Skip to content

Manusia Diistimewakan Dengan Akal

Khoirul Anam
8 menit baca
Manusia DIistimewakan Dengan Akal

Manusia Diistimewakan Dengan Akal

Ketahuilah, wahai anakku, semoga Allah memberimu taufik kepada kebenaran, tidaklah manusia itu diistimewakan dari makhluk lain (yaitu hewan) dengan akal melainkan agar dia berbuat sesuai dengan akalnya ( yang lurus ).Maka hadirkanlah akal sehatmu, gunakan pikiranmu dan renungkanlah. Engkau kan tau bahwa dirimu adalah makhluk yang mukallaf (diberi beban syari’at, diperintah dan dilarang) Engakau tahu bahwa dirimu memiliki kewajiban kewajiban yang engkau dituntut untuk mengerjakannya. [1]

Tidaklah berbahagia orang yang berbahagia melainkan karena dia telah menyelisihi hawa nafsunya (tidak memperturutkan hawa nafsunya).

 Tidaklah celaka orang yang celaka melainkan karena mementingkan dunianya.

Maka ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah lalu, dari kalangan para raja dan orang-orang zuhud.

Ketahuilah! Mengerjakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi keharaman-keharamam merupakan semestinya.

Kemudian ketahuilah, mengejar keutamaan-keutamaan (fadho’il) adalah puncak keinginan orang yang bersungguh-sungguh (mujtahid).

Yang namanya fadho’il itu bertingkat-tingkat, ada perbedaan-perbedaan. Di antara manusia ada yang memandang fadho’il itu adalah zuhud terhadap dunia. Ada pula yang memandang keutamaan itu adalah menyibukkan diri dengan ibadah.

Adapun yang sebenarnya adalah fadho’il yang sempurna itu tidak akan di peroleh kecuali dengan mengumpulkan ilmu dan amal. Bila keduanya berhasil diperoleh, maka keduanya pun akan mengankat pemiliknya agar merealisasikan pengenalan terhadap al-kholiq.

Keduanya akan menggerakkan pemiliknya kepada rasa cinta, takut dan rindu kepada allah ta’ala. Itulah tujuan yang di inginkan. Tidak semua orang yang mencari, berhasil mendapatkan keinginannya. Hanya saja, sudah semestinya bagi hamba untuk bersungguh-sungguh. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

فكل ميسر لما خلق له

Artinya: “Masing-masing akan di mudahkan kepada apa yang dia diciptakan untuknya.[2]

Mengenal Allah Dengan Dalil Adalah Perkara Paling Awal Yang Harus Di Perhatikan

Perkara paling awal yang sepantasnya menjadi perhatian seorang hamba adalah mengenal Allah dengan mengetahui dalilnya.

Allah Subhanahu Wata’ala yang berfirman:

قل الله خلق كل شيء

Artinya: “katakanlah (ya Muhammad), ‘Allah Dia-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. Ar-Ra’ad: 16)

Kemudian dia merenungkan bukti kebenaran Rasulallah. Bukti yang paling agung adalah Al-Qur’an yang makhluk seluruhnya tidak ada yang sanggup untuk mendatangkan satu surat pun yang bisa menandinginya.

Lalu wajib baginya untuk mengetahui kewajiban-kewajiban agama yang harus di tunaikannya, berupa wudhu, sholat, zakat –jika dia memiliki harta-, haji (bila dia mampu) dan kewajiban yang lainnya. Jika dia telah mengetahui kadar kewajiban, maka dia harus menegakkannya.

Engkau tidak akan meraih kebaikan kecuali dengan mentaati Allah. Dan tidaklah luput darimu kebaikan melainkan karena engkau bermaksiat kepada Allah.

Apakah ada orang yang menghadap selalu kepada Allah, lalu tidak dating kepadanya seluruh yang diinginkan? Adakanh orang yang berpaling darinya, kemudian dia berlalu dengan beroleh satu kemanfaatan? Atau beroleh satu tujuan?

و الله ما جتكم زابرا إلا   و جدت الارض تطوى لي

و لا ثنيت العزم عن با بكم  إلا  تعثرت  بأذ يا لي

Terjemahannya:

Tidakkah engkau pernah mendengar ucapan penyair [3]

Demi Allah! Tidaklah aku datang berziarah pada kalian

Kecuali aku dapati bumi ini dilipat untukku

Tidaklah aku memalingkan keinginan dari (mendatangi) pintu kalian

Kecuali aku tergelincir dengan ekorku.

Pengaturan Al-Latif Terhadap Hamba-Nya Yang Lemah

Lihatlah dirimu, wahai anakku, ketika berhadapan dengan batasan-batasan agama. Karena siapa yang menjaga, dia akan dijaga. Siapa yang menyia-nyiakan, dia akan di tinggalkan.

Aku akan ceritakan kepadamu sebagian keadaanku, mudah-mudahan engkau bisa melihat kesungguhanku dan engkau memohon kepada Allah agar mencocoki; karena kebanyakan nikmat yang ada padaku, bukanlah karena usahaku, namun hanyalah itu pengaturan dari Al-Latif (Zat Yang Maha lembut) terhadapku.

  • Aku ingat diriku telah memiliki cita-cita yang tinggi sejak kecil[4]

Di saat usiaku enam tahun aku belajar di maktab (tempat belajar anak-anak) berteman dengan anak-anak yang lebih besar.

Sungguh aku dianugrahi akal yang besar sedari kecil, melampaui akalnya para syuyukh (orang-orang tua). Seingatku sama sekali aku tidak pernah bermain di jalanan bersama anak-anak sebaya. Tidak pernah pula aku tertawa melampaui batas.

  • Hingga ketika aku berusia 7 tahun atau kurang lebihnya usia demikian, aku mendatangi keramaian di serambi masjid raya. Tidaklah aku memilih menonton tukan sulap di perkumpulannya. Justru yang aku cari adalah seorang ahli hadits, lalu beliau menceritakan tentang sejarah dengan panjang, aku pun menghafalkan seluruh yang kudengar saat itu. Kemudian sesampainya di rumah, aku catat apa yang telah aku hafalkan seluruh yang ku dengar saat itu.
  • Kemudian aku diberi ilham untuk bersifat zuhud, aku terus menerus berpuasa (puasa tiap hari). Aku mempersedikit makan. Aku mengharuskan diriku untuk bersabar. Terus menerus aku demikian. Aku menyingsingkan lengan baju (bersungguh-sungguh) untuk belajar ilmu, aku terus menerus berada di majlis ilmu dan aku begadang untuk itu.
  • Dulu aku berbolak balik menemui para syaikh untuk mendengarkan hadits. Nafasku serasa putus karena berlari agar aku tidak didahului yang lain. Pernah di waktu pagi, aku tidak memiliki makanan dan juga berada di sore hari tidak ada yang bisa ku makan, namun Allah sama sekali tidak menghinakan aku di hadapan seorang makhluk pun. Akan tetapi Allah mendatangkan rezeki (tanpa aku meminta kepada makhluk) untuk menjaga kehormatan ku. Anda aku rinci seluruh keadaanku dahulu, nscay aan panjang penjelasanya.
  • Inilah aku, ayahmu, sungguh Engkau lihat keadaanku sekarang ini. (kenapa emua in bisa kucapai?) Aku kumpulkan (jawabannya) untukmu dalam kalimat saja, yaitu firman Allah Subhanahu Wata’ala:

و ٱتقوا الله و يعلمكم الله

Artinya: “Bertakawalah kepada Allah dan Allah akan mengajari (member ilmu kepada ) kalian.”(QS Al-Baqoroh: 282)

Selama Masih Ada Waktu

  Perhatikanlah dirmu, wahai anakku Sesalilah apa yang telah lewat dari perbuatan mu yang melampaui batas. Bersungguh –sungguhlah untuk bergabung dengan orang-orang yang sempurna selama masih ada kelapangan waktu. Siramilah rantingmu selama padanya masih ada kelembaban. Ingatlah waktumu yang telah terbuang sia-sia, cukuplah itu sebagai nasihat bagimu. Telah hilang lezatnya kemalasan dalam waktu tersebut dan telah luput martabat keutamaan demi keutamaan.

  Sungguh dahulu as-salafus sholih rohimahullah mencintai seluruh keutamaan dan mereka menangis bila ada satu dari keutamaan tersebut terluputkan untuk mereka raih .

  Berkata Ibrohim Ibnu Adham rohimahullah, kami menjenguk seorang ahli ibadah yang tengah sakit. Dia melihat kepada kakinya dan dia menangis. Kami bertanya,”kenapa engkau menangis?”. “keduanya tidak berdebu lagi di jalan Allah,” jawabnya.

Yang lain menangis. Merekapun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. “Aku tangisi suatu hari yang telah lewat di mana aku tidak puasa di hari tersebut dan aku tangisi malam yang telah hilang sedangkan aku tidak sholat malam saat itu,” jawabnya.

  Ketahuilah wahai anakku: Hari-hari itu membentangkan waktu jam demi jam. Waktu-waktuitu membentangkan nafas-nafas. Setiap nafas itu adalah pembedaharaan. Maka berhati-hatilah jangan sampai satu nafas hilang percuma, sehingga nanti di hari kiamat engkau melihat satu pembendaharaan yang kosong, lalu engkau menyesal.

  Pernah adaseseorang berkata kepada Amir Bin Abdi Qois Rohimahullah, “Berhentilah, aku ingin berbicara denganmu!”. Beliau berkata”(Aku akan lakukan, namun) tahanlah matahari itu.”

Ada orang-orang duduk disisi ma’ruf rohimahullah. Beliau berkata kepada mereka, “tidakklah kalian ingin bangkit berdiri. Karena sungguh penguasa matahari itu menjalankan matahari tanpa pernah berhenti.”

Dalam sebuah hadits:

من قال سبحان الله العظيم و بحمده غرست بها نخلة في الجنة

Artinya;

“Siapa yang mengucapkan subhanallahhilazim wabihamdihi ( maha suci Allah yang maha agung dan pujian baginya), akan di tanam untuknya sebuah pohon kurma di surga”. (HR. Al-Bazzar dalam Musnadnya)

Maka lihatlah kepada orang-orang yang menyia-nyiakan waktu dengan percuma (tidak berzikir kepada Allah), berapa gerangan pohon kurma yang luput olehnya?

  Dulunya salaf memanfaatkan dengan baik waktu-waktu sesaat yang melewati mereka.

Adalah kahmas rohimahullah mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari dan malam sebanyak tiga kali.

Ada 40 orang salaf mengerjakan sholat subuh dengan wudhu sholat isya’.

  Rabi’ah Al-Adawiah menghidupkan seluruh malam (dengan ibadah ). Apabila fajar telah terbit, di tertidur sejenak dengan tidur yang ringan, kemudian dia bangkit seperti terkejut seraya berkata kepada dirinya, “tidur di dalam kubur nanti panjang.”

Referensi:

Dari buku LUBUK HATI UNTUK ANANDA, Karya Ibnul Jauzi

Ditulis ulang oleh Mutia Rahmadani (Pengabdian ponpes Al-Barokah Al-Islami Way Kanan)


[1] ) Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah memberikan dorongan dan peringatan (targhib dan tarhib) kepada putra beliau pada bagian awal nasihatnya.

[2] ) potongan dari hadist Imran bin Husain radiyallahuanhu dari Nabi, di keluarkan Bukhori  radiyallahuanahu dalam shahihnya, demikian pula Muslim dalam shahihnya.

Ada seseorang bertanya kepada rasulallah, “wahai rasulallah, apakah diketahui penghuni neraka (sudah ditetapkan)?”

“iya”. Jawab rasulallah.

“Bila demikian, untuk apa orang-orang itu beramal (sementara semua sudah di tetapkan)?”, kata orang tersebut.

Rasulallah pun menyatakan bahwa masing-masing beramal sesuai dengan ketetapannya (mengikuti apa yang telah digariskan untuknya apakah amalan penduduk surga ataukah amalan pendudukan neraka).(HR.Bukhori.no 6596)

[3]) Bait-bait syair ini dalam kitab syiar a’lamin nubala (21/58) disandarkan kepada al-murtadha, ayah dari al-imam abul fadhoil Muhammad bin abdillah bin Al-qosim Bin mudzoffar Asy-Syafi’I, dengan sedikit penggantian

[4]) kata ibnul jauzi tentang dirinya di usia senjanya, “Diciptakan untukku semangat dan cita-cita yang sangat tinggi (dalam meraih ilmu) yang menuntut tujuan yang paling puncak. Aku telah sampai pada usia 60 tahun, namun aku belum mencapai apa yang aku angan-angankan. Maka mulailah aku memohon kepada Allah agar dipanjangkan umurku, dikuatkan tubuhku, dan tercapai cita-citaku.   Kebiasaan yang ada pun mengingkariku dengan berkata, “Apa yang  kamu cari itu tidak seperti kebiasaan yang berlangsung.” Aku pun menjawab, “hanyalah yang aku pinta dari Zat yang mahakuasa agar aku melampaui kebiasaan-kebiasaan yang ada.” (shaidul khatir, 250,251)

Baca juga artikel:

Cara Menanamkan Cinta Agama Pada Anak

Kitab Ushul Al Iman

Bagikan:

Artikel Terkait

ujian hidup adalah bukti cinta Allah
Muhasabah 22/09/2026

Ujian Hidup Adalah Bukti Cinta Allah

Ujian Hidup Adalah Bukti Cinta Allah – Allah menciptakan kehidupan di dunia sebagai tempat ujian bagi seluruh manusia. Tidak seorang pun dapat menghindari ujian, baik berupa kesenangan maupun kesulitan. Ada yang diuji dengan kesehatan, ada yang diuji dengan penyakit, ada yang diuji dengan kekayaan, dan ada pula yang diuji dengan kemiskinan. Sebagian orang diuji dengan […]

dosaku terlalu banyak
Muhasabah 18/09/2026

Dosaku Terlalu Banyak

Dosaku Terlalu Banyak – Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat-Nya kepada kita, dan karena nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Saat ini, umat Islam berada di bulan Zulhijah, namun sering kali sepuluh hari awal bulan Zulhijah ini tidak dirayakan semarak bulan Ramadan. Jarang sekali terdengar ucapan selamat memasuki sepuluh awal Zulhijah. Padahal, […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map