BAPAK IBU YANG MENJADIKAN NYA YAHUDI

yahudi

  BAPAK IBU YANG MENJADIKAN NYA YAHUDI

 

Sebuah hal yang telah dimaklumi bersama bahwa para pegawai atau penjaga “baitul mal (perbendaharaan harta umat islam) bertanggung jawab atas pemeliharaan harta tersebut. Selamat,rusak, atau hilangnya harta tersebut bisa dikatakan ada pada tangan penjaganya. Tentunya ini adalah amanah yang tidak remeh. Sehingga memiliki amanah yg begitu besar itulah tidak semua manusia mau menerima dan memilikinya.

Kenyataan memang ada dua golongan manusia takala dihadapkan dengan amanah penjagaan baitul mal tersebut, golongan pertama ialah orang-orang yang tidak mau menerima dan memikul amanah ini sama sekali karena takut akibat buruknya, dan golongan kedua adalah orang-orang yang mau menerima dan memikulnya dengan penuh kehati-hatian dan penuh rasa tanggung jawab, mereka senantiasa siap siaga menjaganya ketika mengurusi dan memelihara harta tersebut agar tidak kebobolan maling, dan para penjahat yang akan mengambil atau merusaknya disebabkan kelalaianya. Hal ini mereka lakukan sebab mereka mengetauhi dan sangat menyadari bahwa keselamatan dan pemeliharaan baitul mal yang baik merupakan kehormataan dan kemuliaan dirinya sekaligus nama baiknya serta teladan bagi yang lainya .

Sekarang cobalah kita merenungi amanah besar yang telah dipikulkan dengan paksaan taqdir kauni-nya Allah dipundak-pundak kita orang tua. Kita sadar atau tidak sadar bahwa kita tidak bisa menghindar dari memikul amanah ini. Ialah amanah pendididkan anak-anak kita.

Lain dengan amanah memeliharaharta kaum muslimin, justru anak merupakan amanah yang kita pinta dari Allah,  namun kenyataan justru amanah yang kita pinta itu masih banyak kita lalaikan dan dan kita siakan ,atau minimalnya masih banyak diantara kita yang lalai darinya.

Tentang amanah ini Rasulullah bersabda ,yang artinya,

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

Tidak ada seorang anakpun kecuali terlahir diatas fitrah ( Islam ) lalu bapak ibunyalah yang menjadikanya yahudi, nasrani, atau majusi, “  (HR Bukhari dan Muslim)

Sabda Rasulullah ini merupakan ancaman. Ia juga yang seharusnya telah  mengikis abis harapan kebanyakan orang tua dalam mentarbiyah anak untuk mewarisi predikat-predikat keduniaan. Namun kenyataan lagi-lagi lain. Masih saja tersisah, bahkan masih saja ada yang tetap utuh harapan sebagian orang tua sebagaimana asalnya , ,yaitu agar anak mewarisis jabartan seperti yang disandang orang tuanya, atau mewarisi keberhasilan ousaha orang tuanya jika ia sebagai pengusaha. Padahal orang tua yang baik yang memahami makna hadis ini dengan baik tentu akan menemukan bahwa untuk menyelamatkan diri dari ancaman ini, mereka tidak menyisakan sedikitpun harapan untuk mentarbiyah anak mereka menuju martabat duniawi berupa kedudukan dan harta , sebaliknya mereka akan mentarbiyahnya diatas fitrahnya, yaitu islam yang baik sebagai lawan dari yahudi, majusi, dan nasrani.

 

AMANAH YANG TAK MUNGKIN DITOLAK

Kita gaskan lagi bahwa amanah anak ini tidak seperti halnya amanah-amanah yang lain, selagi dia seorang bapak dan seorang ibu maka suka atau tidak, menghendaki atau menolak, sanggup atau tidak dalam memikulnya, pasti amanah ini ada dipundaknya. Selama seseorang memiliki anak yang dalam kekuasanya, maka tida ada pilihan baginya kecuali menjadikanya yahudi, nasrani,majusi atau tetap berada diatas fitrah, yang ia bawa sejak ia lahir di dunia, yaitu islam. Amanah ini termasuk dalam kandungan amanah umum yang dibebankan oleh Allah dalam firmanya, yang artinya, “ Sesungguhnya kami menawarkan amanah kepada langit dan bumi serta gunung, tetapi mereka enggan untuk memikulnya dan keberatan, lalu dipikullah oleh manusia, sesungguhnya manusia itu sangat dzolimm dan bodoh. ( QS. Al-Ahzab : 72 )

Ulama berkata, maka yg berbahagia dan beruntung adalah yang berhasil menghilangkan dua sifat jelek ini ( dzolim dan bodoh ) . Dan yang sanggup memikul amanah dengan baik adalah yang dapat menghilangkan kebodoahn dan kedzolimanya dengan mempelajari hidayah kitab dan sunnah serta mengamalknya.

 

BUKTI-BUKTI PEN-YAHUDI-AN

Dalil-dalilmengenai peringatan bagi orang tua seputar tarbiah baik dari kitab manapun sunnah sangatlah banyak dan sangat menggetarkan hati serta memekakkan telinga ,Allah berfirman :

ياأيها الذين أمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس والحجارة

yang artinya “  Wahai orang-orang yang beriman , jagalah dirimu dan keluargammu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu “. (QS. At-Tahrim :66 )

Ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menjaga keluarga dari api neraka adalah mengajari mereka ilmu agama. Sebab dengan memahami ilmu agama mereka akan selamat dari jalan kesesatan. Maka, barang siapa yang tidak mempelajari dan mengamalkan agama pada diri ,istri dan anak-anaknya, berarti ia telah mempertaruhkan diri dan keluarga yang ia cintai untuk menjadi bahan bakar api neraka melainkan karena menyia-nyaikan tugas ini.

Jika ada bapak dan ibu yang hidup dalam keadaan buta terhadap agama dan membiarkan anaknya seperti mereka, sementara mereka tidak bersemangat untuk menuntut ilmu agama, tidak pula menganjurkan anak-anaknya untuk mempelajari dan mengamalkan ilmu agama dengan sebaik-baiknya, maka sugguh ini merupakan musibah diatas musibah yang tidak ada obatnya kecuali jika Allah menghendaki dengan rahmat-nya membuka hati-hati yg telah mati tersebut.

Jika bapak dan ibu terbiasa dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban, seperti sholat dan yang lainya, terbiasa dengan maksiat, maka mereka pun akan membiarkan anak-anaknya demikian pula. Tidak ada perintah dan larangan kepada anak yang dipimpinya , kecuali perintah untuk kerja mencari dunia dan dan larangan dari pengangguran.

Adapun perintah anak untuk sujud kepada Allah , maka mereka akan berdalih bahwa dirinya sendiri saja tidak menunaikanya. Untuk apa melarang anak-anak dari kemungkaran sementara mereka sendiri melakukanya, jika demikian, maka akan lahirlah generasi yang meniru dan fanatik buta pada bapak-bapak mereka dalam kesesatan.

Disisi lain, ada sebagian orang tua yang menganggap bahwa hukum-hukum agama berlaku hanya untuk anak-anak saja. Mereka begitu bersemangat dalam mengusahakan kebaikan untuk anak-anaknya, sementara ia melupakan dirinya. Dia menyuruh anak-anaknya untuk menuntut ilmu agama dan mengamalkanya sementara ia tidak melakukanya. Memerintahkan kepada anak-anaknya untuk sholat, mengaji, puasa,dan berahklak mulia, sedangkan ia tidak melakukan apa yang ia perintahkan, bahkan ia menghukum anaknya yang bermalas-malasan dalam kebaikan.

Jika sesekali mereka diingatkan oleh anaknya untuk melakukan kebaikan ,sepontan mereka akan mengatkan, ,”Kalau aku gampang saja “ yang penting kalian baik” ini orang yang sangat bodoh. Seakan ia akan menyangka bahwa syariat islam hanya berlaku untuk orang lain dan anaknya saja. Anda akan mendapati orang seperti ini melarang anaknya berdusta, menipu, mencuri, berkhianat, berjudi, merokok, pacaran, sementara sifat-sifat ini ada pada dirinya. Bahkan ia marah dan menghukum anak karenanya, namun ia lupa terhadap dirinya.

Maka ingatlah, wahai orang yang kurang akal, bahwa agama Allah datang bukan hanya berlaku untuk orang tertentu saja, tapi menyuruh untuk semua manusia. Bukan berlaku untuk rakyat dan para pejabat saja. Dan bukan hanya untuk orang-orang miskin dan rendahan yang hina saja sedang para pembesar dan orang kaya yang terhormat tidak, juga bukan hanya untuk anak-anak tanpa orang tua, hanya untuk murid-murid saja tanpa guru, sekali-kali bukan. Tapi, agama Allah ini datang untuk seluruh manusia tanpa terkecuali.

Siapa saja yang memiliki anggapan ini, maka ia telah menjadikan agama islam ini seperti agama Hindu dan semisalnya. Atau menjadikan agama ini seperti sufi yang sesat, yang mengelompakan manusia dalil. Sebagaimana anggapan sebagian mereka bahwa ada golongan syariat yang masih berlaku bagi mereka hukum syariat, dan ada golongan yang telah mencapai tingkat hakikat dan marifat yang telah gugur kewajiban syariat dari mereka .

Paham sufi yang sesat ini banyak dianut oleh para pembesar dan orang-orang kaya. Mereka menganggap bahwa kewajiban agama, mulai dari sholat ,dan lainya, hanya berlaku untuk orang-orang bawahan dan rendahan .Adapun mereka, maka tidak. Oleh karena itu, Anda akan melihat sebagian pejabat dan pembesar tidak melakukanshalat atau tidak mau sholat berjamaah dan melanggar larangan-larangan Allah sehingga menjadi hujjah bagi para pengikut mereka.

 

Sebab-Sebab Tarbiyah Terabaikan

Sebab utama berpaling umat manusia dari agama Allah adalah bodohnya mereka terhadap hakikat agama -nya. Mereka tertipu oleh dunia yang megah sehingga menilai dan melihat bahwa beribadah dan taat kepada Allah adalah belenggu yang menghalangi manusia untuk mendapatkan bagiandunia. Mereka menganggapseharusnya seseorang bekerja mencari dunia sehari penuh menjadi berkurang karena harus berhenti untuk melakukan sholat lima waktu dan memelihara puasa.

Seharusnya seseorangmengumpulkan harta dari mana saja dan dengan cara apa saja. Tetapi syariat membatasi dengan yang halal saja. Semestinya seseorang melepas syahwatnya pada harta, wanita, kedudukan dan seluruh tuntunan dan keindahan dunia semaunya, namus syariat mengatur antara yang halal dan yang haram , Wallahu mus’taan

Oleh karena itu, orang-orang kafir dan orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya sangat membenci dan memusuhi agama Allah dan para dai yang mengembanya.

Dunia yang begitu indah membuat ahlinya semakin buta dengan akhirat. Mereka memiliki harta benda dan perniagaan yang dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya sehingga selamat dari para penjahat, maling, perampok, pengkhianat, penipu, kebakaran, serangga, hingga debusekalipun tidak boleh menyentuhnya. Sementara anak-anak mereka dibiarkan terabaikan begitu saja, tidak ada tarbiyah, dibiarkan dari para penjahat, orang-orang rusak, orang-orang yang tidak berahklak, boleh bergaul dengan mereka dan mereka boleh bergaul dengan siapa saja.

Bagi mereka, harta tidak boleh rusak dan kotor , namun anak boleh rusak dan kotor akidahnyanya, ibadah dan ahklaknya, harta tidak boleh kurang, namun agama boleh kurang bahkabn boleh hilang. Kendaraan harus aman sampai-sampai tidak bisa tenang atau tidur juga berada diluar rumah, sementara mereka merasa tenang dan bisa tidur nyenyak jika anaknya diluar rumah sedang mereka tidak mengetauhui berteman dengan siapa. Mereka biarkan anak-anak berbuat jail, dan menjahili tetangga, teman atau orang lain, atau dijahili, . Mereka tidak peduli apakah anak disesatkan atau menyesatkan orang lain.

Semua ini mengingatkan orang tua dan para murobbi yang mengatkan bahwa kami tidak bisa mentarbiyah karena lingkungan tidak mendukung atau masyarakat disekitar rusak . Maka kiami katakan, sesungguhnya bukan lingkungan yang rusak dan tidak mendukung untuk mentarbiyah anak, akan tetapi kitalah yang tidak mau mentarbiyah dan mengabaikanya . Bukankah para shahabat dan anak-anak mereka muncul ditengah-tengah para penyembah berhala dan beraneka ragam kerusakan,? Kalau ada yang mengatakan, pantas saja karena mereka adalah para shahabat pilihan Allah. Berbeda dengan kita. Maka jawabnya, bukankah kita bisa mentarbiyah hewan ternak dan harta benda padahal kita hidup di lingkungan yang rusak, ada pembunuh, pencuri,penipu, pengkhianat, pemabuk,pezina, penjudi, krisis ekonomi, penyakit,hama, pengangguran, kekuragan lapangan kerja, dan lain-lain.

Jika kita bisa mentarbiyah harta benda dilingkungan seperti itu , lalu mengapa kita tidak bisa mentarbiyah anak yang memiliki fitrah..?

Referensi:

Edisi : Ke-6 Tahun ke-3 : Muharram -Shofar 1431 Januari 2010,

Ditulis oleh : Ustdz Abdur Rohman Al-Bhutoni

Disalin : Abdul Hadi Abu Hizam Abdul Hadi

Baca Juga Artikel:

Rumah Tangga dan Masalah

Ada Apa Dengan Cinta Seorang Ibu

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.