Langkah Sukses Pengusaha Muslim
Langkah Sukses Pengusaha Muslim
2. Tekuni ATM, Hobi, Coba-coba
Lantas, saya harus bisnis apa? Pertanyaan ini biasanya muncul di benak orang yang ingin memulai bisnis. Biasanya pula, orang itu akan melihat-lihat apa yang sudah dilakukan orang lain. Misal, dia melihat bisnis yang dijalani temannya, tetangganya, atau kerabatnya. Otomatis akan diutamakan seseorang yang bisnisnya sudah berjalan dengan baik.
Ada lintasan pikiran si pemula untuk mengikuti jejak mereka, membuka usaha serupa. Kerabat ada yang sukses membuka usaha bengkel, dan dia pun berpikir menirunya. Karena dia akan bisa bertanya kepadanya tentang kiat-kiat terkait usaha tersebut. Tidak hanya tip-tip, melainkan juga solusi-solusi jika dihadapkan pada permasalahan.
Langkah seperti ini sah-sah saja. Banyak kok buktinya yang sukses walau dengan cara sederhana demikian, yaitu mengawali bisnis pribadi dengan cara meniru bisnis milik orang lain. Tetapi ingat, ada juga yang tidak berhasil.
Kunci setiap bisnis itu lebih kepada manusianya, yang menjalankannya. Bisnis yang sama, dijalankan oleh orang yang berbeda, bisa saja berbeda hasilnya. Bisa lebih bagus, bisa juga sebaliknya. The man behind the gun, orang bilang. Senjata itu tergantung siapa yang menggunakannya, begitu kurang lebih intinya. Kita bisa dan boleh saja memulai suatu bisnis dengan cara meniru apa yang sudah orang lain jalankan. Namun, kalau ini yang dipilih, jangan lupa melakukan modifikasi. Lakukanlah langkah-langkah pembaruan, pembeda dari apa yang sudah orang lain lakukan. Karena, suatu model bisnis pasti ada saja kekurangannya. Nah, sebisa mungkin kekurangan tersebut tidak didapati pada bisnis kita.
Di dalam dunia bisnis, ada yang dikenal dengan istilah ATM. Yaitu amati, tiru, modifikasi. Model bisnis tersebut umum diadaptasi banyak orang. Maka muncul kemudian atmosfer persaingan, bisnis yang mirip tapi dengan unsur pembeda sebagai daya tarik. Berikut permisalannya.
Ada tiga pebisnis ayam goreng. Yang satu sudah mapan dengan ayam gorengnya yang dikenal enak lagi empuk. Lalu muncullah pebisnis baru dengan mengusung produk ayam goreng serupa, namun dengan sajian krispi dan ia dijual di gerai-gerai kecil dengan cabangnya tersebar luas, sehingga lebih mudah dibeli dibanding produk ayam goreng pertama. Kemudian, muncul pebisnis ketiga. Produknya sama, ayam goreng. Adapun pembedanya yaitu dia fokus di penjualan online (daring). Ada lagi, selain menjual ayam goreng siap santap, dia menjual paket instan ayam goreng siap masak yang lengkap dengan bumbu beserta resep pembuatannya. Harga paket instan itu lebih ekonomis daripada paket siap santap, juga menguntungkan lagi menjadi daya tarik bagi ibu-ibu rumah tangga. Siapa saja bisa menyimpannya atau menyajikan ayam goreng tersebut kapan saja, tanpa repot.
Itu hanyalah contoh kecil dari sekian banyak peluang bisnis yang dimulai dengan menekuni ATM tadi: Amati, Tiru, dan Modifikasi. Perlu keberanian dan kejelian untuk bisa mengamalkan trik ini, dan setiap orang tentu bisa saja melakukannya. Kemauan menghadirkan pengalaman.
Selain dengan ATM ini, kita juga bisa memulai bisnis dengan sesuatu yang memang disukai, yang telah menjadi hobi atau kegemaran personal. Banyak juga pebisnis yang sukses dengan cara demikian. Mengandalkan hobi.
Ada yang hobi dengan otomotif. Dia punya dua motor di garasinya dan sudah khatam dalam urusan modifikasi, spare-part (suku cadang), bongkar pasang mesin sendiri. Lama-kelamaan, dengan hobinya ini, banyak orang yang berdialog dengannya, konsultasi ihwal permesinan, juga menanyakan aksesori kendaraan miliknya yang menarik. Hingga tercetuslah ide olehnya, membuka bisnis aksesori motor dan jasa bongkar pasangnya. Bisnisnya diawali dari garasi, dan membesar sampai memiliki toko sendiri.
Ada juga yang hobi mengoleksi barang-barang antik, atau benda jadul. Mulai dari jam tangan, furnitur, bahkan koper dan setrika, sebagai hiasan. Ternyata, ada beberapa teman berminat membelinya. Lebih dari itu, tawarannya bernilai lumayan. Lalu dari situlah, tercetuslah ide untuk “berburu” barang antik untuk kemudian merestorasi dan menjualnya kembali. Sampai akhirnya koleksinya banyak, beragam, unik-unik. Dan dia pun memiliki tempat khusus sebagai galeri penyimpan aset-aset jualannya.
Ada pula seorang pensiunan yang setiap harinya diisi dengan kegiatan berkebun di halaman rumah. Memang, sejak lama dia menggemari tanam-tanaman. Malah pada waktu masih bekerja di kantor, pada masa aktif berdinas, dia menyediakan area khusus untuk menaruh beberapa pot tanaman. Keindahan lewat penghijauan, passion-nya.
Seusai pensiun total, hobinya tersebut terus berlanjut.
Membibitkan tanaman bukanlah hal yang asing baginya.
Hidroponik adalah hobi lamanya. Seiring dengan waktu, banyak orang berminat terhadap bibit tanaman miliknya.
Lalu tercetuslah ide untuk membuka bisnis bibit tanaman kebun dan tanaman hias. Sehingga di masa tuanya, selain bisa menyalurkan hobi, kebugarannya tetap dapat terjaga karena aktif bergerak. Dia tetap produktif, membukakan jalan rezeki bagi beberapa karyawannya.
Berbisnis dengan basis hobi atau kegemaran memiliki kelebihan tersendiri. Yaitu ada dorongan yang lebih besar, energi lebih besar dari diri sendiri selaku pemiliknya agar tekun menjalankan dan mempertahankan bisnis tersebut. Karena meskipun belum banyak orang yang tertarik pada produk yang kita tawar dan jajakan, setidaknya roda bisnis akan terus berputar. Ya, tetap bertahan karena tidak terasa terbebani, secara ia sejatinya adalah hobi pribadi.
Sebab usaha ini perwujudan dari hobi, maka kita pun cenderung semangat mengembangkannya, menemukan variasi atau formula baru. Dan, ada kegembiraan khusus saat kita melakoninya.
Demikian bisnis yang tidak hanya bertumbuh, namun juga berkembang dari waktu ke waktu. Dari satu lini bisnis yang tanpa diduga di awal, ternyata memunculkan ide-ide pengembangan baru yang kreatif dan inovatif.
Oleh sebab itu, kesampingkan rasa takut dan khawatir saat akan memulai suatu bisnis. Jika memang dirasa cukup risetnya, perencanaannya, maka bismillah, melangkahlah. Karena tidak ada bisnis yang bagus tanpa pernah dimulai. Tidak ada bisnis yang menjanjikan jika hanya dibicarakan dan dibayangkan. Bisnis yang menjanjikan adalah bisnis yang dikerjakan. Kegagalan hakiki itu adalah tatkala kita berhenti berusaha, maka beranilah memulai usaha.
3. Buat Perencanaan dan Fokus
Allah سبحانه وتعال berfirman dalam al-Qur-an:
يَتَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)
Sesederhana apa pun bisnis yang akan dimulai, buatlah perencanaannya. Kalimat bijaksana menyebutkan bahwa A goal without a plan is just a wish; artinya, sebuah target atau tujuan tanpa perencanaan hanyalah angan-angan.
Susunlah rencana bisnis meskipun dalam bentuk yang sederhana. Apa saja yang perlu kita rencanakan sebelum memulai bisnis? Berikut adalah 6 poin intinya, yang saya kutip dari laman jurnal.id.
- Deskripsi Bisnis
Kita perlu menjelaskan secara pasti tentang bisnis apa yang akan kita jalankan. Apa produknya, barang ataukah jasa, lalu bayangkan perkembangannya di masa depan. Deskripsikan produk kita secara gamblang, sehingga siapa saja yang nanti membacanya mendapatkan informasi yang jelas dan akurat.
