SEBAB-SEBAB YANG MENGUATKAN CINTA KARENA ALLAH
SEBAB-SEBAB YANG MENGUATKAN CINTA KARENA ALLAH
Seseorang mungkin saja mencintai orang lain karena hartanya, kecantikannya, kekayaannya, kedudukannya, nasabnya, atau karena kepentingan pribadi, ambisi duniawi, dan materi yang fana.
Cinta yang seperti ini adalah cinta yang semu dan labil, tidak ada kebaikan didalamnya dan tidak pula membawa pelakunya kepada kebaikannya.
Cinta yang seperti ini juga tidak akan bertahan lama. Ia akan hilang seiring hilangnya sebab dan motivasinya. Bahkan, kerap kali cinta seperti ini berubah menjadi permusuhan hanya karena masalah sepele atau sedikit perselisihan saja.
Sebaliknya, cinta dan kasih sayang karena Allah Subhanahu wa Ta’la semata akan membawa berjuta kebaikan. Oleh karena itu brikut akan kita bahas tentang sebab-sebab yang menguatkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Ucapan salam akan menghilangkan rasa asing, kecurigaan dan gejolak hati sehingga hati dapat bertemu karena Allah ‘azza wa jalla.”
1. Kabarkan kepadanya bahwa engkau mencintainya karena Allah!
Kadang kala cinta dalam hati akan terasa hambar jika tidak diungkapkan dengan lisan. Maka janganlah merasa canggung ataupun tabu untuk mengabarkan kepada saudaramu sesama muslim bahwa kamu mencintainya karena Allah. Hal ini termasuk sebab yang dapat menguatkan rasa cinta dan keakraban. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ
Artinya: “Apabila salah seorang dari kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah ia mengabarkan kepadanya bahwasanya ia mencintainya (karena Allah).” Bahkan, disunnahkan agar kamu mendatangi rumah saudaramu tersebut guna mengabarkan hal itu kepadanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَلْيَأْتِهِ فِي مَنْزِلِهِ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ لِلَّهِ
Artinya: “Apabila salah seorang dari kalian mencintai sahabatnya, hendaklah ia mendatangi sahabatnya itu di rumahnya dan kabarkan padanya bahwa ia mencintainya karena Allah.” (HR. Ahmad)
Yakni hendaknya ia mendatangi saudaranya tersebut seraya mengatakan: “Uhibbukalillāh” (aku mencintaimu karena Allah). Dan hendaknya saudaranya itu meresponnya dengan berkata: “Ahabbakalladzi ahbabtani lahu” (semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya). Hal tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik رضي الله عنه bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi: “Sungguh aku mencintai si Fulan. Maka Nabi berkata: “Sudahkah kamu beritahukan kepadanya?” “Belum,” jawabnya. Nabi bersabda: “Beritahukanlah kepadanya!” Kemudian ia pun bertemu dengan lelaki itu dan berkata:
وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فِي اللهِ
“Sungguh demi Allah aku mencintaimu karena Allah.” Maka lelaki itu menjawab:
أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ
“Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (HR. Ahmad)
Betapa indah adab ini! Dan betapa besar pengaruhnya terhadap jiwa! Namun, alangkah sedikitnya manusia yang mau melakukannya?! Selayaknyalah kita tidak boleh segan atau malu untuk menghidupkan, menyebarkan, dan menunjukkan sunnah ini di tengah manusia. Bahkan, ini merupakan amal shalih yang sangat agung, yang akan terus mengalirkan pahala.
2. Menyebarkan salam
Menyebarkan salam itu termasuk perkara yang dapat menguatkan rasa cinta dan kasih sayang. Ucapan salam akan menghilangkan rasa asing, kecurigaan, dan gejolak hati sehingga hati dapat bertemu karena Allah ‘azza wa jalla.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Artinya: “Kamu tidak akan masuk Surga sampai kamu beriman. Dan kamu tak akan beriman hingga saling berkasih sayang. Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu yang apabila kamu lakukan niscaya kamu akan saling berkasih sayang? Sebarkanlah salam di antara kamu.” (Muttafaqun Alaih)
Di samping itu, menyebarkan salam merupakan jalan untuk meraih keselamatan dan kedudukan yang tinggi. Sebagaimana sabda Rasulullah: Di samping itu, menyebarkan salam merupakan jalan untuk meraih keselamatan dan kedudukan yang tinggi.
Menyebarkan salam ini termasuk pula di dalamnya memulai mengucapkan salam maupun menjawab salam orang yang mengucapkannya. Maka jangan sekali-kali kita melalaikan sunnah ini! Ucapkanlah salam kepada sesama muslim saat bertemu dan segera balas salamnya jika ia mengucapkannya terlebih dahulu. Janganlah enggan atau malas menjawabnya, sebab bisa saja hal itu membuat hatinya sedih. Bukankah Allah ‘azza wa jalla telah berfirman:
﴿ وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا ﴾
Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisā’ [4]: 86)
Yaitu, dengan tahiyyat (salam penghormatan) Islam: “Assalāmu ‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh” (semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya atasmu). Perhatikanlah wahai saudaraku! Betapa indahnya untaian doa yang terkandung dalam ucapan salam ini. Dan alangkah indahnya saat kita saling mendoakan dengan salam ini. Apalagi jika doa itu bukan sekadar ucapan yang terlontar dari lisan, namun terlahir dari lubuk hati yang paling dalam.
Maka tidak selayaknya kita berpaling dari lafazh salam ini dan menggantinya dengan ucapan salam lain, misalnya selamat pagi, selamat siang, selamat malam, dan lain yang lainnya. Terkecuali jika seseorang memulai dengan salam islami lantas ia menambahnya dengan ucapan salam lain, dengan syarat tak terkandung di dalamnya unsur tasyabbuh dengan orang kafir. Namun, yang lebih utama adalah mencukupkannya dengan ucapan salam islami. Sebab, itulah yang diamalkan Rasulullah, para Sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Di samping itu, salam islami ini merupakan salah satu syi’ar Islam yang sangat agung, yang menunjukkan atas identitas kita sebagai seorang muslim. Dan kita pun harus bangga dengan syi’ar-syi’ar agama kita dan tidak boleh mengolok-oloknya. Di antara kesalahan sebagian kaum muslimin adalah mereka mengucapkan salam itu dengan ucapan yang tidak sempurna dan dapat merusak makna dari salam tersebut. Misalnya, mereka mengucapkan “lam likum”, ini sebagai singkatan dari assalāmu ‘alaikum. Lalu jawabannya pun tak kalah singkatnya, mereka mengucapkan “kum salam”, maksudnya wa ‘alaikumus salam. Ini merupakan satu kesalahan yang harus diperbaiki. Maka itu, bersungguh-sungguhlah dalam mengucapkan salam kepada para saudara kita. Dan demikian pula dalam menjawab salamnya.
3. Saling memberi hadiah
Saling memberi hadiah merupakan salah satu resep nabawi untuk menyuburkan dan menumbuhkan rasa cinta dan kasih saying di antara kita.
Maka ini merupakan suatu hal yang harus diusahakan. Yaitu memberi hadiah dalam berbagai kesempatan. Hadiah akan selalu meninggalkan kesan mendalam. Begitupun sebaliknya, kita tidak dibolehkan menolak hadiah dari mereka meski hadiah tersebut sederhana atau kecil nilainya.
4. Saling mengunjungi karna Allah
Ini salah satu perkara yang dapat menumbuhkan dan menyuburkan perasaan cinta karna Allah ‘azza wa jalla. Yaitu membiasakan diri untuk mengunjungi saudara dan berusaha menyambung hubungan dengannya. Barangsiapa mengunjungi saudaranya disebabkan dia mencintainya karena ‘azza wa jalla, maka niscaya malaikat akan memberikan kepadanya kabar gembira berupa cinta Allah ‘azza wa jalla kepadanya.
Namun satu hal yang perlu kita perhatikan, hendaknya kita mengatur dan membatasi frekuensi kunjungan.
Ketahuilah, terlalu sering berkunjung dapat membuatnya bosan. Kunjungan yang terlalu sering dapat menumbuhkan future (jemu atau muak). Mengatur kadar kedekatannya dapat membuatnya nyaman. Dan begitupun sebaliknya, terlalu jarang berkunjung juga akan membuat renggang hubungan dan bisa mengeraskan hati. Maka oleh dari itu, kunjungilah saudaramu sesekali waktu.
Sungguh indah perkataan Ahmad bin Muhammad ash-Shaidawi berikut ini:
عَلَيْكَ بِإِقْلَالِ الزِّيَارَةِ إِنَّهَا * إِذَا كَثُرَتْ كَانَتْ إِلَى الْهَجْرِ مَسْلَكَ
فَإِنِّي رَأَيْتُ الْقَطْرَ يُسَامُ دَائِمًا * وَيُسْأَلُ بِالْأَيْدِي إِذَا هُوَ أَمْسَكَ
Terjemahannya: Hendaklah kau sesekali saja dalam melakukan kunjungan karena jika terlalu banyak, dikhawatirkan akan jemu. Kulihat hujan bila turun tiap hari akan membosankan, bila tertahan, semua memintanya dengan tangan tengadah.
Al-Kuraizi Rahimahullah berkata dalam syairnya:
أَقْلِلْ زِيَارَتَكَ الْحَبِيبَ * تَكُونَ كَالثَّوْبِ اسْتَجَدَّهُ
إِنَّ الصَّدِيقَ قَدْ يَمَلُّهُ * أَنْ لَا يَزَالَ يَرَاكَ عِنْدَهُ
Terjemahannya: Batasilah kunjungan kepada sahabatmu, jadilah seperti pakaian yang terlihat baru. Adakalanya temanmu merasa bosan denganmu disebabkan ia terlalu sering melihatmu.
Jangan mengunjunginya untuk memata-matai dirinya, karena itu termasuk tajassus yang dilarang. Sering kali kita dapati seorang mengunjungi sahabatnya layaknya seorang detektif menyelidiki penjahat. Menanyakan ini dan itu untuk mengorek-ngorek rahasianya. Sungguh ini adalah adab yang sangat tercela.
Oleh karena itu, janganlah kita menunjukkan sikap dingin, apalagi sampai menolak hadiah yang diberikan. Sebab, menolak hadiah dari seorang sahabat bisa menjadi pintu masuk bagi syaitan untuk menghilangkan rasa kasih sayang dan memutuskan tali cinta antara dua orang yang bersahabat.
Apabila kita memberikan hadiah kepada sahabat kita, maka berikanlah hadiah itu dengan rasa tulus dan ikhlas. Jangan kita memberinya dengan mengharapkan balasan darinya, atau bahkan mengharapkan balasan yang lebih besar. Kalau tidak diberi balasan, kita akan memutuskan hubungan dengannya!
Bukankah Allah عَزَّوَجَلَّ telah berfirman:
وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ
Artinya:
“Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.”
(QS. Al-Muddatsir [74]: 6)
Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا mengatakan: “Janganlah memberikan sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan balasan yang lebih banyak dari yang telah engkau berikan.”
Tentu saja akan berbeda kesan maupun pengaruhnya antara pemberian tanpa pamrih dengan pemberian yang mengharapkan balasan dari orang yang diberi.
Dan demikian pula, dalam kunjungan yang bernilai ibadah itu, janganlah dirusak dengan pembicaraan yang berisi dosa, seperti ghibah, membongkar aib, menyebarkan fitnah, mengadu domba atau sejenisnya. Kunjungan yang seharusnya mendatangkan pahala itu malah membuahkan petaka dan dosa!
Sekian artikel di atas menandakan di selesaikannya tugas.
Referensi:
Ditulis oleh : Abu Ihsan Al-Atsari & Ummu Ihsan
Buku DAHSYATNYA MENCINTAI KARENA ALLAH
Diringkas oleh : Anisa Ul Lutfiah
Baca juga artikel:
