Dosaku Terlalu Banyak
Dosaku Terlalu Banyak – Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat-Nya kepada kita, dan karena nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Saat ini, umat Islam berada di bulan Zulhijah, namun sering kali sepuluh hari awal bulan Zulhijah ini tidak dirayakan semarak bulan Ramadan. Jarang sekali terdengar ucapan selamat memasuki sepuluh awal Zulhijah. Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
Artinya: “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Zulhijah).”1
Dalam satu tahun kalender Hijriah terdapat 354 hari, bukan 365 hari seperti kalender Masehi. Ketika umat Islam tidak lagi berbangga dengan peradabannya sendiri, maka muncul pertanyaan: dengan peradaban siapa kita hidup? Sering kali, agama hanya digunakan ketika ada keperluan mendesak, seperti saat akan menikah, bercerai, membagi warisan, atau mengurus penguburan jenazah. Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي
Artinya: “Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang menjadi pelindung urusanku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya aku mencari penghidupan.”2
Agama harusnya menjadi prioritas utama. Kita harus bangga menjadi seorang muslim. Sepuluh hari awal Zulhijah adalah waktu yang paling utama dalam setahun. Saat mendengar sabda tersebut, para sahabat sampai bertanya, “Apakah jihad di jalan Allah juga tidak bisa menandingi amal saleh di sepuluh hari tersebut?” Jihad merupakan puncak pengorbanan dalam Islam karena mengorbankan waktu, energi, jiwa, raga, dan harta, serta meninggalkan keluarga tanpa kepastian bisa kembali. Namun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab bahwa jihad pun tidak dapat menandingi amal saleh di waktu tersebut, kecuali satu kondisi: seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya, kemudian gugur di medan perang dan hartanya habis tanpa sisa.
Seharusnya, momentum sepuluh awal Zulhijah disambut dengan perencanaan ibadah yang matang. Jika perlu, lakukanlah iktikaf, karena iktikaf tidak hanya terbatas pada bulan Ramadan. Masjid seharusnya menjadi tempat yang terbuka dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin beriktikaf atau mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam mengarungi kehidupan, siapakah yang tidak pernah berbuat dosa? Bahkan orang yang sudah hijrah pun tidak luput dari kesalahan. Aisyah Radhiallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat dicintai, pernah bertanya tentang doa apa yang harus diucapkan jika mendapati malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”3
Di malam yang terindah sepanjang masa tersebut, yang diperintahkan justru adalah meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini mengajarkan bahwa setiap manusia, betapapun dekatnya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, memiliki dosa yang banyak.
Begitu pula dengan Abu Bakar As-Siddiq Radhiallahu ‘anhu, sosok yang dijamin masuk surga dan telah mengorbankan segalanya demi agama. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menanyakan di suatu majelis siapa yang hari itu berpuasa, bersedekah, membesuk orang sakit, dan mengantarkan jenazah. Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu menjawab dialah yang melakukan semua amalan tersebut pada hari itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegaskan bahwa tidaklah amalan-amalan tersebut berkumpul pada diri seseorang dalam satu hari, melainkan ia pasti masuk surga.
Bicara tentang sedekah, jangan pernah hanya melihat nominal yang diberikan, tetapi perhatikan persentasenya dari sisa harta yang dimiliki. Seseorang yang memiliki uang hanya sepuluh ribu rupiah dan menyedekahkan lima ribu rupiah berarti ia telah menyedekahkan lima puluh persen dari hartanya. Persentasenya jauh lebih besar dibanding seseorang yang bersedekah satu juta rupiah namun masih menyisakan miliaran rupiah. Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun amalannya sangat luar biasa, ketika ia meminta diajarkan doa untuk dibaca dalam salatnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”4
Pesan ini sangat mendalam: jangan pernah ujub atau merasa bangga dengan kesalehan, pengorbanan, atau kebaikan yang sudah dilakukan. Setiap manusia selalu memiliki dosa.
Dosa terbagi menjadi tiga macam. Pertama, dosa yang tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu kesyirikan. Jika ada keraguan tentang sebuah amalan yang mengarah pada kesyirikan, maka harus segera ditinggalkan karena risikonya sangat besar. Kedua, dosa yang berkaitan dengan sesama manusia. Dosa ini tidak akan dibiarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai urusannya diselesaikan di antara sesama manusia tersebut. Sering kali manusia, baik suami maupun istri, saling menyakiti tanpa menyadari bahwa itu adalah dosa besar. Wanita sering kali terjerumus dalam dosa lisan seperti mengumpat dan melaknat ketika sedang marah, yang menjadi penyebab banyaknya wanita di neraka. Sebaliknya, suami yang tidak menunaikan kewajibannya dan menyakiti istrinya juga akan dihisab atas kezalimannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ
Artinya: “Janganlah kalian mendoakan keburukan bagi diri kalian, dan jangan pula mendoakan keburukan bagi anak-anak kalian.”5
Dosa ketiga adalah dosa antara hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala selain kesyirikan. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, Dia akan mengampuninya. Di Hari Kiamat kelak, keadilan akan ditegakkan tanpa terkecuali, bahkan antara binatang, domba yang tidak bertanduk akan menuntut balas kepada domba bertanduk yang dahulu menanduknya.
Dilihat dari ukurannya, dosa terbagi menjadi dosa besar dan dosa kecil. Dosa besar dapat terhapus dengan tobat dan istigfar. Namun, dosa kecil dapat menumpuk dan membinasakan jika dilakukan terus-menerus dan diremehkan, layaknya kerikil yang menumpuk menjadi gunung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ
Artinya: “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang diremehkan (dianggap kecil).”6
Dosa-dosa kecil itu diibaratkan seperti sekumpulan orang yang singgah di sebuah lembah. Masing-masing membawa satu ranting kecil hingga akhirnya ranting tersebut terkumpul banyak, mampu menyalakan api besar, dan memasak makanan mereka. Begitulah dosa kecil yang diremehkan akan membinasakan pelakunya jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukumnya.
Setiap manusia beriman pasti memiliki dosa, namun seorang mukmin adalah sosok yang terus kembali bertobat. Dalam hadis disebutkan:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ خُلِقَ مُفَتَّنًا، تَوَّابًا، نَسِيًّا، إِذَا ذُكِّرَ ذَكَرَ
Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin diciptakan dalam keadaan selalu diuji, banyak bertobat, dan pelupa; namun jika diingatkan, ia segera sadar (ingat).”7
Itulah pentingnya terus mengikuti kajian dan majelis ilmu. Mengaji berulang-ulang bukan karena ayat atau hadisnya berbeda, melainkan karena manusia adalah makhluk yang pelupa dan butuh peringatan terus-menerus. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjelaskan kriteria manusia agar tidak berada dalam kerugian:
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Asr: 1-3).
Menjadi baik secara individu belum cukup. Harus ada upaya saling menasihati dalam kebenaran (amar makruf nahi mungkar) dan bersabar di jalan tersebut. Orang yang hanya sekadar saleh biasanya disukai masyarakat. Tetapi saat ia mulai mencegah kemungkaran, ia sering dianggap ikut campur atau mengganggu kenyamanan orang lain. Tugas mengingatkan bukanlah eksklusif milik pemuka agama, tetapi kewajiban setiap muslim sesuai kapasitasnya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ
Artinya: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah…”8
Menyampaikan kebaikan cukup dilakukan dengan menyampaikan ulang apa yang didengar secara utuh tanpa ditambahi. Hal ini sebagaimana yang dilakukan sekelompok jin dari Yaman yang mendengarkan Al-Qur’an dan segera kembali kepada kaumnya untuk memberikan peringatan:
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29).
Jangan pernah menunda-nunda tobat. Betapa murah hatinya Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memberikan ampunan sebagaimana hadis berikut:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar bertobat orang yang berbuat keburukan di siang hari, dan Allah membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar bertobat orang yang berbuat keburukan di malam hari.”9
Umat di zaman ini sering kali menyepelekan dosa. Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu, yang hidup pada masa sahabat, pernah menegur generasi Tabi’in:
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُوبِقَاتِ
Artinya: “Sesungguhnya kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang di mata kalian lebih remeh daripada sehelai rambut. Padahal kami di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya termasuk dosa-dosa besar yang membinasakan.”10
Jika di masa Tabi’in saja kondisinya demikian, apalagi di zaman ini. Banyak praktik terlarang seperti pinjaman online (pinjol) berbunga atau bank keliling yang jelas-jelas mengandung riba, namun dipraktikkan masyarakat secara terang-terangan tanpa rasa malu atau bersalah karena alasan kebutuhan. Padahal riba adalah dosa besar yang melahirkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam peristiwa Perang Uhud, umat Islam yang awalnya meraih kemenangan akhirnya terdesak dan mengalami kekalahan. Sebanyak tujuh puluh sahabat gugur dan banyak yang terluka, termasuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penyebab utamanya hanyalah satu larangan yang dilanggar, yaitu ketika pasukan pemanah turun dari bukit karena tergoda ghanimah. Satu pelanggaran kecil berakibat fatal meskipun di tengah-tengah pasukan terdapat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat utama.
Dosa memiliki dampak buruk yang nyata, namun sering tidak disadari. Salah satunya adalah terhalanginya seseorang dari berbuat kebaikan atau ketaatan. Seseorang mungkin merasa heran mengapa temannya mampu membaca Al-Qur’an satu juz sehari dengan kesibukan yang sama, sementara dirinya selalu merasa tidak punya waktu. Ketika seseorang mengeluh tentang sulitnya bangun salat malam padahal segala persiapan sudah dilakukan, Hasan Al-Basri menjawab, “Engkau sedang dibelenggu oleh dosa-dosamu.”
Dampak maksiat juga terlihat dari kondisi umat Islam saat ini. Meski berjumlah lebih dari dua miliar di seluruh dunia, umat Islam sering kali berada dalam posisi tidak berdaya, tidak mampu membela saudara-saudaranya yang tertindas seperti di Palestina. Kemenangan sejatinya mutlak di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan semata pada jumlah atau persenjataan:
إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ
Artinya: “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu.” (QS. Ali ‘Imran: 160).
Namun jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kehinaan akibat jauhnya umat dari syariat, maka kehinaan tersebut tak akan terelakkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
Artinya: “Jika kalian berjual beli dengan sistem ‘inah (riba terselubung), dan kalian memegang ekor-ekor sapi, rida dengan pertanian (sibuk dengan duniawi), serta meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Allah tidak akan mencabutnya hingga kalian kembali kepada agama kalian.”11
Langkah pertama kembali kepada agama dapat dimulai dari hal yang paling dasar, seperti menebarkan salam dan saling mengenal sesama muslim, terutama saat berada di majelis ilmu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Artinya: “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kutunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian kerjakan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”12
Dampak dosa yang lainnya adalah terhalangnya dari ilmu agama. Seseorang bisa hadir di majelis ilmu, namun matanya terus mengantuk dan hatinya sulit mencerna ilmu tersebut. Ilmu adalah cahaya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan cahaya-Nya tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat. Sebagaimana syair Imam Syafi’i:
شَكَوْتُ إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي * فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ * وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي
Artinya: “Aku mengadu kepada guruku Waki’ tentang buruknya hafalanku, maka beliau mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”13
Dosa juga membuat rezeki menjadi seret dan terhalang keberkahannya. Ada orang yang memiliki harta melimpah namun tidak bisa dimanfaatkan untuk ketaatan, malah digunakan untuk kemewahan yang sia-sia, dan pada akhirnya hanya akan ditinggalkan untuk ahli warisnya tanpa menjadi bekal amal di akhirat. Sesungguhnya pintu rezeki bukan sekadar dari bekerja, melainkan dari ketakwaan, tawakal, dan memperbanyak istigfar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3).
Selanjutnya, dosa akan menyebabkan segala urusan kehidupan menjadi rumit. Jika urusan terasa begitu dipersulit, obatnya adalah duduk, hamparkan sajadah, dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan langsung merasa aman dan menganggap kesulitan itu semata-mata ujian untuk mengangkat derajat layaknya para nabi, karena merasa aman dari azab Allah adalah dosa besar. Perbanyaklah sangka baik kepada saudara yang sedang diuji, namun berburuk sangkalah terhadap diri sendiri.
Orang yang terus-menerus berbuat dosa hatinya akan menjadi gelap tertutup noda, sehingga tidak bisa lagi membedakan mana yang makruf dan mungkar. Jika dosa dibiarkan menumpuk, hati tersebut ibarat gelas yang terbalik; sebanyak apa pun air hidayah disiramkan ke atasnya, tidak akan ada yang masuk ke dalamnya. Maka, jauhilah tempat-tempat maksiat dan jangan mencoba bermain-main dengan dosa atas dasar menguji iman.
Terkait dengan pertanyaan mengenai tobat dari dosa syirik, dosa ini tidak diampuni jika seseorang wafat tanpa bertobat darinya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48).
Namun, selama manusia masih hidup dan mau bertobat nasuha sebelum maut menjemput, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni seluruh dosa tanpa terkecuali:
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53).
Sahabat Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu dan yang lainnya dahulu adalah pelaku kesyirikan, namun tobat mereka yang tulus menghapus segalanya dan mengangkat derajat mereka. Tobat nasuha menuntut syarat: meninggalkan maksiat, menyesali perbuatan tersebut, bertekad tidak mengulanginya, dan apabila pernah mengajak orang lain berbuat maksiat atau syirik, maka harus menyampaikan ralat dan memohon maaf kepada mereka.
Mengenai kelalaian dalam memaksimalkan ibadah di awal Zulhijah karena tersibukkan oleh hiburan dunia seperti menonton film di bioskop, perlu dipahami bahwa hal tersebut menguras waktu berharga di tempat yang penuh kemaksiatan dan melalaikan ibadah wajib maupun sunah. Kecintaan kepada dunia inilah yang melemahkan umat, sebagaimana teguran dalam ayat terkait Perang Uhud:
مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ
Artinya: “Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (QS. Ali ‘Imran: 152).
Cara menebus kesalahan tersebut adalah dengan menggantinya melalui perbanyak istigfar, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, dan memaksimalkan ibadah di sisa hari yang ada.
Terkait hukum pelaksanaan salat Jumat yang bersamaan dengan hari raya Id, terdapat perbedaan pendapat ulama. Sebagian berpendapat bahwa mereka yang sudah melaksanakan salat Id tidak wajib salat zuhur dan salat Jumat, melainkan mencukupkan dengan salat Id tersebut. Namun, pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa kewajiban salat Jumat memang gugur bagi yang telah salat Id, tetapi ia tetap wajib menunaikan salat zuhur. Meskipun demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masjid-masjid pada umumnya tetap menyelenggarakan salat Jumat bagi siapa saja yang ingin hadir (termasuk yang tidak sempat mengikuti salat Id).
Referensi:
[1] HR. Bukhari, Kitab Al-Jumu’ah, Bab Fadhlul ‘Amal fi Ayyam At-Tasyriq. [2] HR. Muslim, No. 2720. [3] HR. Tirmidzi No. 3513 dan Ibnu Majah No. 3850. [4] HR. Bukhari No. 834 dan Muslim No. 2705. [5] HR. Muslim No. 3009. [6] HR. Ahmad No. 3818. [7] HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir. [8] HR. Muslim No. 49. [9] HR. Muslim No. 2759. [10] HR. Bukhari No. 6492. [11] HR. Abu Dawud No. 3462. [12] HR. Muslim No. 54. [13] Perkataan (Syair) Imam As-Syafi’i dalam Diwan Al-Imam As-Syafi’i.
Diringkas oleh: Asandri, S.Pd (pegawai ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)
Meringkas intisari kajian: Dosaku Terlalu Banyak | Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A
Baca juga artikel:
