Pintu Masuk Setan Ke Dalam Hati Manusia
Pintu Masuk Setan Ke Dalam Hati Manusia – Segala puji bagi Allah, kami memui-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Amma ba’du,
Sesungguhnya nikmat Allâh سبحانه وتعالى kepada manusia sangat banyak. Di antara nikmat besar yang Allâh anugerahkan kepada umat manusia adalah diutusnya Nabi Muhammad kepada seluruh manusia. Allâh سبحانه وتعالى telah mengutus Beliau untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Beliau telah melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya, menasehati ummat, menunaikan amanah, dan menyampaikan risalah. Sehingga tidaklah Beliau diwafatkan, kecuali agama Islam telah sempurna, nyata, dan terang-benderang. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali pasti binasa.
Hati bagi segenap anggota tubuh ini bagaikan laksana raja yang mengatur bala tentaranya, yang semua perbuatan berasal dari perintahnya, lalu ia gunakan dengan semaunya sehingga semua berada di bawah kekuasaan dan perintahnya. Dari hati sesorang meniti jalan istiqamah atau kesesatan, serta dari hati pula niat itu termotivasi atau malah pudar. Karenanya Nabi صلىَّ الله عليه وسلّمBersabda:
…أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً ئإِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ, أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ.
Artinya: “…Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (Muttafaqun Alaih)
Hati adalah raja. Karenanya, setelah iblis mengetahui bahwa hati adalah sandaran setiap manusia, makai a pun berusaha untuk membisiki hati kepada jalan-jalan kejelekan, menawannya dengan beragam bentuk syahwat, syubhat, dan yang lainnya, supaya hamba tersebut berpaling dari jalan yang benar.
Sesungguhnya setan Adalah musuh yang nyata bagi manusia. Setan selalu berusaha untuk menyesatkan manusia dan mengajak mereka ke Neraka. . Allâh سبحانه وتعالى berfirman:
إن الشيطان لكم عدو فاتخذوه عدوا إنما يدعوا حزبه ليكونوا من أصحاب السعير
Artinya: “Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajka golongannya agar mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir: 6)
يا أيها الناس كلوا مما فى الأرض حللا طيبا ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين 168 إنما يأمركم بالسوء والفحشاء وأن تقولوا على الله ما لا تعلمون 169
Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti Langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji, dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah.” (QS. Al-Baqarah: 168-169)
…ويريد الشيطان أن يضلهم ضللا بعيدا
Artinya: “…Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’: 60)
Setan mempunyai balatentara yang banyak sekali juga mempunyai tipu muslihat yang banyak sekali untuk menggoda, membujuk, menipu, mengadu domba, menyesatkan, dan lain-lain. Dan setiap manusia pasti ada setannya, sebagaimana jawaban Nabi صلى الله عليه و سلم kepada ‘Aisyah رضي الله عنها
Setan selalu melakukan talbis dan ghurur. Talbis artinya menampakkan sesuatu kebathilan dalam rupa kebenaran. Adapun ghurur artinya semacam kebodohan yang menimbulkan keyakinan bahwa yang rusak (sesat) dianggap benar dan yang jelek dianggap bagus. Sebabnya adlah syubhat dan kerancuan.
Setan menyusup ke dalam hati manusia tergantung kepada kesadaran dan kelalaian manusia, Kemahiran dan kebodohannya. Setan berjalan di tubuh manusia seperti mengalirnya darah.
Ketahuilah bahwasanya hati bagaikan benteng. Di sekelilingnya ada pagar. Dan pagar itu mempunyai beberapa pintu dan masih ada celah-celah yang dapat dimasuki. Yang tinggal di dalam hati itu adalah akal, dan Malaikat selalu mendatangi benteng tersebut.
Begitu pula hawa nafsu dan setan selalu menggoda hati, sehingga peperangan terus berkecamuk antara penghuni benteng dan pasukan penyerang (musuh). Setan selalu berputar mengelilingi benteng untuk mencari kelengahan penjaga untuk bisa melewati celah tersebut. Oleh karena itu, penjaga harus mengetahui seluruh pintu benteng dan celah-celah yang ada di bawah tanggung jawab, tidak boleh lengah walau sekejap pun. Sebab, musuh tidak pernah lengah walau sekejap pun.
Ketahuilah bahwa hati laksana benteng, sedangkan setan adalah musuh yang ingin masuk ke dalamnya untuk menguasai dan memilikinya. Benteng itu tidak bisa dilindungi dari musuh, kecuali dengan menjaga pintu-pintunya, jalan-jalan masuknya, dan cellah-celahnya. Tidak ada yang mampu menjaga pintunya selain orang yang mengetahui pintu-pintu tersebut. Menjaga hati dari bisikan setan adalah wajib hukumnya, yaitu dengan banyak berdzikir kepada Allah, minta tolong kepada Allah, dan berlindung dari godaan setan yang terkutuk.
Celah-celah dan pintu-pintu yang bisa dimasuki setan adalah sifat-sifat manusia yang jumlahnya banyak sekali. Di antaranya:
- Marah
Karena marah adalah hilangnya akal. Jika pasukan akal lemah maka pasukan setan akan menyerang. Dan selagi manusia marah, setan akan terus mempermainkannya.
- Hawa nafsu
Mengikuti hawa nafsu dan tidak memiliki control agama membuatnya sulit untuk bisa membawanya bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam menjauhi apa yang diharamkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Apabila seseorang mengoreksi diri dan menyadari bahwa ia akan embali kepada Allah Ta’ala sepanjang apa pun umurnya, maka ia akan mampu mengalahkan hawa nafsunya dan mampu pula mengendalikan dirinya.
- Hasad (dengki/ iri hati)
Artinya membenci datangnya nikmat Allah kepada orang lain. Jadi, hasad bukan hanya sekedar mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain. Bahkan, ia adalah ketidaksenangan seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada selainnya. Maka ini adalah hasad, baik ia mengharapkan hilangnya nikmat itu atau tetap ada, tetapi ia membenci hal itu.
Seorang Muslim dan Muslimah tidak boleh dengki karena dengki adalah sifat tercela, sifat orang-orang Yahudi, dan dapat merusak amal. Allah Ta’ala melarang seseorang iri hati terhadap apa yang Allah Ta’ala lebihkan dan utamakan atas sebagian manusia dari sebagian yang lain. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
ولا تتمنوا ما فضل الله به بعضكم على بعض الرجال نصيب مما اكتسبوا وللنساء نصيب مما اكتسبن وسألوا الله من فضله إن الله كان بكل شىء عليما 32
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 32)
- Tamak
Karena, selagi manusia merasa tamak maka ketamakannya akan membuatnya buta dan tuli. Padahal Cahaya mata hatilah yang mengetahui celah-celah yang bisa dimasuki setan. Bila Cahaya itu tertutup oleh perasaan dengki dan tamak, ia tidak bisa lagi melihat. Ketika itulah setan mendapat kesempatan untuk membuat apa saja yang bisa mengantarkan si tamak kepada syahwatnya sehingga sesuatu terlihat baik di matanya, meskipun sebenarnya adalah sesuatu yang mungkar dan keji.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang sifat tamak:
ما ذءبان جاءعان أرسل في غنم بأفسد لها من حرص المرء على المال والشرف لدينه
Artinya: “Dua ekor serigala lapar yang dilepas din sekumpulan kambing tidaklah lebih merusak daripada kecintaan (ketamakan) seseorang kepada harta dan kehormatan terhadap agamanya.” (shahih, HR. At-Tirmidzi (2376))
- Berlebihan dalam makan
Kendati makanan itu halal dan baik, namun berlebihan dalam makan (kekenyangan) dapat memperkuat syahwat, sedangkan syahwat adalah senjata setan.
Allah Ta’ala berfirman:
…وكلوا واشربوا ولا تسرفوا إنه لا يحب المسرفين 31
Artinya: “…Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang
berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf: 31)
- Terburu-buru dan kurang teliti dalam segala perkara/urusan
Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda:
التأني من الله والعجلة من الشيطان
Artinya: “Sikap pelan-pelan itu dari Allah dan ketergesaan berasal dari setan.” (hasan, HR. Abu Ya’la Al-Mushili dalam Musnadnya)
- Bakhil (kikir/pelit)
Karena hal itulah yang menghalanginya untuk bersedekah dan berinfak, mendorongnya untuk menyimpan dan menimbun harta serta mengakibatkan adzab yang pedih. Bakhil (kikir) telah menyebabkan kehancuran ummat-ummat terdahulu.
- Takut miskin
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
فوالله ما الفقر أخشى عليكم. ولاكني أخشى عليكم أن تبسط الدنيا عليكم كما بسطت على من كان قبلكم. فتنافسوها كما تنافسوها. وتهلككم كما أهلكتهم
Artinya: “…Demi Allah! Bukan kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi aku khawatir jika dunia dibentangkan (diluaskan) atas kalian seperti telah diluaskan atas orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba mendapatkannya kemudian dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka.” (Muttafaqun Alaih)
- Fanatik kepada madzhab, dendam kepada seteru dan memandang rendah terhadapnya
Hal semacam itu dapat membinasakan hamba-hamba Allah dan orang-orang fasik secara keseluruhan. Karena mendiskreditkan orang dan menyebut-nyebut kekurangannya adalah watak dasar manusia yang berasal dari sifat-sifat binatang buas.
- Suu-uzh-zhann (buruk sangka) kepada orang lain
Allah Ta’ala berfirman:
يا أيها الذين ءامنوا اجتنبوا كثيرا من الظن إن بعض الظن إثم
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujuraat: 12)
Orang beriman selalu mencari alasan untuk memaklumi kondisi orang lain, sedangkan orang munafik selalu mencari-cari kesalahannya.
Jika anda bertanya: “Bagaimana cara menangkal masuknya setan? Cukupkah dengan berdzikir kepada Allah dan mengucapkan laa haula wa laa quwwata illaa billaah?”
Caranya adalah dengan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela tersebut, dan itu memerlukan dzikir yang Panjang. Jika pangkal sifat-sifat tercela itu bisa dipotong dari hati maka setan akan meninggalkan hati dan tidak lagi bersarang di sana. Setan tidak mau keluar dari hati manusia hanya dengan berdzikir kepada Allah karena hakikat dzikir itu tidak bisa menguasai hati kecuali setelah hati diisi takwa dan dibersihkan dari sifat-sifat tercela. Jika tidak, dzikir hanya akan menjadi omongan jiwa yang tidak mampu menguasai hati sehingga tidak mampu mengusir kekuasaan setan.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:
إن الذين اتقوا إذا مسهم طاإف من الشيطان تذكروا فإذا هم مبصرون
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raaf: 201)
Referensi:
Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam Tazkiyatun Nufus karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Diringkas oleh: Intan Ayu Agustina
BACA JUGA :
