Kiat Menaklukkan Hati Orang Tua
Kiat Menaklukkan Hati Orang Tua – Pembahasan ini tidak akan lepas dari pengalaman yang sudah-sudah. Selama kita meyakini jika setiap orang tua selalu berprinsip “Apapun demi anak”, Insya Allah kita tidak akan patah arang atau putus asa. Modal terbesar kita adalah pantang menyerah. Tentu dengan mengedepankan hikmah dan sikap bijak.
Pantangan terbesar untuk menaklukkan hati orang tua adalah: “Jangan terkesan menggurui orang tua! Siapapun tidak akan senang jika digurui oleh anaknya. Ingat baik-baik, jangan terkesan menggurui orang tua!”
Jangan kesankan diri Antum sebagai seorang pandai agama. Jauhi kata-kata “Ini salah! Ini benar!” di hadapan orang tua. Mengalahlah! Berlagaklah sebagai orang bodoh. Tidak mengapa, bukan? Bersabarlah sesaat demi kesuksesan di masa depan. Jelasnya, kita harus memilih jalan damai. Hindarkan kekerasan dan konflik. Pasti sukses, Insya Allah! Restu orang tua untuk Antum dalam Thalabul Ilmi akan tergenggam.
Doa, Senjata Utama
Akhi fillah, Yassarallahu umuurak, Satu hal yang mesti diluruskan adalah doa bukanlah jalan terakhir. Doa justru langkah pertama dan senjata utama. Kita sering mendengar cerita tentang seseorang yang jatuh sakit. Ia berusaha untuk mencari dokter spesialis dan ahli. Berpindah dari satu dokter ke dokter selanjutnya. Dari rumah sakit satu menuju rumah sakit yang lain. Pengobatan alternatif pun menjadi pilihan.
Setelah sekian lama usaha tersebut? Kesimpulannya? Tim Medis mengatakan, “Hanya menanti keajaiban dari langit.” Doa kepada Allah Ta’ala lalu menjadi satu-satunya harapan. Semestinya, doa kepada Allah Ta’ala harus menjadi langkah pertama, Akhi. Sepakat, bukan? Akhi fillah, Antum yang sangat berkeinginan untuk Thalabul Ilmi namun terbentur restu dan ijin orang tua, jangan galau dan jangan risau. Bersungguh-sungguhlah di dalam berdoa agar Allah Azza Wa Jalla membuka pintu hati orang tua! Memohonlah dengan sangat kepada-Nya. Pilihlah waktu-waktu yang mustajab. Hadirkan hati dan pikiran. Satukan dengan lisan. Demi Allah, Dia adalah Dzat yang Maha Mendengar doa hamba-Nya dan Maha Mengabulkan.
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkisah di dalam riwayat Muslim: “Dahulu, aku selalu membujuk ibuku agar berkenan masuk Islam. Saat itu, ibuku masih dalam keadaan musyrik. Suatu hari, aku mengajak beliau untuk masuk Islam. Namun, justru ibuku mengucapkan kata-kata tentang diri Rasulullah yang tidak aku sukai. Aku pun segera menemui Rasulullah sambil menangis.
Aku menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, aku selalu membujuk ibuku agar berkenan masuk Islam, namun beliau selalu menolak. Suatu hari, aku mengajak beliau untuk masuk Islam. Namun, justru ibuku mengucapkan kata-kata tentang Anda yang tidak aku sukai. Maka, tolonglah Anda berdoa kepada Allah agar Dia berkenan memberikan hidayah untuk ibunya Abu Hurairah.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam lalu berdoa:
اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ
Artinya: “Allahumma, berikanlah hidayah untuk ibunya Abu Hurairah.” (Adabul Mufrod, lili -Bukhari)
Kemudian, aku pun pulang dengan membawa bahagia di hati karena doa Rasulullah. Sesampainya di muka rumah, pintu ternyata terkunci. Ibuku mendengar derap langkah kakiku.
Ibuku bersuara, “Wahai Abu Hurairah, tetaplah engkau di tempatmu!”
Aku pun mendengar suara gemericik air. Ternyata, ibuku mandi lalu menggunakan pakaian dan kerudung penutup wajah. Ibuku lalu membukakan pintu.
Akhi fillah, apakah yang terjadi selanjutnya?
Ibuku membukakan pintu kemudian dengan tenang mengucapkan, “Wahai Abu Hurairah, Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu.”
Aku langsung berbalik untuk menemui Rasulullah. Aku berhasil menemuinya dan aku pun menangis karena berbahagia.
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, berbahagialah Anda. Sungguh, Allah telah mengabulkan doa Anda. Allah telah memberikan hidayah untuk ibunya Abu Hurairah.”
Rasulullah lalu mengucapkan tahmid dan pujian kepada Allah.
Akhi fillah, Baarakallahu fiik
Alhamdulillah sudah banyak yang berhasil dengan doa. Apakah Antum tidak tertarik dengan kiat pertama ini?
Sungguh, kawan-kawan kita, kaum muda, telah banyak yang sukses dengan sebab langkah ini. Semula orang tuanya tidak merestui, namun doa, ya Akhi. Ya, tidak ada yang bisa melebihi doa. Akhirnya, restu orang tua pun mengiringi langkahnya dalam Thalabul Ilmi. Bahkan lebih dari itu, akhirnya orang tuanya pun tertarik dengan dakwah Salaf dan menjadi penyokong utama sang anak di dalam medan dakwah. Walhamdulillah.
Sudahkah Antum berdoa? Sungguh-sungguhkah Antum di dalam berdoa? Jangan tunda-tunda lagi, berdoalah niscaya Allah akan melapangkan jalan Thalabul Ilmi untuk Antum.
Merengek Layaknya Anak Kecil
Akhi fillah, semoga Allah membantu.
Pernahkah Antum menyaksikan? Atau malah Antum sendiri pernah merasakan? Seorang anak kecil yang menangis dan merengek di hadapan orang tuanya. Ia meminta sesuatu, mainan misalnya. Ia tetap merajuk dengan wajah bersungut. Tangisannya sangat menyentuh hati. Ia terus menangis di hadapan orang tuanya dan tangisnya seolah tidak berpenghujung. Ia tetap terus meminta mainan itu.
Akhirnya? Orang tua pun berbelas kasih. Ia tidak ingin mengecewakan anaknya yang terus menangis. Luluh hatinya, cair juga kebekuannya. Orang tua selanjutnya mengabulkan keinginan anaknya. Mainan itu pun dibeli. Untuk anaknya.
Antum tentu masih ingat prinsip orang tua,
“Apapun akan dilakukan demi anak!”
Akhi fillah, Baarakallahu fiik. Cobalah Antum memposisikan diri layaknya anak kecil itu. Mainan yang diminta dan ditangisi oleh si anak kecil itu, cobalah Antum ubah menjadi Thalabul Ilmi. Menangislah, merajuklah dan merengeklah di hadapan orang tua Antum!
Antum harus mampu mengungkapkan melalui tangisan dan rajukan itu bahwa kebahagiaan, kepuasan, ketenangan hati dan tertawa Antum ada di dalam Thalabul Ilmi. Sebaliknya, Antum pun harus bisa menuangkan lewat tangisan dan rajukan itu bahwa tanpa Thalabul Ilmi Antum akan menjalani kesedihan dan penyesalan sepanjang hidup.
Ingat, Akhi! Antum harus bisa bermain secantik-cantiknya. Ana yakin, biidznillah, restu dan ijin orang tua hanya tinggal menunggu waktu saja.
Sebuah kisah nyata tentang seorang ikhwan. Masih muda seperti Antum juga. Ia ingin mengamalkan salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Orang tuanya menentang dan tidak senang. Apa yang ia lakukan? Berhari-hari ia mengurung diri di dalam kamar. Kamarnya sengaja tidak ditata. Dibiarkan tanpa kerapian. Ia tampakkan makan tak enak, minum tak enak. Namun, ia tetap menjaga komunikasi dengan orang tuanya.
Bagaimana perasaan orang tuanya? Mereka terkejut dan bingung. Anaknya yang biasa ceria dan periang tiba-tiba menjadi pendiam.
“Apapun akan dilakukan demi anak!”
Orang tuanya pun berinisiatif untuk bertanya kepada sahabat kita ini. Kesempatan emas telah tiba. Kembali sahabat kita mengungkapkan keinginannya untuk melaksanakan salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Ia ingin tenang di dalam Thalabul Ilmi.
Alhamdulillah, orang tuanya pun akhirnya merestui dan mendukung.
Allahu Akbar! Kesungguhan kita untuk Thalabul Ilmi sangat berperan besar di dalam keberhasilan guna menaklukkan hati orang tua. Semuanya akan mudah bagi yang dimudahkan Allah. Maka mohonlah kemudahan kepada Allah. Baarakallahu fiik.
Aku Takut, Ibu
Akhi fillah, Baarakallahu fiik, Setiap orang tua tentu tidak ingin melihat anaknya sengsara dan menderita. Setiap orang tua pasti tidak mau menyaksikan anaknya menjadi orang jahat dan buruk. Hati orang tua pasti akan remuk redam kala mendengar anaknya ditangkap polisi dan dipenjarakan. Hati orang tua akan hancur berkeping-keping ketika mendengar anaknya terlibat sebuah tindak kejahatan.
Ini adalah celah yang cukup baik, Akhi!
Misalnya Antum dipaksa kuliah. Ceritakan dan gambarkan betapa rusaknya moral dan akhlak “mahasiswa” yang kuliah. Antum bisa mengangkat kasus-kasus kejahatan yang terjadi di lingkungan dan oleh mahasiswa. Narkoba, pesta miras, pergaulan bebas, pencurian atau lain-lain. Antum sampaikan dengan penuh hormat dan santunnya.
“Aku takut, Ibu.”
Permohonan:
“Aku takut tidak mampu menjaga diri, Ibu. Aku takut terpengaruh oleh lingkungan buruk semacam itu. Ataukah Ibu tega jika akhirnya nanti Ananda akan mengecewakan Ibu karena terperosok ke dalam lingkungan yang buruk?”
Sebuah pengalaman nyata, Akhi! Walau Ana ceritakan kembali dengan bahasa Ana sendiri.
Seorang akhwat dipaksa oleh orang tuanya untuk kuliah. Setelah beberapa lama kuliah, akhwat tersebut pulang ke rumah dengan menampakkan wajah suntuk di hadapan orang tuanya. Hampir-hampir ia menangis.
Sang Ibu kaget dan terkejut. Setelah ditanya, ia menjawab,
“Ibu, Ananda tidak ingin meneruskan kuliah lagi. Lingkungan kampus penuh dengan bahaya. Apalagi untuk Ananda, seorang perempuan. Beberapa teman telah terseret oleh pergaulan bebas. Banyak di antara mereka yang hamil di luar nikah bahkan melakukan aborsi. Ananda tidak bisa menjamin akan selamat dari lingkungan semacam itu. Ibu, tolonglah Ananda!”
Alhamdulillah. Orang tuanya pun pengertian. Mereka tidak ingin putrinya diterkam oleh “serigala-serigala” buas. Sejak hari itu, sang akhwat pun memperoleh restu untuk mempelajari agama, Thalabul Ilmi. Allahu Akbar!
Bagai Seorang Ratu di Hadapan Pangeran
Akhi fillah, Baarakallahu fiik
Setiap orang tua sangat mendambakan anaknya memiliki unggah-ungguh, tata krama dan sopan santun. Mereka akan berbangga bahkan membanggakan anaknya di hadapan orang lain. Hati orang tua mana yang tidak akan tersentuh haru karena bahagia saat anaknya berbicara dan bersikap lembut dan penuh hormat.
dengan keadaan kaum muda zaman ini. Unggah-ungguh, tata krama dan sopan santun sebagai anak telah tergerus oleh lingkungan. Mudah sekali menjumpai seorang anak yang berkata-kata kasar kepada orang tuanya, membentak, memarahi, memukul bahkan membunuh. Benar bukan, Akhi?
Nah, ini pun bisa menjadi celah yang baik untuk memperoleh restu orang tua dalam Thalabul Ilmi.
Sebuah pengalaman nyata, Akhi! Walau Ana ceritakan kembali dengan bahasa Ana sendiri.
Seorang kawan, kaum muda juga seperti kita, Alhamdulillah mengenal dakwah Salaf selagi ia kuliah di sebuah kota. Semangat beragamanya sangat tinggi dan menggebu-gebu.
Ketika musim liburan tiba, ia pulang ke kampung halamannya. Muncul konflik dengan orang tuanya! Kenapa? Sang anak telah berubah. Orang tuanya tidak bisa menerima jika sang anak menjadi seorang Salafy.
Kembali ke kotanya, kawan kita bersedih. Siapa yang tidak akan bersedih jika berkonflik dengan orang tua? Kawan kita pun konsultasi dan sharing dengan beberapa orang yang ia nilai lebih berilmu dan berpengalaman.
“Begini saja. Antum mulai saat ini belajarlah bahasa Jawa krama inggil (tingkatan bahasa gaya keraton). Ketika pulang nanti, berbahasalah dengan orang tua Antum seolah-olah mereka adalah raja dan ratu di ruang paseban”, masukan dari seorang yang berilmu.
Sungguh-sungguh juga kawan kita belajar bahasa Jawa krama inggil.
Pada kesempatan pulang berikutnya, kawan kita ini berbicara dan berbahasa dengan orang tuanya dengan bahasa Jawa krama inggil. Orang tuanya terkejut! Heran dan diselipi rasa senang. Apalagi zaman sekarang, banyak anak yang berbicara dengan orang tuanya layaknya ia berbicara dengan teman sebaya.
Ia berbahasa, seolah-olah sedang berbicara di hadapan seorang raja dan ratu. Orang tuanya pun bertanya. Kesempatan emas telah tiba.
Alhamdulillah. Setelah belajar agama sedikit-sedikit, ternyata Ananda merasa telah banyak berbuat salah kepada bapak ibu. Selain itu, Ananda berbahasa tidak sopan. Dari beberapa kajian Salaf, Ananda menyadari seharusnya dengan orang tua harus berbahasa dengan baik.
Allahu Akbar! Sejak hari itu, orang tuanya pun mendukung dan memotivasi anaknya untuk tetap mengikuti kajian-kajian tersebut. Ya, orang tuanya kemudian merestui kawan kita untuk Thalabul Ilmi.
Demi Allah, Maha benar firman-Nya:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Artinya: “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)
Akhi fillah, coba perhatikan baik-baik perintah Allah di atas!
“Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”
Nah, bagaimana dengan Antum selama ini? Sudahkah Antum bersopan-santun dan berbahasa dengan mulia dengan orang tua Antum? Akrab dengan orang tua memang baik. Namun jangan lupa untuk berbahasa dengan bahasa yang mulia. Semoga kiat ini bisa membantu, Baarakallahu fiik.
Aku akan membuka lapangan kerja yang luas
Saudaraku seperjuangan, Seorang sahabat pernah ditentang dan dimarahi oleh orang tuanya. Latar belakangnya tentu karena sahabat tadi ingin Thalabul Ilmi. Dia tidak ingin melanjutkan kuliah. Betapa marah dan murkanya orang tua sahabat kita.
“Kalau kamu nggak kuliah, mau kerja apa kamu besok?!”
Itu saja yang diulang-ulang oleh orang tuanya.
Dengan hati pedih, sahabat tersebut datang menemui seorang ustadz untuk berkonsultasi. Setelah semua kisah selesai diungkapkan, dengan dihiasi senyum, sang ustadz memberikan beberapa nasihat. Setelah itu?
“Inilah cita-cita Ananda, Ibu. Ananda tidak pernah merasa cemas tentang pekerjaan di masa yang akan datang. Justru, Ananda sedang memiliki impian dan cita-cita. Jika saja Ananda memperoleh restu dari orang tua untuk belajar agama, Ananda akan bersungguh-sungguh. Sepulang dari belajar agama nantinya, Ananda akan membuka sebuah pesantren”, Ustadz tersebut mencoba menerangkan cara membujuk orang tuanya.
Sebuah pesantren adalah lapangan kerja yang luas. Sebuah pesantren membutuhkan tenaga dan karyawan yang banyak. Satpam, tukang masak, tukang kebun, bagian kebersihan, pengajar dan masih banyak lagi yang dibutuhkan. Jadi, Ananda telah membuka peluang kerja untuk banyak orang, lanjut Ustadz tersebut.
Allahu Akbar!
Hati orang tuanya pun luluh. Restu pun resmi diberikan kepada sahabat kita untuk Thalabul Ilmi. Kini, ia sedang menikmati hari-hari indah dalam Thalabul Ilmi. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan istiqomah untuknya dan untuk kita semua.
✓ Sebingkai Kado
Akhi fillah, Hafidzakallahu, Memberikan sebingkai kado untuk orang tua memang sudah tidak banyak dilakukan. Akan tetapi, kiat ini ternyata sangat berhasil untuk menaklukkan hati orang tua. Apalagi di zaman sekarang! Pasti orang tua akan kaget dan terheran-heran saat anaknya memberikan sebingkai kado untuk orang tua Antum, Akhi?
Mungkin kiat ini terhitung lawas dan kuno. Namun, kalau memang ada kemungkinan berhasil, kenapa tidak? Orang tua tidak akan melihat nilai dari kado itu. Sungguh. Yang lebih bernilai adalah kita telah melakukan sesuatu yang sudah semakin jarang ditemukan di kalangan kaum muda.
Lagi-lagi kita mesti berbagi cerita. Hanya saja, Ana akan menceritakan secara makna dan menurut bahasa Ana.
Boleh kan, Akhi? Seorang sahabat kita, awalnya ditentang oleh orang tuanya karena ia aktif di kajian-kajian Salaf. Tentu karena dia dianggap telah melawan arus adat dan tradisi masyarakatnya. Konflik sempat memuncak.
Suatu hari, sahabat kita mengirim sebuah kado untuk orang tuanya. Memang, sahabat kita berada di kota lain.
Jauh dari kampung halamannya. Ibunya menangis haru saat membuka kado tersebut.
Sebuah cincin emas. Pas di jari manis sang ibunda. Ada juga selembar surat di sana. Sahabat kita mengungkapkan semua isi hatinya. Tentang cinta dan kerinduan kepada orang tuanya. Tentang usaha dia mengumpulkan uang, sedikit demi sedikit, untuk membeli cincin emas tersebut.
Allahu Akbar! Orang tuanya pun memberi kebebasan untuk memilih jalan kehidupan. Akhirnya, restu Thalabul Ilmi pun digenggam oleh sahabat kita ini. Kini, ia telah berkeluarga dan sedikit banyak telah membantu dakwah Salafiyah. Semoga Allah mencurahkan tsabat dan istiqamah untuknya.
Buktikan, Antum Lebih Baik!
Akhi fillah, Baarakallahu fiik
Totalitas adalah modal utama. Jangan hanya setengah hati atau setengah jalan. Itu prinsip anak muda yang berjiwa besar. Tanpa totalitas, kita hanya akan mengecewakan. Lebih parahnya jika yang kecewa adalah orang tua.
Na’udzu billah min dzalik.
Nasihat orang tua kita, “Berguru kepalang ajar, bagai bunga tak jadi.” Artinya, pekerjaan yang dilakukan dengan tanggung-tanggung atau setengah-setengah tidak akan mencapai hasil yang baik.
Jangan sekali-kali mengecewakan orang tua! Jika Antum memang berniat untuk Thalabul Ilmi, maka totalitas adalah pilihan satu-satunya. Antum harus membuktikan bahwa dengan Thalabul Ilmi Antum menjadi lebih baik sebagai seorang anak. Lebih baik dalam hal apa? Dalam segala halnya. Tutur kata, perilaku, perhatian, sopan santun, dan semuanya harus meningkat menjadi lebih baik.
Jika tidak, kekecewaan orang tua akan bertumpuk-tumpuk. “Dunia tidak diraih, akhirat pun hanya setengah hati,” adalah ungkapan orang tua yang kecewa.
Artinya, jika ingin memilih jalan Thalabul Ilmi, Antum harus bersungguh-sungguh. Milikilah jiwa dengan cita-cita yang tinggi. Seriuslah di dalam Thalabul Ilmi untuk benar-benar menjadi seorang alim ulama. Dengan demikian, orang tua akan merasakan kebahagiaan karena anaknya benar-benar menjadi “orang”, bermanfaat bagi yang lain.
Buktikan, Antum Lebih Baik!
Na’am. Antum harus mampu membuktikan bahwa dengan Thalabul Ilmi, Antum menjadi lebih baik. Mulailah dengan awal yang baik! Semoga beberapa kiat ini bisa menjadi sumber inspirasi buat Antum.
Ingat, jalan keluar masih banyak. Sering-seringlah konsultasi dan berbagi dengan orang-orang yang Antum nilai lebih berilmu dan lebih berpengalaman.
Baarakallahu fiik.
REFERENSI:
Artikel ini diringkas ulang oleh Nurmimi Haria Putri
Diambil dari kitab DURI KELABU catatan ringan kendala thalabul ‘ilmi
Karya Abu Nasim Mukhtar ibn Ria’i
BACA JUGA :
