Sebab-Sebab Sombong Yang Tidak Disadari
Sebab-Sebab Sombong Yang Tidak Disadari – Kesombongan adalah dosa besar hati yang sering muncul tanpa disadari. Ia tidak selalu terlihat dalam bentuk ucapan kasar, tetapi bisa tampak melalui cara menolak kebenaran, memandang rendah orang lain, gaya berjalan, cara memalingkan wajah, pilihan pergaulan, sampai rasa bangga terhadap nikmat dunia. Menjauhi dosa besar menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil, sehingga menjaga hati dari kesombongan termasuk kewajiban penting bagi setiap muslim. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
إِن تَجْتَنِبُوا۟ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا
Artinya: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”. (QS. An-Nisa: 31)
Hakikat Sombong
Sombong memiliki dua unsur utama: menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Menolak kebenaran lebih berbahaya karena berarti seseorang mengetahui dalil dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi menolaknya karena gengsi, kepentingan, hawa nafsu, atau fanatisme. Merendahkan manusia tampak ketika seseorang merasa orang lain lebih rendah karena harta, jabatan, ilmu, nasab, fisik, atau status sosial.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan bahwa orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar zarah tidak masuk surga. Ketika ditanya tentang pakaian dan sandal yang indah, beliau menjelaskan bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan; yang disebut sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.[1]
قِيلَ ٱدْخُلُوٓا۟ أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى ٱلْمُتَكَبِّرِينَ
Artinya: Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. (QS. Az-Zumar: 72)
Iblis menjadi contoh paling jelas. Ia diperintah sujud kepada Adam Alaihissalam, tetapi menolak karena merasa unsur penciptaannya lebih mulia. Kesombongan pertama ini lahir dari perasaan ‘aku lebih baik’. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ
Artinya: Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)
Kesombongan dalam Sikap Lahir
Kesombongan hati dapat keluar melalui gestur: memalingkan wajah, berjalan angkuh, berbicara tinggi, memandang sinis, atau bersikap seakan orang lain tidak berharga. Al-Qur’an melarang manusia memalingkan muka dari manusia dan berjalan di bumi dengan angkuh. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman: 18)
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ ٱلْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولًا
Artinya: Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al-Isra: 37)
Sebab-Sebab Sombong yang Tidak Disadari
Pertama, kekuasaan dan jabatan. Jabatan sering membuat orang lupa teman lama, sulit menerima nasihat, merasa lebih tinggi, dan memilih pergaulan berdasarkan status. Firaun dan Namrud menjadi contoh ketika kekuasaan berubah menjadi pembangkangan. Firaun merasa memiliki kerajaan Mesir dan sungai-sungainya, sedangkan Namrud mendebat Nabi Ibrahim Alaihissalam karena kerajaan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِى قَوْمِهِۦ قَالَ يَاقَوْمِ أَلَيْسَ لِى مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ ٱلْأَنْهَارُ تَجْرِى مِن تَحْتِىٓ ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Artinya: Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)? (QS. Az-Zukhruf: 51).
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِى حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِى رَبِّهِۦٓ أَنْ ءَاتَاهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّىَ ٱلَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحْىِۦ وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأْتِى بِٱلشَّمْسِ مِنَ ٱلْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ ٱلْمَغْرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّالِمِينَ
Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 258)
Kedua, kekuatan fisik. Tubuh kuat, keberanian, dan kemampuan badan bisa membuat seseorang merasa hebat. Kaum ‘Ad berkata, ‘Siapakah yang lebih kuat daripada kami?’ Padahal Allah yang menciptakan mereka lebih kuat daripada mereka. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
فَأَمَّا عَادٌ فَٱسْتَكْبَرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَقَالُوا۟ مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَجْحَدُونَ
Artinya: Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. (QS. Fussilat: 15)
Ketiga, ketampanan dan kecantikan. Wajah menarik, tubuh ideal, warna kulit, dan penampilan dapat menipu hati. Nabi Yusuf Alaihissalam diberi ketampanan luar biasa, tetapi tetap dikenal sebagai orang yang berbuat baik dan berakhlak mulia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَدَخَلَ مَعَهُ ٱلسِّجْنَ فَتَيَانِ ۖ قَالَ أَحَدُهُمَآ إِنِّىٓ أَرَانِىٓ أَعْصِرُ خَمْرًا ۖ وَقَالَ ٱلْءَاخَرُ إِنِّىٓ أَرَانِىٓ أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِى خُبْزًا تَأْكُلُ ٱلطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِۦٓ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Artinya: Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur”. Dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung”. Berikanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi). (QS. Yusuf: 36)
Keempat, pakaian indah dan barang mahal. Islam tidak melarang keindahan, tetapi melarang ujub, israf, dan kesombongan. Pakaian, jam, tas, sepatu, merek mahal, dan aksesori dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi. Dalam hadis, ada lelaki yang berjalan dengan bangga karena pakaian indah dan rambut tersisir, lalu Allah membenamkannya ke bumi.[2]
Kelima, kendaraan dan simbol status. Dahulu unta dan kuda menjadi lambang kemegahan; sekarang mobil mewah dan kendaraan tertentu bisa menjadi sumber gengsi. Hadis menyebutkan adanya kebanggaan dan kesombongan pada pemilik unta atau kuda, sedangkan ketenangan pada pemilik kambing.[3] Karena itu orang berkendaraan dianjurkan memberi salam kepada orang berjalan kaki sebagai latihan tawadhu.[4]
Keenam, harta. Kekayaan bisa menjadi jalan akhirat jika dipakai untuk sedekah, infak, membantu fakir miskin, anak yatim, janda, korban musibah, dakwah, dan kemaslahatan. Namun harta juga bisa membuat seseorang memutus hubungan, merendahkan yang miskin, dan pamer kemewahan. Qarun diberi harta sangat banyak, tetapi kesombongannya berakhir dengan dibenamkan ke bumi bersama rumahnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ
Artinya: Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. (QS. Al-Qashash: 76).
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٍۢ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُنتَصِرِينَ
Artinya: Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (QS. Al-Qashash: 81)
Ketujuh, nasab, suku, ras, dan keturunan. Membanggakan nasab dan mencela nasab orang lain termasuk sifat jahiliah.[5] Kemuliaan manusia bukan pada darah biru, suku, warna kulit, bangsa, atau keluarga, tetapi pada takwa. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْناكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)
Kedelapan, ilmu. Ilmu agama semestinya melahirkan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tawadhu. Sombong karena ilmu terlihat ketika seseorang meremehkan penuntut ilmu baru, membanggakan hafalan, merendahkan guru kecil, menghina dai lain, atau menjadikan khilafiah sebagai alat merendahkan. Keikhlasan tidak diukur dari banyaknya hafalan, jamaah, atau kitab yang dibaca, tetapi dari hati yang hanya Allah ketahui.
Tawadhu dalam Menuntut Ilmu
Nabi Musa Alaihissalam adalah rasul ulul azmi, tetapi tetap tawadhu ketika belajar kepada Khidir. Beliau meminta izin untuk mengikuti dan belajar, bukan datang dengan sikap merasa paling tahu. Ini menunjukkan bahwa orang besar tetap membutuhkan faedah dari orang lain, dan tidak ada manusia yang menguasai seluruh ilmu. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Artinya: Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66).
Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman:
قَالَ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرًۭا وَلَآ أَعْصِى لَكَ أَمْرًا
Artinya: Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. (QS. Al-Kahfi: 69)
Hasad, Riya, dan Citra Diri
Hasad dapat melahirkan kesombongan karena orang yang dengki sulit mengakui keutamaan orang lain. Ia enggan belajar, sulit menerima kebenaran, dan ingin selalu tampak lebih tinggi. Riya juga membuat seseorang menjaga citra palsu: malu bertanya, takut mengatakan tidak tahu, dan enggan belajar kepada orang yang dianggap setara atau lebih rendah. Atsar Mujahid menyebutkan bahwa orang yang pemalu secara keliru dan orang yang sombong tidak akan memperoleh ilmu.[6]
Cara Mengobati Kesombongan
Obat kesombongan adalah memperbanyak doa, muhasabah, dan segera istigfar ketika muncul sikap meremehkan. Hati perlu dilatih dengan sesekali berpenampilan sederhana, tidak selalu mengejar fasilitas paling nyaman, dan meninggalkan sebagian kemewahan yang mampu dibeli jika dikhawatirkan merusak hati. Ada riwayat tentang al-badzadzah atau kesederhanaan dalam penampilan sebagai bagian dari iman.[7]
Bergaul dengan orang susah juga membantu menghancurkan kesombongan. Jangan membatasi pergaulan hanya dengan orang kaya, pejabat, atau yang dianggap selevel. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mudah ditemui dan tidak membuat jarak sosial yang menakutkan bagi orang kecil.
Mengingat kelemahan diri adalah obat penting. Kecerdasan, wajah, kekuatan, kesehatan, jabatan, dan harta semuanya pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dapat dicabut kapan saja. Manusia berasal dari sesuatu yang hina, membawa kotoran dalam perutnya, dan ketika mati jasadnya akan menjadi bangkai jika tidak dikuburkan. Tidak ada alasan untuk sombong. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَالُوا۟ نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَٰدًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ
Artinya: Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. (QS. Saba: 35)
Kesimpulan
Kesombongan dapat muncul dari nikmat yang tampaknya biasa: jabatan, tubuh, wajah, pakaian, kendaraan, harta, nasab, ilmu, hasad, dan riya. Semua nikmat harus dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan syukur dan tawadhu. Nikmat berubah menjadi bencana ketika membuat seseorang menolak kebenaran atau merendahkan manusia.
—
Referensi:
[1] HR. Muslim tentang larangan kesombongan dan definisi sombong sebagai menolak kebenaran serta merendahkan manusia.
[2] HR. Al-Bukhari dan Muslim tentang lelaki yang berjalan dengan sombong karena pakaian lalu dibenamkan ke bumi.
[3] HR. Al-Bukhari dan Muslim tentang kebanggaan/kesombongan pada pemilik unta atau kuda dan ketenangan pada pemilik kambing.
[4] HR. Al-Bukhari dan Muslim tentang orang berkendaraan memberi salam kepada orang berjalan kaki.
[5] HR. Muslim tentang empat perkara jahiliah, termasuk membanggakan nasab dan mencela nasab.
[6] Atsar Mujahid tentang orang pemalu dan orang sombong tidak memperoleh ilmu; disebutkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq.
[7] Hadis tentang al-badzadzah sebagai bagian dari iman; Sunan Abi Dawud.
REFERENSI:
Diringkas dari kajian Islam dengan judul: Sebab-Sebab Sombong Yang Tidak Disadari
Pemateri: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Channel Youtube: Firanda Andirja
Diringkas oleh: Abu Muhammad Fauzan – (Staf Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)
BACA JUGA :
