Rendah Hati (Tawāḍu‘)
Rendah hati (tawāḍu‘) adalah salah satu akhlak paling agung dalam Islam. Ia merupakan sikap tunduk, tidak sombong, tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, serta mengakui bahwa segala keutamaan yang dimiliki hanyalah karunia Allah semata. Tawāḍu‘ bukan berarti merendahkan diri secara hina, tetapi menempatkan diri pada posisi yang benar di hadapan Allah dan sesama manusia.
Di zaman modern, di mana manusia berlomba-lomba mencari pengakuan, popularitas, dan kedudukan, sikap rendah hati semakin langka. Padahal, Islam menegaskan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada harta, jabatan, atau ketenaran, melainkan pada ketakwaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.
Rasulullah, manusia paling mulia, justru adalah orang yang paling tawāḍu‘. Beliau makan seperti hamba, duduk bersama orang miskin, menolak pujian berlebihan, dan selalu mengaitkan segala keutamaan kepada Allah. Inilah teladan terbesar bagi umat Islam dalam menanamkan sikap rendah hati.
Pengertian Rendah Hati (Tawāḍu‘)
Secara bahasa, tawāḍu‘ berarti merendah. Secara istilah, para ulama mendefinisikannya sebagai:
قَبُولُ الْحَقِّ وَالِانْقِيَادُ لَهُ، وَتَرْكُ الْكِبْرِ عَلَى الْخَلْقِ
Artinya: “Menerima kebenaran dan tunduk kepadanya, serta meninggalkan kesombongan terhadap makhluk.” (Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam)
Imam al-Ghazālī Rahimahullah menjelaskan bahwa tawāḍu‘ adalah kondisi hati yang melihat orang lain dengan pandangan mulia, dan memandang diri sendiri penuh kekurangan. (Lihat: Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Kitāb Kasr asy-Syahwatain).
Dengan demikian, rendah hati bukan soal penampilan luar semata, tetapi lebih dalam: sikap hati yang bersih dari ujub (bangga diri), takabbur (sombong), dan riya’.
Dalil Al-Qur’an tentang Rendah Hati
Allah Subhanahu Wata’ala memuji hamba-hamba-Nya yang rendah hati:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqān: 63)
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
Artinya: “Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isrā’: 37)
Dalam ayat lain Allah menegaskan:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا
Artinya: “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di bumi dan tidak pula berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 83)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa rendah hati merupakan ciri utama hamba Allah yang dicintai dan calon penghuni surga.
Dalil Hadits tentang Keutamaan Rendah Hati
Rasulullah Shallallahu Laaihi Wasallam bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Artinya: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Dalam hadits lain:
إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri atas yang lain dan tidak pula berbuat zalim.” (HR. Muslim no. 2865)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa rendah hati adalah sebab diangkatnya derajat, sedangkan kesombongan adalah penghalang masuk surga.
Perkataan Para Ulama tentang Rendah Hati
Imam al-Ghazālī رحمه الله berkata:
التَّوَاضُعُ أَنْ تَرَى كُلَّ أَحَدٍ خَيْرًا مِنْكَ
Artinya: “Rendah hati adalah engkau memandang setiap orang lebih baik daripada dirimu.” (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, 3/343)
Sufyān ats-Tsaurī rahimahullah berkata:
إِنَّمَا التَّوَاضُعُ أَنْ تَقْبَلَ الْحَقَّ مِمَّنْ جَاءَ بِهِ
Artinya: “Sesungguhnya tawāḍu‘ itu adalah menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya.” (Dinukil oleh Ibn Rajab dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam)
Al-Hasan al-Baṣrī Rahimahullah berkata: “Orang yang tawāḍu‘ adalah orang yang jika keluar dari rumahnya, ia melihat setiap muslim lebih utama darinya.” (Abū Nu‘aim, Ḥilyatul Auliyā’)
Perkataan para ulama ini menegaskan bahwa rendah hati berakar dari hati yang bersih dan pengakuan terhadap keagungan Allah.
Bentuk-Bentuk Rendah Hati dalam Kehidupan
1. Rendah hati kepada Allah
Yaitu tunduk kepada perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, tidak membanggakan amal, serta selalu merasa butuh kepada rahmat-Nya.
2. Rendah hati kepada Rasulullah
Dengan mengikuti sunnah beliau, mendahulukan sabdanya dari pendapat siapa pun, dan tidak menolak hadits sahih karena hawa nafsu.
3. Rendah hati kepada sesama manusia
Dengan tidak meremehkan, tidak menyombongkan harta, ilmu, atau kedudukan, serta bergaul dengan penuh adab dan kasih sayang.
4. Rendah hati dalam menuntut ilmu
Menerima kebenaran meski datang dari orang yang lebih muda, lebih miskin, atau dianggap lebih rendah.
Buah dan Keutamaan Rendah Hati
Di antara buah tawāḍu‘ adalah:
1. Dicintai Allah dan manusia
2. Diangkat derajat di dunia dan akhirat
3. Hati menjadi lembut dan mudah menerima nasihat
4. Terhindar dari penyakit ujub, hasad, dan sombong
5. Memperoleh ketenangan dan keberkahan hidup
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ
Artinya: “Barang siapa meninggalkan kesombongan karena tawāḍu‘ kepada Allah, padahal ia mampu, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (HR. at-Tirmiżī no. 2481)
Penutup
Rendah hati adalah akhlak para nabi, para sahabat, dan orang-orang saleh. Ia bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman dan kejernihan hati. Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, semakin besar tuntutan baginya untuk bertawāḍu‘.
Marilah kita melatih hati untuk selalu mengakui keagungan Allah, menerima kebenaran dari siapa pun, serta memandang diri penuh kekurangan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rendah hati, yang diangkat derajatnya di dunia dan dimuliakan di akhirat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً، وَخُلُقًا تَوَاضُعًا
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan akhlak yang rendah hati.”
Daftar Rujukan:
1. Al-Qur’an al-Karim
2. Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim
3. At-Tirmiżī, Sunan at-Tirmiżī
4. Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam
5. Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn
6. Abū Nu‘aim, Ḥilyatul Auliyā’
BACA JUGA :
