Skip to content

Jangan Ujub! Siapa yang Menjamin Amal kita Diterima?

ykkokut
8 menit baca
jangan ujub siapa yang jamin amal kita diterima

Jangan Ujub! Siapa yang Menjamin Amal kita Diterima? – Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Yang Maha Sempurna dan terbebas dari segala kekurangan. Shalawat beserta salam semoga tetap Allah limpahkan kepada Rasulullah, manusia yang berbudi luhur dan berakhlak mulia. Sosok teladan yang sempurna bagi umat ini.

Pada hakikatnya manusia itu memiliki perasaan bangga terhadap dirinya. Diantaranya ada yang bangga diri karena penampilannya, ada yang bangga diri karena pencapaiannya, dan ada yang berbangga diri karena harta yang dimiliki. Sebagian dari mereka menganggap bahwa rasa bangga yang ditunjukkan adalah sebagai  bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang dianugerahkan kepada mereka. Namun tidak sedikit dari mereka yang belum mengetahui hakikat syukur  yang sebenarnya, hal itu membuat rasa bangga yang mereka miliki keluar dari hakikat syukur, dan tanpa disadari mereka terjatuh kepada penyakit hati yang bernama ujub.

Ujub sendiri adalah perasaan bangga terhadap diri sendiri dan menganggap remeh orang lain. Mereka beranggapan bahwa apa yang ada pada diri mereka adalah karena usaha mereka sendiri. Sedangkan syukur adalah merasa cukup dengan nikmat yang Allah, yang  berikan terhadapnya tanpa menganggap remeh orang lain  dan tidak menggunakan nikmat tersebut untuk hal-hal yang menyelisihi dan dibenci oleh Allah.  Orang yang mengetahui hakikat syukur pasti menganggap bahwa nikmat yang ada pada diri mereka adalah karena sifat kasih sayang Allah, terhadap hamba-Nya, bukan semata-mata karena amalan atau usaha yang telah dilakukan mereka. Maka sebagai seorang muslim kita harus waspada dengan penyakit hati yang bernama ujub. Jangan sampai rasa bangga yang ada pada diri kita menjerumuskan kepada sifat ujub.

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu, meringkas definisi ujub sebagai berikut: Yaitu perasaan takjub terhadap perasaan diri-sendiri sehingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya dan oleh jadi perkara haram lebih suci jiwanya ketimbang dirinya.”

Bahaya Ujub

    Sifat ujub adalah penyakit hati dan dilarang dalam agama Islam. Di dalam Alquran terdapat beberapa yang menyebutkan celaan Allah kepada orang yang ujub. Bahkan Ujub dikatakan sebagai sebab kaum Muslimin mengalami kekalahan. Sebagaimana kisah yang terjadi pada perang Hunain.

       Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surah At- Taubah ayat 25:

    لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ في مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi ujub karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)

    Ayat di atas menjelaskan bahwa saat perang Hunain terjadi, sebagian kaum muslimin merasa bangga dan merasa bahwa mereka akan menang mengingat jumlah pasukan kaum muslimin jauh lebih banyak dari pasukan musuh yaitu sekitar 12.000 pasukan. Dengan jumlah pasukan yang begitu banyak, mereka menganggap bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan pasukan mereka, namun kenyataannya kaum muslimin mengalami kekalahan pada perang Hunain.  Hal itu tidak lain karena perasaan ujub yang menghalangi mereka dari pertolongan Allah.

    Ja’far Rahimahullah mengatakan:

    اسْتِجْلَابُ النَّصْرِفٍيْ شَيْءٍ وَاحِدٍ, وهُوَ الدَّلَّةُ والافْتِقَارُ وَالعَجْزُ…وَخُلُوْلُ الخَذْلَانِ بِشَيْءٍ واحِدٍ وَهُوَ العُجْبُ

    Artinya: “Untuk mendapatkan nikmat pertolongan Allah hanya dengan satu cara, yaitu merasa lemah dan butuh kepada Allah…dan hilangnya pertolongan Allah karena satu sebab, yaitu ujub.” (tafsir as-Salmi,1/272)

    Dari perkataan Ja’far di atas menjelaskan bahwa pertolongan Allah itu datang kepada hamba-Nya, apabila seorang hamba merasa bahwa dirinya itu lemah dan merasa sangat butuh pertolongan Allah. Dan Sebab hilangnya pertolongan Allah itu karena satu sebab yaitu ujub.

    Ujub Bisa Membuat Hilangnya Kesempatan Mendapatkan Pahala

    Jika sebelumnya ujub bisa menghilangkan kesempatan untuk menang ketika di dunia, maka ujub juga bisa menghilangkan kesempatan bagi seorang hamba untuk mendapatkan pahala.

    Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu pernah berpesan:

    الهَلَاكُ فِيْ اثْنيْنِ القَنُوْطِ والعَجْبِ

    Artinya: “Kebinasaan sumbernya ada dua hal: putus asa dan ujub” (Az-Zawajir An-Iqtirafil Kaba’ir (jilid 1/ hal 121))

    Orang yang putus asa, dia tidak punya harapan menjadi orang baik. Sedangkan orang yang ujub merasa hebat dengan kebaikannya.

    Karena itulah Allah jadikan kaum mukminin tidak maksum dari dosa. Sekalipun dia orang yang sangat rajin ibadah. Agar dia menyadari bahwa dirinya ada banyak kekurangan, sehingga tidak merasa hebat dengan ketaatan yang dia lakukan.

    Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    لَوْلَمْ تَذْنُبُوْ, لَجَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ العُجْب

    Artinya: “Andaikan kalian tidak pernah berbuat dosa, aku khawatir kalian terjangkiti penyakit yang lebih berbahaya dari pada maksiat, yaitu ujub.” (HR. Al-Qudha’i dalam Musnadnya dan al Bazzar sebagaimana disebutkan dalam at-Targhib wa at-Tahrib dan dihasankan al-Albani)

    Dari penjelasan hadits di atas, orang yang berbuat maksiat atau dosa, dia mengetahui bahwa dirinya melakukan perbuatan yang salah, sehingga masih ada kemungkinan besar dia bertaubat. Sedangkan orang yang melakukan amal kebaikan, maka lebih besar kemungkinan dia terkena penyakit ujub karena amal yang telah dia lakukan. Bisa jadi karena amal yang telah dia lakukan, dia menganggap sepele orang lain dan merasa lebih baik darinya, dan kemungkinan dia menyadari bahwa dia terkena penyakit ujub itu sedikit. Maka penting untuk kita meminta perlindungan kepada Allah dari sifat tercela ini.

    Sa’id bin Jubair berkata: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan ia malah masuk neraka, sebaliknya ada pula yang beramal keburukan malah masuk surga. Yang beramal kebaikan tersebut, ia merasa ujub (bangga dengan amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk neraka. Ada pula beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut (akan azab Allah) dan ia diiringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga.” (Majmu’ Al fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa, 10/294)

    Al-Munawi Rahimahullah menjelaskan,

    لأَنَّ العَاصِي يَعْتَرِفُ بِنَقْصِهِ, فَتُرْجَىى لَهُ التَوْبَةُ, وَالمُعْجِبُ مَغْرُوْرُ بِعَمَلِهِ فَتَوْبَتُهُ بِعِيْدَةُ

    Artinya: “Karena orang-orang yang berbuat maksiat dia mengakui kekurangannya, sehingga diharapkan akan bertaubat. Sedangkan orang yang ujub dia tertipu dengan amalnya, sehingga keinginan taubatnya jauh.” (Faidhul Qadir, 5/422)

    Ujub Bisa Menghapuskan Amalan

    Dikatakan bahwa iblis dulu adalah makhluk yang sangat ahli ibadah, hingga dia dikumpulkan bersama para malaikat. Namun dia sangat ujub dengan ketaatannya dan merasa sombong. Hingga Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissalam, dan Allah berikan kelebihan kepada Nabi Adam ‘alaihissalam berupa ilmu yang tidak dimiliki oleh Malaikat maupun Iblis.

    Merekapun diminta untuk sujud, namun iblis merasa sombong dan mengatakan, “Aku lebih baik dari pada Adam”.

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ ١٢ قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ ۝١٣

    Artinya: “Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada adam) di waktu aku menyuruhmu?” Iblis menjawab “Saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (QS. Al-A’raf: 12-13)

    Dari ayat di atas, kita mengetahui bahwa sebelumnya iblis adalah penghuni surga namun setelah diciptakannya Nabi Adam ‘alaihissalam, iblis menyombongkan diri dan enggan menaati perintah Allah, yaitu sujud terhadap Nabi Adam ‘alaihis salam. Akibat kesombongannya maka iblis dikeluarkan dari surga.

    Semua ibadah iblis sebelumnya menjadi tidak ada guna dan dia menjadi hina, setelah diusir dari surga. Akibat dia ujub dengan dirinya, hingga membuat dia meremehkan Nabi Adam ‘alaihissalam.

    Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan Sholih daripada perasaan ujub (bangga diri) dan terlalu memandang lebih dirinya.”

    Obat Ujub

    Terdapat kiat-kiat yang bisa dilakukan untuk mengobati penyakit ujub, diantaranya adalah selalu meminta perlindungan kepada Allah dari penyakit hati yang bernama ujub ini. Kata kuncinya adalah merasa bahwa dirinya sangat lemah dan rendah di hadapan Rabbnya. Bahkan ketika beramal, dia merasa takut amalnya tidak diterima. Karena memandang keagungan Allah dan kerendahan amalnya yang banyak kekurangannya.

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, menceritakan kriteria hamba yang bersegera dalam kebaikan,

    وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

    Artinya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun: 60)

    Ketika ayat ini turun, Aisyah radhiallahu ‘anha bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

    قلت: يا رسول الله، والذين يؤتون ما اتوا قلوبهم وجلة، هوالذي يذهب ويشرب الخمر ويسرق؟ قال: لا ياابنة الصديق ولكن الرجل يقوم ويصلي ويتصدق ويختفي أن لا يقبل منه

    Artinya: Ya Rasulullah, tentang “Orang-orang yang beramal dengan hati yang takut” apakah mereka orang yang suka berzina peminum khamr, atau pencuri? Jawab Nabi, tidak wahai putri Shiddiq. Namun mereka adalah orang yang puasa, salat, bersedekah, sementara mereka takut amal mereka tidak diterima”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani).

    Iman as-Syafi’i Rahimahullah pernah memberikan nasehat,

    إِذَا أَنْتَ خِفْتَ عَلَى عَمَلِكَ الْعُجْبَ، فَانْظُرْ رِضًا مَنْ تَطْلُبُ، وَفِي أَيِّ ثَوَابٍ تَرْغَبُ، وَمِنْ أَيِّ عِقَابٍ تَرْهَبُ، وَأَيَّ عَافِيَةٍ تَشْكُرُ، وَأَيَّ بَلَاءٍ تَذْكُرُ، فَإِنَّكَ إِذَا تَفَكَّرْتَ فِي وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْخِصَالِ صَغُرَ فِي عَيْنِكَ عَمَلُكَ.

    Terjemahannya: “Jika kamu khawatir terjangkit penyakit Ujub terhadap amalmu, lihatlah luasnya Ridha Allah yang kau cari, renungkan pahala yang kau harapkan, bayangkan beratnya siksa yang kau takutkan, perhatikan nikmat yang menuntut untuk  kau syukuri, dan ingat aneka ujian yang kau alami. Jika kamu bisa merenungkan salah satu dari hal itu, maka amalmu akan kelihatan kecil di hadapanmu”.

    Dari penjelasan di atas sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim mengamalkan kiat-kiat untuk menghindari penyakit hati yang bernama ujub. Tanamkan di hati kita rasa takut apakah amal kebaikan kita , diterima atau tertolak, ikhlaskan hati dalam beramal, berusahalah mencari ridha Allah, bersyukurlah atas nikmat Allah tanpa meremehkan orang lain dan takutlah terhadap siksa Allah.

    Semoga Allah melindungi kita dari penyakit ujub, aamiin. Allahu A’lam.

    Referensi:

    Prinsip Hidupku, Kumpulan Nasehat Sebagai Bekal untuk Rohani Sehat, Ammi Nur Baits, edisi revisi: Rabi’ul Akhir 1446, pustaka muamalah Jogja.

    Diringkas oleh: Siti Istikomah (Pengabdian Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur)

    Baca juga artikel:

    Dzulqarnain Penguasa yang Adil

    Hukum Seputar Qurban

    Bagikan:

    Artikel Terkait

    iri dengkimu adalah deritamu
    Muhasabah 03/10/2026

    Iri Dengkimu Adalah Deritamu

    Iri Dengkimu Adalah Deritamu – Sifat hasad atau dengki pada hakikatnya merupakan sumber penderitaan bagi pelakunya sendiri. Hasad adalah sebuah penyakit hati yang secara diam-diam akan menggerogoti dan memakan habis setiap pahala dan kebaikan yang telah dikumpulkan dengan susah payah oleh seorang hamba. Penghancuran kebaikan ini berlangsung dengan sangat cepat, layaknya api yang melahap kayu […]

    Manusia DIistimewakan Dengan Akal
    Muhasabah 26/09/2026

    Manusia Diistimewakan Dengan Akal

    Manusia Diistimewakan Dengan Akal Ketahuilah, wahai anakku, semoga Allah memberimu taufik kepada kebenaran, tidaklah manusia itu diistimewakan dari makhluk lain (yaitu hewan) dengan akal melainkan agar dia berbuat sesuai dengan akalnya ( yang lurus ).Maka hadirkanlah akal sehatmu, gunakan pikiranmu dan renungkanlah. Engkau kan tau bahwa dirimu adalah makhluk yang mukallaf (diberi beban syari’at, diperintah […]

    LAZ Kunci Kebaikan

    Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

    Legalitas LAZ

    Izin Kanwil nomor:
    337 Tahun 2026 (29 Juli 2026 )

    QRIS Zakat

    ZAKAT YKK

    Rek. BSI

    8643916700

    a.n. Zakat YKK

    Wajib Konfirmasi ke:

    Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
    (0822-6666-0856)

    Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

    QRIS Zakat

    PEDULI SESAMA YKK

    Rek. BSI

    4557498470

    a.n. Peduli Sesama YKK

    (Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

    Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

    Sekretariat:

    Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

    Klik: Google Map