Skip to content

Urutan Manusia Terbaik Setelah Rasulullah

Khoirul Anam
9 menit baca
Urutan Manusia Terbaik Setelah Rosullullah

Urutan Manusia Terbaik Setelah Rasulullah

Sebaik-baik umat ini setelah Nabi  adalah Abu Bakar Ash-Shidiq, kemudian Umar bin Khatthab, kemudian Utsman bin Affan. Kita meyakini keutamaan Ketiga sahabat tersebut sebagaimana para sahabat mengedepankan mereka dan tidak berselisih pendapat dalam hal tersebut. Kemudian setelah mereka bertiga dilanjutkan dengan Lima Ashab Syura, yaitu: Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Saad radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua layak menjadi khalifah dan mereka adalah para imam. Hal tersebut merujuk pada hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa, “kami menyebutkan secara berurutan keutamaan para sahabat tatkala Rasulullah masih hidup dan para sahabat berkumpul, yaitu: Abu Bakar, Umar, Utsman, kemudian kami diam.”

Para ulama membahas keyakinan kepada para sahabat. Hal tersebut sebagai bantahan atas golongan Rafidhah yang mengafirkan mayoritas sahabat. Penyebabnya, ketika golongan Rafidhah memiliki keyakinan terhadap Ali radhiyallahu ‘anhu dengan keyakinan sesat, yaitu Ali radhiyallahu ‘anhu lebih utama dalam kekhalifahan daripada para sahabat sebelumnya, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Golongan Rafidhah meriwayatkan hadits-hadits palsu bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang diwasiati Nabi. Ketika itu mereka mengetahui bahwa faktanya menyelisihi pemahaman mereka. Golongan Rafidah meyakini bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum adalah perampas hak Ali radhiyallahu ‘anhu dalam hal kekuasaan dan kekhalifahan setelah Rasulullah wafat. Mereka pun juga menyalahkan para sahabat lain yang membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka meyakini bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu terzhalimi karena perkara tersebut direbut darinya, yang menurut mereka Ali radhiyallahu ‘anhu lebih utama dalam kepemimpinan dan kekhalifahan.

Mereka tidak hanya berhenti sampai sini, bahkan mereka meyakini kekafiran para sahabat tersebut. Mereka meyakini para sahabat tersebut telah murtad. Mereka menyesuaikan hal tersebut dengan hadits yang di dalamnya menyebutkan:

إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Artinya: “Sungguh, kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan setelahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini dimaksudkan bagi orang-orang yang diusir dari telaga Nabi. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَصْحَابِي أَصْحَابِي فَيُقَالُ لَهُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Artinya: “Sahabatku, sahabatku.” Lalu dikatakan kepada beliau, “Sungguh, engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sepeniggalmu.” (HR. Bukhari, 6576; Muslim, 2297 dari Abdullah bin Mas’ud)

Tidak diragukan bahwa orang-orang yang diusir dari telaga Nabi adalah orang-orang yang tidak berpegang dan mengamalkan As-Sunnah, mengadakan perkara baru dalam agama, dan hal lain yang menyimpang dari syariat. Adapun para sahabat Nabi yang tetap melangkah di atas As-Sunnah, memegang teguh, memperjuangkan, dan membela agama ini. Maka tidak diragukan lagi bahwa mereka di atas kebenaran. Mereka akan mendatangi telaga tersebut dan meminum darinya serta tidak akan pernah diusir dari telaga tersebut. Akan tetapi, Rafidhah -semoga Allah menghancurkan mereka- menafsirkan hadits-hadits tersebut dengan hawa nafsu, cara, dan keyakinan mereka untuk memberikan pemahaman yang rancu kepada manusia. Juga menjelaskan kepada manusia bahwa mereka berada di atas kebenaran. Padahal pada hakikatnya, mereka sangat jauh dari kebenaran tersebut. Sebagaimana jauhnya langit dan bumi.

Lalu mereka mengumpulkan atau merekayasa kedustaan-kedustaan atas mereka. Sehingga Ahlus sunnah merasa perlu membantah kedustaan-kedustaan tersebut. Kemudian Ahlussunnah mendatangkan hadits-hadits tentang keutamaan para sahabat dan menjelaskan bahwa urutan para sahabat dalam kekhilafahan sesuai dengan yang telah berjalan. Sahabat yang paling berhak menjabat sebagai khalifah adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang kemudian diberi gelar dengan Khalifah Rasulullah. Mereka bersepakat atas hal tersebut tanpa perselisihan apa pun. Seluruh sahabat telah membaiatnya karena Rasulullah telah meridhainya menjadi pengganti beliau dalam shalat semasa hidup beliau, ketika sakit. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

Artinya: “Suruhlah Abu Bakar untuk (menjadi imam) shalat berjama’ah.”[i] (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Suruhlah Abu Bakar” berulang kali, sehingga sebagian istri beliau Shallallahu Alaihi Wasallam berkata, “Seandainya engkau menyuruh Umar,” ucap Aisyah radhiyallahu ‘anhaa dan Hafshah radhiyallahu ‘anhaa pula. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun bersabda,

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ، فَإِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ

Artinya:

“Perintahkan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam berjamaah. Sungguh, sikap kalian ini seperti sikap para wanita pada masa Nabi Yusuf.” Lalu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengimami para sahabat pada waktu itu , ketika Nabi sakit dan itu terus berlanjut. (HR. Muslim)

Tatkala Nabi wafat, para sahabat bersepakat untuk membaiat Abu Bakar sebagai imam dan khalifah yang memimpin mereka. Mereka berkata, “Kami ridha untuk memimpin urusan dunia kami kepada orang yang Rasulullah ridha terhadap agama kami”. Maksudnya, ketika Abu Bakar dijadikan pengganti untuk imam shalat maka ia lebih berhak untuk menjadi khalifah dalam seluruh kekuasaan. Sehingga mereka bersepakat atasnya dan tidak berselisih.

Adapun hadits mengenai keutamaan Abu Bakar sangat banyak. Paling banyak disebutkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya, Fadhail Shahabah. Begitu pula hadits mengenai keutamaan Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhu. Ahlussunnah ridha kepada seluruh sahabat dan meyakini bahwa mereka yang paling utama dalam umat ini. Di mana umat ini adalah sebaik-baik umat. Adapun sebaik-baik generasinya adalah generasi di mana Rasulullah diutus di dalamnya. Sebaik-baik mereka adalah generasi para sahabat. Sebaik-baik para sahabat adalah keempat khalifah dan yang paling utama adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sehingga ia menjadi umat terbaik setelah Nabinya. Seperti itulah para pemimpin salaf dan Ahlussunnah bersepakat. Mengenai hal tersebut terdapat sebuah hadits dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Kami menyebutkan keutamaan para sahabat secara berurutan, sedang Rasulullah masih hidup: Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman. Hal tersebut sampai kepada Nabi dan beliau tidak mengingkarinya”.

Rasulullah tidak mengingkari urutan tersebut, yaitu urutan dalam hal keutamaan. Juga telah diriwayatkan secara mutawatir dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkhutbah dan mengatakan, “Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar lalu Umar.” Ucapan tersebut terkenal dari beliau dengan riwayat yang berbeda-beda. Akan tetapi, Rafidhah adalah kaum licik. Mereka tidak akan menerima ucapan Ali jika itu menyelisihi keyakinan mereka. Padahal mereka meyakini Ali dalam hal kekuasaan dan kejujurannya. Akan tetapi, ketika perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu menyelisihi keyakinan mereka, mereka menolak dalil yang jelas tersebut.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memberikan wasiat sebelum akhir hayatnya. Ia juga menyerahkan kekhilafahannya kepada Umar sebelum kematiannya. Para sahabat menerima hal tersebut dan membaiatnya. Sehingga mereka bersepakat dengan pembaiatan Umar dan kedudukannya sebagai khalifah kedua. Umar adalah orang pertama yang digelari “Amirul Mukminin”. Ia tetap menjabat sebagai khalifah selama sepuluh tahun sampai dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah. Kaum muslim ditimpa musibah dengan terbunuhnya Umar. Seakan-akan mereka belum pernah ditimpa musibah yang semisalnya setelah kewafatan Nabi. Selama jangka waktu tersebut, Umar melanjutkan kekhalifahan dan menjadi orang yang ahli dalam mengelola kekuasaan, sosok yang adil di antara umat, dan berjalan di antara mereka dengan mengukir peri kehidupan terbaik.

Setelahnya, pembaiatan Utsman radhiyallahu ‘anhu. Ia khalifah setelah Umar radhiyallahu ‘anhu. Iatetap menjadi khalifah sampai dibunuh oleh pemberontak. Ketika ia terbunuh, tidak ada yang lebih utama selain Ali radhiyallahu ‘anhu. Sehingga pembaiatan sempurna padanya, kecuali penduduk Syam. Mereka bertawaquf dalam baiat sampai urusan pembunuhan Utsman selesai. Mereka memisahkan diri. Lalu terjadilah peperangan antara penduduk  Syam dan Irak. Kekhalifahan Ali mencakup Irak, Hijaz, Yaman, dan Khurasan. Adapun penduduk Syam dan Mesir tidak bergabung dengannya dan masuk dalam kekuasaan Muawiyah sampai terbunuhnya Ali. Ketika Ali terbunuh, kekhalifahan dipegang oleh putranya, Hasan radhiyallahu ‘anhu, selama setengah tahun. Lalu ia turun dari tampuk kekhalifahan dan menyerahkannya kepada Muawiyah radhiyallahu ‘anhu.

Intinya, para sahabat adalah sebaik-baik generasi umat ini. Mereka lebih utama untuk dimuliakan dan diridhai karena mereka termasuk generasi awal yang masuk islam, di mana kemuliaan dan keutamaan yang tidak dapat digapai oleh selain mereka. Dalam sebuah riwayat yang sanadnya kuat disebutkan: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

Artinya:

“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian berinfak dengan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud atau bahkan setengah mudnya salah seorang dari mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika yang berinfak dengan emas sebesar Gunung Uhud, dalam hitungan banyak dan kadar harta yang seperti ini tidak dapat menyamai infak mereka yang satu mud, yaitu setengah sha’ atau setengah mud. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa infak dan amalan mereka tidak dapat digapai oleh orang-orang setelah mereka. Tidak diragukan lagi, setiap orang yang melihat Nabi, beriman kepadanya, dan tetap dalam keimanannya sampai kematiannya maka ia telah mendapatkan keutamaan sahabat. Keutamaan bersahabat dengan Nabi, bersaksi dengan risalah yang beliau bawa, membaiatnya, atau melihatnya maka ia termasuk sahabat Nabi serta baginya keistimewaan dan keutamaan ini. Hal itu tidak dapat diraih oleh orang setelah mereka.

Setelahnya adalah generasi tabi’in. Kita mengimani bahwa sebaik-baik umat setelah Nabi adalah generasi awal yaitu para sahabat. Setelah para sahabat adalah murid dan putra yang belajar dari mereka serta orang-orang yang masuk Islam melalui mereka. Setelah tabi’in adalah tabi’ut tabi’in. Dalilnya, sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku. Lalu generasi setelahnya. Kemudian generasi setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi menyebutkan setelah generasi beliau dengan dua atau tiga generasi. Lalu beliau diam tidak berkomentar mengenai generasi lainnya. Hal tersebut menjadi dalil bahwa ketiga generasi tersebut adalah sebaik-baik generasi umat ini. Oleh karena itu, kebenaran dan As-Sunnah pada masa itu sangat tegak, Ahlusunnah menang, sedang pelaku bid’ah dihinakan.  Para pelaku bid’ah belum memiliki kekuasaan kecuali pada generasi keempat dan setelahnya. Mereka bisa leluasa dan banyak orang yang mengingkari Ahlusunnah, Mu’tazilah, Jahmiah beserta pengikutnya, Qadariah, Jabariah, seluruh pelaku bid’ah dan Syiah, serta selainnya juga mulai berkuasa. Mereka berkuasa pada masa tersebut dan memiliki kekuasaan di Irak, seperti Daulah Bani Buwaih di Syam seperti Daulah yang menamakan diri mereka dengan Fathimiyyûn. Mereka adalah Bani Ubaid. Mereka senantiasa dalam keadaan seperti itu sampai Allah membebaskan kaum Muslim dari kekuasaan mereka. Akan tetapi, peninggalan mereka masih ada di negara tersebut sampai sekarang. Allah selalu menjaga golongan Ahlusunnah untuk membantah dan menjelaskan kebatilan mereka. Sehingga kaum Muslim meyakini keutamaan para sahabat dan mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini, sedang umat ini adalah sebaik-baik generasi.

Adapun kebohongan Rafidhah terhadap para sahabat, seperti pernyataan mereka bahwa para sahabat melakukan begini dan begitu, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu melakukan begini, Umar radhiyallahu ‘anhu melakukan begitu. Mereka menuduh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu misalnya bahwa ia mengangkat Khalid dan menemaninya. Lalu mereka menuduh Khalid radhiyallahu ‘anhu telah membunuh Malik bin Nuwairah, sedang ia menikahi istri Malik pada malam terbunuhnya sang suami tanpa masa iddah. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mengakuinya dan berkata, “Para wanita telah putus asa untuk melahirkan putra seperti Khalid”. Mereka mengatakan ini sebagai tuduhan kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Padahal hal tersebut jelas-jelas sebuah kedustaan.

Referensi:

Syarh Ushulus Sunnah, Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Diringkas oleh: Erni Mariska (Pengabdian Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits)


[i] HR. Bukhari, 664, kitab: “Adzan”, bab: “Haddul Maridh an Yasyhadal Jama’ah” dari hadits Aisyah.

Baca juga artikel:

Kedudukan Syahadat Dalam Islam

Hadiah Menumbuhkan Rasa Cinta

Bagikan:

Artikel Terkait

Penawar Racun Maksiat
Tarbiyah 28/09/2026

PENAWAR RACUN MAKSIAT

BERTAUBAT SEBELUM TERLAMBAT (Part 23) PENAWAR RACUN MAKSIAT Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulilah, wa ba’da. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Ta’ala Rabb semesta alam, Dzat yang Maha Esa tidak ada sekutu baginya, Dzat yang memilki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia, Ialah yang telah menciptakan segala sesuatu dan mengistimewakan sebagiannya dari […]

MANFAAT AMAL IBADAH ORANG HIDUP UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL
Tarbiyah 22/09/2026

MANFAAT AMAL IBADAH ORANG HIDUP UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

MANFAAT AMAL IBADAH ORANG HIDUP UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA BAB SATU: Orang Mati Bisa Mendapat Manfaat Dari Amal Ibadah Orang Hidup Bahwa orang yang sudah mati bisa mendapatkan manfaat dari amal ibadah orang yang masih hidup telah ditetapkan di dalam al-Qur’an, hadits yang shahih, dan ijma para ulama. A. Dalil dari al-Qur’an, as-Sunnah, […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
337 Tahun 2026 (29 Juli 2026 )

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map