Deskripsi bisnis ini pasti bermanfaat bagi diri sendiri sebagai pemilik, di samping bagi orang lain yang potensial bergabung sebagai investor dalam bisnis kita.
- Strategi Pemasaran
Setelah mendeskripsikan produk, analisislah produk kita dengan pisau SWOT. Dalam arti lain, harus diperjelas tentang apa kelebihan atau kekuatannya (S = strengths), kelemahan atau kekurangannya (W = weaknesses), serta peluang (O = opportunities), juga tantangan atau ancaman yang ada di luar sana (T = threats).
Analisis produk dengan standarisasi SWOT ini dapat membantu kita menemukan formula atau strategi terbaik untuk memasarkan dan mempromosikan produk sendiri. Karena tidak mungkin setiap produk bisa dipasarkan dan/atau dipromosikan dengan cara yang sama.
Setiap produk memiliki karakteristik tertentu, dan itu memerlukan strategi pemasaran tertentu pula. Ini penting agar produk bisa menggapai target pasar yang tepat.
Kadang kala ada produk bagus, tetapi ia kurang laku. Bukan karena tidak ada konsumennya. Tapi kurang tepat cara promosi dan pemasarannya sehingga produk tersebut tidak bertemu dengan “pasar” yang membutuhkannya.
Ada juga produk yang biasa-biasa saja. Bahkan banyak produk serupa dengan merek berbeda yang tersebar luas di pasaran, namun tetap saja produk tersebut bisa diserap pasar secara konstan. Hal itu berlaku semata-mata karena strategi pemasarannya yang tepat.
Memasang iklan via media papan reklame berukuran besar di pinggir jalan memang baik. Banyak dilihat orang sehingga produk yang ditawarkan lebih mudah dikenali. Namun, tentu biayanya tidak murah. Di luar itu, ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa tidak setiap produk harus dipromosikan seperti itu. Belum tentu baik pula. Apalagi, jika anggaran promosi kita pas-pasan.
Beriklan via televisi juga keren. Produk kita bisa lebih cepat serta mudah dikenal orang banyak secara serentak, di berbagai tempat berbeda. Dengan cakupan begitu luas. Namun sekali lagi, tidak setiap produk memerlukan cara promosi seperti itu. Selain terhambat oleh dana anggaran promosi yang terbatas, kadang pula karena kemampuan produksi masih kecil. Atau, belum ada jalur distribusi.
Ingatlah, cara memasarkan harus seimbang dengan kapasitas produksi dan jalur distribusi. Semakin kencang promosi yang dilakukan, volume produksi harus terjamin. Jangan sampai pemasaran itu digencarkan, namun ketika permintaan pasar ternyata bagus, banyak yang pesan, dan kita kerepotan karenanya. Harus diatasi dahulu masalah persediaan (stok) produk yang kurang akibat kemampuan produksi masih terbatas.
Nah, hal-hal yang seperti ini perlu dipertimbangkan, dipikirkan matang-matang, utamanya tatkala menyusun strategi pemasaran. Sehingga begitu kita memulai bisnis, meluncurkan produk, lalu disambut strategi pemasaran yang tepat, maka produk kita dapat segera diserap pasar, dan mampu berkelanjutan agar lebih bermanfaat.
- Analisis Pesaing
Produk yang kita luncurkan, baik berupa barang atau jasa, tentu bukan yang pertama. Sudah ada yang pernah, atau mulai memasarkannya lebih dahulu. Produk serupa, mungkin dengan penampilan dan branding (merek) lebih besar dibanding kita yang baru saja memulainya.
Memang begitulah kebanyakan suatu bisnis dimulai. Jarang sekali bisnis yang benar-benar sepenuhnya orisinil, jika tak boleh dikatakan tidak ada sama sekali. Rata-rata, mengikuti bisnis yang sudah ada sebelumnya. Maka dari itulah, ketika suatu bisnis baru dimulai, biasanya pemilik bisnis tersebut minimal akan berhadapan dengan pesaing yang memasarkan produk yang ditirunya. Sehingga, perlu adanya pembeda antar produk-produk serupa di pasaran. Ya, ini adalah hal yang lumrah.
Jadi, salah satu instrumen dalam perencanaan bisnis ialah mempelajari atau menganalisis kandidat-kandidat pesaing di bisnis yang serupa. Bagaimana kualitas produk mereka, bagaimana mereka memasarkannya, bagaimana kualitas pelayanan mereka, dan lain sebagainya.
Jangan ragu-ragu membeli dan menggunakan produk pesaing bisnis kita. Agar tahu bagaimana rasanya, selaku konsumen, saat kita menggunakan produk mereka. Dari pengalaman itu, diketahui persis seberapa baik kualitas produk tersebut. Dan, akan didapati pula kekurangannya.
Sehingga kelebihan yang ada bisa ditiru bagi produk kita, bahkan ditingkatkan. Sedangkan kekurangannya bisa kita hindari. Dengan begitu, diharapkan kita memiliki produk dengan kemampuan bersaing memadai saat diluncurkan nanti. Tidak harus setara, minimal tidak kalah mutunya.
Akan lebih baik lagi jika yang dianalisis bukan hanya produk para pesaing. Melainkan pada pola kerja mereka. Secanggih apa teknologi yang dipakai. Setangkas apa tim research and development (kreasi dan inovasi) mereka.
Mengapa kita harus menganalisis sedalam itu? Karena jika kita hanya membuat produk yang lebih baik daripada produk mereka, maka dengan segera mereka bisa langsung berbenah diri. Ya, meningkatkan kelebihan dan menambal kekurangan, pun memperbaiki strategi marketing dan jalur distribusi. Jika kita luput memperhatikan sisi ini, bisa saja kita tertinggal lagi.
Menganalisis pesaing memang bermanfaat kalau kita bermaksud memposisikan diri sebagai rival, head to head, saling berhadapan. Atau, bisa juga bermanfaat lain. Yaitu, untuk menentukan positioning (prinsip) produk kita agar tidak berhadapan, melainkan menyasar target pasar yang belum dijangkau produsen produk serupa. Kita mencari “lahan garapan” yang masih kosong, dan kita menghadirkan produk untuk pasar lowong tersebut. Seperti bisnis transportasi penerbangan. Bahwa maskapai Garuda Indonesia (GIAA) hadir dengan jaminan kualitas yang memuaskan, ketepatan waktu, dan pelayanan prima. Maka, maskapai Lion Air hadir mengisi ceruk pasar kelas ekonomi, dengan harga tiket yang murah dikedepankan. Karena, tentu saja, Garuda yang mengedepankan kualitas memiliki konsekuensi berupa harga tiket yang mahal.
Apakah dua maskapai itu kemudian saling bersaing, head to head? Tidak. Karena, meski keduanya sama-sama bisnis transportasi penerbangan, mereka menyasar target pasar yang berbeda.
Demikian urgensi menganalisis pesaing bisnis. Untuk menentukan positioning produk kita, posisi strategisnya.
- Desain Pengembangan
Rencanakan juga apa yang akan kita lakukan tentang pengembangan produk. Rencanakan hal ini untuk target reguler; misalnya per tahun, atau per dua tahun. Bahkan apa per bulan, atau malah per minggu. Ada produk baru yang siap kita luncurkan ke pasaran.
Termasuk, ada kejutan apa yang siap dihadirkan untuk calon konsumen kita. Sebab jika hanya mempromosikan produk yang itu-itu saja, lambat laun kejenuhan dirasakan oleh konsumen kita. Maka, perlu ada rencana penyegaran secara berkala. Kreasi dan inovasi harus dijalani. Bisa jadi bentuknya abstrak, berupa penjualan dengan harga promo dahsyat untuk jangka waktu tertentu. Atau, menetapkan sistem membership (keanggotaan konsumen) dengan keuntungan khusus berupa potongan harga atau bonus-bonus tertentu. Apa pun bentuknya, sebaiknya itu direncanakan sebelumnya.
Pengembangan atau penyegaran semacam itu menjadi lebih efektif jika dikaitkan dengan momentum yang tepat. Setiap tahun kita memiliki sederetan momentum spesial, seperti peringatan Hari Kemerdekaan, hari raya atau hari besar keagamaan, hari libur sekolah, dan lain sebagainya. Momentum-momentum ini adalah saat yang tepat untuk menghadirkan produk baru, layanan baru, atau bisa juga kejutan bagi konsumen sehingga mereka semakin merasa dekat dengan produk kita.
