Skip to content

Besarnya Pahala Menyambung Silaturahmi Sesama Saudara

ykkokut
6 menit baca
Besarnya Pahala Menyambung Silaturahmi Sesama Saudara

Besarnya Pahala Menyambung Silaturahmi Sesama Saudara – Silaturahmi atau Shilahur-Rahim secara bahasa berarti menyambung hubungan rahim atau kekerabatan. Secara istilah syariat, ia adalah menjaga hubungan baik, saling mengunjungi, menolong, memberi nafkah, mendoakan, serta memaafkan sesama kerabat, keluarga, dan saudara seiman. Sebaliknya, memutus silaturahmi adalah menjauhkan diri, tidak mau berhubungan, memutus bantuan, dan memutus komunikasi tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Dalam pandangan Islam, silaturahmi bukan sekadar adat budaya atau kebiasaan sosial, melainkan ibadah yang memiliki kedudukan sangat tinggi dan menjadi tanda kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu tiang kebaikan yang menopang kehidupan bermasyarakat.

Dasar Hukum Silaturahmi

Silaturahmi diperintahkan secara tegas dalam Al-Qur’an dan diperjelas secara rinci dalam Hadits-hadits Rasulullah. Allah  Subhanahu Wata’ala berfirman: Artinya: “Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, maka ditulilah pendengaran dan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22–23)

Dari sisi Sunnah, Rasulullah menegaskan bahwa menyambung silaturahmi adalah kewajiban yang mendatangkan keberkahan, sedangkan memutuskannya adalah dosa besar yang mendatangkan kerugian. Ulama sepakat bahwa hukum asal silaturahmi adalah wajib kifayah hingga wajib ‘ain, tergantung derajat kekerabatan dan kebutuhan masing-masing.

Kedudukan Silaturahmi dalam Sunnah

Rasulullah menjelaskan bahwa silaturahmi memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Ia bukan hanya amalan biasa, melainkan amalan yang menjadi syarat diterimanya amal ibadah lain. Hal ini tercantum dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَلَا يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ

Artinya: “Amalan hamba diangkat setiap malam Kamis menuju Jumat. Tidak akan diterima amalan orang yang memutus silaturahmi.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya)

Pahala di Dunia – Keberkahan Rezeki, Umur, dan Ketenangan Hati

Rasulullah mengajarkan bahwa kebaikan silaturahmi terasa manfaatnya sejak di dunia, sebelum dibalas di akhirat. Berikut rincian pahalanya menurut Sunnah:

1. Dilapangkan Rezeki dan Diberi Kemudahan Hidup.

 Banyak orang bertanya kunci kelancaran rezeki, dan Rasulullah memberikan jawaban yang jelas: “Barangsiapa yang senang dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Diperpanjang Umur yang Penuh Keberkahan

Memanjangkan umur di sini bukan sekadar bertambahnya usia, tetapi usia yang berkah, dipenuhi amal saleh, dijauhkan dari kesengsaraan, dan dihormati sesama. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam:

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الأَهْلِ، مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ، وَمَنْسَأَةٌ فِي الأَثَرِ

Artinya: “Pelajarilah nasab kalian, agar kalian dapat menyambung kekerabatan. Karena sesungguhnya silaturahmi menumbuhkan rasa cinta di tengah keluarga, meluaskan harta, dan memperpanjang umur.” (HR. At-Tirmidzi).

3. Mendapat Dua Pahala Sekaligus

Setiap kebaikan kepada kerabat bernilai ganda dibandingkan kepada orang yang tidak memiliki hubungan darah: “Sedekah kepada orang miskin bernilai satu pahala. Sedangkan sedekah kepada kerabat bernilai dua pahala: pahala sedekah dan pahala silaturahmi.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, Ibnu Majah dinyatakan Hasan Shahih).

4. Menghapus Dosa dan Mendapatkan Ampunan

Silaturahmi menjadi sarana penghapus dosa. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah dua orang muslim bertemu, lalu bersalaman dan saling menanyakan kabar, kecuali dosa-dosa keduanya diampuni sebelum berpisah.” (HR. Abu Dawud At-Tirmidzi).

Pahala di Akhirat – Kedudukan Tinggi dan Jalan Menuju Surga

Pahala terbesar silaturahmi adalah balasan kekal di akhirat kelak. Berikut janji Allah dan Rasul-Nya:

1. Menjadi Jalan Langsung Masuk Surga

Ketika ditanya amalan apa yang paling cepat membawa masuk surga, Rasulullah menyebutkan silaturahmi sebagai salah satu rukun utamanya: “Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan sambunglah tali silaturahmi; niscaya engkau akan masuk surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Allah Menyambung Rahmat dan Ampunan-Nya

Silaturahmi memiliki hubungan langsung dengan rahmat Allah, digambarkan dalam hadits yang agung:

Kekerabatan itu tergantung di sisi ‘Arsy Allah. Ia berkata: ‘Barangsiapa menyambungku, niscaya Allah akan menyambungkan rahmat-Nya kepadanya. Barangsiapa memutuskanku, niscaya Allah akan memutuskan rahmat-Nya darinya.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

3. Mendapatkan Perlindungan dan Pertolongan Allah

Menyambung silaturahmi tetap wajib meski pihak lain memutusnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjelaskan: “Orang yang menyambung silaturahmi bukanlah orang yang membalas kebaikan semata. Melainkan orang yang ketika kerabatnya memutus hubungan, ia tetap menyambungnya demi Allah. Maka Allah akan menolongnya dan melindunginya dari kejahatan mereka.” (HR. Muslim dan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrod).

4. Terhindar dari Siksa dan Laknat

Sebaliknya, orang yang memutus silaturahmi terancam laknat Allah, sedangkan penyambungnya terbebas dari ancaman itu. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam: “Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan hukumannya di dunia sebelum di akhirat selain memutus silaturahmi dan berbuat aniaya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah ,dinilai Shahih).

Silaturahmi di zaman Rasulullah adalah wujud konkret kasih sayang (rahmah) yang dipraktikkan melalui kunjungan langsung, berbagi makanan, saling mendoakan, dan menjamu tamu. Praktik ini melintasi batas agama, suku, dan status sosial untuk menjaga keharmonisan bermasyarakat.

Berikut adalah contoh nyata dan bentuk silaturahmi yang dilakukan Rasulullah  bersama para sahabat:

1. Menjamu Tamu (Kisah Abu Thalhah): Sahabat Nabi, Abu Thalhah Al-Anshari, pernah mendahulukan menjamu tamu dengan memberikan jatah makanan keluarganya sendiri, bahkan rela lapar demi memastikan tamunya kenyang.

2. Menyambung Hubungan Beda Keyakinan: Asma binti Abu Bakar tetap menjalin silaturahmi dan menerima hadiah dari ibunya, Qutailah binti Abdul Uzza, yang saat itu masih musyrik, setelah diizinkan oleh Rasulullah.

3. Bertamu ke Rumah Kerabat: Rasulullah mencontohkan kebiasaan langsung mendatangi rumah sanak saudara untuk mempererat ikatan cinta kasih, seperti kebiasaan beliau mengunjungi putrinya, Fatimah Az-Zahra, dan kerabat lainnya.

4. Saling Memberi Hadiah: Beliau bersabda, “Saling memberilah hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” Praktik ini menjadi sarana utama para sahabat untuk merajut kasih sayang dan mencairkan suasana dalam interaksi sosial.

5. Mendamaikan yang Berselisih: Silaturahmi juga difokuskan untuk memperbaiki keretakan hubungan antar individu maupun kabilah. Rasulullah mencontohkan upaya turun langsung untuk mendamaikan pihak yang berkonflik agar persaudaraan umat tetap terjaga.

Cara Menyambung Silaturahmi yang Benar dan Penutup

  1. Cara Menyambung Silaturahmi Menurut Sunnah
  2. Silaturahmi tidak harus selalu bertemu atau memberi harta. Bentuknya luas dan mudah dilakukan:
  3. Mengunjungi atau bertamu secara berkala
  4. Menyapa lewat telepon, pesan, atau surat
  5. Memberi bantuan materi maupun tenaga saat dibutuhkan
  6. Mendoakan kebaikan untuk kerabat
  7. Memaafkan kesalahan dan tidak membalas dendam
  8. Menjaga ucapan agar tidak menyakiti hati

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengingatkan: “Sambunglah silaturahmi dengan cara apa pun yang kamu mampu, meski hanya dengan ucapan salam yang lembut.” (HR. Al-Baihaqi, Shahih)

Penutup:

Silaturahmi adalah investasi terbaik yang mendatangkan keuntungan berlipat ganda: hati menjadi tenang, rezeki dilancarkan, umur diberkahi, dosa diampuni, dan menjadi tiket menuju surga. Sebaliknya, memutuskannya berarti menutup pintu rahmat Allah dan mendatangkan kerugian kekal.

Mari kita perbaiki hubungan dengan saudara, kerabat, dan sesama muslim. Jangan biarkan perselisihan memisahkan apa yang telah disatukan Allah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang senantiasa menyambung silaturahmi, sehingga kita mendapatkan pahala yang besar di dunia dan akhirat. Aamiin.

Referensi:

  •  Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Adab, no. 5518, 5983, 5986
  •  Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, no. 13, 2555, 2557, 2558
  •  Sunan At-Tirmidzi, Kitab Az-Zakah, no. 658; Kitab Al-Birr, no. 1979, 2727
  •  Sunan An-Nasa’i, Kitab Az-Zakah, no. 2582
  •  Sunan Ibnu Majah, Kitab Az-Zakah, no. 1844; Kitab Az-Zuhd, no. 4211
  •  Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Adab, no. 4902, 5212
  •  Musnad Ahmad bin Hanbal, Jilid 3, no. 10272
  •  Adabul Mufrod, Al-Bukhari, no. 58, 62
  •  Silsilah Ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, no. 276, 561
  •  Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Imam Al-Mundziri

Penyusun: Ashilah Zahra (Tanggal: 21 Juni 2026)

BACA JUGA :

Bagikan:

Artikel Terkait

Sunnah Yanag Terlupakan Amalan Kecil Berpahala Besar
Adab 02/09/2026

Sunnah yang Terlupakan: Amalan Kecil Berpahala Besar

Sunnah yang Terlupakan: Amalan Kecil Berpahala Besar Pendahuluan Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama ini dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat. Dalam kehidupan seorang Muslim, Sunnah Rasulullah merupakan pedoman utama setelah Al-Qur’an. Namun, seiring […]

berbakti kepada orangtua dalam ajaran islam
Adab 01/09/2026

Berbakti Kepada Orang Tua Dalam Ajaran Islam

Berbakti Kepada Orang Tua Dalam Ajaran Islam – Di antara nikmat terbesar yang diberikan kepada manusia adalah kehadiran kedua orang tua. Melalui merekalah Allah menghadirkan kita ke dunia, memberikan kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan berbagai pengorbanan yang tidak ternilai harganya. Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan hubungan antara anak dan orang tua. Bahkan setelah perintah […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map