Ilmumu Sudahkah Diamalkan?
Ilmumu Sudahkah Diamalkan? – Segala puji hanya milik Allah rabb alam semesta, barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada utusan-Nya nabi kita Muhammad, shalawat juga untuk para keluarga dan para sahabat beliau.
Ilmu merupakan cahaya yang menerangi jalan kehidupan manusia. Dalam Islam, kedudukan ilmu sangatlah tinggi, bahkan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca dan belajar. Namun, Islam tidak hanya menekankan pentingnya memiliki ilmu, melainkan juga mengamalkannya. Ilmu yang tidak diamalkan justru dapat menjadi hujjah yang memberatkan seseorang di hadapan Allah.
Fenomena yang sering terjadi di tengah umat adalah banyaknya ilmu yang telah dipelajari baik melalui majelis taklim, kajian, pendidikan formal, maupun media digital namun belum tercermin secara nyata dalam perilaku dan akhlak. Oleh karena itu, artikel ini mengajak kita untuk merenungkan satu pertanyaan mendasar: “Ilmumu sudahkah diamalkan?“
Kedudukan Ilmu dalam Islam
Islam sangat memuliakan ilmu dan orang-orang yang berilmu. Allah mengangkat derajat mereka yang berilmu karena ilmu adalah sarana untuk mengenal Allah dan menjalankan syariat-Nya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [1]
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu adalah kemuliaan, namun kemuliaan tersebut terkait erat dengan amal, sebagaimana penutup ayat menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang dikerjakan manusia.
Ilmu Tanpa Amal: Peringatan Keras dari Al-Qur’an
Islam memberikan peringatan keras terhadap orang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ. كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [2]
Ayat ini mencela sikap inkonsistensi antara ilmu, ucapan, dan perbuatan. Ilmu yang tidak diwujudkan dalam amal dapat mendatangkan kemurkaan Allah.
Perumpamaan Orang Berilmu Tapi Tidak Mengamalkan
Al-Qur’an memberikan perumpamaan yang sangat keras bagi orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal.” [3]
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu tanpa amal tidak memberi nilai, bahkan menjatuhkan martabat manusia.
Peringatan Rasulullah tentang Ilmu yang Tidak Diamalkan
Rasulullah juga mengingatkan bahaya ilmu yang tidak membawa kepada amal.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ
Artinya: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang ilmunya: apa yang telah ia amalkan darinya.” [4]
Hadits ini menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Doa Nabi agar Terhindar dari Ilmu yang Tidak Bermanfaat
Rasulullah mengajarkan umatnya untuk berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, yakni ilmu yang tidak mendorong amal.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” [5]
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah dan melahirkan amal shalih.
Pendapat Ulama Salaf tentang Ilmu dan Amal
Para ulama salaf (generasi awal umat Islam) sangat menekankan bahwa ilmu tidak bernilai tanpa pengamalan. Mereka tidak memandang ilmu sebagai hiasan lisan atau kebanggaan intelektual, melainkan sebagai amanah yang harus diwujudkan dalam perbuatan nyata. Berikut beberapa pendapat ulama salaf yang masyhur terkait ilmu dan amal.
Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه :
لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، وَلَكِنَّ الْعِلْمَ الْخَشْيَةُ
Artinya: “Ilmu itu bukan karena banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah rasa takut (kepada Allah).” [6]
Makna khasy-yah dalam perkataan ini menunjukkan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang melahirkan ketaatan dan amal shalih.
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه :
هَتَفَ الْعِلْمُ بِالْعَمَلِ، فَإِنْ أَجَابَهُ وَإِلَّا ارْتَحَلَ
Artinya: “Ilmu memanggil amal. Jika amal menyambutnya, maka ilmu akan menetap; jika tidak, ilmu akan pergi.” [7]
Ucapan ini menjadi kaidah penting bahwa keberlangsungan ilmu di dalam hati sangat bergantung pada pengamalannya.
Hasan Al-Bashri رحمه الله :
كَانَ الْعَالِمُ لَا يُعَدُّ عَالِمًا حَتَّى يَكُونَ بِعِلْمِهِ عَامِلًا
Artinya: “Seseorang tidak dianggap sebagai orang alim hingga ia mengamalkan ilmunya.” [8]
Menurut Hasan Al-Bashri, amal adalah tolok ukur keulamaan seseorang, bukan banyaknya hafalan atau luasnya wawasan.
Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله :
إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَنَا الرُّخْصَةُ مِنْ ثِقَةٍ، فَأَمَّا التَّشْدِيدُ فَيُحْسِنُهُ كُلُّ أَحَدٍ
Artinya: Ilmu menurut kami adalah (kemampuan) mengambil kemudahan dari orang yang terpercaya. Adapun sikap keras, semua orang bisa melakukannya.” [9]
Pernyataan ini menunjukkan bahwa ilmu harus membuahkan hikmah dalam pengamalan, bukan sekadar sikap kaku tanpa pemahaman.
Imam Malik bin Anas رحمه الله :
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْعَمَلِ أَفْلَحَ، وَمَنْ طَلَبَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَقَدِ احْتَالَ عَلَى نَفْسِهِ
Artinya: “Barang siapa menuntut ilmu untuk diamalkan, maka ia telah beruntung. Dan barang siapa menuntut ilmu bukan untuk itu, maka sungguh ia telah menipu dirinya sendiri.” [10]
Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله :
إِنَّمَا يُرَادُ مِنَ الْعِلْمِ الْعَمَلُ، فَإذَا كَثُرَ الْعِلْمُ وَقَلَّ الْعَمَلُ زَادَتِ الْغَفْلَةُ
Artinya: “Sesungguhnya yang diharapkan dari ilmu adalah amal. Jika ilmu banyak sementara amal sedikit, maka kelalaian akan semakin bertambah.” [11]
Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله :
مَنْ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ ضَرَّهُ جَهْلُهُ
Artinya: “Barang siapa yang ilmunya tidak memberi manfaat, maka kebodohannya akan membahayakannya.” [12]
Ilmu yang tidak diamalkan bukan hanya sia-sia, tetapi dapat menjadi sebab kebinasaan.
Penegasan Ulama Salaf
Dari berbagai perkataan ulama salaf di atas, dapat disimpulkan bahwa:
- Ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak terpisahkan
- Amal merupakan bukti kejujuran ilmu
- Ilmu tanpa amal dapat menjadi sebab kesesatan
- Tujuan utama menuntut ilmu adalah mengamalkannya
Ilmu dalam Islam bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju amal shalih dan keridhaan Allah ﷻ. Setiap ilmu yang kita pelajari akan dimintai pertanggungjawaban. Maka, sebelum menambah ilmu baru, sudahkah kita mengamalkan ilmu yang telah kita miliki?
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan ilmu kita sebagai ilmu yang bermanfaat, yang menumbuhkan amal shalih dan akhlak mulia.
SUMBER RUJUKAN / REFERENSI:
- Al Qur’an
- Shahih Muslim
- Sunan At-Tirmidzi
- Al-Mushannaf Ibn Abi Syaibah
- Jami‘ Bayan al-‘Ilm wa Fadlih, dll
[1] QS. Al-Mujādilah: 11
[2] QS. Ash-Shaff: 2–3
[3] QS. Al-Jumu‘ah: 5
[4] Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 2417, hasan shahih
[5] Hadits riwayat Muslim no. 2722
[6] Hadits riwayat Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf
[7] Jami‘ Bayan al-‘Ilm wa Fadlih – Ibn ‘Abdil Barr
[8] Az-Zuhd – Imam Ahmad
[9] Jami‘ Bayan al-‘Ilm wa Fadlih
[10] Al-Jami‘ li Akhlaq ar-Rawi – Al-Khatib Al-Baghdadi
[11] Hilyatul Auliya’ – Abu Nu‘aim
[12] Diwan Imam Asy-Syafi‘i
BACA JUGA :
