Skip to content

WAKTUMU DIHABISKAN UNTUK APA?

Khoirul Anam
7 menit baca
Waktumu Dihabiskan Untuk Apa?

WAKTUMU DIHABISKAN UNTUK APA?

Waktu merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia. Setiap manusia mendapatkan waktu yang sama, yaitu dua puluh empat jam dalam sehari. Namun, tidak semua manusia menggunakan waktu tersebut dengan cara yang sama. Ada orang yang mengisinya dengan ibadah, menuntut ilmu, bekerja, membantu orang lain, dan melakukan berbagai amal kebaikan. Ada pula yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk perkara yang tidak memberikan manfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

Waktu berbeda dengan harta. Harta yang hilang masih mungkin dicari kembali. Akan tetapi, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hari kemarin tidak mungkin diulang, dan satu detik yang telah berlalu tidak dapat dibeli dengan seluruh kekayaan manusia.

Karena itulah seorang Muslim harus memperhatikan waktunya. Pertanyaan yang sangat penting untuk direnungkan bukan hanya, “Berapa umur saya?”, tetapi juga, “Untuk apa umur dan waktu saya digunakan?”

  Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an:

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Surah yang sangat pendek ini mengandung peringatan yang besar. Pada hakikatnya, manusia berada dalam kerugian apabila waktunya berlalu tanpa iman, amal saleh, dakwah kepada kebenaran, dan kesabaran.

  1. Waktu Adalah Amanah dari Allah

Setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas kehidupannya. Umur yang diberikan Allah bukan sekadar kesempatan untuk menikmati dunia, tetapi merupakan amanah yang harus digunakan untuk beribadah kepada-Nya.

  Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat tersebut menjelaskan tujuan utama penciptaan manusia. Oleh sebab itu, kehidupan seorang Muslim tidak seharusnya berjalan tanpa arah. Setiap hari seharusnya memiliki hubungan dengan tujuan penciptaan tersebut.

Bekerja mencari nafkah dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan cara yang halal dan disertai niat yang benar. Belajar dapat menjadi ibadah apabila ilmu yang dipelajari digunakan untuk kebaikan. Membantu orang tua, menjaga keluarga, dan menolong sesama juga dapat menjadi amal saleh.

Dengan demikian, memanfaatkan waktu bukan berarti seseorang harus terus-menerus berada di masjid atau membaca kitab sepanjang hari. Akan tetapi, seorang Muslim berusaha agar aktivitas kehidupannya berada dalam perkara yang diridai Allah.

Yang perlu ditanyakan kepada diri sendiri adalah:

Apakah kegiatan yang saya lakukan hari ini mendekatkan saya kepada Allah atau justru menjauhkan saya dari-Nya?

  2. Manusia Sering Lalai Terhadap Nikmat Waktu

Salah satu masalah manusia adalah sering menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat tersebut hilang.

  Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya: “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Hadis ini memberikan pelajaran penting. Waktu luang merupakan nikmat, tetapi dapat menjadi kerugian apabila tidak dimanfaatkan.

Seseorang mungkin mengatakan, “Nanti saja saya belajar agama.”

  • “Nanti saya membaca Al-Qur’an.”
  • “Nanti saya bertaubat.”
  • “Nanti saya memperbaiki shalat.”

Masalahnya, manusia tidak pernah mengetahui kapan kesempatan tersebut akan berakhir.

Banyak orang memiliki rencana untuk melakukan kebaikan pada masa depan, tetapi tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk menjalankan rencana tersebut.

Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak menunda-nunda amal saleh.

  Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Artinya: “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Ayat tersebut mengajarkan kepada kita agar tidak sekadar mengetahui kebaikan, tetapi segera berusaha melaksanakannya.

  3. Umur Terus Berkurang

Manusia sering mengatakan bahwa usianya bertambah setiap tahun. Padahal dari sudut pandang yang lain, umur seseorang sebenarnya terus berkurang.

Ketika seseorang berulang tahun, ia mungkin merasa sedang bertambah usia. Namun sebenarnya satu tahun dari kesempatan hidupnya telah berlalu.

Hari ini akan menjadi kemarin. Bulan ini akan menjadi bulan lalu. Tahun ini akan menjadi tahun yang telah berlalu.

  Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Kematian merupakan kepastian. Yang tidak diketahui adalah kapan waktunya tiba.

Karena itu, seorang Muslim tidak sepatutnya merasa bahwa kesempatan beramal akan selalu tersedia.

  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Artinya: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari)

Perumpamaan ini mengajarkan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Seorang musafir memahami bahwa dirinya sedang dalam perjalanan. Ia mengambil bekal secukupnya untuk sampai ke tujuan.

Demikian pula seorang Muslim. Dunia adalah tempat untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan akhirat.

  4. Untuk Apa Waktu Kita Dihabiskan?

Pertanyaan ini seharusnya menjadi bahan evaluasi setiap hari.

Cobalah memperhatikan dua puluh empat jam dalam sehari. Berapa waktu yang digunakan untuk shalat? Berapa waktu untuk membaca Al-Qur’an? Berapa waktu untuk belajar? Berapa waktu untuk membantu orang tua? Berapa waktu untuk pekerjaan yang bermanfaat?

Kemudian bandingkan dengan waktu yang dihabiskan untuk hiburan, bermain, berbicara tanpa manfaat, menonton sesuatu yang tidak berguna, atau sekadar berpindah-pindah dari satu konten ke konten lainnya.

Bukan berarti seluruh hiburan harus ditinggalkan. Islam tidak melarang seseorang beristirahat dari aktivitas yang melelahkan. Akan tetapi, seorang Muslim harus mampu membedakan antara istirahat yang dibutuhkan dan membuang-buang waktu.

  Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang berpaling dari perkara yang tidak berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 3)

Ayat ini memberikan gambaran tentang salah satu sifat orang beriman, yaitu tidak menjadikan perkara sia-sia sebagai bagian utama kehidupannya.

Waktu yang hilang karena kesibukan yang bermanfaat mungkin tidak menjadi masalah. Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika seseorang kehilangan waktu untuk sesuatu yang tidak memiliki manfaat, sementara kewajiban dan amal salehnya justru ditinggalkan.

 5. Bahaya Menunda-Nunda Kebaikan

Salah satu penyakit yang sering terjadi adalah menunda amal.

Seseorang mengetahui pentingnya membaca Al-Qur’an, tetapi berkata, “Besok saya mulai.”

Ia mengetahui pentingnya belajar agama, tetapi berkata, “Nanti kalau sudah punya banyak waktu.”

Ia ingin memperbaiki shalat, tetapi terus menunda.

Ia ingin meminta maaf kepada orang tua, tetapi menunggu kesempatan yang dianggap lebih tepat.

Padahal, tidak ada jaminan bahwa “besok” akan menjadi milik kita.

  Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini mengandung dorongan agar seorang Muslim melakukan introspeksi terhadap amalnya dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Karena itu, setiap malam kita dapat bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang telah saya lakukan hari ini untuk akhirat?

Jika jawabannya hanya sedikit, maka besok harus diperbaiki.

  6. Mengisi Waktu dengan Menuntut Ilmu

Di antara kegiatan paling berharga yang dapat dilakukan seorang Muslim adalah menuntut ilmu syar’i.

Ilmu membantu seseorang mengenal Allah, memahami tauhid, mengetahui tata cara ibadah yang benar, membedakan antara sunnah dan bid’ah, serta memahami akhlak yang baik.

  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menuntut ilmu tidak harus selalu dilakukan dalam waktu yang panjang. Membaca beberapa halaman kitab, mendengarkan kajian yang terpercaya, mempelajari satu ayat Al-Qur’an beserta tafsirnya, atau memahami satu hadis dengan benar dapat menjadi bagian dari proses menuntut ilmu.

     Yang penting adalah adanya kesungguhan dan kesinambungan.

Dan lebih penting lagi:

Jika hari ini adalah salah satu hari terakhir dalam hidupku, apakah aku rela mempertanggungjawabkan bagaimana aku menggunakan waktuku?

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita taufik untuk memanfaatkan umur dengan ketaatan, memberikan keberkahan pada waktu kita, menjadikan kita orang-orang yang mencintai ilmu dan amal saleh, serta mengakhiri kehidupan kita dalam keadaan husnul khatimah.

REFERENSI:

Judul   : Waktumu di habiskan untuk apa?

Karya  : Ustad Yazid Bin Abdul Qadir Jawaaz رحمه الله

Penerbit : Pustaka At – Taqwa, Peringkas: Aerin Renata ( Guru PKBM MIA BATURAJA )

Baca juga artikel:

Sebab-Sebab Waktu Terbuang (Bagian 2)

Sumber Dari Ketenangan Hati

Bagikan:

Artikel Terkait

Berupayalah Untuk Menjadi Kunci Kebaikan
Adab 04/11/2026

Berupayalah Untuk Menjadi kunci kebaikan

Berupayalah Untuk Menjadi kunci kebaikan Sesungguhnya Rasulullah telah mengklasifikasi manusia menjadi dua kelompok: (1) kelompok yang merupakan kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup kejelekan, dan (2) kelompok yang merupakan kunci-kunci kejelekan dan penu-tup-penutup kebaikan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: إِنَّ مِنَ النَّاسِ نَاساً مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ نَاساً مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيْقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ […]

Abu Bakar Ummat Terbaik Setelah Nabi Muhammad
Hadits 29/10/2026

Abu Bakar Ummat Terbaik Setelah Nabi Muhammad

Abu Bakar Ummat Terbaik Setelah Nabi Muhammad Allah memberikan keutamaan yang lebih bagi Sebagian nabi dan rasul di atas yang lainnya. Para nabi dan rasul yang termasuk ulul’azmi lebih utama di sisi Allah Ta’ala dari pada para rasul yang lainnya. Begitu pula para sabiqunal awwalun (para pendahulu kita) yang berasal dari kalangan muhajirin dan anshar […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
337 Tahun 2026 (29 Juli 2026 )

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map