Nasihat Buat Istri Teladan (bagian 1)
Nasihat Buat Istri Teladan (bagian 1) – Istri teladan adalah wanita yang memiliki akidah yang lurus, keimanan yang kuat, rajin beribadah kepada Rabbnya, banyak pengetahuan agamanya dan selalu menjadikan sirah Nabiﷻ sebagai mata air bening yang membasahi jalan hidupnya, serta mencontoh budi pekerti para ulama salaf sebagai cahaya hidayah untuk penerang hati dan pikiran. Adapun kiat-kiat untuk memiliki akidah yang bagus dan keimanan yang kuat antara lain:
1. Memilih Teman Bergaul Yang Saleh
Istri teladan tidak berteman kecuali dengan para wanita shalihah, karena hanya mereka yang sangat layak dijadikan teman. Maka dia akan berusaha membangun hubungan baik dengan wanita Muslimah yang berakidah yang lurus, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (QS. At-Taubah: 71).
Dan disebutkan dalam sebuah hadits yang mulia, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللَّهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللَّهِ وَالْحُبُّ فِي اللَّه ِوَالْبَغْضُ فِي اللهِ.
Artinya: “Tali iman yang paling kuat adalah saling berkasih sayang karena Allah, memusuhi karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. “[1]
Rohani wanita teladan akan mencari pasangan bergaul yang serupa dalam kesalehannya, ia tidak bersahabat dengan wanita-wanita yang hina dina dan murahan, seperti yang Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sabdanya,
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا اخْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ.
Artinya: “Ruh-ruh manusia adalah pasukan yang besar, selagi ruh-ruh itu saling mengenal, maka mereka akan bersatupadu, dan selagi ruh-ruh itu saling mengingkari, maka mereka akan berselisih.”[2]
Istri teladan adalah istri shalihah yang tidak akan tahan berteman dengan para wanita murahan, yang suka mengoceh dan mengejek syariat serta hukum-hukum Allah, karena ia sangat paham dan mendengar dengan seksama firman Allah Subhanahu Wata’ala:
إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذَا مِثْلُهُمْ
Artinya: “Apabila kalian mendengar ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian) tentulah kalian serupa dengan mereka.” (QS. An-Nisa’: 140).
Sangat jauh perbedaan antara wanita teladan dengan wanita jalang yang lazim dijuluki para bintang. Wanita yang jauh dari rahmat Allah ini ibarat mendung tak berbuah hujan dan hanya menutupi sinar matahari. Mereka berani berpose layaknya para bintang, merasa bangga jika gambarnya disematkan di sembarang tempat; di halte ataupun di dinding kamar mandi. Betapa sangat celaka wanita yang mengagumi para bintang penebar kesesatan.
2. Beribadah Kepada Rabbnya
Istri teladan tidak mengabaikan kewajiban agama, apapun alasannya, termasuk memuaskan hati suaminya. Bila tiba waktu shalat, maka ia tidak menangguhkan shalatnya walaupun sibuk bersama suami atau anak-anaknya. Ia tidak kikir dalam membayar zakat menurut ukuran yang telah ditetapkan syariat. Ia tidak rakus terhadap harta, maka wanita-wanita shalihah akan menabung untuk hari depan yang menakutkan.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
خَشِعَةً أَبْصَرُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ
Artinya: “Dalam Keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 44).
Dan istri teladan rajin menjaga puasa, baik yang wajib maupun yang sunnah, di samping tetap memelihara hak-hak suaminya dengan baik. Maka potret istri yang berbahagia dan sekaligus mampu membahagiakan pasangannya, serta mampu meraih kebahagiaan yang hakiki adalah wanita yang senantiasa tekun beribadah kepada Allah, sehingga ketenangan hidup hanya dengan mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah. Barangsiapa mengabaikan hak Allah, maka dia dengan mudah akan mengabaikan hak-hak hamba Allah.
3. Sebagai Contoh Bagi Wanita Lain
Istri teladan adalah wanita yang berusaha menerapkan syariat dalam setiap amalan dan perkataannya dan tampil sebagai teladan yang baik bagi wanita lain, sehingga rumah tangganya terpelihara dari segala keburukan dan kerusakan, sebab anak-anaknya tidak melihat pada dirinya kecuali kebaikan, perkataannya selalu mengandung nasihat, amalannya menjadi teladan bagi orang lain dan ia selalu memegang amanah dan menanamkan ruh jihad kepada mereka, maka nampak terlihat semangat jihadnya lewat harta dan jiwanya menurut kemampuannya, serta kecintaannya kepada Allahﷻ dan Rasul-Nya memenuhi hatinya yang membawa hasrat dakwah dan tidak mau ketinggalan dalam melaksanakan satu jenis kewajiban agama, sedangkan tujuan yang hendak dicapainya hanyalah surga Firdaus, maka ia selalu sabar dan dapat menahan diri dari setiap perkara yang diharamkan di dunia demi meraih keberuntungan di akhirat.
Peliharalah Akhlak Mulia
Istri teladan adalah wanita yang bertabiat baik, berperangai bagus, memiliki akhlak yang mulia, dan tingkah lakunya di dalam rumah tidak berbeda dengan tingkah lakunya di luar rumah. Ia selalu menjaga adab-adab Islam, tidak meremehkan ucapan salam kepada anggota keluarganya (sebab ia tahu bahwa menyebarkan salam termasuk sarana kecintaan yang dianjurkan agama kita). Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
اقْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Artinya: “Sebarkanlah salam di antara kalian“[3]
Dia mampu mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, dan mengakui jasanya. Apalagi sebagai wanita Muslimah, dia faham akibat kehinaan mengingkari kebaikan suami, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لَا تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لَا تَسْتَغْنِي عَنْهُ.
Artinya: “Allah tidak akan memandang kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya sedangkan ia senantiasa membutuhkannya. “[4]
Seorang wanita shalihah tidak akan mengurangi hak suaminya sedikitpun, karena dia mempunyai beberapa sifat dan karakter pendukung yang menunjang keberadaannya sebagai wanita yang ideal, yaitu lapang dada, mudah merasa puas dengan pemberian, bersikap luwes dan lembut dan tidak suka membangkang dan menentang.
Istri ideal senantiasa tampak ceria, lemah lembut, berbuat baik kepada suami, dan membahagiakan suami dengan bertingkah laku yang sopan dan selalu bergembira, karena kehidupan suami istri selalu membutuhkan keceriaan dan kegembiraan, agar cinta senantiasa bersemi.
Jika suami pulang ke rumah setelah keseharian menghadapi kepenatan kerja, ia bisa mendapatkan sesuatu yang dapat menenangkan jiwa dan menghibur hati, karena ia mendapatkan ketenangan yang hakiki dari istrinya. Sedangkan istri yang wajahnya selalu tampak muram dan kusut, maka orang lain tentu merasa sesak dadanya, apalagi suaminya sendiri. Ketika suami pulang ke rumah, yang dilihatnya adalah wajah sang istri yang penuh mendung dan berkabut, seakanakan dia memikul kekelaman dunia di pundaknya.
1. Rasa Malu
Rasa malu yang dianugerahkan pada kita adalah sebuah harta simpanan yang sangat mahal, terlebih bagi kaum wanita. Rasa malu berbuat maksiat dan dosa wajib dimiliki setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab yang demikian itu bisa mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat, maka hal ini sangat penting untuk dibicarakan. Apalagi rasa malu ini merupakan bagian dari iman, sebagaimana yang pernah disebutkan Nabi dalam haditsnya:
وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِ.
Artinya: “Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman. “[5]
Dan wanita jauh lebih dianjurkan untuk memiliki rasa malu, karena rasa malu bagi seorang wanita bukan hanya hiasan yang membuat wanita semakin anggun dan wibawa, bahkan rasa malu pada diri wanita mampu menjadi benteng pertahanan kehormatan dan kesucian, serta menjadi sumber segala kebaikan. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Imran bin Husain berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
Artinya: “Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.”[6]
Bila seorang wanita kehilangan rasa malu, maka ia akan dapat dengan mudah berubah menjadi wanita murahan, binal, dan jalang, yang gampang terpesona oleh iming-iming materi dan mudah tergoda oleh rayuan para budak nafsu. Sehingga mereka menjadi sasaran komoditas empuk iklan-iklan barang niaga, sebagai alat pendongkrak oplah majalah dan koran, dopping penggerak untuk memasarkan barang-barang haram, sarana penggairah para pemirsa media elektronik, dan menjadi perangkap bagi para pemuda untuk berbuat kemaksiatan dan kesesatan, serta menjadi obat bius bagi para pahlawan dan pejuang sehingga membuat mereka lupa daratan dan melanggar aturan. Namun anehnya, banyak wanita yang tidak sadar, bahkan mereka justru bangga.
2. Tidak Suka Mengeluh Dan Tidak Egois
Sudah menjadi ketetapan Sunatullah, bahwa hidup ini penuh dengan tantangan dan rintangan, bukan hunian yang penuh bertabur bunga dan bulan madu seperti yang digambarkan sebagian orang. Bahkan dunia laksana penjara buat orang Mukmin dan sebuah kehidupan yang penuh dengan tanggung jawab dan pengorbanan berat sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Artinya: “Dunia adalah penjara bagi orang Mukmin dan surga bagi orang kafir. “[7]
Bila wanita Muslimah memahami hal ini secara baik, tentu dia mampu menghadapi gejolak nafsu, menahan bisikan-bisikan setan, tidak tunduk kepada syahwatnya, lapang dada dan tabah menghadapi berbagai kesulitan hidup. Dia tidak menampakkan kejenuhan dan kebosanan kepada suami atau kepada orang lain, sekalipun orang yang paling dekat dengannya. Bahkan ia menampakkan diri sebagai orang yang sabar dan ridha terhadap takdir Allah.
Istri shalihah pastilah akan menghadapi kepedihan dan kesulitan hidup yang menimpa dengan penuh perjuangan, baik penderitaan saat mengandung, kesulitan saat melahirkan dan berbagai cobaan dalam hidup selalu dihadapi tanpa keluhan dan kegundahan.
Dengan kesabaran tanpa disertai kecemasan, maka hidup akan terasa manis dan jiwa menjadi terkontrol. Maka ketabahan wanita dalam menghadapi tantangan membina rumah tangga akan membuat cinta kasih tetap subur, walaupun badai cobaan datang silih berganti.
REFERENSI:
Dari “ Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M., Problem Solving Rumah Tangga,( Nasihat Buat Istri Teladan, bagian 1), PT Rumah Media Imam Bonjol”. Diringkas oleh: Nurul Latifah
[1] HR. Imam Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 11537
[2] HR. Imam Bukhari, no. 3336
[3] HR. Imam Muslim, no. 192
[4] Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra,7/294
[5] HR. Imam Bukhari, no. 9
[6] HR. Imam Bukhari, no. 6117
[7] HR. Imam Muslim, no. 155
BACA JUGA :
