Berupayalah Untuk Menjadi kunci kebaikan
Berupayalah Untuk Menjadi kunci kebaikan
Sesungguhnya Rasulullah telah mengklasifikasi manusia menjadi dua kelompok: (1) kelompok yang merupakan kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup kejelekan, dan (2) kelompok yang merupakan kunci-kunci kejelekan dan penu-tup-penutup kebaikan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ مِنَ النَّاسِ نَاساً مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ نَاساً مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيْقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ
Artinya: “Sesungguhnya di antara manusia ada manusia-manusia yang merupakan kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup kejelekan, “dan sesungguhnya di antara manusia ada manusia-manusia yang merupakan kunci-kunci kejelekan dan penutup-penutup kebaikan, maka Sesungguhnya kebahagiaan yang besar bagi siapa yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan di kedua tangannya dan kebinasaan yang sangat bagi siapa yang Allah jadikan kunci-kunci kejelekan di kedua tangannya.” (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya (no. 195))
Setiap muslim yang menginginkan kebaikan tentunya tergerak hatinya ketika membaca hadits di atas agar termasuk kelompok pertama yaitu kunci-kunci (alat-alat pembuka) kebaikan dan penutup-penutup kejelekan yang mendapat jaminan kebahagiaan yang besar dan tidak menjadi kelompok kedua yang mendapat ancaman kebinasaan. Untuk merealisasi hal tersebut, tentunya dibutuhkan upaya nyata yang sungguh-sungguh bukan sekadar angan-angan tanpa ada kenyataan. Insyaallah di dalam bahasan kali ini akan kami bawakan kiat-kiat agar seorang muslim menjadi kunci kebaikan dengan banyak mengambil faedah dari risalah asy-Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq ibn ‘Abdul-Muhsin al-‘Abbad al-Badr yang berjudul Kaifa Takūnu Miftahan Lil-Khair.
ALLAH ADALAH SEBAIK-BAIK PEMBUKA
Al-Fattah (Dzat yang Maha Membuka) adalah sebuah nama dari nama-nama Allah. Nama ini datang dalam al-Quran di dua tempat:
Pertama: Di dalam firman Allah Ta’ālá tentang do’a Nabi Syu’aib ‘alaihish shalātu was salām:
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنت خَيْرُ الْفَاتحِينَ
Artinya: “Wahai Rabb kami, berilah keputusan antara: kami dan kaum kami dengan haq (adil) dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (QS al-A’raf (7): 89)
Kedua: Di dalam firman Allah Ta’ala :
قل يجمع بيننا ربنا ثم يفتح بيننا بالحق وهو الْفَتَاحُ الْعَلِيم
Artinya: “Katakanlah: “Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberikeputusan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Saba’ (34): 26}
Wajib atas setiap muslim yang beriman kepada Allah dan nama-nama-Nya yang indah-di antaranya al-Fattah agar mendekatkan diri kepada Allah dan beribadah kepada-Nya dengan nama-nama-Nya, mengamalkan firman Allah Subhanahu Wata’alá :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
Artinya: “Hanya milik Allah asmaaul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu “ (QS. Al-A’raaf: 180).
Berdo’a kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang diperintahkan kepada kita meliputi do’a ibadah dan do’a mas’alah.
Meliputi do’a ibadah dengan memahami nama tersebut, mengetahui kandungannya, dan menetapkan sifat yang ditunjukkan oleh nama tersebut.
Nama al-Fattah mengandung sifat al-fath (maha membuka), sifat yang agung ini mengandung makna-makna yang disebutkan oleh para ulama, yaitu Allah membuka (memutuskan) di antara hamba-hamba-Nya dengan syari’at-Nya, Allah membuka (memutuskan) di antara hamba-hamba-Nya dengan balasan-Nya, Allah membuka (memutuskan) di antara hamba-hamba-Nya dengan hukum-hukum taqdir-Nya, Allah Subhanahu Wata’ālá berfirman:
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكُ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ، وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya: “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada ma-nusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Fathir (35): 2)
Maka orang yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan hendaknya bersandar kepada al-Fattah ,bertawassul kepada-Nya, menghinakan diri di hadapan-Nya, dan berharap akan taufiq-Nya.
MENTAUHIDKAN ALLAH DAN MENGIKHLASKAN AGAMA KEPADA-NYA
Tauhid adalah kunci semua kebaikan, ialah kunci Surga karena Surga tidaklah dibuka kecuali dengan tauhid sebagaimana di dalam hadits Mu’adz ibn Jabal bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَفَاتِيْحُ الْجَنَّةِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Artinya: “Kunci Surga adalah syahadat (persaksian) bahwasanya La ilaha Illallah (tiada sembahan yang haq selain Allah).” (HR. Ahmad)
Hadits ini lemah sanadnya. Hanya, maknanya haq. Tidak syak lagi bahwa kunci Surga adalah kalimat لا إله إلا الله sebagaimana telah datang nash-nash yang banyak yang menjelaskan bahwa لا إله إلا الله adalah kunci Surga. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبَلِّغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُوْلُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَّةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيُّهَا شَاءَ
“Tidak ada seorang pun dari kalian yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya kemudian dia mengucapkan أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبد الله ورسوله melainkan akan dibukakan baginya pintu Surga yang delapan, dia masuk dari pintu yang dia kehendaki.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ رُمْرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامُ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
Artinya: “Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb mereka dibawa ke dalam Surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke Surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penja-ga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah Surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” (QS az-Zumar (39): 73)
Dengan apakah dibukakan bagi mereka pintu-pintu Surga? Dibukakan bagi mereka pintu-pintu tersebut dengan sifat mereka yaitu taqwa, sedang-kan taqwa adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid dan larangan terbesar adalah syirik.
Dan hal yang perlu diperhatikan bahwa setiap kunci memiliki gigi-gigi agar bisa membuka, Wahb ibn Munabbih-seorang tabi’in yang masyhur-ditanya oleh seseorang: “Bukankah لا إله إلا الله adalah kunci Surga?” Maka Wahb ibn Munabbih berkata, “Ya. Akan tetapi, tidak ada kunci melainkan memi-liki gigi-gigi. Jika engkau datang membawa kunci yang ada giginya maka akan bisa digunakan untuk membuka dan jika engkau membawa kunci yang tidak ada gigi-giginya maka tidak bisa digunakan untuk membuka.” (Shahih al-Bukhari (1:417), dan gi-gi-gigi kalimat لا إله إلا الله adalah syarat-syaratnya, maka kalimat لا إله إلا الله tidak akan bermanfaat bagi pengucapnya kecuali jika memenuhi syarat-syaratnya. Syarat-syarat tersebut adalah:
: 1) Ilmu yang menghilangkan kejahilan
2) Yaqin yang menghilangkan keragu-raguan,
3) Ikhlash yang menafikan kesyirikan
4) Jujur yang menafikan kedustaan
5) Kecintaan yang menghilangkan kebencian
6) Tunduk yang menafikan meninggalkan
7) Menerima yang menafikan penolakan
8) Mengkufuri segala yang disembah selain Allah
ILMU YANG BERMANFAAT
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang ber-sumber dari kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya .Ilmu adalah asas utama agar seorang hamba menjadi kunci kebaikan. Orang yang tidak me-miliki ilmu yang bermanfaat, bagaimana dia bisa memilah antara kunci-kunci kebaikan dan kunci-kunci kejelekan(?!), bagaimana bisa membedakan antara haq dan batil (?!), bagaimana memilah antara sunnah dan bid’ah (?!), bagaimana membedakan antara petunjuk dan kesesatan (?!), dan bagaimana bisa melindungi diri dari kebatilan dalam keadaan dia tidak memiliki ilmu tentangnya (?!).
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
قُلْ هَذِهِ ، سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
Artinya: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku danorang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah.” (QS Yūsuf (12): 108)
Al-bashirah adalah ilmu yang bermanfaat. Siapa yang tidak memiliki ilmu yang bermanfaat, bagaimana akan bisa memilah antara haq dan batil dan antara petunjuk dan kesesatan?!
Siapa yang menghendaki dirinya menjadi kunci kebaikan, wajib atasnya untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan memperhatikannya dengan perhatian yang saksama.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke Surga baginya.” (Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahili-nya (4867))
Ketika seorang hamba tidak menghiasi diri dengan ilmu, maka terkadang masuk kepada-nya perkara-perkara yang banyak dari kesesatan-kesesatan, bid’ah-bid’ah, dan hawa-hawa nafsu, dalam keadaan dia menganggap dirinya berbuat kebaikan sebagaimana banyak terjadi pada para pelaku bid’ah. Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata:
إِنَّ مُحَمَّدًا عُلْمَ فَوَاتِحَ الْخَيْرِ وَجَوَامِعَهُ وَخَوَاتِمَهُ
Artinya: “Sesungguhnya (Nabi) Muhammad diajari oleh Allah tentang kunci-kunci kebaikan, kata-kata yang menyeluruh untuk kebaikan dan penutup-penutup kebaikan.” (HR. An-Nasa’i (1162))
Jika engkau ingin menjadi kunci kebaikan maka pelajarilah kunci-kunci kebaikan, kata-kata yang menyeluruh untuk kebaikan dan penutup-penut-up kebaikan yang terkandung di dalam perkataan-perkataan imam kebaikan dan teladan kebaikan, (Nabi) Muhammad ibnu ‘Abdillah ‘alaihish shalātu Wassalām.
BERSUNGGUH-SUNGGUH DAN PERHATIAN TERHADAP KEWAJIBAN-KEWAJIBAN ISLAM
Bersungguh-sungguh dan perhatian penuh ter-hadap kewajiban-kewajiban agama serta menjaga-nya akan membukakan bagimu dari pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu kebajikan yang tidak pernah terlintas di dalam benakmu dan tidak per-nah berputar di dalam khayalanmu.
Dari Ummu Salamah Ummul mukminin Radhiyallahu Anha bahwasanya beliau berkata:
اسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنْ الْفِتَنِ وَمَاذَا فُتِحَ مِنْ الْخَزَائِنِ
Artinya: “Pada suatu malam, Nabi terbangun lalu bersabda: ‘Subhanallah (Mahasuci Allah), fitnah-fitnah apakah yang diturunkan pada malam ini? Dan apa yang dibuka dari perbendaharaan-perbendaharaan?'” (HR. Al-Bukhari)
Perhatikan wahai saudaraku: fitnah-fitnah yang turun dan pintu-pintu perbendaraan-perbendaharaan kebaikan, apakah yang dinasihatkan oleh Nabi ‘alaihishshalātu wassalām? Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجَرِ يُرِيدُ بِهِ أَزْوَاجَهُ حَتَّى يُصَلِّينَ
Artinya: “Siapa yang mau membangunkan penghuni kamar-kamar maksudnya istrinya untuk menegakkan shalat?” (Shahih al-Bukhārī (5750))
Jika engkau menginginkan terjaga dari fitnah dan mendapatkan kunci-kunci kebaikan maka ia ada di dalam shalat. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ صَلَّ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَوَّلَ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ
Artinya: ”Hai anak Adam! Shalatlah untuk-Ku empat raka’at di permulaan siang, niscaya Aku mencukupimu pada akhir harinya.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dll).
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: “Empat raka’at ini menurutku adalah shalat Shubuh dan Sunnah Shubuh.” (Lihat Zādul-Ma’ad (1:360))
MENJAUHI DOSA-DOSA DAN KEMAKSIATAN
Di antara perkara-perkara yang menjadikan seorang hamba kunci kebaikan dan penutup kejelekan adalah berjihad melawan hawa nafsu agar menjauhi dosa-dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah Tabaraka wa Ta’alá. Dari an-Nawwas ibn Sam’an Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابُ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورُ مُرْخَاةً وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعِ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصَّرَاطَ جَمِيعًا وَلَا تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ تَعَالَى وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: “Allah memberikan perumpamaan berupa shirath (jalan) mustaqim (yang lurus). Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam Shirath dan janganlah kalian menoleh ke sana kemari.’ Sementara itu, di bagian dalam dari Shirāth juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, ‘Celaka kamu, jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk ke dalamnya.’ Ash-Shirath itu adalah al-Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’alá. Sementara tu, pintu-pintu yang terbuka hal-hal yang diharamkan adalah oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan Shirath itu adalah kitab Allah (al-Qur’an) sedangkan penyeru dari atas Shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.” (HR. Ahmad dan Al-Bazzar)
Seorang muslim wajib menjauhi dan mewaspadai kanan dan kirinya, karena jika dia membuka salah satu dari pintu-pintu tersebut maka dia telah membukakan untuk dirinya sendiri kemudian membukakan untuk orang lain, karena seseorang jika telah terbiasa dengan yang haram maka dia tidak ingin sendirian di dalamnya, dia ingin mengajak orang lain seperti dirinya, jadilah dia sebagai penyeru kepada yang haram, hal ini semakna dengan perkataan Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan, “Seorang perempuan pezina menginginkan agar seluruh wanita juga berzina.” (Lihat al-Istiqamah oleh Ibnu Taimiyah (2:257)!)
BERDO’A KEPADA ALLAH
Do’a adalah kunci semua kebaikan. Banyak para ulama yang mengatakan, “Do’a adalah kunci semua kebaikan, siapa yang ditunjukkan kepada kunci ini maka dia telah ditunjukkan kepada kebaikan, dan siapa yang diharamkan kunci ini maka dia telah diharamkan dai kebaikan.”
Di antara do’a-do’a yang diucapkan oleh Nabi di dalam bab ini adalah do’a yang diucapkan ketika beliau keluar dari rumah:
اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ket-ersesatan atau disesatkan, tergelincir atau di-gelincirkan, menzali”mi atau dizalimi dan membodohi atau dibodohi.” (HR. Ibnu Majah, dll)
Dan juga do’a yang diajarkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada ‘Aisyah Radhiyallahu Anha:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّرِّ كُلِّه
عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنِّيأَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لي خَيْرًا
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang ditangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang ditang-guhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, aku memo-hon kepada-Mu kebaikan yang dimohonkan hamba-Mu dan Nabi-Mu kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba-Mu dan Nabi-Mu berlindung darinya kepada-Mu. Ya Allah, sungguh aku memohon surga memohon Surga kepada-Mu dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan atau perbuatan. Dan aku berlind-ung kepada-Mu dari Neraka dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan dan perbuatan. Serta aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan semua ketentuan yang Engkau tentukan kepadaku sebagai kebaikan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam Sunan-nya (925) dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah (753))
MENJAUHI TEMPAT-TEMPAT FITNAH DAN SYUBHAT
Di antara perkara-perkara yang menjadikan seseorang menjadi kunci kebaikan adalah menjauhi sumber-sumber fitnah dan syubhat-syubhat dan mewaspadainya. Ini akan menjamin keselamatan seorang hamba pada dirinya dan juga keselamatan dari pembuka kejelekan atas manusia, dari ‘Abdullah ibn Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata:
تَكُوْنُ أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ، فَعَلَيْكُمْ بِالتَّؤْدَةِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ أَنْ يَكُوْنَ تَابِعاً فِي الْخَيْرِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ رَأْساً فِي الشَّرِّ
Artinya: “Akan terjadi perkara-perkara yang syubhat (samar), maka hendaknya kalian bersikap hati-hati; karena sesungguhnya jika seorang dari kalian menjadi pengikut dalam kebaikan adalah lebih baik daripada menjadi gembong dalam kesesatan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf dan al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab (7/297))
Orang yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan dan menjadi penutup kejelekan maka hendaknya dia berhati-hati di dalam perkara-perkara syubhat dan fitnah-fitnah, tidak menonjol-nonjolkan diri kepadanya dan tidak menceburkan diri kepadanya dan menjerumuskan orang lain kepadanya; bahkan hendaknya dia berhati-hati, pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa, menanyakan kepada para ulama kibār (senior) dan para imam kibär, meminta pertimbangan mereka dan meminta arahan mereka.
MEMPERGAULI MANUSIA DENGAN AKHLAQ MULIA
Di antara perkara-perkara yang menjadikan seseorang menjadi kunci kebaikan adalah mem-pergauli manusia dengan akhlaq yang mulia. Ini di antara faktor terbesar engkau menjadi kunci kebaikan.
Percayalah-wahai saudaraku-bahwa pemilik akhlaq yang kasar dan pergaulan yang buruk tidak akan mungkin membuka hati-hati manusia. Allah Ta’alá telah berfirman kepada Nabi-Nya Penghulu anak-anak Adam:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَا نَفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imran (3): 159)
Jiwa manusia lari dari orang yang kasar, yang keras, yang congkak, dan yang buruk akhiaqnya, hingga walaupun yang dia ucapkan adalan kebaikan, karena kejelekan akhlaqnya dan kekasarannya membuat manusia lari darinya. Karena inilah, orang yang menghendaki menjadi kunci kebaikan henda-knya dia pergauli manusia dengan pergaulan yang lembut, hendaknya berbicara kepada mereka dengan perkataan yang baik yang santun, dan dengan ucapan-ucapan yang rendah hati dan bukan yang meninggi, serta tidak lancang kepada mereka.
Begitu banyak contoh-contoh tentang hal tersebut dari Sunnah Nabi, di antaranya:
فَلَمَّا دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ مَكَّةَ وَدَخَلَ الْمَسْجِدَ أَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ بِأَبِيهِ يَعُودُهُ فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ هَلَّا تَرَكْتَ الشَّيْخَ فِي بَيْتِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا آتِيهِ فِيهِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُوَ أَحَقُّ أَنْ يَمْشِيَ إِلَيْكَ مِنْ أَنْ تَمْشِيَ أَنْتَ إِلَيْهِ قَالَ فَأَجْلَسَهُ بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ مَسَحَ صَدْرَهُ ثُمَّ قَالَ لَهُ أَسْلِمْ فَأَسْلَمَ وَدَخَلَ بِهِ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَأْسُهُ كَأَنَّهُ ثَغَامَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ غَيَّرُوا هَذَا مِنْ شَعْرِهِ
Artinya: “Ketika Rasulullah memasuki Makkah dan beliau masuk ke dalam masjid, Abu Bakr dan ayahnya datang menemui Rasulullah, maka ketika Rasulullah melihatnya beliau bersabda, “Kenapa kamu tidak meninggalkan orang tua ini dirumahnya hingga aku bisaaku dapat mendatanginya?” Abu Bakr menjawab, “Wahai Rasulullah, dia lebih berhak menemui tuan daripada tuan yang berjalan menemuinya.” Asma’ berkata, “Lalu beliau mendududkan ayahnya Abu Bakr di ssisnya lalu mengusap dadanya dan bersabda, ‘Masuklah (ke dalam agama) islam .’ Maka dia pun masuk islam. Dan Abu Bakr membawah ayahnya menemui Rasulullah, sedang di kepalanya seakan-akan tumbuhan berwarna putih, laliu Rasulullah bersabda, ‘Ubahlah ini dari rambutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
REFERENSI:
Reverensi: Majalah Al Furqan
Pengarang: Ustadz Arif Fathul Ulum bbin Ahmad Saifullah
Diringkas oleh: Farras Inayah Azima
Baca juga artikel:
