Skip to content

Sepuluh Karakter Pendidik Sukses

ykkokut
13 menit baca
sepuluh karakter pendidik sukses

Sepuluh Karakter Pendidik Sukses – Sesungguhnya segala pujian hanyalah milik Allah Ta’ala semata. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari keburukan diri-diri kami dan kejelekan amal-amal perbuatan kami. Barang-siapa diberi hidayah oleh Allah niscaya tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah niscaya tiada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa tiada llaah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du…

Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya milik para rasul. Namun kerahkan segenap kemampuan untuk meraih dan memiliki sifat-sifat itu. Sebab, kita juga menjadi fokus teladan pendidikan bagi generasi baru. Paling tidak sebagai fokus teladan bagi anak-anak kita. Mereka akan senantiasa menyorot kita selaku seorang pendidik dan pembimbing. Kitalah contoh nyata yang mereka saksikan dalam kehidupan. Inilah sepuluh karakter yang harus anda miliki.

  1. Ikhlas

Rawat dan didiklah anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala. Canangkan niat semata-mata untuk Allah dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman.

Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan termasuk pondasi tidak iman dan merupakan keharusan dalam Islam. Allah akan menerima suatu amal perbuatan tanpa keikhlasan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الَّذِينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَوَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: “Dan mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)


Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan.”  (Muttafaqun ‘Alaihi)

Ya benar, kita akan memperoleh hasil kerja kita menurut kadar niat yang terpatri dalam hati kita. Semakin tinggi tingkat ketulusan dan keikhlasan, semakin besar pula balasannya di akhirat dan semakin tinggi pula martabat kita di sisi Allah. Niat yang ikhlas, selain mendatang keridhaan dan pahala Allah, juga akan meneguhkan hati kita di saat ujian datang. Dan hati kita akan tetap lapang, bagaimanapun hasil yang kita raih setelah usaha dan doa.

  • Bertakwa

Inilah sifat terpenting yang harus dimiliki seorang pendidik. Yaitu takwa yang didefinisikan oleh para ulama:

أَنْ لَا يَرَاكَ اللَّهُ حَيْثُ نَهَاكَ وَلَا يَفْقَدُكَ حَيْثُ أَمَرَكَ

Artinya: “Menjaga agar Allah tidak mendapatimu pada perkara yang Dia larang, dan jangan sampai Allah tidak mendapatimu pada perkara yang Dia perintahkan.”

Yakni mengerjakan segala yang Dia perintahkan dan menjauhi segala yang Dia larang.

Atau sebagaimana yang dikatakan ulama lain:

اتَّقَاءُ عَذَابِ اللَّهِ بِصَالِحِ العَمَلِ وَالْخَشْيَةُ مِنْهُ فِي السِّرِّ وَ العَلَنِ

Artinya: “Menjaga diri dari adzab Allah dengan mengerjakan amal shalih dan merasa takut kepada-Nya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.”

Yakni menjaga diri dari adzab Allah dengan senantiasa merasa di bawah pengawasan-Nya. Dan senantiasa menapaki jalan yang telah Dia gariskan baik saat sendiri maupun di hadapan manusia. Hiasi diri dengan ketakwaan. Sebab, pendidik adalah contoh dan panutan sekaligus penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak berdasarkan iman dan Islam. Jika pendidik tidak menghisai diri dengan takwa, baik dalam perilaku, ucapan dan pergaulan maka ini menjadi mala petaka besar bagi si pendidik dan anak didiknya dan menjadi musibah dalam dunia pendidikan. Kata pepatah mengatakan, ‘guru kencing berdiri murid kencing berlari’.

Hiasi diri dengan ketakwaan!

Ingatlah janji Allah bahwa Dia akan memudahkan urusan orang yang bertakwa, akan memberi jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tak ia sangka-sangka.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّه مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

Artinya: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizkı dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

ومَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Artinya: “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Anak yang shalih adalah rizki. Mudah-mudahan karena ketakwaanmu, Allah Ta’ala berkenan memberikan jalan keluar bagi setiap urusanmu dan memberikan rizki yang baik kepadamu.

3. Berilmu

Sebuah keharusan, bahwa pendidik harus berbekal ilmu yang memadai. la harus memiliki pengetahuan tentang konsep-konsep dasar pendidikan dalam Islam. Mengetahui halal haram, prinsip-prinsip etika Islam serta memahami secara global peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah syari’at Islam.

Mengapa?
Kerena dengan mengetahui semuai itu, pendidik akan menjadi seorang alim yang bijak, meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, mampu bersikap proporsional dalam memberi materi pendidikan, mendidik anak dengan pokok-pokok persyaratannya. Mendidik dan memperbaiki dengan berpijak pada dasar-dasar yang kokoh. Mendidik dan mengarahkan anak didik dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Memberikan contoh yang baik kepada mereka dengan keteladanan yang agung dari Nabi dan para sahabat beliau.

Sebaliknya, jika pendidik tidak mengetahui semua itu, lebih-lebih tentang konsep-konsep dasar pendidikan anak, maka si anak akan dilanda kemelut spiritual, moral, mental dan sosial. Anak akan menjadi manusia yang tidak berharga dan diragukan eksistensinya dalam semua aspek kehidupan.

Sebab, orang yang tidak mempunyai sesuatu, bagaimana dia akan memberikan sesuatu kepada orang lain?

Bagaimana mungkin lampu tak berminyak dapat menerangi sekitarnya? Betapa banyak orang tua yang berbuat aniaya terhadap anak-anaknya disebabkan mereka tak paham pokok-pokok pendidikan?

Betapa banyak anak yang terjerumus dalam kesengsaraan karena pendidik tidak mengetahui ilmu syari’at?

Tidak diragukan, bahwa tanggung jawabnya sangat besar di hadapan Allah Ta’ala. Pada hari ketika harta benda dan anak-anak tidak dapat menolong.

وَقِفُوْهُمْ اِنَّهُمْ مَّسْـُٔوْلُوْنَ ۙ

Artinya: “Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena Sesung-guhnya mereka akan ditanya.” (QS. Ash-Shaffaat: 24)

Maka seorang pendidik harus membekali diri dengan segala ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan metode-metode pendidikan yang sesuai, untuk mendidik generasi muslim.

4. Bertangung Jawab

Milikilah rasa tanggung jawab yang besar dalam pendidikan anak, baik aspek keimanan maupun tingkah laku kesehariannya. Dalam pembentukan anak, baik aspek jasmani mau pun rohaninya. Dan dalam mempersiapkan anak, baik aspek mental maupun sosialnya. Rasa tanggung jawab ini akan senantiasa mendorong upaya menyeluruh dalam mengawasi anak dan memperhatikannya, mengarahkan dan mengikutinya, membiasakan dan melatihnya.

Sebaliknya jika rasa tanggung jawab ini pudar, lalu orang tua melalaikan dan mengabaikan tugas pengawasannya, maka secara bertahap anak bisa terjerumus dalam kerusakan. Dan jika kelalaian ini berlangsung terus-menerus maka akan menjadi ancaman yang sangat membahayakan. Anak akan semakin parah kerusakannya, dan teramat sulit untuk memperbaikinya. Orang tua akan menyesal, tapi sesal kemudian tiada berguna.

5. Sabar dan Tabah

Dua sifat ini mutlak dibutuhkan oleh setiap pendidik. Sebab dalam proses pendidikan tentu sangat banyak tantangan dan ujian. Baik tantangan yang berasal dari diri kita sendiri, anak didik, maupun tantangan dari luar lingkungan. Kita harus bisa melaksanakan sebaik-baiknya kewajiban mendidik anak di antara tugas dan tanggung jawab kita yang lainnya. Kita akan dihadapkan kepada berbagai macam karakter anak. Ulah dan tingkah mereka yang sangat menuntut kesabaran dalam menghadapinya. Ditambah lagi dengan faktor luar, baik lingkungan sekitar, kawan bergaul, berbagai macam media dan lain sebagainya. Menghadapi semua tantangan dan ujian ini, kita tidak boleh menanggalkan sifat ketabahan dan kesabaran meski hanya sekejap. Jika tidak niscaya ancaman kegagalan terpampang di depan mata.

6. Lemah Lembut dan Tidak Kasar

Inilah salah satu sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manusia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan. Terlebih lagi jiwa anak yang masih polos dan lugu. Setiap anak sangat merindukan sosok pendidik yang ramah dan lemah lembut. Sebaliknya, jiwa si anak akan phobia dengan karakter pendidik yang kasar dan kejam. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah sosok pendidik yang penuh kelembutan. Sifat lemah lembut dalam mendidik anak akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya, sikap kasar akan membawa keburukan. Di samping itu, sikap kasar dapat meninggalkan trauma dan memori buruk dalam jiwa dan ingatan si anak.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan menyukai kelemah lembutan dalam segala urusan.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda:

إنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut dan menyukai kelemah lembutan. Dia akan memberikan kepada orang yang ramah sesuatu yang tidak Dia berikan kepada orang yang kasar dan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada selainnya.” (HR. Muslim: no 6766)

Dalam hadits yang lain beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شانه

Artinya: “Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidaklah ada pada sesuatu kecuali ia akan menghiasinya. Dan tidaklah sifat lemah lembut itu tercabut dari sesuatu kecuali akan menjadikannya buruk.” (HR. Muslim: no 6767)

Karena itulah, jika sifat lemah lembut ini tidak kita miliki niscaya akan terluput banyak kebaikan. Sifat lemah lembut ini akan membuat anak menjadi nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran. Dan secara tidak langsung sifat lemah lembut ini akan mewarnai karakter anak dan insya Allah sifat ini dengan sendirinya akan menurun kepadanya. Jika demikian halnya tentu orang pertama yang akan merasakan kebaikannya adalah kedua orang tuanya.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah teladan dalam hal ini. Abu Hurairah Radhiallaahu ‘Anhu menceritakan, “Kami mengerjakan shalat bersama Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam Beliau mengerjakan shalat, dan ketika beliau sujud, tiba-tiba Al-Hasan dan Al-Husein melompat ke atas punggung beliau. Ketika beliau mengangkat kepala, maka beliau mengambil keduanya dan beliau letakkan dengan perlahan. Ketika beliau kembali sujud, maka keduanya kembali menaiki punggung Nabi. Ketika beliau bangkit, maka beliau meletakkan yang satu di sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kiri. Aku berkata kepada Rasulullah, “Apakah tidak sebaiknya saya bawa keduanya ke tempat ibu mereka?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kemudian ibunya datang dan Nabi berkata, “Sekarang ikutlah ibu kalian.” Lalu keduanya berjalan mengikutinya masuk ke dalam rumah.”

7. Penyayang

Kita sering tak sadar, bahwa anak-anak yang masih bersih dan polos itu lebih bisa membaca perasaan orang yang berinteraksi dengannya. Seorang anak lebih obyektif dalam memberikan penilaian. Mereka dapat merasakan mana orang yang menyayanginya dan mana yang tidak memiliki perasaan sayang kepadanya. Perasaan sayang ini yang akan menjadi penghangat suasana dan menjadikan proses pengajaran menjadi nyaman dan menyenangkan. Salah satu kunci kesuksesan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam mendidik para sahabatnya adalah sifat beliau yang ramah lagi penyayang. Sikap yang memberikan kesan mendalam bagi orang lain. Abu Sulaiman Malik bin Huwairits Radhiallaahu ‘Anhu menceritakan: “Kami pernah datang menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersama rombongan. Ketika itu kami adalah para pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama dua puluh hari. Rasulullah adalah seorang yang penyayang lagi ramah. Akhirnya beliau mengerti bahwa kami telah merindukan keluarga kami. Lalu beliau menanyakan kepada kami tentang siapa saja dari keluarga. kami yang tinggal di rumah dan kamipun memberitahukan kepada keluargamu masing-masing dan tinggallah bersama kepada beliau. Setelah itu beliau berkata, “Sekarang kembalilah kepada keluarga mu masing-masing dan tinggalah sama mereka. Ajarilah mereka dan berbuat baiklah kepada mereka. Laksanakanlah shalat begini di waktu begini, dan begini di salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hen waktu begini. Jika telah masuk waktu shalat, maka hendaklah yang mengimami adalah yang paling tua usianya di antara kalian.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Anas meriwayatkan, “Seorang wanita mendatangi Aisyah Radhiallahu ‘Anha lalu ‘Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu memberi tiap-tiap anaknya satu butir kurma dan menyisakan satu butir untuk dirinya. Lalu kedua anak itu memakan kedua kurma tersebut lalu melihat kurma yang ada pada ibunya. Lalu wanita itu membelah dua kurma itu lalu memberi masing-masing setengah kepada kedua anaknya itu. Tak lama kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam datang lalu ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha menceritakan hal itu kepada beliau.

Maka Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

وَمَا يُعْجِبُكَ مِنْ ذَلِكَ ؟ لَقَدْ رَحِمَهَا اللَّهُ بِرَحْمَتِهَا صَبَيْهَا

Artinya: “Apakah kamu takjub melihatnya? Sungguh Allah Ta’ala telah merahmatinya karena kasih sayangnya kepada kedua anaknya.” (HR. Al Bukhori: no 89)

8. Lunak dan fleksibel

Lunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus difahami secara luas dan menyeluruh. Maksudnya di sini lebih mengarah kepada sikap mempermudah urusan dan tidak mempersulitnya. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:“Permudahlah, jangan membuat sulit dan berikanlah berita gembira, janganlah kalian membuat orang lain lari.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Demikian juga, hendaknya seorang pendidik memilih kemudahan yang dibolehkan oleh syari’at. Misalnya jika dihadapkan pada dua pilihan, maka pendidik yang bijak akan memilih yang paling ringan dan mudah selama hal itu bukan perkara haram. Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. ‘Aisyah berkata, “Tidaklah Rasulullah dihadapkan pada dua pilihan, kecuali beliau memilih yang paling ringan (mudah) selama bukan merupakan dosa’’.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يُحْرَمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تُحْرَمُ عَلَيْهِ النَّارُ ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيْنِ سَهْلِ

Artinya: “Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang haram bagi neraka atau neraka haram baginya? Neraka itu haram atas setiap orang yang mudah dekat dengan orang lain, lunak (fleksibel) dan mudah (bergaul).” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Hibban: no 938)

Termasuk dalam hal ini sikap tidak berlebih-lebihan.

Sikap berlebih-lebihan merupakan sifat tercela dalam segala hal. Demikian juga sikap terlalu menggampangkan. Termasuk juga dalam dunia pendidikan. Seorang pendidik harus bisa bersikap seimbang, proporsional dan pertengahan.

Sebab, dalam masalah pokok agama saja Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam menyukai sifat pertengahan dan tidak berlebih-lebihan. Abu Mas’ud ‘Uqbah bin Umar al-Badri Radhiallaahu ‘Anhu berkata, “Sesungguhnya aku biasa melambatkan hadir dalam shalat Subuh berjama’ah karena si Fulan yang suka memanjangkan shalatnya ketika mengimami kami.” Akhirnya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam marah, dan aku belum pernah melihat beliau marah ketika memberikan nasehat melebihi kemarahan beliau saat itu. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُتَفَرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُوحِرْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَة

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada yang membuat orang lain lari (meninggalkan shalat jama’ah). Maka siapa saja di antara kalian yang menjadi imam shalat hendaklah ia meringankannya, karena di antara makmum ada orang yang sudah tua, orang lemah dan orang yang sedang punya keperluan.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Jika Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang sikap berlebihan seperti itu dalam masalah pokok agama, lalu bagaimana pula dalam masalah pendidikan.

9. Tidak Mudah Marah

Sifat mudah marah merupakan bagian dari sifat negatif dalam pendidikan. Jika seorang pendidik mampu mengendalikan diri dan menahan amarahnya, maka hal itu akan membawa keberuntungan bagi dirinya dan juga anak-anaknya. Karena, sebagian besar kemarahan itu datangnya dari setan. Perasaan anak sangatlah peka, mereka dapat membedakan manakah nasehat yang didorong oleh kemarahan dan manakah nasehat yang didorong oleh rasa kasih sayang. Dan tentu pengaruhnya bagi hati juga akan berbeda. Dampak buruk yang lain dari sifat mudah marah ini adalah anak akan merasa aman ketika bersalah, menunggu sampai orang tuanya benar-benar marah. Dan anak yang terbiasa dididik dengan kekerasan dan kemarahan akan kebal dengan nasehat dan gamang dengan kelemah lembutan. Karena itu ketika ada seseorang meminta nasehat kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda: “Jangan marah!” Orang itu mengulangnya beberapa kali, namun beliau tetap mengatakan, “Jangan marah!”

10. Dekat namun Berwibawa

Pendidik yang sukses adalah pendidik yang benar-benar dekat di hati anak. Anak selalu merindukannya. Mereka merasa gembira dan bahagia bersamanya. Ya, pendidik yang mengasihi dan dikasihi. Anak bukan takut padanya, namun mereka sayang, hormat dan segan melanggar perintah dan kata-katanya.

Kita bisa melihat bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam selalu dekat adan akrab dengan anak-anak. Bukan hanya terhadap Al-Hasan dan Al-Husein, cucu beliau, tetapi juga anak-anak yang lainnya. Namun kedekatan beliau itu tidak membuat anak berani berbuat semaunya, tanpa bisa diatur. Sebaliknya, setiap nasehat dan petuah beliau menghunjam begitu dalam di hati mereka. Beliau adalah pendidik yang akrab lagi penuh wibawa.

Referensi:

Diringkas Oleh: Hendriyati (Pengajar di Rumah Tahfidzh Umar Bin Al Khaththab Prabumulih)

Mencetak Generasi Rabbani (Mendidk Buah Hati Menggapai Ridha Ilahi). Penerbit Darul Ilmi Publishing. Cetakan Keempat Rajab 1443 H / Mei 2013 M. Penulis Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary. Edit Naskah Tim Editing Darul Ilmi. Desain Sampul, Tata Letak&Iilustrasi: Edit Naskah Tim Editing Darul Ilmi.

BACA JUGA :

Bagikan:

Artikel Terkait

Jagalah Amal Penghapus Dosa
Tarbiyah 08/09/2026

JAGALAH AMALAN PENGHAPUS DOSA

JAGALAH AMALAN PENGHAPUS DOSA Cukup banyak sunnah Nabi yang menjelaskan tentang amalan-amalan yang dapat menghapus keburukan dan dosa-dosa, antara lain: 1. Berwudhu. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ المُسْلِمُ أَوْ المُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْه خطيئة نظر إليها بعينيه مع الماء أو مع آخر قطر الماء فينا غسل […]

Sunnah Yanag Terlupakan Amalan Kecil Berpahala Besar
Adab 02/09/2026

Sunnah yang Terlupakan: Amalan Kecil Berpahala Besar

Sunnah yang Terlupakan: Amalan Kecil Berpahala Besar Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama ini dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat. Dalam kehidupan seorang Muslim, Sunnah Rasulullah merupakan pedoman utama setelah Al-Qur’an. Namun, seiring […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map