Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

ANDAI AKU TIDAK MENIKAH DENGANNYA (BAGIAN 8)-SELESAI

andai aku tidak menikah dengannya

Berikut merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang bisa dibaca disini: Andai Aku Tidak Menikah Dengannya (Bagian 7)

BERMAIN TARIK ULUR

Ketika bertanding badminton, maka dirimu akan berusaha untuk memenangkan pertandingan tersebut dan merebut hadiahnya. Ketika dua tim sepak bola bertanding semuanya akan mengerahkan tenaganya untuk menaklukan lawannya. Maka di sana akan ada pihak yang kalah dan yang menang.

Namun untuk rumah tangga, ketahuilah bahwa istrimu bukanlah lawan tandingmu sebagaimana dirimu bukan lawan tandingnya. Kalian berdua adalah satu tim yang saling menyokong dan mendukung demi mencapai target bersama, yaitu yang dikenal dengan sebutan SAMARA (sakinah, mawaddah dan rahmah). Maka demi mencapai hal itu, kedua belah pihak harus mengetahui pola dan rule dalam permainan ini.

Meskipun kadang kala dalam menjalani kehidupan rumah tangga ada permainan yang memposisikan istrimu sebagai lawan secara dzahir, adapun secara batin tetap dia satu tim bersamamu. Seakan-akan ada sebuah tali yang pangkal dan ujungnya telah diikat sehingga tidak ada ujungnya, satunya di tanganmu dan satunya di tangan istrimu, itulah ikatan pernikahan kalian berdua.

Rule yang terpenting agar tali antara kalian tetap terjaga adalah: bila istrimu menarik, maka kau harus mengulurnya. Biarkan ia menarik terus sampai lelah, karena tali yang kalian pegang pada hakikatnya tidak ada ujungnya.

Ketika istrimu menarik dan kau mengulur, sebenarnya diapun sedang mengulur kepadamu. Maka bila kau memaksa menarik juga, yang terjadi adalah putusnya tali diantara kalian berdua, dan itulah perceraian yang tidak diharapkan.

Lihatlah bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendapati istrinya tidak mengajak bicara bahkan ada yang mengangkat suaranya di atas beliau. Beliau malah mencari cara yang membuat mereka jadi senang hatinya.

Uman bin Khattab pernah mendatangi putrinya yang menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena berita yang didengarnya. Ia berkata:

“apakah engkau membantah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Ia menjawab, “Ya”. Aku berkata, “Apakah seorang dari kalian tidak mengajaknya berbicara dari siang sampai malam?” ia menjawab, “Ya.” (HR. Muslim no.1479)

Lihatlah sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berdiam, karena diam itu emas. Bahkan beliau lebih dari itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha untuk mengambil hati istrinya dengan berbagai cara, sebagaimana kisah Aisyah..

An Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu berkata: “Abu Bakar radhiallahu ‘anhu meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (untuk masuk ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), lalu beliau mendengar ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengangkat suaranya atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau diizinkan untuk masuk, maka beliau berkata: “Wahai anak perempuannya Ummu Rummam -maksudnya ‘Aisyah- (sambil menghampirinya), apakah kamu mengangkat suara di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghalangi antara beliau dengan anaknya. Ketika Abu bakar keluar rumah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta maaf kepadanya (Aisyah), “Lihatlah, bukankah aku telah menghalangimu dari lelaki tersebut.” Lalu (setelah beberapa saat), datanglah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu meminta izin untuk masuk dan berkata: “Wahai Rasulullah, masukkanlah aku ke dalam perdamaian kalian berdua sebagaimana kalian telah memasukkanku ke dalam perang kalian berdua.” (HR. Ahmad no.18394, dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Ash Shahihah no.2901).

Ketika Aisyah menarik, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengulurnya. Dan hal ini telah diikuti oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Abu Darda pada istrinya:

“Bila aku marah buatlah aku ridha. Dan bila aku mendapatimu marah, aku akan berusaha membuatmu ridha, bila kita tidak berbuat ini maka akibatnya adalah perceraian yang cepat.” (Raudhatul Uqala’, Ibnu Hibban, hal.72)

Dan bila perlu -walaupun posisimu benar- demi melanjutkan bahtera yang ditumpangi bersama kau harus minta maaf kepadanya. Dan jangan merasa rendah ketika kau meminta maaf, karena pada dasarnya kau sedang mengangkat derajatmu di depan istrimu dan menjalankan tugasmu sebagai nahkoda karena tanpa keberadaanya sulit dan perjalanan yang panjang akan ditempuh.

Dengan adanya tarik ulur niscaya kehidupanmu akan lebih baik, dan jadilah orang yang pandai; bukan yang pandai ngomong tapi yang pandai meminta maaf. Katakanlah kepada istrimu ketika dia marah.

Aku bertaubat kepada Allah

Aku meminta maaf atas apa yang terjadi, semua itu karena keteledoranku

Maafkan daku, sayang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Maukah aku kabarkan kalian tentang perempuan ahli surga?” mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Perempuan yang wadud (pecinta kepada suaminya), perempuan yang subur, (yang suka kembali kepada suaminya) yang jika dia menzalimi atau dizalimi, maka dia berkata: “Diriku ada dalam genggamanmu, aku tidak akan merasakan tidur hingga engkau ridha (kepadaku).” [HR. Thabarani no.307, dihasankan oleh al-Albani dalam shahibul jami’, no. 2604]

Bila kau menginginkan istrimu seperti itu, maka ingatlah kaupun harus seperti itu. Bila kau menyakitinya, letakkan tanganmu di atas tangannya, dan katakan kepadanya, “Aku tidak akan merasakan tidur hingga engkau memaafkanku dan ridha kepadaku”.

Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata,

“أقامت أم صالح معي عشرين سنة, فما اختلفت أنا وهي في كلمه “

Arinya: “Ummu Shalih bersamaku selama dua puluh tahun dan aku tidak pernah bercekcok dengannya walau hanya dalam satu ucapan.” [Thabaqat Hanabilah 1/429]

Apakah maknanya selama dua puluh tahun tidak pernah ada salah di rumah Imam Ahmad? Aku rasa bukan itu yang dimaksud, namun Imam Ahmad bersama istrinya selalu bermain tarik ulur sehingga tidak terjadi percekcokan dirumah. Mungkin yang ada bila istri menarik, maka suaminya mengulur. Dengan demikian tidak akan terjadi ketegangan di dalam rumah. Walllahu a’lam.

baca Juga:

JANGAN MENCARI-CARI KESALAHAN

Jagalah Allah di dirimu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, niscaya Allah akan menjagamu dan keluargamu. Percayalah kepada istrimu dan titipkan dia kepada sang Pencipta.

Cemburu itu boleh tapi jangan sampai mengantarkan kepada su’udzan dan menggiringmu untuk mencari-cari kesalahan istri tanpa alasan.

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari tahu apakah istrinya berkhianat kepadanya atau untuk mencari-cari kesalahannya” (HR. Muslim no. 715).

Maka tidak sepantasnya kau menyadap telepon istrimu atau memasang CCTV demi mengontrol  kelakuan istrimu, apalagi mengirim orang untuk memata-mata istrimu sendiri. Kecuali ada alasan yang dibenarkan untuk melakukan hal itu. Biasanya suami yang suka mencari-cari kesalahan istrinya terdorong kesalahan yang telah ia perbuat di luar rumahnya, sehingga ada perasaan takut dan khawatir kepada istrinya, gara-gara dosa ia sendiri.

KECUP DIRINYA SEBELUM MENINGGALKAN RUMAH

Ciuman memiliki makna yang dalam, sebagaimana ia adalah salah satu tanda dan bentuk kasih sayang suami kepada istrinya.

Contohlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau keluar rumah untuk melaksanakan shalat, beliau masih menyempatkan diri untuk mencium istrinya.

Urwah bin Zubair meriwayatkan dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencium salah seorang istrinya kemudian keluar untuk shalat dan beliau tidak berwudhu lagi. Maka akupun berkata, “Siapa lagi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut kalau bukan engkau” maka Aisyah pun tertawa. [HR. Abu Dawud no 179, Tirmidzi no 86 dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih Abi Dawud no. 17]

Dan ketika puasapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium istrinya. Tentunya ini untuk mereka yang bisa menahan nafsu syahwatnya, karena ciuman itu bisa berlanjut. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium dan bercumbu dengan istrinya ketika puasa, namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.” (HR. Muslim no.1106)

Maka jangan canggung untuk memberikan kecupan kepada istrimu sebelum kau meninggalkan rumahmu dan ketika kau memasuki rumah.

GANDENG TANGANNYA MENUJU PINTU SURGA

Setelah akad nikah dilangsungkan, maka berpindahlah tanggung jawab dari kedua orang tuanya ke tanganmu -bahkan surga dan nerakanya pun berada di tanganmu- dimana ia memiliki kewajiban yang besar terhadapmu. Bila ia tidak menjalankannya maka ancaman neraka baginya, begitu pula sebaliknya.

Begitu besar kedudukanmu namun sejajar lurus dengan besarnya kewajibanmu. Kau akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah tentang dirinya, kau pun memiliki kewajiban untuk membimbing dia menuju pintu surga.

Jangan berharap masuk surga bila kau gagal mempertanggungjawabkan istrimu. Mereka akan menggandolimu dan menyeretmu ke dalam neraka.

Maka kau benar-benar akan ditanya secara detail, tanpa ada satupun yang luput dari perbuatanmu terhadap istrimu. Jagalah istrimu dari api neraka dengan selalu membimbingnya kepada kebaikan, mengajarkan kepadanya hukum-hukum Allah, mengenalkan kepadanya Sang Pencipta yang harus dipatuhi perintah-Nya dan dijauhi larangan-Nya. Ingatlah selalu dengan firman Allah:

يَـٰٓأَيُّهاَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُم وَأَهلِيكُم نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلحِجَارَةُ عَلَيها مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُم وَيَفعَلُونَ مَا يُؤمَرُونَ (٦)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan btu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ali bin Abu Thalib menegaskan makna ‘peliharalah dirimu dan keluargamu’ adalah “Didiklah dan ajari mereka”. (Tafsir Al-Quranul Adzim 8/167)

Qatadah menegaskan makna ‘peliharalah dirimu dan keluargamu’ adalah “Memerintahkan keluarga untuk taat kepada Allah, melarang mereka dari maksiat kepada Allah, menegakkan hukum-hukum islam atas mereka, memerintahkan mereka untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan membantu mereka dalam menegakkan hukum-hukum Allah. Mengingatkan mereka dan mencegah mereka dari kemaksiatan tersebut.” (Tafsir Al-Quranul Adzim 8/167)

Semoga Allah memberikan kepadamu kekuatan untuk menuntut istrimu ke pintu surga.

JADILAH INSAN TERBAIK

Predikat, pangkat, jabatan, kesuksesan kadang menjadi tolak ukur kebaikan seseorang. Senyum yang senantiasa menghias bibir dan tangan yang mudah membantu orang lain disinyalir sebagai standar kebaikan seseorang. Namun ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan suatu standardisasi untuk mengetahui kebaikan seseorang, bukan dari banyaknya shalat atau puasa, namun akhlaknya kepada istri dan keluarganya.

Karena sudah menjadi tabiat manusia untuk dapat tampil baik menawan ketika dia keluar rumahnya dan sedang berhadapan dengan orang lain, namun bila ia sedang berada di dalam rumahnya maka tatkala itu akan muncul keaslian sifat dan kebiasaannya.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik dari kalian sikapnya kepada keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik dari kalian sikapnya kepada keluarga.” (HR.Tirmidzi no. 3895 dan dishahihkan oleh al-Albani Ash-Shahihah no. 285)

Jangan menjadi pahlawan di depan khalayak ramai dan pecundang di dalam rumahmu..

Jangan bermuka ceria di hadapan orang sementara di depan istrimu selalu tampak murung dan cemberut..

Jangan berbagi kepda orang banyak sedangkan kau bakhil terhadap keluargamu..

Jangan pura-pura baik di depan masyarakat sedangkan keluargamu mengetahui bahwa dirimu hanyalah pemain akting yang bangun kesiangan..

Saudaraku..

Jadilah insan terbaik untuknya

Dialah yang dapat membongkar hakikat dirimu

Hapuslah dari kamus kehidupannya di bawah ini

“Andai Aku tidak menikah dengannya”

Doaku selalu mengirimu..

 

Diringkas dari buku: Andai Aku Tidak Menikah Dengannya

Penulis: Ustadz Dr. Syafiq bin Riza Basalamah

Diringkas Oleh: Fauzan Alexander (Staf Ponpes Darul-Quran Wal-Hadits OKU Timur)

 

BACA JUGA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.