Pondasi Kokoh Meraih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
Pondasi Kokoh Meraih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat – Di tengah perkembangan zaman yang begitu pesat, seorang muslim dihadapkan pada berbagai pemikiran, ideologi, dan keyakinan yang dapat memengaruhi keimanannya. Banyak manusia yang lebih sibuk memperbaiki urusan dunia daripada memperbaiki aqidahnya. Padahal aqidah merupakan pondasi utama yang menentukan baik atau buruknya seluruh amal seorang hamba. Jika aqidah seseorang benar, maka amalnya akan bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, jika aqidahnya rusak, maka seluruh amalnya dapat menjadi sia-sia.
Karena pentingnya aqidah, para nabi dan rasul menjadikan perbaikan aqidah sebagai prioritas utama dalam dakwah mereka. Mereka mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Oleh sebab itu, setiap muslim wajib mempelajari aqidah yang lurus agar dapat beribadah kepada Allah dengan benar dan memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat.
Pengertian Aqidah yang Lurus
Secara bahasa, aqidah berasal dari kata العَقْدُ yang berarti ikatan yang kuat. Adapun secara istilah, aqidah adalah keyakinan yang tertanam kuat dalam hati tanpa adanya keraguan sedikit pun
Aqidah yang lurus adalah keyakinan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat Nabi dan generasi terbaik umat ini. Aqidah yang lurus mencakup keimanan kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ ﴾
Artinya“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu tentang tauhid dan aqidah harus dipelajari terlebih dahulu sebelum seseorang beramal.
Kedudukan Aqidah dalam Islam
Aqidah memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam. Bahkan aqidah merupakan perkara pertama yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabat. Selama tiga belas tahun di Makkah, beliau fokus mengajarkan tauhid dan memperbaiki keyakinan manusia sebelum turun berbagai hukum syariat lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan aqidah harus didahulukan sebelum perbaikan aspek-aspek lainnya. Sebab seseorang tidak mungkin dapat menjalankan syariat dengan baik apabila aqidahnya belum benar.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa kewajiban pertama yang harus diketahui seorang hamba adalah mengenal Allah, mengenal agama Islam, dan mengenal Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu para ulama Ahlus Sunnah sangat menaruh perhatian besar terhadap pembelajaran aqidah.
Pentingnya Aqidah yang Benar
- Aqidah Menjadi Syarat Diterimanya Amal
Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali jika dilakukan dengan ikhlas karena-Nya dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
﴿ وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴾
Artinya: “Sungguh jika engkau berbuat syirik, niscaya akan gugur seluruh amalmu dan engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesyirikan merupakan dosa terbesar yang dapat menghapus seluruh amal seseorang.
- Aqidah Menjadi Sebab Keselamatan
Aqidah yang benar akan mengantarkan seseorang kepada keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, aqidah yang menyimpang dapat menjadi sebab kesengsaraan dan kebinasaan.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ ﴾
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kesyirikan, mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
- Aqidah Menjadi Landasan Akhlak dan Ibadah
Semakin kuat aqidah seseorang, semakin baik pula ibadah dan akhlaknya. Orang yang yakin bahwa Allah selalu mengawasinya akan lebih berhati-hati dalam perkataan dan perbuatannya.
Pokok-Pokok Aqidah yang Lurus
- Beriman kepada Allah
Beriman kepada Allah berarti meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb yang menciptakan, mengatur, dan menguasai seluruh alam semesta. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
﴿ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ﴾
Artinya: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)
Keimanan kepada Allah mencakup:
Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, Tauhid Asma’ wa Shifat
- Beriman kepada Malaikat
Malaikat adalah makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya dan selalu taat kepada-Nya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
﴿ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴾
Artinya: “Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
- Beriman kepada Kitab-Kitab Allah
Allah menurunkan kitab-kitab-Nya sebagai petunjuk bagi manusia. Kitab terakhir dan penyempurna seluruh kitab sebelumnya adalah Al-Qur’an.
- Beriman kepada Rasul-Rasul Allah
Allah mengutus para rasul untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia. Nabi Muhammad adalah rasul terakhir yang diutus kepada seluruh manusia.
- Beriman kepada Hari Akhir
Seorang muslim wajib meyakini adanya kehidupan setelah kematian, kebangkitan, hisab, mizan, surga, dan neraka.
- Beriman kepada Takdir
Rasulullah Subhanahu Wata’ala bersabda:
وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّه
Artinya: “Dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)
Keimanan kepada takdir membuat seorang muslim lebih sabar ketika tertimpa musibah dan lebih bersyukur ketika mendapatkan nikmat.
Penyimpangan Aqidah yang Harus Diwaspadai
- Syirik
Syirik adalah menyekutukan Allah dalam ibadah.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ ﴾
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.” (QS. An-Nisa’: 48)
- Bid’ah dalam Agama
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Artinya: “Setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim)
- Takhayul, Ramalan, dan Khurafat
Seorang muslim tidak boleh mempercayai ramalan bintang, dukun, jimat, atau berbagai bentuk keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam syariat.
- Pemikiran yang Menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah
Di zaman modern, muncul berbagai pemikiran yang berusaha menafsirkan agama berdasarkan akal semata tanpa merujuk kepada pemahaman salafus shalih. Hal ini dapat menyeret seseorang kepada kesesatan apabila tidak berhati-hati.
Aqidah yang lurus merupakan nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada seorang hamba. Dengannya seseorang mengenal Rabb-nya, beribadah dengan benar, serta memiliki arah hidup yang jelas. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya terus mempelajari ilmu aqidah dari sumber-sumber yang shahih dan penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Di zaman yang penuh fitnah ini, menjaga aqidah jauh lebih penting daripada mengejar berbagai urusan dunia yang fana. Sebab aqidahlah yang akan menentukan keselamatan seseorang ketika menghadap Allah pada hari kiamat kelak.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah di atas aqidah yang lurus, mematikan kita di atas tauhid, dan mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih di surga-Nya. Aamiin.
Referensi:
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Al-Qur’an Al-Karim.
Dikutip Zalfaa Zakiyah
Baca juga artikel:
