YANG PALING TERBAIK DALAM AJARAN ISLAM
YANG PALING TERBAIK DALAM AJARAN ISLAM
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada penutup para nabi, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Pertemuan di majelis ilmu adalah sebuah karunia besar, sebuah momen penyatuan kembali setelah sekian lama, yang menjadi tanda kebaikan serta taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pembahasan mendalam pada risalah ini berpusat pada sebuah tema agung, yakni “Yang Paling Terbaik”. Sesuatu yang paling terbaik di sini tidak merujuk pada keutamaan mutlak para sahabat, tidak pula membahas sosok manusia terbaik, yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sendiri, melainkan membedah secara rinci dan komprehensif apa yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim tentang sebuah kalam atau ayat yang paling agung di dalam Kitabullah.
Di dalam riwayat tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar namun membutuhkan pemahaman yang luhur kepada seorang sahabat ahli Al-Qur’an, Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:
يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟
“Wahai Abal Mundzir, ayat apa dari Kitabullah yang ada bersamamu yang paling agung?” [1]
Dahulul para sahabat Nabi, dengan segala ketawadhuan dan adab seorang murid di hadapan utusan Allah, merespons pertanyaan tersebut dengan jawaban kehati-hatian: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Mendengar hal tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang kembali pertanyaannya. Menghadapi pengulangan ini, Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘anhu dituntut untuk memberikan penilaian keilmuannya, memilih satu ayat yang paling istimewa dari lebih 6.000 ayat yang tersebar di seluruh Al-Qur’an. Tanpa meminta waktu untuk memikirkan atau menunda jawabannya di kemudian hari, Ubay dengan kecerdasan dan kedalaman ilmunya memberikan jawaban lugas dan akurat:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Artinya: “Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).” (QS. Al-Baqarah: 255).
Mendengar ketepatan jawaban tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk dada Ubay sebagai bentuk afirmasi dan kebanggaan, seraya mendoakannya: Artinya: “Selamat atas ilmu yang engkau miliki wahai Abal Mundzir.”
Ayat tersebut tidak lain adalah Ayat Kursi. Pilihan Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘anhu jatuh kepada Ayat Kursi dikarenakan muatan ayat ini dari awal hingga akhir murni berisi tentang esensi pengagungan Tauhid—baik Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, maupun Asma wa Sifat. Kedudukan Ubay di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sungguh luar biasa istimewa karena pemahamannya ini. Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala secara spesifik memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membacakan surah Al-Bayyinah langsung kepadanya:
إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk membacakan (Al-Qur’an) kepadamu.” [2]
Ketika Ubay memastikan, “Apakah Allah menyebutkan namaku?” dan Rasulullah membenarkannya, Ubay Radhiallahu ‘anhu pun menangis sejadi-jadinya menyadari bahwa Sang Pencipta alam semesta secara khusus menyebut namanya secara terhormat. Ini adalah salah satu teladan mengapa nama-nama sahabat mulia seperti Ubay sangat pantas untuk disematkan kepada generasi pewaris peradaban Islam.
Kecintaan para sahabat terhadap ayat-ayat yang memuat sifat-sifat Tauhid merupakan pemandangan yang lazim di masa awal kebangkitan Islam. Dalam riwayat lain, terdapat sekumpulan pasukan kompi utusan yang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal komandan sekaligus imam shalat mereka. Sang imam memiliki kebiasaan mutlak, yakni setelah membaca Al-Fatihah dan surah pilihan di rakaat kedua, ia selalu menutupnya dengan membaca surah Al-Ikhlas (Qul Huwallahu Ahad), apa pun surah yang dibaca sebelumnya, seakan-akan tidak ada keabsahan shalat tanpa ayat tersebut.
Ketika aduan itu disampaikan, sang sahabat dipanggil dan membeberkan alasan yang sarat akan landasan Tauhid:
لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَهَا
Artinya: “Karena di dalamnya terdapat sifat-sifat Ar-Rahman, dan aku cinta untuk membacanya.” [3]
Mendengar alasan mulia tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merespons lugas dengan sabdanya:
أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ
Artinya: “Kabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (shahih, HR. Muslim dalam shahihnya)
Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitab-kitabnya menegaskan bahwa keutamaan satu ayat di atas ayat yang lain bukan dikarenakan perbedaan Dzat yang memfirmankannya—karena keseluruhan Al-Qur’an berasal dari kalam Dzat Yang Maha Sempurna—melainkan murni dikarenakan esensi maknanya. Surah Al-Ikhlas yang kedudukannya menyamai sepertiga Al-Qur’an dan murni membicarakan sifat-sifat kesempurnaan Allah, tentu memiliki derajat keagungan yang secara hierarkis melampaui surah seperti Al-Lahab yang mengupas kehinaan silsilah Abu Lahab.
Mengingat kedudukan Ayat Kursi yang paling terbaik dari seluruh susunan Kalamullah, syariat Islam secara tegas menetapkan tiga momentum waktu krusial yang dianjurkan untuk mendawamkan (merutinkan) pembacaannya:
Pertama, Setiap Selesai Shalat Fardhu. Ayat Kursi merupakan rangkaian mutlak yang sangat ditekankan untuk tidak ditinggalkan pada zikir seusai shalat wajib lima waktu. Kedudukannya menjadi garansi dan tiket penjamin masuknya seorang Muslim ke dalam surga. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ، لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ
Artinya:
“Barangsiapa membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” [4]
Masuk surga tentu memiliki syarat pra-kondisi berupa terlepasnya ruh (kematian), dan barangsiapa merutinkan bacaan ini, garis pembatas antara dirinya dan gerbang surga hanyalah menanti tibanya masa ajal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa semenjak beliau mendengarkan kabar gembira dari hadis ini, tak pernah ada kamus dalam kehidupannya untuk meninggalkan bacaan Ayat Kursi selepas shalat fardhu.
Kedua, Sebelum Tidur Malam. Syariat ini terbangun dari sebuah riwayat masyhur tentang penjagaan lumbung harta zakat Ramadhan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu. Di tengah kewaspadaannya meronda, tertangkaplah seorang pencuri yang mengambil makanan selama tiga malam berturut-turut. Pada malam pertama dan kedua, Abu Hurairah melepaskannya semata-mata karena nurani yang iba atas rintihan kemiskinan si pencuri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah membocorkan peringatan bahwa orang itu telah berdusta dan pasti akan menyatroni kembali di malam berikutnya. Pada malam ketiga, sang pencuri menyadari kehabisan dalih dan ancaman dilaporkan langsung kepada baginda Nabi. Guna menebus kebebasannya, makhluk itu mengajarkan sebuah sistem pertahanan spiritual mutlak bagi umat manusia di waktu tidur:
إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ
Artinya:
“Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, bacalah Ayat Kursi (Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum), maka senantiasa ada penjaga dari Allah atasmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” [5]
Esok paginya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membongkar kedok sejati sang penyusup:
صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، ذَاكَ شَيْطَانٌ
Artinya: “Dia jujur kepadamu padahal dia adalah pendusta besar. Itu adalah setan.” (HR. Bukhari dalam shahihnya).
Tragedi ini menyingkap tabir bahwa kelemahan mendasar dari bangsa setan dapat diruntuhkan dengan Ayat Kursi. Fenomena tidur yang kacau balau, mimpi buruk yang mencekam, serta kelesuan fisik yang menyebabkan waktu Subuh sering terlewat, pada hakikatnya merupakan invasi gangguan setan yang bisa dipatahkan secara total lewat Ayat Kursi sebelum memejamkan mata.
Ketiga, Pada Zikir Pagi dan Petang. Sebuah insiden serupa menimpa tokoh Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘anhu tatkala ia mengamankan tumpukan stok hasil panen kurmanya. Terdeteksi penyusup berupa entitas gaib yang bermetamorfosis menjadi sosok seukuran anak kecil, namun berkulit tangan serta memiliki bulu layaknya fisik seekor anjing. Jin pencuri itu mengutarakan dalih bahwa kawanannya secara khusus menargetkan rumah para ahli sedekah, di bawah asumsi psikologis bahwa manusia dermawan tidak akan melampiaskan amarah merusak hanya karena kehilangan sedikit harta. Ubay, dengan nyali dan ketegasan khas didikan Nabi, menginterogasi makhluk itu mengenai penangkal anti-gangguan mereka. Makhluk itu menyerah dan membeberkan senjata tersebut: membacakan kalimat “Allahu La Ilaha Illa Huwal Hayyul Qayyum” di waktu pagi akan memproteksi dari gangguan iblis hingga datangnya waktu sore; sebaliknya jika dibaca pada sore hari, jangkauan perlindungan meluas tanpa celah hingga terbitnya fajar kembali. Kesaksian ini lantas disahkan langsung kebenarannya oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [6]
Walau demikian, lahir sebuah pertanyaan krusial di zaman kiwari: mengapa ribuan populasi manusia mengamalkan bacaan Ayat Kursi di waktu zikir pagi-petang maupun sebelum tidur, namun mereka nyatanya tetap tak luput dari kejahatan dan bulan-bulanan makhluk halus? Kelemahan bukan terletak pada struktur redaksi ayat tersebut, melainkan berpangkal pada kekosongan daya serang (power) sang pembaca. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memaparkan formula bahwa Ayat Kursi hanya akan membumihanguskan benteng-benteng gangguan setan manakala dirapal dengan kekuatan iman (power) yang menghentak, keyakinan hati yang menghunjam paripurna, serta sinkronisasi lisan dengan pemahaman akal melalui tadabbur. Entitas iblis sangat mumpuni menerjemahkan substansi Ayat Kursi, sehingga rutinitas lisan yang dangkal dan teralienasi dari penghayatan jiwa sama sekali tidak menstimulasi gentar di kalangan mereka.
Karena itu, menadabburi per rincian kalimat Ayat Kursi merupakan keniscayaan mutlak bagi setiap penuntut ilmu:
- Allahu la ilaha illa Huwa Gugusan kalimat pembuka yang memproklamirkan sumbu sentral ketauhidan uluhiyah bahwa di jagat raya ini tidak ada satupun ilah, tuhan, atau eksistensi apapun yang pantas, layak, dan berhak disembah dengan jalan kebenaran kecuali Allah semata. Segala bentuk ketergantungan esoteris, sentralitas permohonan hajat, ritual ibadah, serta perletakan tawakal secara radikal harus dihadapkan murni kepada Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Al-Hayyul Qayyum Atribut Al-Hayyu mendeskripsikan kehidupan Allah yang maha abadi secara utuh, menolak segala celah awal maupun kehancuran. Bergantung dan menyerahkan peribadatan kepada entitas bernyawa yang dapat dijamah oleh kematian—ataupun kepada objek materi kaku seperti ornamen batu dan benda pusaka—merupakan titik zenit kebodohan. Dzat-dzat fana tersebut takkan hadir menolong saat hamba mendekap keterpurukan. Sifat Al-Qayyum merepresentasikan eksistensi Allah sebagai Dzat Yang Berdiri Sendiri (Self-Sustaining Absolute) tanpa bersandar sedikitpun pada intervensi dan kebutuhan makhluk-Nya. Manusia membutuhkan konsorsium individu lain untuk mendirikan fondasi masjid, merakit sirkulasi ekonomi, hingga memformulasikan kepengurusan organisasi takmir. Akan tetapi, Allah sama sekali tidak diuntungkan sedikit pun dengan gelombang rutinitas ibadah sujud dan rukuk populasi bumi. Semua perintah ritual ibadah sejatinya diformulasikan demi kebutuhan, garansi asuransi akhirat, dan nasib keberlangsungan hamba itu sendiri. Bila sebuah komunitas melakukan kemurtadan massal, hal itu sama sekali tidak akan mendegradasi keagungan takhta Allah. Dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54).
Merasa angkuh, berlagak dibutuhkan karena berposisi sebagai penyokong dana pengajian, donatur aktif majelis, atau individu super sibuk dalam dakwah, lantas berani “mogok” dan menuntut hak di hadapan skenario ujian kehidupan, merupakan mentalitas yang rapuh jika disandingkan dengan sifat Al-Qayyum.
