Abu Bakar Ummat Terbaik Setelah Nabi Muhammad
Abu Bakar Ummat Terbaik Setelah Nabi Muhammad
Allah memberikan keutamaan yang lebih bagi Sebagian nabi dan rasul di atas yang lainnya. Para nabi dan rasul yang termasuk ulul’azmi lebih utama di sisi Allah Ta’ala dari pada para rasul yang lainnya. Begitu pula para sabiqunal awwalun (para pendahulu kita) yang berasal dari kalangan muhajirin dan anshar lebih utama di sisi Allah Ta’ala bila di bandingkan dengan selain mereka. Mereka semua adalah para wali Allah Ta’ala dan tempat mereka di surga, dan Allah Ta’ala telah mengangkat derajat Sebagian mereka di atas Sebagian yang lain.
Induk semua keutamaan adalah ilmu, agama, keberanian, dan kedermawanan. Siapapun yang lebih baik atau yang lebih utama dari pada yang lain, maka pasti dia lebih banyak ilmunya, baik dari kalangan nabi dan sahabat ataupun dari kalangan yang lain. Dan memang, pokok dari segala keutamaan adalah ilmu.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Katakan, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. (QS. Az-Zumar/39: 9)
Banyak sekali hadits-hadits dan dalil-dalil lainnya yang membuat kita harus mengakui bahwa Abu bakar merupakan sahabat yang paling di cintai oleh nabi Muhammad, beliau di sisi Rasulullah lebih baik dari pada Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan para sahabat lainnya. Semua orang yang memahami sunah Rasulullah dan juga keadaan beliau, pasti mengetahui tentang Abu bakar. Semakin banyak ilmunya tentang Rasulullah, maka dia akan semakin mengerti tentang keutamaan Abu bakar. Yang masih ragu akan keutamaan beliau hanyalah orang-orang yang tidak bisa membedakan antara hadits shahih dan hadis lemah. Orang seperti ini, terkadang terjebak dari salah satu dari dua keadaan yang ekstrem, antara mempercayai yang di sebut hadits oleh orang atau menolak semuanya.
Di antara hadits-hadits yang shahih tentang hal ini adalah hadits yang di keluarkan oleh Bukhari dan Muslim, dari ibnu umar, beliau berkata:
كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
Ketika zaman Rasulullah (masih hidup) kami sering mengatakan fulan lebih baik dari pada fulan. Kami mengatakan Abu bakar lebih baik, kemudian Umar bin Al-khattab, kemudian Utsman bin affan.” (Muttafaqun Alaih).
Dalam Riwayat lain iman Al-Bukhari:
كُنَّا نِزَمَنِ النَّبِيِّ لَا نَعْدِلُ بِأَبِي بَكْرٍ أَحَدًا، ثُمَّ عُمَرَ، ثُمَّ عُثْمَانَ
Pada zaman Nabi Muhammad (masih hidup), kami tidak menyamakan seorangpun dengan Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. (HR. Al-Bukhari)
Imam At-Tirmidzi dan yang lainya meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’ dari Ali, dari Nabi, Ketika beliau melihat Abu Bakar dan Umar sedang berjalan menuju beliau, Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
هَذَانِ سَيِّدَا كُهُوْلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنَ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ إِلَّا النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ لَا تُخْبِرْهُمَا يَا عَلِيُّ
Dua orang ini merupakan dua tokoh tua penduduk surga dari orang-orang yang terdahulu sampai yang terakhir. Wahai Ali! Janganlah kalian memberitahukan ini pada mereka.” (HR. At-Tirmidzi)
إِنِّي لَأَرْجُوْ أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ فَإِنِّي كَثِيْرًا مَا كُنْتُ أَسْمَعُ النَّبِيَّ يَقُوْلُ ذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ
Artinya: Aku berharap Allah mempersatukanmu dengan dua sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar) sesungguhnya aku sering mendengar nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata, “Aku masuk Bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku pergi Bersama Abu Bakar dan Umar. (HR. Muslim)
Hadits ini menerangkan betapa mereka berdua sering menemani Nabi di saat beliau masuk, keluar, maupun pergi, oleh karna itu, Imam malik berkata pada Harun Ar-rasyid yang bertanya, “Beritahukanlah padaku kedudukan Abu Bakar dan Umar di sisi Nabi?, “Imam malik berkata , Wahai Amirul Mukminin, kedudukan mereka berdua takkala beliau masih hidup sama seperti kedudukan mereka takkala Nabi sudah wafat. “(Mendengar ini) Ar-rasyid pun berkata, “Kamu telah menyembuhkanku, Wahai Malik! Kamu telah menyembuhkanku, Wahai malik!”
Dalam sebuah riwayat yang mutawatir dari Ali, di jelaskan bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu berkata:
أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ عُمَرُ
Artinya: “Orang terbaik ummat ini setelah Nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar.” (Shahih, HR. Abu Dawud (4629)).
. Riwayat dibawakan melalui periwayatan yang sangat banyak, bahkan ada yang mengatakan bahwa jalur periwayatannya mencapai delapan puluh jalur.
Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan dalam kitab shahih beliau juga dari jalur hamdaniyyin (orang yang bersal dari kabilah hamdan) yang merupakan orang-orang terdekat Ali. Kedekatan ini di gambarkan dalam perkataan beliau, “Seandainya aku penjaga pintu surga, niscaya aku akan katakana pada orang-orang hamdan, masuklah ke surga”
Imam Al-Bukhari membawakan riwayat lewat jalur Sufyan At-tsauri yang berasal dari kabilah hamdan, dari mundzir yang juga bersal dari kabilah hamdan, dari Muhammad bin Al-Hanafiyyah, dia berkata: saya berkata pada bapakku:
أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ
Artinya: “Siapakah manusia yang paling utama setelah Rasulullah ? dia menjawab , “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Semudian siapa lagi? “ Siapakah manusia Bapakku menjawab, “Kemudian Umar”. (Shahih, HR. Abu Dawud (4629)).
Ucapan ini,beliau sampaikan pada anaknya, saat mereka berdua, dan ini tidak mungkin di ucapkan dalam rangka taqiyah.Perawi menyampaikan atsar tersebut langsung dari bapaknya dan di ucapkan di atas mimbar serta di riwayatkan bahwasanya dia mendengar dari nabi. Tentu Ali tidak memperhatikan hal tersebut (keutamaan Abu Bakar) kecuali berdasarkan ilmu, sesuai dengan kedudukan beliau. Ali merupakn seorang sahabat yang paling tahu tentang Abu Bakar dan Umar, serta paling mengerti kedudukan mereka berdua dalam islam. Bahkan takkala beliau meninggal beliau berharap amalan amalan seperti Abu Bakar dan Umar. Beliau juga memberi nama anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar
Ali Radhiyallahu Anhu juga pernah mengatakan:
لَا أُوتِيَ بِأَحَدٍ يُفَضِّلُنِي عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِلَّا جَلَدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِي
Artinya:
Tidaklah didatangkan kepadaku seseorang yang lebih mengutamakanku dari pada Abu Bakar dan Umar melainkan akan saya cambuk dia sebagai hukum pendusta. (Majmu’ Al-Fatawa (28/ 274))
Perkataan beliau ini tidak di sampaikan bukan karna tawadhu’ ,sebab tidak boleh seorang tawadhu’ menjatuhkan hukuman kepada orang mengutamakannya dengan cara benar dan tidak boleh juga memberi gelar pendusta kepada orang tersebut.
Dalam hadits mutawatir lainnya dari Ibnu Abbas bahwa beliau lebih mengutamakan abu bakar dan umar dari pada Ali
Ibnu Baththah meriwayatkan dengan sanadnya, beliau berkata, “saya mendengar Laits bin Abi Salim berkata, ‘saya mendapati orang-orang syi’ah generasi awal tidak lebih mengutamakan seorangpun melebihi Abu Bakar dan Umar.
Berkata Syuraik bin Abi Namir, seseorang berkata pada Laits bin bin Abi Salim, “siapa yang lebih utama Abu Bakar atau Ali? “dia berkata, “Abu Bakar”.
Si penanya tersebut berkata lagi, “Apakah kamu mengatakan hal seperti ini padahal kamu berasal dari golongan syi’ah? “dia berkata, “ya, orang syi’ah adalah orang yang mengatakan seperti ini. Sungguh telah naik ke mimbar ini (mimbar masjidnya di kufah) kemudian ia berkata, “ketahuilah! Sesungguhnya sebaik-baiknya ummat ini setelah nabinya adakah Abu Bakar dan Umar
Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata setelah menebutkan ayat:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Artinya: “Janganlah engkau bersedih! Sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah/9: 40)
(Saat membantah Sebagian syubhat yang di lontarkan oleh orang yang membenci dan mencela Abu Bakar yang mengatakan bahwa ayat di atas mengisyaratkan celaan terhadap Abu Bakar yang takut). Beliau mengatakan, “Tidak ada pada ayat tersebut isyarat yang menunjukkan bahwa Ali, Utsman, umar, atau selain mereka yang lebih utama dari pada Abu Bakar, karna mereka semua sedang tidak Bersama Nabi pada kondisi genting ini. Seandainya pada saat itu mereka Bersama Nabi, keadaan mereka belum tentu lebih baik dari pada keadaan Abu Bakar. Yang sudah di ketahui dari berbagai keadaan beliau dan keadaan mereka di saat-saat mencekam, Abu Bakar selalu lebih baik keyakinannya dan kesabarannya. Takkala ada berbagai factor yang menimbulkan keraguan (yang menyebabkan banyak orang meragukan kebenaran syariat Rasulullah) Abu Bakar tampil sebagai pribadi yang yang paling yakin dan tenang. Takkala Nabi disakiti oleh sebab keraguan tersebut, Abu Bakar merupakan orang yang paling taat demi keridhaan Beliau, dan yang paling jauh dari segala hal yang bisa menyakiti Nabi. Keadaan ini sudah di ketahui oleh semua orang yang mempelajari keadaan sahabat di saat Nabi masih hidup dan juga setelah Beliau wafat.
Setiap pujian dalam al-qu’ran maka Abu Bakar masuk di dalamnya
Secara umum, setiap kata mukmin, muttaqin, dan muhsinin yang ada dalam al-qur’an serta pujian untuk mereka, maka Abu Bakar orang yang pertama masuk dalam ayat tersebut, bahkan beliau menjadi yang terbaik di antara orang-orang yang masuk dalam ayat tersebut, sebagai mana yang masyhur dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam saat menjelaskan generasi terbaik. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
Artinya:Sebaik-baiknya generasi adalah generasiku. Kemudian setelahnya, kemudian setelahnya lagi.” (HR. Muslim)
Beberapa hal mulia terkumpul pada Abu Bakar dalam satu hari
Di sebutkan dalam hadits shahih bahwaNabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata pada para sahabatnya:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا،«قَالَ: فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا،«قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا،«قَالَ: فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا،فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Artinya: “Siapakah di antara kalian yang puasa hari ini?”Abu Bakar berkata,”Saya.”
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang mengiringi atau mengantarkan (pemakaman) jenazah pada hari ini?”Abu Bakar menjawab,”Saya.”
Nabi bertanya lagi,”Adakah di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini?”Abu Bakar menjawab,”Saya.”
Nabi bertanya lagi,”Adakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?”Abu Bakar menjawab,”Saya.”Lalu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Tidaklah kebaikan-kebaikan ini berkumpul pada seseorang kecuali dia akan masuk surga.” (HR, Bukhari)
Abu Bakar orang yang pertama kali masuk surga dari ummat ini
Abu Dawud meriwayatkan dalam sunannya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata pada Abu Bakar:
خَيْرُ هٰذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ
Artinya: Adapun kamu, sesungguhnya kamu wahai Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk surga dalam ummat ini. (HR. Abu Dawud)
Abu Bakar Dipanggil Dari Semua Pintu Surga
Dalam shahihaini disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ؛ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ: نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ
Artinya: “Barang siapa menginfakkan sesuatu yang berpasangan di jalan Allah, maka dia akan di panggil dari beberapa pintu surga. (Penjaga mengatakan), “Wahai hamba Allah, ini lebih baik.”
Barang siapa yang selalu melaksanakan shalat, maka akan di panggil dari pintu shalat.
Barang siapa yang termasuk orang-orang pernah berjihad, maka akan dipanggil dari pintu jihad.
Barang siapa gemar bersedekah, maka akan di panggil dari pintu sedekah.
Barang siapa tekun berpuasa, maka di panggil dari pintu puasa dan pintu rayyan.
Maka Abu Bakar berkata, ”Wahai Rasulullah! Seseorang tidak perlu dipanggil dari semua pintu, adakah orang yang di panggil dari semua pintu? Nabi menjawab, “Ya,dan aku berharap kamu termasuk termasuk dari mereka wahai Abu Bakar.” (Muttafaqun Alaih)
Abu Bakar memiliki sifat lemah lembut dan pemaaf
Kisah terfitnahnya ibu kaum beriman ‘Aisyah putri Abu Bakar adalah bukti hasadnya (kedengkian) orang-orang munafik terhadap Rasulullah dan para pengikutnya. Namun merupakan kebesaran Allah, dia akan memuliakan orang-orang yang menjadi hamba-hambaNya, hingga turunlah ayat pensucian Aisyah dari tuduan tersebut (QS. An-Nur/24: 11-20), sehingga jikalau terjadi penuduhan dari seseorang setelah turun ayat tersebut, niscaya kekufurannya terhadap al-Qur’an semakin jelas. Ketika terjadi penuduhan, Mishthoh bin Utsatsah adalah seorang yang terlibat dalam fitnah tersebut, padahal Abu Bakar selama ini yang memberinya nafkah, maka beliau marah dan bersumpah untuk tidak memberi nafkah kembali, hingga turunlah firman Allah Ta’ala:
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٢٢﴾
Artinya:
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) pada kaum kerabat-Nya, orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang?”. (QS. An-Nur/24: 22).
Disalin dari majalah As-Sunnah, Oleh: Al-Ustad Emha Ayatullah Hafidzahullah, 12 Rabi’ul Akhir 1448 H. Diringgkas oleh: Leza Yanti
Baca juga artikel:
Wabah Atheisme dan Agnostik Gen Z
Klarifikasi Tuduhan Syi’ah Terhadap Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur
