Skip to content

Ideologi Materialistis

ykkokut
8 menit baca
ideologi materialistis

Ideologi Materialistis – Sudut pandang manusia terhadap kehidupan dunia ada dua; pertama, pandangan hidup materialistis dan kedua, pandangan hidup yang benar. Keduanya memiliki dampaknya tersendiri.

A. Makna ideologi materialistis

Yaitu manusia yang menggunakan pikirannya hanya untuk memikirkan bagaimana mendapatkan kenikmatan hidup di dunia sehingga seluruh aktifitasnya hanya untuk mencapai itu semua. Akalnya tidak pernah memikirkan hukuman-hukuman (di akhirat). Ia tidak pernah beramal untuk akhirat, tidak pernah mempedulikannya, bahkan tidak tahu bahwa Allah menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang bagi kehidupan akhirat, sebagai tempat untuk beramal, dan akhirat sebagai tempat untuk menerima balasan.

Barang siapa yang dalam kehidupan dunia ini sibuk dengan amal saleh, maka ia beruntung di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang menyia-nyiakan kehidupannya di dunia, maka akhiratnya juga akan sia-sia (rugi). Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

.. خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Artinya: “Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11).

Allah tidak menciptakan dunia ini dengan sia-sia. Dia menciptakannya untuk sebuah hikmah yang agung. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian; siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2).

Allah Subhanhau Wata’ala  juga berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7).

Di dalam kehidupan dunia ini Allah telah menciptakan banyak kenikmatan yang bersifat sementara dan perhiasan yang nampak, baik itu berupa harta, anak, pangkat, kekuasaan, dan kesenangan-kesenangan lain yang hanya diketahui oleh Allah.

Di antara manusia bahkan mayoritasnya melihat dunia hanya dari lahiriyah dan sisi indahnya saja. Ia memuaskan hawa nafsunya terhadap dunia tanpa memikirkan apa yang ada di dalamnya. Ia sibuk untuk mendapatkan, menumpuk, dan menikmatinya daripada beramal untuk kehidupan setelahnya. Bahkan ia tidak percaya kalau ada kehidupan lain setelahnya. Sebagaimana difirmankan Allah:

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

Artinya: “Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan.” (QS. Al-An’âm: 29).

Allah mengancam orang yang berpandangan seperti ini :

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَتُوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ ءَايَتِنَا غَافِلُونَ أُوْلَبِكَ مَأْوَنَهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya; “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, karena apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8).

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُوْلَبِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16).

Ancaman ini berlaku bagi seluruh orang yang perpandangan seperti ini (materialis), baik mereka yang melaksanakan amalan ukhrawi tapi untuk tujuan duniawi seperti orang-orang munafik dan yang amalannya ingin dilihat dan dipuji orang lain (riya), atau orang-orang kafir yang tidak percaya adanya hari kebangkitan dan hisab seperti kondisi kaum jahiliyah dan para penganut ajaran yang merusak seperti, kapitalisme, komunisme merekalah orang-orang yang tidak mengetahui nilai kehidupan dunia dan pandangan mereka terhadap dunia tidak lebih dari pandangan binatang. Bahkan lebih sesat karena mereka tidak menggunakan akal mereka, tidak memaksimalkan kemampuan mereka, dan hanya menghabiskan waktu mereka untuk sia-sia. Mereka tidak beramal untuk tempat kembali yang tengah menanti dan pasti dijalaninya.

Binatang tidak memiliki tempat kembali yang sedang menantinya, di samping tidak memiliki akal yang dapat digunakan untuk berpikir sebagaimana manusia. Karenanya Allah Subhanahu Wata’ala berfirman mengenai mereka:

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Artinya: “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqan: 44).

Allah juga menyebut orang yang berpandangan hidup seperti ini dengan sebutan tidak berilmu (bodoh). Allah berfirman:

وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ، وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Artinya: “(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 6-7).

Meski ahli dalam menemukan ilmu-ilmu baru dan berpengalaman dibidang perindustrian,sejatinya mereka itu orang-orang bodoh yang tidak berhak disebut cendekia karena keilmuan mereka hanya sebatas pengetahuan terhadap kehidupan dunia. Ini adalah ilmu pengetahuan yang tidak sempurna, sehingga pemiliknya tidak berhak disebut dengan sebutan yang mulia itu, ulama. Sebutan ini (ulama) hanya patut diberikan kepada mereka yang mengenal Allah dan takut kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:

إنمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَؤُا

Artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”  (QS. Fathir: 28).

Contoh lain dari pandangan materialis terhadap dunia ialah sebagaimana yang Allah sebutkan dalam kisah Qarun berikut kekayaan yang diberikan kepadanya, firman Allah Subhanahu Wata’ala:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ، قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَرُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Artinya: “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ‘Andai kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Qashash: 79).

Mereka mengangankan dan begitu menginginkan dapat menjadi seperti dirinya. Bahkan karena memiliki pandangan materialis itu, mereka menyebut Qarun telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Kondisi seperti ini sama sebagaimana yang terjadi di beberapa negara kafir yang maju di bidang ekonomi dan industri. Kaum muslimin yang lemah imannya akan takjub melihat mereka tanpa melihat kekafiran mereka dan buruknya tempat kembali yang sedang menanti mereka.

Pandangan keliru ini mendorong mereka untuk mengagungkan dan menghormati orang kafir serta meniru-niru perilaku dan kebiasaan buruk mereka, bukannya mendorong mereka untuk mengikuti kesungguhan dan semangat orang-orang kafir dalam mempersiapkan kekuatan dan sesuatu yang bermanfaat di bidang industri.

B. Ideologi yang benar

Yaitu pandangan yang menganggap bahwa segala yang ada dalam kehidupan di dunia ini, seperti harta, kekuasaan, dan kekuatan materi, hanyalah sebuah sarana yang dapat digunakan dalam beramal untuk akhirat.

Dunia sejatinya tidaklah tercela. Pujian dan celaan sesungguhnya dialamatkan pada amalan hamba di dunia. Dunia hanyalah jembatan penyeberangan menuju akhirat, dan dari dunia tersebut bekal untuk dapat masuk surga diperoleh. Kehidupan baik yang diperoleh penghuni surga tidak lain karena hasil yang mereka tanam ketika di dunia.

Jadi, kehidupan dunia adalah tempat untuk berjihad, mendirikan shalat, puasa, infak di jalan Allah, dan arena untuk berlomba-lomba dalam kebajikan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman kepada penghuni surga:

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

Artinya: “(Kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Haqqah: 24).

C. Implementasi Ideologi dalam Kehidupan Sehari-hari

Dengan memahami bahwa dunia hanyalah jembatan, maka seorang Muslim tidak akan membiarkan dirinya diperbudak oleh gemerlap harta atau tingginya jabatan. Sebaliknya, ia akan menjadikan setiap nikmat yang diterima sebagai instrumen untuk mendulang ridha Allah. Ketika ia memiliki kekayaan, ia melihatnya sebagai titipan yang harus ditunaikan haknya melalui zakat dan sedekah. Ketika ia memiliki ilmu, ia melihatnya sebagai tanggung jawab untuk menerangi jalan orang lain. Kesadaran ini melahirkan ketenangan batin. Seseorang yang memegang ideologi ini tidak akan hancur saat menghadapi kegagalan duniawi, karena ia tahu bahwa kerugian yang sesungguhnya adalah kehilangan momen untuk beramal. Ia pun tidak akan sombong saat berada di puncak kesuksesan, karena ia sadar bahwa semua itu adalah ujian apakah ia akan bersyukur atau justru kufur. Inilah yang disebut dengan kemerdekaan jiwa yang hakiki.

Menjaga Keseimbangan: Dunia di Tangan, Akhirat Penting untuk ditegaskan bahwa memandang dunia sebagai “sarana” bukan berarti kita harus meninggalkannya secara total atau hidup dalam kemiskinan yang disengaja. Islam justru mendorong umatnya untuk menjadi kuat dan mandiri secara ekonomi agar dapat membantu sesama. Namun, perbedaannya terletak pada letak dunia itu sendiri: dunia cukup berada di tangan untuk dikelola, namun jangan biarkan ia masuk dan menetap di dalam hati hingga menggeser kecintaan kepada Sang Pencipta.Setiap detik yang kita habiskan di dunia adalah investasi. Bekerja mencari nafkah dengan jujur adalah ibadah; mendidik anak dengan kasih sayang adalah jihad; bahkan menjaga lisan dari menyakiti orang lain adalah bagian dari membangun istana di surga kelak. Jika orientasi ini terus dijaga, maka rutinitas yang tampak biasa akan bernilai luar biasa di sisi Allah.

Penutup: Menyongsong Janji Allah sebagai penutup, marilah kita senantiasa merenungkan bahwa setiap langkah kita di bumi ini sedang menuliskan narasi untuk kehidupan kita selanjutnya. Allah tidak melihat seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa tulus apa yang kita persembahkan. Janji Allah dalam Surat Al-Haqqah ayat 24 yang telah disebutkan sebelumnya adalah pengingat manis bahwa kelelahan kita dalam beribadah dan bersabar di dunia akan dibayar dengan kenikmatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, jadikanlah dunia ini sebagai ladang tempat kita menanam benih-benih kebaikan. Jangan sampai kita terlena oleh indahnya bunga-bunga di pinggir jalan hingga lupa pada tujuan utama perjalanan. Sebab, hanya dengan ideologi yang benar inilah, kita dapat melangkah dengan pasti di atas jembatan dunia menuju kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak.

REFERENSI

Judul buku: kitab tauhid

Penulis: DR. Shalih Bin Fauzan Al-Fauzan

Diringkas oleh: Andini Baiti Syifa

Baca juga artikel:

Dzulqarnain Penguasa yang Adil

Hukum Seputar Qurban

Bagikan:

Artikel Terkait

Jagalah Amal Penghapus Dosa
Tarbiyah 08/09/2026

JAGALAH AMALAN PENGHAPUS DOSA

JAGALAH AMALAN PENGHAPUS DOSA Cukup banyak sunnah Nabi yang menjelaskan tentang amalan-amalan yang dapat menghapus keburukan dan dosa-dosa, antara lain: 1. Berwudhu. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ المُسْلِمُ أَوْ المُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْه خطيئة نظر إليها بعينيه مع الماء أو مع آخر قطر الماء فينا غسل […]

Sunnah Yanag Terlupakan Amalan Kecil Berpahala Besar
Adab 02/09/2026

Sunnah yang Terlupakan: Amalan Kecil Berpahala Besar

Sunnah yang Terlupakan: Amalan Kecil Berpahala Besar Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama ini dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat. Dalam kehidupan seorang Muslim, Sunnah Rasulullah merupakan pedoman utama setelah Al-Qur’an. Namun, seiring […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map