- La ta’khudzuhu sinatun wa la naum Allah tidak pernah dikuasai bahkan oleh sekelebat rasa kantuk belaka, apalagi tertidur panjang. Sedekat apa pun aliansi seorang hamba di dunia, mereka akan menemukan batas ketidakberdayaan tatkala kelelahan fisik maupun gelombang tidur menenggelamkan malam-malam mereka. Namun Allah, secara absolut senantiasa terjaga merespons angkatan tangan doa setiap hambanya pada dimensi waktu paling pekat sekalipun.
- Lahu ma fissamawati wa ma fil ardh Eksklusivitas dominasi kepemilikan mutlak di bentangan langit dan hamparan daratan dunia berada dalam genggaman-Nya semata. Pandemi berskala raksasa menjadi saksi hidup paling aktual ihwal betapa tak bernilainya status kekayaan triliunan aset tatkala seorang yang berada di puncak piramida sosial sekalipun harus tumbang akibat tak mampu mengimpor setabung oksigen pertahanan nyawa. Meminta hajat secara totalitas kepada sesama makhluk hanya akan menjerembapkan hierarki manusia di titik nadir kehinaan, sebaliknya melambungkan harap dengan merendahkan wajah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala justru akan menaikkan muruah di singgasana Ilahi.
- Man dzalladzi yasyfa’u ‘indahu illa bi idznih Siapakah entitas raksasa yang berani menawarkan syafaat kecuali telah mengantongi tiket izin langsung dari-Nya? Konstruksi syafaat akhirat yang sering direduksi oleh pemahaman cacat segelintir kelompok yang nekat mengemis doa kepada penghuni makam, nabi, atau tokoh spiritual tanpa menyertakan otoritas Allah adalah sebuah pelanggaran tauhid terberat. Utusan teragung semacam Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di Padang Mahsyar tidak lantas mengeksekusi syafaat sesuka beliau; mekanisme itu menuntut proses sujud panjang nan paripurna di hadapan ‘Arsy seraya mengumandangkan puji-pujian sebelum akhirnya turunnya komando legalisasi untuk mengangkat kepala. Klaim arogan, taklid buta, maupun keyakinan manipulatif oleh oknum pemuka kelompok yang mendeklarasikan janji “Saya menolak melangkahkan kaki ke Surga bila kalian jamaah saya tak disertakan bersama,” merupakan cacat akal sehat dan penyimpangan fatal atas hak prerogatif Tuhan semesta alam. Oleh karena itu, kalimat pengharapan otentik seyogyanya dipanjatkan kepada Sang Penguasa tunggal: “Ya Allah, limpahkanlah untukku syafaat Nabi-Mu kelak.” Penikmat eksklusif fasilitas syafaat ini hanyalah penganut kemurnian Tauhid, Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
Artinya: “Manusia yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah ikhlas dari dalam hatinya.” [7]
- Ya’lamu ma baina aidihim wa ma khalfahum Cakrawala pengetahuan Allah membedah hingga partikel masa lampau, peradaban hari ini, dan rahasia takdir esok setiap ciptaan. Allah memonitor tindakan manifest yang tampak di etalase keramaian publik hingga intrik konspiratif paling sepi di ruang isolasi. Hal ini tergambar apik lewat kegagalan seorang murid tatkala dibebankan amanah dari sang guru untuk menyembelih seekor unggas di sebuah petak persembunyian yang bebas dari pengawasan entitas apapun. Upaya ini dikembalikan dengan pernyataan menyerah sang murid, karena sadar bahwa radiasi Penglihatan dan Pengetahuan Ilahi mustahil dihalangi oleh demarkasi apapun.
- Wa la yuhithuna bisyai’in min ‘ilmihi illa bima sya’a Kapasitas epistemologis kognisi makhluk amatlah kerdil nan terbatas, keberfungsiannya bergantung sepenuhnya atas setetes porsi kecil ilmu semesta yang “diizinkan” bocor dari gudang pengetahuan-Nya.
- Wasi’a kursiyyuhus samawati wal ardh Penyebutan sifat spesifik dari manifestasi Kursi Allah, luasnya merengkuh telak serta jauh melampaui rentangan langit maupun bumi. Secara spesifik dalam literatur asma wa shifat, Kursi merupakan esensi pijakan kedua Kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perbandingan skalatis alam semesta fisik vis-à-vis struktur gaib raksasa tersebut diuraikan layaknya perumpamaan gelang cincin receh yang dicampakkan tanpa sisa ke wilayah padang pasir yang mematikan tak berujung batas. Dan tentu, konstruksi singgasana utama, yakni ‘Arsy, memiliki postur kebesaran yang jauh lebih dahsyat lagi andai dibandingkan kembali dengan Kursi tersebut. Ketetapan atas narasi-narasi Asma wa Sifat layaknya Kaki Allah dipatri kuat tanpa toleransi manipulasi penolakan (ta’thil) namun tetap dipertahankan kebersihan absolutnya dari tindakan penyerupaan fisik dengan entitas temporal mana pun (tasybih). Prinsip suci ini senantiasa tegak: Tidak ada sesuatu pun yang menandingi atau menyerupai-Nya (Laisa kamitslihi syai’un).
- Wa la ya’uduhu hifzhuhuma Biarpun Allah merotasi tatanan semesta galaksi, mengurus planetarium fisik dan gaib, hingga melayani rintihan problematika beruntun miliaran sel makhluk, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak terjangkit distorsi sebutir pun rasa lelah, letih, ataukerepotan berlebih. Kendali administratif keagungan Ilahi atas seluruh mikrokosmos (benda kecil) maupun makrokosmos bersemayam di zenit kesempurnaan hakiki.
- Wa Huwal ‘Aliyyul ‘Azhim Manifestasi ini diparipurnakan lewat pemakaian dua atribut Asmaul Husna: Al-‘Aliy (Representasi Dzat Yang Maha Berada di tempat dan martabat kekuasaan tertinggi secara hierarkis) beriringan dengan Al-‘Azhim (Representasi Dzat Yang Maha Memiliki Keagungan struktural sempurna secara personal tanpa pesaing).
Akumulasi tadabbur makna komprehensif atas Ayat Kursi di atas sejatinya merupakan modalitas inti dan amunisi meriam paling destruktif dalam kerangka teknis perlawanan ruqyah syar’iyyah. Dirajut serangkai dengan alunan surah Al-Fatihah, Al-Falaq, dan An-Nas (mu’awwidzatain), resonansi frekuensi iman ini tak pelak sanggup merontokkan simpul-simpul klenik perdukunan maupun virus intervensi iblis yang bercokol dalam jiwa raga. Efektivitas lontaran power iman (kekuatan roh keikhlasan Tauhid) ini termaktub pada jejak legendaris Al-Imam Ahmad rahimahullah, yang tak perlu unjuk kekuatan bacaan keras, namun cukup dengan menitipkan sebuah sandal lusuh miliknya menuju bilik pasien. Entitas iblis penyusup memilih melarikan diri tunggang langgang melompat keluar karena tertimpa teror mental berwujud getaran tauhid absolut sang pemilik properti.
Sebaga penutup dan konklusi, penganugerahan keutamaan derajat kelak di alam akhirat pada pundak para ulama maupun wali Allah yang saleh hingga sanggup mempersembahkan syafaat secara terbatas bagi kerabatnya, murni sekadar prosesi pemuliaan (ikram) delegatif dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tak lantas diizinkan memiliki otonomi mandiri, previlese hukum sendiri, ataupun privilese menentukan gerbang nasib surga bagi kolega-kolega mereka, melainkan wajib tunduk terikat di bawah wewenang keizinan absolut dari Pemilik Tunggal semesta.
Referensi:
[1] Hadis Riwayat Muslim.
[2] Hadis Riwayat Bukhari.
[3] Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.
[4] Hadis Riwayat An-Nasa’i dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah.
[5] Hadis Riwayat Bukhari.
[6] Hadis Riwayat Ath-Thabrani dari sahabat Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘anhu.
[7] Hadis Riwayat Bukhari.
Diringkas oleh: Dewi Sartika (pegawai ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)
Meringkas intisari kajian: Yang Paling Terbaik | Ustadz Muhammad Halid Syar’ie, Lc
Baca juga artikel:
