4 Pertanyaan Di Padang Mahsyar

Kehidupan dunia ini dengan berbagai kenikmatannya pasti akan berakhir. Yaitu dengan datangnya hari kiamat. Ketika itu tidak ada yang bermanfaat bagi manusia kecuali keimanan dan amal kebaikan yang pernah dilakukannya waktu di dunia. Adapun anak keturunan, harta, kedudukan, pangkat dan gelar yang dikejar-kejar oleh banyak orang, maka tidaklah bermanfaat. Maka merugilah orang-orang yang kesibukannya di dunia hanya untuk membanggakan anak keturunan, mengumpulkan harta, mencari kedudukan dan mengejar pangkat. Sedangkan terhadap akhirat mereka melalaikannya. Alloh berfirman:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-‘Ashr :1-3)

Ketika dibangkitkan dari kubur, mereka dalam keadaan tidak berpakaian dan berjalan tanpa alas kaki. Lalu mereka dikumpulkan di padang mahsyar. Di sanalah mereka dimintai pertanggungjawaban tentang perbuatan-perbuatan yang pernah dilakuakannya waktu di dunia. Di antara yang akan ditanyakan pada hari itu adalah 4 perkara sebagaimana di dalam hadits shohih, Rosululloh bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ بِهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ

“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju surge atau neraka) sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia habiskan dan badannya untuk apa ia gunakan”

(HR Tirmidzi dan Darimi)

  1. Umur

Umur adalah waktu yang diberikan Alloh kepada kita untuk hidup di dunia ini. Setiap orang memiliki umur sendiri-sendiri sesuai dengan ketetapan Alloh. Ada yang diberi umur panjang dan ada yang diberi umur pendek. Tetapi yang penting bukanlah panjang dan pendeknya umur, melainkan untuk apa umur itu digunakan. Itulah yang bakal ditanyakan di padang mahsyar. Jika digunakan untuk berbuat kebaikan, maka akan beruntung. Dan jika digunakan untuk berbuat keburukan, maka akan merugi.

Cobalah lihat waktu-waktu yang sudah kita lalui dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Untuk apakah kita gunakan? Apakah kita telah menggunakannya sesuai dengan maksud penciptaan kita sebagai manusia? Yaitu beribadah kepada Alloh dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ataukah justru menggunakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti bergurau, mengobrol hal-hal yang tidak berfaidah, menonton sinetron, mendengarkan musik, bemain-main, bersenang-senang dan berfoya-foya?

Ketahuilah semua perbuatan yang dilakukan selama kita hidup di dunia akan ditanyakan dan dimintai pertanggungjawabanya di akhirat nanti! Oleh karena itu, kita wajib memperhatikan waktu-waktu kita dan menggunakannya untuk banyak beramal kebaikan supaya tidak merugi.

  1. Ilmu

Alloh telah memerintahkan kepada kita untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu hukumnya wajib. Untuk mendapatkan ilmu bisa dengan belajar kepada guru, mengikuti majlis taklim, membaca buku, mendengarkan khutbah, mendengarkan ceramah agama dan lain-lain. Sehingga kita mengetahui perintah-perintah dan larangan-larangan agama. Lalu berusaha untuk melaksanakan perintah-perintah sesuai dengan kemampuan dan menjauhi larangan-larangan.

       Sudah berapa lama kita belajar ilmu? Dan sudah berapa banyak ilmu yang kita dapatkan? Tapi sudahkah kita mengamalkannya? Kalau kita renungkan ternyata masih sangat jauh amal kita dengan ilmu yang sudah kita dapatkan. Banyak perintah agama yang masih kita tinggalkan dan banyak larangan agama yang masih kita langgar. Takutlah jika hal itu menjadi sebab kemunafikan. Alloh berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. Ash Shoff : 2-3)

Dan Alloh berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir (QS. Al Baqoroh:44)

               Ya Alloh, janganlah jadikan bagian kami dari agama hanya perkataan. Perbaikilah niat-niat dan amal-amal kami. Dan berikanlah kesungguhan dan keikhlasan dalam perkataan, perbuatan dan keadaan kami dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang maha luas rahmat-Nya.

  1. Harta

Harta adalah nikmat besar. Ia bersama anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Alloh berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia

(QS. Al Kahfi : 46)

Perhatikanlah ayat di atas bagaimana Alloh menyebutkan harta sebelum anak-anak. Ini menunjukkan harta adalah perhiasan dan nikmat yang sangat besar. Tetapi tidak mengetahui nilai nikmat tersebut kecuali orang yang tahu tujuan diberikannya harta. Alangkah mulianya harta itu jika dikelola oleh tangan-tangan orang yang sholih lagi bertakwa karena merekalah yang mengetahui tujuan diberikannya harta, mengenal fungsinya harta serta memahami bahwa harta adalah naungan yang akan hilang dan pinjaman yang akan dikembalikan.

Memang harta adalah nikmat dan perhiasan tetapi berhati-hatilah! Kita akan ditanya tentang semua harta yang kita miliki dengan dua pertanyaan yang sangat menakutkan. Dari mana harta diperoleh dan untuk apa harta digunakan. Dua pertanyaan yang menjadikan seorang hamba bertanya seribu kali kepada dirinya sebelum mendapatkan sepeser uang. Dari mana uang yang akan didapatkan? Apakah dari riba? Apakah dari suap? Apakah dari sumber yang haram? Renungkanlah sekarang juga! Periksalah diri kita secara jujur! Bersihkanlah semua harta kita dari penghasilan yang haram! Pastikanlah harta yang ada di tangan kita adalah harta yang halal sebelum ditanya di hadapan Alloh nanti.

Harta yang didapatkan dengan cara yang halal juga harus kita gunakan pada jalan-jalan kebaikan. Rosululloh bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

Tidak ada iri (ingin seperti orang lain) kecuali pada perkara: seorang yang Alloh berikan Al Qur’an dan dia mengamalkan dan mengajarkannya di waktu siang dan malam dan seorang yang Alloh berikan harta dan dia menginfakkannya di waktu malam dan siang. (HR. Bukhori dan Muslim)

Dan Rosululloh bersabda:

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ حَقَّهُ قَالَ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ قَالَ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا قَالَ فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِي مَالٌ عَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ قَالَ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ قَالَ وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقَّهُ فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ قَالَ وَعَبْدٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِي مَالٌ لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ قَالَ هِيَ نِيَّتُهُ فَوِزْرُهُمَا فِيهِ سَوَاءٌ

Sesungguhnya dunia untuk empat orang: “(Pertama) Seorang hamba yang diberi Alloh rejeki berupa harta dan ilmu lalu dia dengan rejeki tersebut bertakwa kepada Alloh, menyambung silaturohmi dan mengenal hak Alloh”. Beliau bersabda: “Orang ini berada pada kedudukan yang paling utama”. Beliau berkata: “(Kedua) Seorang hamba yang diberi Alloh rejeki berupa ilmu dan tidak diberi rejeki berupa harta lalu dia berkata: Andaikata aku memiliki harta aku akan beramal seperti amal si fulan”. Beliau berkata: “Maka pahala keduanya sama”. Beliau berkata: “(Ketiga) Seorang hamba yang diberi Alloh rejeki berupa harta dan tidak diberi rejeki ilmu lalu dia menggunakan hartanya secara serampangan tanpa petunjuk ilmu, tidak bertakwa kepada Alloh, tidak menyambung silaturohmi dan tidak mengenal hak Alloh. Orang ini berada pada kedudukan yang paling buruk”. Beliau berkata: “(Keempat) Seorang hamba yang tidak diberi Alloh rejeki berupa harta dan ilmu lalu dia berkata: “Andaikata aku memiliki harta, maka pasti aku akan berbuat seperti perbuatan si fulan. Beliau berkata: “Itulah niatnya, maka dosa keduanya sama”.

(HR. Tirmidzi dan Ahmad dan dishohihkan oleh Albani)

Sudahkah kita menggunakan harta yang diberikan Alloh di jalan-jalan kebaikan? Ataukah justru kita menggunakannya untuk perbuatan-perbuatan yang sia-sia bahkan maksiat? Periksalah penggunaan harta kita sebelum diperiksa di hadapan Alloh nanti. Dan gunakanlah harta yang diamanahkan Alloh kepada kita di jalan-jalan kebaikan dan kebenaran.

  1. Badan

Alloh telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Dengan kesempurnaan susunan tubuh serta akal fikiran yang diberikan Allah tidak terlewatkan sedikitpun sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia baik lahir maupun batin. Ini adalah nikmat besar yang wajib disyukuri oleh setiap hamba. Oleh karena itu, akan ditanyakan badan ini pada hari kiamat untuk apa digunakan. Apakah digunakan untuk menjalankan ketaatan atau berbuat kemaksiatan? Apakah dilelahkan dengan urusan dunia dan akhirat atau dilelahkan dengan urusan dunia saja. Untuk apa badan ini digunakan?

Sudah seharusnya badan ini digunakan untuk menjalankan ketaatan-ketaatan kepada Alloh. Dan tidak mengapa menggunakan badan untuk urusan dunia tetapi jangan lupa terhadap urusan akhiratnya. Karena yang tercela adalah sesorang menghabiskan badanya untuk urusan dunia saja dan lalai dari urusan akhiratnya. Orang yang demikian keadaannya ketika datang kematian, ia akan menyesal dan mengandaikan bisa kembali ke dunia untuk beramal sholih tetapi tidak bisa dan tidak mungkin dilakukan. Alloh berfirman:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata:”Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan. (QS. Al Mu’minun:99-100)

Silakan berdagang, membangun dan mengumpulkan harta tetapi jangan lupa kewajiban kepada Alloh dan selalu ingat kehidupan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal. Alloh berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

(QS. Al A’laa:17)

               Tetapi ternyata kita masih banyak melalaikan Alloh dan kehidupan akhirat. Selalu yang kita pikirkan adalah masalah-masalah dunia bahkan sering pada waktu sedang beribadah pikiran kita sibuk mengingat-ingat dunia. Badan kita di masjid tetapi hati kita di pasar, ladang, peternakan atau lapangan olah raga. Bagaimana nanti kita menjawab pertanyaan untuk apa badan kita digunakan?

Ya Alloh, perbaikilah agama kami yang merupakan pegangan kami, perbaikilah dunia kami yang merupakan penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami, jadikanlah hidup kami sebagai tambahan setiap kebaikan dan jadikanlah kematian kami sebagai penutup setiap keburukan.

Demikianlah persoalan-persoalan yang akan ditanyakan di padang mahsyar. Setiap manusia akan mintai pertanggungjawabannya atas segala perbuatanya yang pernah dikerjakan selama hidup di dunia, baik perbuatan yang besar maupun perbuatan yang kecil, perbuatan yang banyak maupun perbuatan yang sedikit. Sudah siapkah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan kepada kita pada saat itu? Jika belum kapan lagi kita mempersipkan diri kalau bukan sekarang?

       Segala puji bagi Allah dan sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 04 Tahun 02

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.