Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Penggabungan Sebagian Nama-Nama Allah Ta’ala Dengan Sebagian Yang Lain

Penggabungan Nama-nama Allah

    Penggabungan Sebagian Nama-Nama Allah Ta’ala Dengan Sebagian Yang Lain. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan, Dzat yang tersifati dengan sifat-sifat keagungan dan kemuliaan. Yang Maha Esa, tempat bergantung, Yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri, Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Bagi-Nya nama-nama yang baik  dan sifat-sifat yang mulia, agung dan sempurna. Amma ba’du.

Sesungguhnya diantara hal yang berharga dan layak diperhatikan dalam memahami nama-nama Allah yang baik adalah penggabungan nama-nama Allah dalam beberapa tempat dari Al-Qur’an dan Sunnah, seperti As-Sami’, Al-Bashir, Al-Ghafur, Ar-Rahiim, Al-Ghani, Al-Hamid, Al-Khabir Al-Bashir, Al-Rahiim, Al-Hakim Al-‘Alim, Al-Hamid Al-Majid, Al-‘Aziz Al-Hakim, Al-‘Ali Al-‘Adzim, Al-Fattah Al-‘Alim, Al-Lathif Al-Khabir, Asy-Syakur Al-Halim, Al-‘Afwu Al-Ghafur, Al-Ghani Al-Karim dan masih banyak lagi contoh-contohnya.

Tidak diragukan lagi bahwa penggabungan ini mengandung hikmah yang agung dan faedah yang mulia serta manfaat yang besar, yang menunjukkan akan kesempurnaan Rabb Ta’ala ditambah lagi dengan pujian dan sanjungan kepada-Nya.  Karena setiap nama dari nama-nama-Nya mengandung sifat kesempurnaan bagi-Nya dan apabila digabung dengan nama yang lain, maka bagi-Nya pujian bagi setiap nama-Nya dan pujian terhadap penggabungan nama-nama-Nya. Hal ini merupakan nilai tambah dari sekedar penyebutan secara tersendiri. Berikut ini adalah contoh-contoh bagi penjelasan  diatas:

  1. Kebanyakan dalam Al-Qur’an disebutkan “Al-‘Aziz Al-Hakim” dengan digabung. Setiap nama tersebut menunjukkan akan kesempurnaan yang khusus pada nama tersebut yaitu sifat kemuliaan pada nama “Al-‘Aziz” dan sifat hikmah dan hukum dalam nama “Al-Hakim”.

Penggabungan antara keduanya menunjukkan akan kesempurnaan yang lain, yaitu bahwasanya kemuliaan-Nya digabungkan dengan sifat hikmah, kemuliaan-Nya tidak menyebabkan kezhaliman, kekurangan, dan perbuatan semena-mena, seperti yang ada pada diri makhluk-Nya karena kemuliaan sebagian mereka terkadang mendorong mereka untuk berbuat dosa, kezhaliman, kecurangan, dan Tindakan semena-mena. Demikian pula dengan hukum dan hikmah-Nya digabungkan dengan kemuliaan yang sempurna, berlainan dengan hukum makhluk dan hikmahnya yang diiringi oleh kehinaan.

  1. Didalam Al-Qur’an juga sering diulang penggabungan “Al-Ghani Al-Hamid”. Allah Ta’ala berfirman,

لله ما في السموت والأرض إن الله هو الغني الحميد

Artinya:

“Kepunyaan Allah-lah apa yang dilangit dan yang dibumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha  Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 26)

يأيها الناس أنتم الفقراء إلى الله والله هو الغني الحميد

Artinya:

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

وقال موسى إن تكفروا أنتم ومن في الأرض جميعا فإن الله لغني حميد

Artinya:

“Dan Musa berkata, “Jika kamu dan orang-orang yang  ada dibumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 8)

Al-Ghina’ (kecukupan atau kekayaan) merupakan sifat kesempurnaan dan Al-Hamdu (pujian) merupakan sifat kesempurnaan juga. Penyatuan Al-Ghina dan Al-Hamdu mengandung kesempurnaan yang lain. Baginya sanjungan dalam sifat kecukupan dan pujian serta dalam penggabungan keduannya. Contoh: Barang siapa yang bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmatnya dan memujinya atas karunia dan keutamaanya. Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah dzat yang selayaknya disanjung dan dipuji. Bagi-Nya, segala pujian didunia dan di akhirat. Pujian orang yang memuji dan rasa syukur bagi orang yang bersyukur tidak dapat menambah kekuasaan-Nya, karena Allah Ta’ala  Yang Maha Kaya, tidak bermanfaat bagi-Nya ketaatan orang yang taat dan tidak memudharatkan-Nya kemaksiatan orang yang berbuat maksiat. “Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)

  1. Sering kali pula diulang pada surat Asy-Syu’ara’ pada penutupan kisah para Nabi bersama dengan kaum mereka dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala,

وإن ربك لهو العزيز الرحيم

Artinya:

“Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syu’ara’: 9)

Didalamnya terdapat penjelasan bahwa apa yang Allah takdirkan bagi para Nabi-Nya dari pertolongan dan ketinggian serta kemenangan merupakan pengaruh dari sifat rahmat Allah yang Dia khususkan bagi mereka. Allah selalu mejaga, menguatkan, menolong, dan membantu mereka. Selain itu apa yang Allah takdirkan dari kekalahan, kehinaan, siksa dan azab merupakan pengaruh dari sifat kemuliaannya. Allah menolong para Rasul-Nya dengan Rahmat-Nya dan mengazab para musuh mereka dengan kemuliaan-Nya. Penyebutan dua nama Allah tersebut sekaligus dalam konteks dalam ayat diatas merupakan satu hal yang sangat tepat.

  1. Sering diulang dalam Al-Qur’an penggabungan antara “Al-‘Aziz Al-‘Alim.”

Hal ini disebutkan dalam konteks penjelasan makhluk-makhluk Allah yang tinggi dan apa yang terkandung didalamnya dari penciptaan pagi hari dan malam sebagai tempat peristirahatan serta diperjalankannya matahari dan bulan dengan perhitungan yang matang, dan dihiasinya langit dunia dengan bintang-bintang sebagai penjaganya. Allah Ta’ala berfirman,

فالق الإصباح وجعل الشمس والقمر حسبانا ذالك تقدير العزيز العليم

Artinya:

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 96)

والشمس تجري لمستقر لها ذالك تقدير العزيز العليم

Artinya:

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS.Yasin: 38)

وزينا السماء الدنيا بمصبيح وحفظا ذالك تقدير العزيز العليم

Artinya:

“Dan kami hiasai langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushilat: 12).

Penutup akhir ayat mencakup penggabungan atara dua nama yang menjelaskan bahwa penciptaan yang teratur ini bersumber dari kemuliaan dan ilmu-Nya, bukan suatu yang kebetulan yang tidak sepatutnya pelakunya untuk dipuji dan disanjung seperti dalam setiap hal yang bersifat kebetulan.

  1. Allah Ta’ala menutup perintah-Nya untuk beristiadzah (meminta perlindungan) dari gangguan setan dengan menggabungkan “As-Sami’ Al-Bashir” pada dua tempat dalam Al-Qur’an. Dalam firmannya,

وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه سميع عليم

Artinya:

“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesunguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Araaf: 200)

وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه هو السميع العليم

Artinya:

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushilat: 36)

Sedangkan perintah untuk beristiadzah dari kejahatan manusia ditutup dengan “As-Sami’ Al-Bashir” pada firmannya,

إن الذين يجادلون في ءايت لله بغير سلطان أتهم إن في صدورهم إلا كبر ماهم ببلغيه فاستعذ بالله إنه هو السميع البصير

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlidungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Ghafiir: 56)

Allah mengakhiri Al-Isti’adzah dari setan yang kita Yakini keberadaannya, tetapi tidak  bisa melihatnya dengan As-Sami’ Al-Alim dan mengakhiri Al-Isti’adzah dari lejahatan manusia yang bisa dilihat As-Sami’ Al-Bashir, karena perbuatan manusia bisa dilihat dengan pengelihatan mata. Adapun gangguan setan dan bisikannya dilempar kedalam hati manusia yang hal itu berkaitan dengan ilmu.

  1. disebutkan dalam sebagian penutupan ayat-ayat Al-Qur’an firman Allah, Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” Diantara firman Allah Ta’ala,

مثل الذين ينفقون أمولهم في سبيل لله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مائة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم

Artinya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir;pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Penutupan seperti ini sangat tepat, diantara manfaatnya adalah bahwa seorang hamba tidak selayaknya untuk merasa tidak yakin akan dilipat gandakan pahala ibadah tersebut, karena yang melipat gandakan adalah Dzat Yang Maha Luas pemberian dan karunia-Nya, dan Maha Kaya. Akan tetapi jangan dikira bahwa keluasan karunia-Nya mengharuskan setiap orang bisa mendapatkannya, karena Dia mengetahui siapa saja yang layak untuk mendapat pahala berlipat ganda tersebut,

والله يؤتي ملكه من يشاء والله واسع عليم

Artinya:

“Allah memberikan pemerintah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)

والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم

Artinya:

“Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Menetahui. (QS. Al-Baqarah: 261)

  1. Banyak ayat Al-Qur’an yang ditutup dengan dua nama-Nya, “At-Tawwab Ar-Rahiim”, seperti firman Allah,

فتلقى ءادم من ربه كلمة فتاب عليه إنه هو التواب الرحيم

Artinya:

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)

Yang demikian itu dalam konteks penyebutan rahmat, ampunan, taufik dan kelembutan-Nya. Dan bahwasanya Ketika Dia adalah At-Tawwab Ar-Rahim, maka Dia menerima taubat orang-orang yang bertaubat kepada-Nya dan memberi taufik untuk meraih jalan menuju kepada taubat dan menggapai rahmat-Nya, kemudian Allah pun akan mengampuni, dan merahmati mereka. Pertama Allah menerima taubat mereka dengan memberi taufik kepada mereka untuk bertaubat dan meraih jalan-jalannya. Kemudian Allah menerima taubat mereka dan mengabulkan  permintaan mereka sebagai bentuk kelembutan dan rahmat-Nya kepada mereka.

  1. Didalam Al-Qur’an disebutkan penutup sebagian ayat yang menyebutkan jalan-jalan menuju rahmat dan siksa dengan menggabungkan dua nama Allah “Al-Ghafur Ar-Rahiim.”

Disini terdapat penjelasan akan keagungan nikmat Allah Ta’ala dan bahwasanya rahmat-Nya mendahului kemurkaan-Nya, hingga rahmat-Nya lebih Nampak dibandingkan kemurkaan-Nya dan setiap orang yang memiliki sedikit saja sebab rahmat-Nya akan memperolehnya. Ini merupakan pembahasan yang luas bagi yang mau merenungkannya, Allah Ta’ala lah satu-satunya pemberi taufik.

REFERENSI:

Diringkas oleh: Ayesa Artika Aprilia dari kitab FIKIH ASMA’UL HUSNA karangan Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr.

Baca Juga :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.