Nabi Ibrahim ‘alihissalam.  Beliau adalah seorang nabi yang mencintai Allah lebih besar dari segalanya. Beliau diuji dengan belum diberikannya keturunan hingga usia senja. Dan ketika sang buah hati yang dinanti lahir kedunia ini, ujian cinta ini pun datang. Apakah rasa cintanya kepada snag buah hati lebih besar dari pada kecintaannya kepada Alllah Ta’ala?

Ketika sang bayi lahir, tidak selang beberapa lama Allah memrintahkan agar sang bayi yang masih berusi dini di bawa pergi jauh bersama sang ibu yang baru melahirkan. Tidak tanggung-tanggung perjalanan yang begitu jauh, menyeberangi dataran yang panas lagi tandus, dari syam menuju mekkah. Perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki.

Mekkah tatkala itu belum seperti sekaranag. Mekkah adalah negeri yang tandus yang tidak ada tumbuhan yang tumbuh disana dan tidak ada air yang bissa digunakan sekedar menghilangkan rasa dahaga serta tidak ada pula manusia yang tinggal disana.

Abdullah bin ‘abbas radiyallahu’anhu menceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam

Beliau bersabda[1]

ثم جاء بها إبراهيمُ وبابنها إسماعيلَ وهي تُرضعهُ حتَّى وضعهما عند البيتِ عندَ دوحةٍ فوق زمزمَ في أعلى المسجدِ، وليس بمكةَ يومئذٍ أحدٌ وليس بها ماءٌ، فوضعهما هناك ووضع عندهما جرابًا فيه تمرٌ وسقاءً فيه ماءٌ، ثم قفى إبراهيم منطلقًا، فتبعته أمُّ إسماعيلَ فقالت: يا إبراهيمُ، أين تذهب وتتركنا بهذا الوادي الذي ليس فيه أنيسٌ ولا شيءٌ؟ فقالتْ له: ذلك مرارًا، فجعل لا يلتفتُ إليها، فقالتْ له: الله أمركَ بهذا؟ قال: نعم، قالت: إذًا لا يضيعنا، ثم رجعتْ، فانطلقَ إبراهيمَ حتَّى إذا كان عند الثنيةِ حيثُ لا يرونهُ استقبل بوجههِ البيت، ثم دعا بهؤلاءِ الدعوات، فرفع يديه وقال: {رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ [إبراهيم: من الآية37]

Artinya “ kemudian ibrahim datang bersama istri dan anaknya sedangkan istrinya masih menyusui anaknya lalu kemudian dia meletakkan anak dan istrinya di dauhah diatas sumur zam-zam diatas masjid sedangkan pada saaat iitu tidaklah ada manusia dan sumber air disana, beliau meninggalkan untuk keduanya sekantong kurma dan sekantong air lalu beliau pergi, snag istri pun mengikutinya dan berkata “ wahai ibrahim kemanakah gerangangan engkau hendak pergi dan meninggalkan kami ditempat {lembah} yang tandus ini yang tiada manusia yang tinggal disini lagi tiada makanan” ibu isma’il mengulangi pertanyaanya, dan tiada ia dapati jawaban dan Ibrahim pun berlalu tanpa menoleh sedikitpun, lalu ibu ismaila bertanya lagi “ apakah Allah yang telah menyuruh mu melakukakn hal ini”? Ibrahim menjawab “ya”.Ibu ismail pun berkata “ kalaulahlah demikian Allah tidak akan menelantarkan kami sedikitpun. Lalu ibu ismail kembali ke anaknya dan ibrahim pun terus berlalu hingga beliau sampai di tsaniyyah sekiranya mereke berdua tidak melihatnya, beliau mulai mengangkat tangannya seraya berdoa

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

wahai Rabb kami sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di sebuah lembah yang tiada tumbuhan di sana disis rumahmu yang mulia {ka’bah}wahai Rabb kami agar mereka mendirikan shalat dan jadikanlah hati-hati manusia rindu menuju ke mereka dan berilah mereka rizki sari buah-buahan mudah-mudahan mereka bersyukur. [2]

Ujian cinta yang beliau hadapi  tidak hanya sampai disitu. Allah Ta’ala kembali menguji kemurnian cinta Nabi Ibrahim ‘alaihisslam kepada Nya.

Ketika sang anak isma’il telah tumbuh menjadi seorang anak yang tangkas lagi menggemaskan, ujian cinta itu pun datang, Allah memerintahkan Nabi ibrahim untuk menyembelih sang anak tercinta dan perintah tersebut Allah berikan lewat mimpi beliau. Allah mengisahkan hal tersebut dalam firmannya

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ(102)

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

Artinya “ya Rabb ku karuniakanlah kepada keturunan yang shalih maka kami beri kabar gembira kepadanya dengan anak yang snatun (ismail)dan tatkala telah sampai usia remaja ibrahim berkata kepada anaknya “ wahai anakku tercinta sesungguhnya aku melihat dimimpiku aku telah menyembelihmu, maka bagaimana menurutmu? Ismail pun menjawab “wahai ayahandaku tunikanlah apa yang telah engkau diperintahkan dengannya dan in syaa Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang-orang yang bersabar. Tatkala keduanya telah  memasrahkan diri dengan mengikuti perintah Allah dan Ibrahim telah menletakkan anaknya menyamping untuk disembelih, lalu Kami menyerunya wahai ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpimu sesungguhnya demikianlah kami membalas orang-orang yang berbuat baik, sesungguhnya perintah ini adalah ujian yang nyatadan kami selamatkan ismail dan kami ganti dengan sembelihan yang besar (kambing gibas) dan kami tinggalkan (pujian akan perbuatan tersebut) atas orang-orang yang datang kemudian , kesejahteraan kepada ibrahim demikianlah kami membalas orang-orang yang berbuat ihsan, sesungguny ia (ibrahim) adalah termasuk hamba-hamba yang beriman [3]

Inilah kisahtentang seeorang yang cintanya kepada Allah Ta’ala tidak diragukan lagi bahkan Allah menjadikan Nabi Ibrahim termasuk Al-Khalil ,kedudukan cinta yang paling tinggi

وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Artinya “ dan ikutilah agama Nabi Ibrahim dan Allah telah menjadikan Nabi ibrahim sebagai

Al-Khalil[4]

Dan ketahuilah pengakuan kita cinta kepada Allah Ta’ala akan diuji, yaitu dengan seberapa dekat dan mampu kita mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seberapa tulus dan patuh anda dengan Rasulullah sebegitu besar pula bukti cinta anda dengan Allah Ta’ala

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيم

Artinya “ katakanlah wahai Muhammad apabila kalian benar-benar mencintai Allah Ta’ala maka ikutilah aku maka pasti Allah akan mencintai kalian dan akan mengmpuni kalian dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Ayat ini disebut sebagai ayat imtihan atau ayat ujian oleh para ulama, sebagaimana yang dikatakan Imam Hasan Al Bashri dan yang lainnya dri kalangan salaf “ ada sekelompok orang mengatakan bahwasanya mereka mencintai Allah Ta’ala maka Allah uji mereka dengan ayat ini “[5]

Cintamu akan diuji dengan seberapa selaras ibadahmu, perbuatanmu dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah. Pengakuan cintamu diujidengan ketundukanmu dengan syariat Rasulullah. Bika cintamu benar, tulus dan murni maka engkau akan tunduk dan patuh dan mengikuti semua apa yang rasulullah sampaikan dan apa yang dengan beliau bawa.

Dan akhirnya kita berdoa semoga Allah memberikan rasa cinta yang tulus kapadaNya, dan mencintai orang-orang yang mencintainya dan mencintai semua amalan yang bia mendekatkan diri kita kepada cintaNya.

Referensi:

  • Al-Qur’an Was-Sunnnah
  • Ash-Shahih, Bukhari
  • Al-Misbahul munir fi tahdzibi tafsir ibni katsir

[1] . HR. Bukhari

[2] . (QS. Ibrahim:37)

[3] .QS. Ash-Shaffat :100-111

[4] .QS. An-nisa’:125

[5] Al-Misbahul munir fi tahdzibi tafsir ibni katsir;214

Baca juga artikel berikut:

BERKATA BAIK ATAU DIAM

Ibadah Teragung dalam Sejarah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.