Menjadi Khadijah Untukmu
Menjadi Khadijah Untukmu – Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan yang lebih utama bagi orang-orang beriman dibandingkan diri mereka sendiri, dan istri-istri beliau adalah ibunda-ibunda bagi kaum mukminin (QS. Al-Ahzab: 6). Di antara para ibunda tersebut, sosok yang pertama dan utama adalah Ibunda Khadijah Radhiallahu ‘anha. Beliau adalah sosok wanita yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan sebagai sebaik-baik wanita di alam semesta. Kedudukan Khadijah Radhiallahu ‘anha bukanlah pada level lokal maupun regional, melainkan level alam semesta yang diakui oleh penduduk langit dan bumi.
Gelar sebagai wanita terbaik sepanjang masa bukanlah gelar yang diberikan oleh institusi manusia atau majalah hiburan, melainkan berdasarkan wahyu yang disampaikan oleh lisan kenabian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berucap berdasarkan hawa nafsunya, melainkan atas wahyu yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ
Artinya: “Wanita-wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Asiah binti Muzahim istri Firaun, dan Maryam binti Imran.” [1]
Khadijah Radhiallahu ‘anha lahir dari kabilah terhormat, yaitu kabilah Asad (Khadijah bintu Khuwailid bin Asad). Nasab beliau bersambung dengan nasab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek yang bernama Qusay. Keluarga besar kabilah Asad dikenal sebagai keluarga yang terpandang, berpendidikan, cerdas, dan memiliki kecukupan ekonomi. Bahkan sebelum menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah Radhiallahu ‘anha sudah mendapatkan gelar At-Thahirah yang berarti wanita yang suci, karena kegigihan beliau dalam menjaga kehormatan diri di tengah lingkungan jahiliyah. Pernikahan antara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khadijah Radhiallahu ‘anha adalah pertemuan antara dua pemilik gelar kemuliaan: Al-Amin (yang terpercaya) dan At-Thahirah (yang suci).
Sebelum menikah dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah Radhiallahu ‘anha telah menikah dua kali, yaitu dengan Abu Halah dan Atiq, serta telah dikaruniai tiga orang anak (Hindun bin Abi Halah, Halah, dan Hindun bin Atiq). Meskipun berstatus sebagai janda di usia 40 tahun, kualitas dan standar beliau tidak pernah turun. Beliau adalah wanita yang matang secara emosional, intelektual, finansial, dan spiritual. Beliau memiliki relasi perdagangan yang luas dari Makkah hingga Syam dan dikenal sebagai wanita paling berpengaruh pada masanya.
Bukti kecerdasan Ibunda Khadijah Radhiallahu ‘anha terlihat saat Malaikat Jibril Alaihissalam datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa wadah berisi makanan atau minuman. Apabila ia datang, sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhannya (Allah) dan dariku (Jibril), dan kabarkanlah berita gembira kepadanya mengenai sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara, tidak ada kebisingan dan keletihan di dalamnya.” [2] Khadijah Radhiallahu ‘anha tidak menjawab salam tersebut dengan ucapan “Assalamu ‘alallah” (Keselamatan atas Allah), karena beliau memahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Sang Pemilik Keselamatan (As-Salam). Allah adalah sumber keselamatan, sehingga tidak tepat mendoakan keselamatan bagi-Nya. Sebagaimana dalam zikir disebutkan:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Yang Maha Sejahtera) dan dari-Mu lah segala kesejahteraan, Maha Berkah Engkau Wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan.” (shahih, HR. Muslim)
Khadijah Radhiallahu ‘anha adalah wanita yang sangat selektif dan memiliki integritas. Sebelum melamar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menguji kredibilitas beliau melalui muamalah harta. Karakter asli seseorang dapat diketahui melalui tiga hal: perjalanan jauh (safar), tinggal serumah, dan muamalah harta. Khadijah Radhiallahu ‘anha mengutus asistennya, Maisarah, untuk menemani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan dagang ke Syam. Hasil dari pengamatan tersebut menunjukkan bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pribadi yang jujur, amanah, dan memiliki kecerdasan dalam berdagang melampaui kebiasaan orang Quraisy pada umumnya.
Dalam kehidupan rumah tangga, Khadijah Radhiallahu ‘anha adalah sosok istri yang berfungsi sebagai pakaian dan selimut bagi suaminya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
Artinya: “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187).
Fungsi pakaian adalah melindungi, menutupi aib, dan menyesuaikan dengan kondisi cuaca. Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar dan ketakutan setelah menerima wahyu pertama, Khadijah Radhiallahu ‘anha tidak menghujani beliau dengan pertanyaan. Beliau langsung memberikan apa yang dibutuhkan suaminya, yaitu ketenangan dan selimut. Beliau memberikan pelayanan terbaik bahkan sebelum diminta. Selama 25 tahun masa pernikahan, tercatat bahwa Khadijah Radhiallahu ‘anha tidak pernah membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah satu kali pun. Beliau selalu berambisi mencari rida suaminya dalam segala aspek kehidupan.
Khadijah Radhiallahu ‘anha juga menunjukkan adab yang sangat tinggi dalam berkomunikasi. Beliau tidak pernah memberikan instruksi atau perintah kepada suaminya, melainkan memberikan masukan dan saran yang elegan. Saat membawa suaminya menemui Waraqah bin Naufal, beliau berkata: “Wahai sepupuku, dengarkanlah apa yang akan dikatakan oleh anak saudaramu (suamiku).” Beliau menempatkan suara suaminya sebagai hal yang paling layak didengar.
Meskipun menikah di usia 40 tahun, Khadijah Radhiallahu ‘anha adalah wanita yang sangat sehat dan subur. Beliau melahirkan enam dari tujuh anak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam rumahnya, beliau mengasuh total 11 orang anak, termasuk anak dari pernikahan sebelumnya, anak-anak bersama Nabi, Zaid bin Harithah Radhiallahu ‘anhu (anak angkat), dan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu (sepupu Nabi). Khadijah Radhiallahu ‘anha mengurus rumah tangga yang besar tersebut tanpa pernah mengeluh atau meninggikan suara di hadapan suaminya.
Kesetiaan Khadijah Radhiallahu ‘anha mencapai puncaknya saat masa pemboikotan di Syi’b Abi Thalib selama tiga tahun. Beliau yang terbiasa hidup mewah sebagai bangsawan kaya raya, rela memakan daun-daunan berduri hingga bibir dan lidahnya terluka demi mendampingi dakwah suaminya. Beliau tetap setia dalam kondisi sempit maupun lapang, susah maupun senang. Kesetiaan luar biasa ini menjadi salah satu penyebab kesehatan beliau menurun hingga wafatnya tak lama setelah boikot berakhir.
Dalam menghadapi dinamika rumah tangga, penting bagi setiap wanita untuk menyadari bahwa pernikahan adalah wadah untuk belajar menerima kekecewaan dan menurunkan ekspektasi terhadap makhluk. Setiap musibah yang terjadi dalam rumah tangga harus menjadi sarana introspeksi diri (muhasabah). Jika seseorang mendapatkan musibah namun tidak menjadikannya bahan evaluasi diri, maka itu adalah musibah di atas musibah.
Kesabaran dalam mengurus rumah tangga bukanlah sifat bawaan yang mustahil diraih, melainkan akhlak yang bisa dipelajari (akhlak muktasab). Salah satu kekuatan besar bagi seorang istri yang merasa lelah dengan urusan rumah tangga adalah dengan memperbanyak zikir. Saat Fatimah Radhiallahu ‘anha mengeluh lelah dan meminta asisten rumah tangga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam justru mengajarkan zikir sebelum tidur: bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 34 kali. Zikir adalah gizi bagi batin dan penguat bagi fisik yang lelah.
Setiap wanita yang berusaha menjadi seperti Khadijah Radhiallahu ‘anha akan mendapatkan balasan yang sempurna di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Janji Allah adalah pasti:
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
Artinya: “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji (pula), sedangkan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An-Nur: 26).
Kalaupun di dunia ini seorang wanita salehah mendapatkan pasangan yang tidak ideal seperti Asiah binti Muzahim yang bersuamikan Firaun, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyiapkan istana di surga sebagai balasannya. Fokus utama seorang hamba adalah memperbaiki diri dan beramal saleh demi meraih rida Rabbul Alamin.
Referensi:
[1] Hadis Riwayat Ahmad, No. 2668; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, No. 1508. [2] Hadis Riwayat Bukhari, No. 3820 dan Muslim, No. 2432. [3] Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitab Fathul Bari. [4] Hadis Riwayat Muslim, No. 591 (tentang doa setelah salat). [5] Hadis Riwayat Bukhari, No. 3113 (tentang zikir sebelum tidur untuk Fatimah). [6] Syikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa terkait musibah dan introspeksi.
BACA JUGA :
