Skip to content

Sumber Pengambilan Aqidah Islam

Khoirul Anam
7 menit baca
SUMBER PENGAMBILAN AQIDAH ISLAM

Sumber Pengambilan Aqidah Islam

Seperti telah diketahui bahwa nabi Muhammad adalah orang yang paling mengerti tentang Allah. Beliau orang yang paling antusias menasehati manusia dan yang paling fasih ungkapannya dalam memberikan penjelasan jadi, dalam diri beliau berpadu antara kesempurnaan ilmu, kemampuan dan kemauan. Sehingga dengannya beliau bisa memberikan penjelasan yang komplit terhadap masalah-masalah agama, baik yang berkaitan dengan akidah amalan ataupun perilaku.

2. As-sunnah an-Nabawiyyah

   Bukti yang menunjukkan akan hal itu adalah hadis yang diriwayatkan oleh :

قد تاركتكم على البيضاء ليلها رِها فيها لا يزيغ عنها بعدي الا هالك

Artinya:Aku tinggalkan kalian dalam keadaan putih yang benderang dalam hujjah yang terang malamnya seperti halnya siang harinya tidak ada seorangpun yang menyeleweng darinya kecuali orang yang binasa”. (HR. Ahmad)

   Mengenai hal ini Syaiful Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan nabi Muhammad adalah orang yang paling mengetahui kebenaran dialah yang paling fasih lidahnya, yang paling benar penjelasannya. Beliau juga orang yang paling bersemangat dan antusias dalam memberikan penerangan kepada umat manusia, seperti yang Allah firmankan:

لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عندتم خرس عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم

Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.  (QS. at-taubah 9 : 128)

   Juga firmannya:

ان تخرص على هداهم فان الله لا يهدي من يضل وما لهم مناصرين

Artinya: “Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sungguh Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkannya, dan sesekali mereka tiada mempunyai penolong“. (QS an-nahl 16:37).

   Allah telah mewajibkan Nabi untuk menyampaikan risalah dengan sejelas-jelasnya. Allah telah menurunkan al-kitab kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk beliau jelaskan kepada umat manusia apa-apa yang di turunkan untuk mereka. Oleh karena itu, penjelasan serta ucapan Rasulullah pasti menjadi penjelasan yang paling sempurna dibandingkan lainnya, lalu bagaimana mungkin Beliau tidak menjelaskan kebenaran?

   Diantara yang menunjukkan kesempurnaan nasehat Nabi untuk umatnya adalah Beliau mengajarkan kepada mereka segala sesuatu termasuk tentang etika dan adab buang air.

   Dalam shahih muslim hadits no 262 dari Salman Al-farisi berkata: yang Artinya: “Orang-orang musyrik berkata kepada kami: Sungguh aku lihat kawan mu itu (maksud mereka adalah Nabi Muhammad) mengajari kalian bagaimana buang air Salman berkata benar beliau melarang kami untuk beristinja dengan tangan kanannya atau menghadap kiblat dan beliau melarang untuk beristinja dengan kotoran dan tulang Beliau juga bersabda janganlah salah seorang dari kalian beristinja kurang dari 3 batu”

   Di antara mutiara ucapan imam Darul hijrah yaitu imam Malik rahimahullah apa yang diriwayatkan oleh imam Abu Ismail Al harawi dalam kitab sanadnya kepada imam Syafi’i rahimahullah:

   Imam Malik rahimahullah ditanya tentang ilmu kalam dalam tauhid lalu Beliau rahimahullah berkata mustahil kalau ada sangkaan bahwa nabi yang mengajarkan umatnya tentang istinja akan tetapi tidak mengajarkan tentang tauhid.”

   Oleh karena itu imam Ibnu qayyim rahimahullah dengan ucapan senada dengan imam Malik berkata di antara hal yang sangat mustahil adalah bila rasul yang paling mulia telah mengajarkan umatnya tentang adab buang air setelahnya ataupun ketika buang air, juga mengajarkan adab hubungan suami istri, adab makan minum, lalu dianggap beliau tidak mengajarkan apa yang harus diucapkan lidah mereka dan apa yang harus diyakini hati mereka terkait dengan roh juga yang wajib mereka ibadahi, yang mana makrifat tentangnya atau mengetahuinya merupakan makrifat yang paling puncak dan sampai kepadanya merupakan tujuan yang paling agung beribadah kepadanya semata tanpa menyekutukannya adalah media terbaik untuk mendekat diri kepadanya.”

   Buah sikap konsekuen dengan kaidah di atas

   Buah dari sikap berpegang teguh dengan kaidah ini adalah mencukupkan diri dengan al-kitab dan as-sunnah Rasulullah yang shahih, meninggalkan selain keduanya dalam semua perkara agama. Terlebih lagi apa yang terkait dengan hal-hal yang harus diwujudkan terkait dengan tujuan-tujuan ilahiyah dan rabbaniyah. Mengenai hal-hal ini Ibnu qayyim rahimahullah mengatakan,”sesungguhnya Allah telah mengingkari orang yang tidak mencukupkan dirinya dengan kitabnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

او لم يكفيهم انا انزلنا عليك الكتاب يتلى عليهم انّ في ذلك لرحمة وذكرى لقومٍ يؤمنون

 Artinya: “Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya kami telah menurunkan kepadamu Alkitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Alquran) itu terdapat Rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. ankabut/29: 51)

   Mustahil orang yang akalnya menentang Alquran merasa cukup dengan Alquran. Kitabullah hanya akan dirasa cukup bagi orang yang lebih mengedepankan Alquran daripada semua logika, daripada semua pendapat, qiyas, perasaan, hakikat dan aturan. Untuk orang seperti inilah, Alquran ini telah cukup baginya, sebagaimana Alquran ini juga menjadi rahmat dan pengingat hanya untuknya, bukan untuk tipe orang yang lainnya. Adapun orang yang berpaling darinya, atau membenturkan dengan pendapat-pendapat manusia, maka kitab ini tentu tidak cukup baginya. Dan baginya, Alquran ini juga tidak menjadi petunjuk, tidak pula Rahmat. Tipe orang seperti ini termasuk kategori orang yang mengimani hal-hal yang batil dan kufur kepada Allah.

Ibnu qayyim rahimahullah juga berkata dalam Badai’ul fawa’id,4/155, “maka segala puji bagi Allah yang telah membuat para hambanya yang beriman merasa cukup dengan Al-Qur’an, dengan konten-konten yang termuat di dalamnya, berupa hujan-hujah dan keterangannya, sehingga mereka tidak membutuhkan celotehan para mutakallimin (ahli kalam), tidak pula igawan mereka yang linglung. Sungguh begitu agung nikmat Allah terhadap para hambanya yang telah membuatnya merasa cukup dengan pemahaman kitabnya, tanpa membutuhkan kepada lainnya.

Kaidah kedua

Zahir nash-nash bisa dipahami oleh mereka yang menjadi sasaran kitab (yang diberi Alkitab ini)

Penjelasan kaidah ini ada dua macam, penjelasan yang bersifat global dan terperinci.

Penjelasan global

   Sesungguhnya kalam Allah dan kalam rasulnya adalah kalam atau ucapan dalam bahasa Arab yang. Zahir dari ucapan tersebut sangatlah jelas dan gamblang, bisa dipahami oleh para mukhatap atau lawan bicara yang menguasai bahasa Arab. Terlebih lagi, semua permasalahan yang terkait keyakinan dan keimanan.

Penjelasan terperinci

Adapun penjelasan terperinci dari kaidah ini, maka ini terkait dengan dua sumber dasar yaitu Alquran dan sunnah Rasulullah

Pertama Al-Qur’an Al Karim

   Alquran turun dengan menggunakan bahasa Arab yang jelas bahasa yang telah dikenal dan biasa dipakai orang-orang Arab dalam pembicaraan mereka.

   Dalilnya bisa datang dari dua sisi dari atsar (dalil naqli) dan dari sisi nazar (dari dalil logika dan nalar).

   Dalil dari atsar (dalil naqli), seperti yang Allah Subhanahu Wata’ala  firmankan:

وانه لتنزيل رب العالمين نزل به الروح الامين على قلبك لتكون من المنذرين بلسان عربي مبين

Artinya:

“Dan sesungguhnya Alquran ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh ruh Al Amin atau Jibril, ke dalam hatimu Muhammad agar kamu menjadi salah seorang di antara orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara/26: 192-195)

  Juga banyak ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Alquran diturunkan dengan bahasa Arab yang bisa dipahami oleh para mukhattab atau lawan bicara yang menguasai bahasa Arab.

Adapun dalil dari nazhar(logika dan nalar)

   Setelah diketahui bahwa yang menjadi maksud tujuan dari alquranul azim adalah untuk memberikan hidayah dan pengarahan titik oleh karena itu, ia harus jelas bagi umat yang menjadi sasaran khithabnya. Dan Alquran itu tidak bisa dikatakan jelas sampai ia bisa dipahami dan bisa dinalar oleh umat. Dan itu tidak akan terwujud kecuali bila Alquran sejalan dengan bahasa yang telah dikenal oleh mereka dalam khithabnya, dan menjadi kebiasaan mereka dalam pembicaraan mereka.

   Kedua: as-sunnah an Nabawiyah

   Diantara sunnatullah dalam hal penciptaan dan fitrahnya adalah Allah mengutus setiap rasul dengan bahasa kaumnya, agar tercapai maksud dari risalah, yaitu memberikan penjelasan dan memberikan peringatan.

   Hujah dari risalah tidak akan tegak, dan unsur umat manusia pun tidak akan terputus kecuali dengan adanya penjelasan dan penyampaian dari para rasul shallallahu alaihi wasallam, dan juga pemahaman orang dikirimi Rasul. Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman:

وما ارسلنا من رسول الا بلسان قومه ليبين لهم

Artinya:

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS Ibrahim/14:  4)

   Sedangkan kaum yang di mana nabi kita sallallahu alaihi wasallam diutus di tengah mereka yaitu kaum Quraisy merupakan orang-orang Arab murni, sehingga kalam atau ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada mereka adalah ucapan dengan bahasa Arab dan uslubnya atau gaya bahasanya yang bisa mereka pahami.

   Maka bila ada hal yang membuat ada sangkaan kontradiksi antara Wahyu dengan akal, maka Wahyu harus didahulukan dan ditetapkan, sebab ia datang dari Rasul shallallahu alaihi wasallam yang Maksum sedangkan akal tidak ada kemaksuman padanya akal tidak lepas dari salah titik bahkan akal hanyalah sekedar pandangan manusia yang pasti kurang, yang pasti dihinggapi waham atau sangkaan lemah lagi salah, kesalahan, lupa, hawa nafsu, kebodohan dan kelemahan. Wallahu ta’ala a’lam alhamdulillahi robbil ‘alamin.

REFERENSI:

Diringkas dan disusun oleh Budi abu yazid pegawai ponpes Darul Qur’an wal hadits Oku Timur, tanggal 24 April 2026. Sumber majalah as-sunnah Edisi 12/Rajab 1439 H/April 2018 halaman 22.

Baca juga artikel:

Dosaku Terlalu Banyak

Tanda-Tanda Kiamat

Bagikan:

Artikel Terkait

di persimpangan jalan
Aqidah 19/09/2026

Di Persimpangan Jalan

Di Persimpangan Jalan – Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Seluruh ilmu pengetahuan umum yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia, seperti ilmu fisika maupun matematika, serta ilmu agama memiliki kegunaannya masing-masing. Ditinjau dari sisi manfaat, ilmu agama memiliki kedudukan dan manfaat yang jauh lebih besar karena mengajarkan tata cara meraih kebahagiaan hidup […]

ideologi materialistis
Tarbiyah 17/09/2026

Ideologi Materialistis

Ideologi Materialistis – Sudut pandang manusia terhadap kehidupan dunia ada dua; pertama, pandangan hidup materialistis dan kedua, pandangan hidup yang benar. Keduanya memiliki dampaknya tersendiri. A. Makna ideologi materialistis Yaitu manusia yang menggunakan pikirannya hanya untuk memikirkan bagaimana mendapatkan kenikmatan hidup di dunia sehingga seluruh aktifitasnya hanya untuk mencapai itu semua. Akalnya tidak pernah memikirkan […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map