Permasalahan yang Berkaitan Syirik kecil
Permasalahan yang Berkaitan Syirik kecil
Ini adalah keadaan orang yang bila ditimpa keburukan dia tidak keluar darinya, tidak beruntung, sebab Dia celaka dan tersungkur, dia tidak mendapatkan apa yang dicari tidak pula selamat dari apa yang dikhawatirkannya. Ini adalah keadaan orang yang menyembah harta. Nabi shallallahu alaihi wasallam menyipatinya bahwa jika dia diberi dia rela , jika tidak dia murka. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّلْمِزُكَ فِى الصَّدَقاتِۚ فَاِنْ اُعْطُوْا مِنْهَا رَضُوْا وَاِنْ لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَآ اِذَا هُمْ يَسْخَطُوْنَ
Artinya:
“Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah (zakat); jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah.” (QS. At-taubah: 58).
Ridho mereka untuk selain Allah murka mereka juga demikian. Itulah keadaan orang yang berkait dengan kepemimpinan atau potret, atau bahwa nafsu dirinya, sebagai tanda jika terwujud dia berbahagia jika tidak maka dia marah. Ini adalah hamba apa yang diinginkannya dia adalah budak baginya karena penghambaan dan perbudakan sejati adalah penghambaan dan pembudadakan hati. Bila hati sudah diperbudak dan diperhamba maka ia adalah hambanya.
Masih kata syekhhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, salah satu asalnya untuk memudahkan membagi demikian juga pencari harta, memperbudak dan menghambakannya. Perkara-perkara ini terbagi menjadi dua:
Pertama:
suatu yang dibutuhkan oleh hamba seperti makan, minum, tempat tinggal, pernikahan, dan yang sepertinya. Hamba memohon kepada Allah dan memintanya kepada Allah harta adalah ditangannya dan dia menggunakannya untuk keperluannya, seperti keledai yang dikendarainya atau karpet yang didudukinya, bahkan seperti kamar mandi yang dia membuang hajatnya padanya tanpa mempermudahnya, sehingga dia meratap sedih manakala ditimpa keburukan dan kikir manakala mendapatkan kebaikan.
Kedua:
suatu yang tidak dibutuhkan hamba untuk yang ini seorang hamba tidak patut menggantungkan hatinya dengannya. Bila hatinya tergantung kepadanya jika dia menjadi hambanya bahkan bisa menjadi seorang yang menghambakan diri kepada selain Allah, sehingga tidak tersisa lagi pada hamba hakikat ubudiyah kepada Allah, dan tidak juga hakikat tawakal kepadanya sebaliknya padanya terdapat sebuah cabang dari penghambaan kepada selain Allah, dan sebuah cabang tawakal kepada selain Allah. Orang seperti ini adalah orang yang paling patut tercakup oleh sabda nabi shallallahu alaihi wasallam (yang artinya)
Celaka hamba Dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba pakaian halu, celaka hamba selimut tebal. “
Dialah hamba bagi benda-benda ini, seandainya dia memintanya kepada Allah, lalu Allah memberikannya kepadanya, maka dia ridho, bila Allah tidak memberikannya dia murka. Padahal hamba Allah adalah orang yang ridho dengan apa yang Allah ridhoi, murka dengan apa yang Allah murkai, mencintai apa yang Allah dan rasulnya cintai. Membenci apa yang Allah dan Rasul benci, membela wali-wali Allah, dan memusuhi musuh-musuh Allah, orang seperti inilah yang telah menggapai kesempurnaannya imam.
Saya berkata, termasuk budak harta di zaman ini adalah orang-orang yang melakukan transaksi-transaksi haram dan praktek-praktek buruk terdorong cinta harta seperti bermuamalah dengan riba dan lainnya, suap, judi, menipu dalam berjual beli, berdusta saat berperkara. Mereka tahu bahwa praktek-praktek di atas haram, tetapi cinta harta telah membutakan pandangan mereka membuat mereka hamba bagi harta, sehingga mereka mencarinya dengan cara apapun.
Semoga Allah menyelamatkan kita semua, kaum muslimin, dari penyakit kikir yang ditaati, bawa nafsu yang diikuti dan ujub pemilik pendapat dengan pendapatnya.
Mencaci maki masa
Di antara perkara yang dilakukan oleh manusia karena terbawa kebiasaan dan ia termasuk yang menggerogoti tauhid dan berpengaruh buruk terhadap akidah adalah mencaci maki masa, angin dan lainnya, atau mengarahkan kepada makhluk yang tidak punya kewenangan bertindak. Akibatnya celaan dan makian tersebut hakikatnya mengarah kepada pengatur dan penciptaannya yaitu Allah ta’ala Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ
Artinya:
Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)
Mereka mendustakan kebangkitan dan mereka berkata, kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, yang kami hidup padanya tidak ada kehidupan selainnya, kita mati dan kita hidup yakni suatu kaum mati dan kaum lainnya hidup. Ini adalah pengingkaran karena terhadap adanya pencipta yang bertindak memulangkan kejadian dan peristiwa kepada alam tabiat, karena itu mereka berkata dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa yakni, tidak membuat kita panah kecuali berlalunya siang dan malam, dan mereka menisbatkan kebiasaan kepada masa sebagai sebuah celaan. Mereka berkata demikian karena kebodohan dan praduga, bukan ilmu dan hujjah, sebab hujjah dan bukti menolak dan membatalkan kata-kata mereka. Karena itu Allah membantah karena dengan firmannya, yang artinya tetapi mereka mempunyai ilmu tentang itu mereka hanyalah menduga-duga saja. Setiap perkataan yang tidak berdasarkan ilmu dan bukti adalah batil dan tertolak.
Bukti-bukti menunjukkan bahwa apa yang terjadi di alam semesta ini menjadi dari pengatur yang maha bijaksana dan maha kuasa, yaitu Allah. Maka siapa saja yang mencaci maki masa dan menisbatkan kejadian kepadanya maka dia telah berserikat dengan kaum musyrikin dan kaum dahrin dalam sifat yang tercela ini, sekalipun bukan kaum dasar keyakinan.
Hadis ini menunjukkan bahwa siapa yang mencaci maki masa maka dia telah menyakiti Allah subhanahu wa ta’ala karena caci maki tersebut mengarah kepada pengatur peristiwa dan pencipta kejadian masa hanyalah waktu dan tempat, makhluk yang diatur tidak memiliki sedikitpun kewenangan untuk bertindak karena itu Allah ta’ala berfirman yang artinya aku adalah pencipta dan pengatur masa, aku membolak-balik siang dan malam.
Perkataan Salaf terkait hal ini
Sebagai salaf berkata: di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah Arab adalah mencaci maki masa saat terjadi musibah. Bila mereka ditimpa kesulitan atau malapetaka, mereka berkata, mereka ditimpa musibah zaman. Zaman membinasakan mereka. Mereka berkata, zaman sial.” Mereka menisbatkan perbuatan-perbuatan tersebut kepada zaman yang mencaci makinya padahal pelakunya adalah Allah bila mereka menisbatkan apa yang menimpa mereka berupa musibah kepada masa maka mereka mencaci maki Allah, karena pelaku sejatinya adalah Allah ta’ala.
Syekh Abdurrahman bin Hasan Rahimahullah berkata, Ibnu hazm dan orang-orang jahiliyah yang sependapat dengannya telah salah dengan maksudnya (masa) ke dalam nama-nama Allah, dengan dalil Dengan hadis ini padahal makna hadis sudah jelas dengan sabda nabi shallallahu alaihi wasallam (aku membolak-balik siang dan malam.) maksudnya, Allah bertindak terhadapnya dengan apa yang mereka sukai dan mereka benci.
Maka yang patut bagi orang muslim adalah menjauhi kata-kata seperti ini sekalipun tetap menyakiti meyakini bahwa Allah yang mengatur tetapi dengan menjauhinya seorang muslim selamat dari menye rah menyerupai orang-orang kafir. Sekalipun harta dalam kata-kata itu berarti menjaga aqidah dan bersopan santun terhadap Allah.
Yang semakna dengan mencaci maki masa, adalah mencaci maki angin, larangannya hadir dalam hadis yang diriwayatkan oleh at Tirmidzi dan disahihkannya dari Ubay bin ka’ab rahimahullah.
Hal itu karena angin hanya bertiup dengan perintah dan pengaturannya, dialah yang mengadakan dan memerintahkannya maka mencacinya sama dengan mencaci pengaturannya, yaitu Allah, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam masalah mencaci maki masa karena mencaci keduanya terarah kepada pencipta keduanya yang mengatur alam semesta.
Kemudian nabi shallallahu alaihi wasallam membimbing mereka manakala melihat sesuatu yang tidak mereka harapkan bersama kehadiran angin agar menghadap kepada pencipta dan pemerintahannya, memohon kepada Allah kebaikannya dan kebaikan yang ada padanya, berlindung kepadanya dari keburukannya dan keburukan yang ada padanya. Berlindung kepadanya dari keburukannya dan keburukannya yang ada padanya, kenikmatan tidak dihadirkan kecuali dengan ketaatan kepada Allah dan mensyukurinya. Musibah tidak bisa ditolak kecuali dengan berlindung kepada Allah dan bernaung kepadanya.
Mencaci maki makhluk mengandung beberapa dampak negatif:
*Diantaranya, bahwa itu berarti mencaci maki sesuatu yang tidak berhak dicaci maki, karena makhluk hanya diatur dan ditata.
*Diantaranya, mencaci maki makhluk mengandung kesyirikan, karena seorang yang mencaci makinya berkeyakinan bahwa ia mendatangkan manfaat dan mudharat selain Allah.
*Diantaranya, caci maki tersebut mengarah kepada yang mengatur makhluk, yaitu Allah subhanahu wata’ala.
REFERENSI:
Di Tulis Oleh: Syaikh Dr Sholih bin Fauzan Al Fauzan
Di Ringkas oleh Muliyadi
Di Ambil dari buku membenahi akidah
Baca juga artikel:
