WAJIB MENCINTAI APA YANG DATANG DARI ALLAH DAN RASULNYA

cover WAJIB MENCINTAI

WAJIB MENCINTAI APA YANG DATANG DARI ALLAH DAN RASULNYA

 

 

Penyusun kitab Nawaqidul islam mengatakan “ barang siapa membenci apa yang dibawa oleh rasul shalallahu`alaihi wasallam kendatipun tetap mengamalkannya, berarti dia dihukumi kafir.

Dan dalilnya firman Allah :

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“ yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka  benci kepada apa yang diturunkan allah (Al-qur`an) lalu Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. (QS, muhammad : 9)

Menghapus amal artinya membatalkan seluruh amalnya.

Ini menunjukkan bahwa membenci sesuatu syari`at yang dibawa rasulullah adalah kemurtadan (keluar dari agama islam) dan akan menyebabkan semua pahala amalan kebaikan menjadi gugur. Karena dasar keimanan (usul iman) dan rukun-rukunya yaitu berimankepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, beriman kepada kitab-kitabnya, beriman kepada rasul-Nya,  dan beriman kepada hari akhir serta beriman kepada taqdir baik dan buruk. Maka barangsiapa yang mengingkari salah satunya maka bukan seorang mukmin.

Dan maksud firman Allah “mereka  benci kepada apa yang diturunkan allah (Al-qur`an) lalu Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka”. Yaitu dalamAl-qur`an dan juga As-sunnah yang dibawa rasulullah shalallahu`alihi wasallam. Karen awahyu Allah turun ada dua macam :

Pertama: Al-qu`an ini adalah wahyu pertama dan dumber islam yang pertama.

Kedua : Assunnah yang dibawa rasulullah shalallahu`alaihi wasallam. Ini juga wahyu dari allah sebagaimana Allah berfirman tentang nabinya muhammad  shalallahu`alaihi wasallam

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

“ dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, ucapanya tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” (QS. An-Najm : 3-4)

Dan  Allah berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. ( QS. Al-Hasyr : 7)

Maka mencintai Allah dan mencintai apa yang telah Allah turunkan adalah jenis ibadah yang paling agung. kemudian diiringi dengan mencintai rasulullah shalallahu`alaihi wasallam dan mencintai sunnahnya. Sebaliknya membenci pa yang datang dari allah atau membenci apa yang datang dari rasulullah shalallahu`alaihi wasallam mengindikasikan adanya kebenciannya kepada allah atau kebencian kepada rasullnya adalah sebuah kemurtadanndan sebentuk kekufuran kepada Allah `azzawajalla.

Dan perkataan penyusun kitab nawaqidul islam, “ barangsiapa membenci sesuatu dari apa yang dibawa oleh rasul shalallahu`alaihi wasallam kendaati dia tetap mengamalkannya”…maksudnya dia tetap tidak termasuk orang beriman karena sesungguhnya orang munafik ketika mereka membenci Allah dan rasulnya serta mereka menbenci wahyu ysng diturunkan dan tidak menginginkannya.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An-nisa:61).

Orang yang menbenci apa yang diturunkan oleh allah ada dua kelompok ;

PERTAMA : orang yang asalnya memang kafir yang mereka memang sudah sejak awal membenci risalah dan kitab_kitab yang diturunkan oleh allah secara terang-terangan.

KEDUA ; orang-orang yang mengaku islam, pasahal tidak, merekalah orang-orang munafiq.

Adapun orang-orangg yang beriman mereka mencintai apayang datang dari allah dan apa yang datang dari rasulullah shalallahu`alaihi wasallam.  Oleh karean itu  Allah berfirman tentang mereka,

إِنَّمَا كان قول المؤمنين إذادعواإلى الله ورسوله ليحكم بينهم أن يقولوا سمعنا وأطعنا وأولئك هم المفلحون

“sesungguhnya jawaban orang-orang  mukmin bila mereka dipanggil kepada allah dan rasulNya agar rasul menghukum dan mengadili diantara mereka adalah ucapan “kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS: An-NUR: 51)

Dalam ayat lain Allah berfirman :

فَلا وربك لايؤمنون حتى يحكموك فيما شجربينهم ثم لايجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS: An-nisa :65)

Maksuudnya, mereka tidak mendapati dalam diri dan hati mereka rasa keberatan. Mereka tidak cukup hanya patuh secara zhahir saja akn tetapi mereka tunduk dan patuh secara zhahir dan batin. Mereka mencintai hukum allah  dan hukum rasul-Nya secara zhahir maupun bati.

ثم لايجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما

“kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS: An-nisa :65)

Mereka tidak menentang hukum allah dan hukum rasulnya karena mereka yakin bahwa itu adalah hak (benar) dan adil serta pasti akan membuahkan hasil yang baik. Mendahulukan segala seuatu diatas hukum allah dan rasulnya shalallahu`alaihi wasalllam walaupun hukum itu tidak sejalan dengan hawa nafsu dan keinginan mereka. Mereka meninggalakn pendapat dan keinginan mereka kemudian menerima hukum allah azzawajalla dan rasul-Nya shalalllahua`laihi wasallam karena mereka tahu ada kebaikan didalamnya untuk dunia dan akhirat.

Mereka adalah orang- orang yang beriman yang sampai kepada mereka hukum allah dan rasulnya mereka tidak akan menggantinya selama-lamanya. Oleh karena itu kita dapati mereka sangat antusias dan menerima dan mempelajari al-qur`an dan as-sunnah dan merka sanggup memikul  rasa lelah dan memimikul bwerbagai kesulitan, karena cinta mereka terhadap al-qur`an dan as-sunnah. Mereka dekat dengan al-qur`an dan as-sunnah kerinduan mereka dengan al-qur`an dan as-sunnah melebihi keinginan dan kerinduan mereka kepada amakan dan minum. Ini karena didalam hati mereka terpati rasa cinta kepada kitab Allah dan sunnah asulnya shalallahu`alaihi wasallam. Kondisi ini berbeda dengan orang yang munafiq yang malah manjauh dari  al-qur`an dan as-sunnah serta enggan mempelajarinya, atau mereka membaca al-qur`an hanya sekedar dilisan saja, dan mereka lari dari sunnah rasulullah shalallahu`alaihi wasallam. Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

 “ apabila diperintahkan kepada mereka , marilah kamu tunduk kepada hukum yang allah telah turunkan dan kepada hukum rasul,”niscaya kamu melihat orang-orang yang munafiq menghalangi manusia dengan sekuat-kuatnya dari mendekati kamu. (QS. An-nisa:61).

Dan firman Allah

وإذا قيل لهم تعالوا يستغفر لكم رسول الله لووا رءو سهم ورأيتهم  يصدون وهم مستكبرون

dan apabila dikatakan kepada mereka marilah beriman, agar rasulullah memintakan ampun kepadamu, mereka membuang muka dan kamu meliahat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. (QS. Al-munaafiqun :5)

Ini betanda bahwa merelka benci kepada kitabullah dan sunnah rasulullah shalallahu`alaihi wasallam. Orang-orang munafiq dan orang yang hatinya kurangberiman seperti khawarij, dan mu`tazilah dan semua elompok-kelompok ysng sesat  mereka meragukan as-sunnah, sebagian mereka ragu dengan hadits-hadits ahad  dan sebagian kain menganggap hadits tidak penting. Mereka mengatakan “kami cukkup dengan al-qur`an saja.  Dan orang-orang yang sesat mengatakan bahwa hadits ahad tidak bisa dipakai hujjah dalam permasalahan aqidah karena hanya menunjukkan sampai tingkat dugaan saja. Namun yang sabngat mengherankan mereka justru membangun aqidah mereka diatas ilmu kalam dan ilmu manyhik (logika).

Adapun para pengikut sunnah dan kebenaran mereka mengatakan, apa yang shahih dari nabi shalalllahu`alaihi wasallam maka itu berfaidah menunjukkan sampai ketingkat yakin dan kepastianserta bisa digunakan sebagai hujjah dalam msalah aqidah ibadah dan muamalah tanpa dibeda-bedakan ini adalah jalan ahlusunnah waljamaah.

Referensi:

Diringkas dari majalah  As-Sunnah terbitan tanggal 09 rabiul akhir 1439H

Di ringkas oleh: Ustadz Ali Shadiqin

Baca Juga Artikel:

Larangan Saling Dengki

Sudah Ikhlaskah Kita?

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.