Rasa dekat itulah yang menghadirkan keakraban dan loyalitas, sehingga konsumen yang membeli pertama kali, dia akan berkembang menjadi pelanggan. Pelanggan yang setia, secara tidak langsung, akan menjadi marketing kita. Tanpa diminta, mereka akan menuturkan pengalamannya selama menggunakan produk kita.
- Rencana Operasional dan Manajemen
Rencana operasional dan manajemen diperlukan guna memetakan bagaimana bisnis kita dikembangkan secara berkelanjutan. Susunlah bagian apa saja yang diperlukan, beserta jumlah personel yang dibutuhkan. Apa saja tugasmereka. Hingga, anggaran yang dibutuhkan untuk setiap bagian itu. Anggaran ini akan dikaitkan dengan peralatan, perlengkapan, dan penggajian karyawan.
Pola hubungan antar bagian pun harus dijabarkan agar pada pelaksanaannya, kesalahan bisa diminimalisir. Agar terhindar miss-komunikasi, dan supaya kerjasama tim bisa berlangsung dengan efektif lagi efisien.
- Menghitung Pembiayaan
Pembiayaan ialah instrumen yang amat penting dalam bisnis. Tentu, ia harus direncanakan. Dari mana modalnya, bagaimana pengelolaan modal itu, berapa biaya produksi, berapa anggaran marketing dan promosi, kapan modal itu kembali, juga berapa besar dana cadangan guna membayar hal-hal tak terduga.
Siapkan pula hal-hal penunjang untuk mencatat arus uang keluar dan masuk. Jika tenaga atau pengetahuan kita kurang dalam perencanaan pembiayaan ini, maka kita bisa menggunakan jasa pelayanan akuntansi untuk menyusun analisis keuangan. Termasuk desain pencatatan keuangan, ini bisa diperbantukan oleh tim ahli.
Inilah enam instrumen penting yang perlu ada dalam perencanaan bisnis yang akan kita jalankan. Memang ada juga bisnis yang berjalan tanpa perencanaan detail. Tapi, biasanya bisnis yang tanpa perencanaan itu hanya berjalan stagnan, begitu-begitu saja, datar-datar saja, tanpa tampak pertumbuhan signifikan. Sebenarnya tak hanya bisnis yang perlu perencanaan, Banyak urusan atau kegiatan dalam hidup kita yang tanpa sadar ternyata didahului oleh perencanaan. Rencana yang secara otomatis terbentuk karena kebiasaan beraktivitas. Yang paling sederhana adalah kita berencana pada malam hari, terkait besok pagi mau sarapan apa. Kita berencana ke walimah teman, nanti mau pakai baju yang mana. Pun dalam hal yang lebih serius, kita merencanakan anak mau disekolahkan di mana, mau membeli rumah di mana, dan lain sebagainya.
Maka, pada saat memiliki keinginan untuk berbisnis, perencanaan menjadi niscaya. Bisnis adalah urusan yang juga cukup serius dalam hidup kita. Sebab ia menyangkut penghidupan kita. Terkait urusan menafkahi keluarga dan menghidupi orang lain yang menjadi karyawan kita. Belum lagi orang-orang terkait di luar lingkup perusahaan.
Agar berjalan lancar, tentu diperlukan perencanaan. Rencanakanlah bisnis kita sebaik mungkin. Para motivator bisnis menyatakan, rencana yang baik adalah separuh dari kesuksesan itu sendiri.
Tatkala rencana sudah tersusun rapi, maka konsisten dibutuhkan dalam menjalankannya. Penting untuk fokus, karena banyak juga pebisnis yang mudah tergiur dengan bisnis orang lain, sehingga tanpa disadari dia malah terus berusaha mengikuti apa yang orang lain lakukan. Alhasil, dia lupa pada susunan rencana bisnisnya sendiri. Perencanaan bisnis bisa saja tertulis, bisa juga tidak. Rencana yang tertulis dinilai lebih memudahkan untuk kita konsisten dan fokus pada jalur yang dibuat. Semakin fokus pada rencana tersebut, akan semakin mudah pula mencapai target yang sudah ditetapkan. Bahkan, bisa saja kita melampauinya.
REFERENSI:
Diringkas oleh: Nadia Dika Valency
Referensi: Muslim Preneur, Nurdin Apud Sarbini, Lc, M.Pd, cetakan pertama, Jumadal Akhirah 1443 H/Januari 2022 M.
Baca juga artikel:
