Dusta dan Efek Negatifnya
Dusta dan Efek Negatifnya – Bismillah, Segala puji adalah milik Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui segala keadaan hamba-hambaNya. Mengetahui segala gerak-gerik makhlukNya, Mendengar setiap ucapan dan perkataan, bahkan mengetahui apa yang ada di dalam isi hati manusia. Shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada sayyidul anam, Nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia termulia al amiin dan terpercaya, dan semoga shalawat bersambung kepada istri-isri beliau, shahabat-shahabat beliau dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Kedustaan merupakan sifat yang tercela, mencerminkan kepribadian seseorang yang rendah lagi hina, kepribadian yang buruk dan akhlak yang tercela. Demikian buruk dan rendahnya dusta menempati kedudukan dalam hati, penyakit yang merusak dan menghancurkan kehidupan sosial dan masyarakat. Namun, kenyataan yang terjadi bahwasanya dusta telah mengakar mendarah daging, tersebar luas dikalangan masyarakat, bahkan terdapat pandangan bahwasanya kedustaan adalah sebuah kewajaran, dia merupakan bagian dari rutinitas kehidupan dan kejujuran adalah sesuatu yang mengherankan. Sedikit dalil dari Al Quran dan Sunnah berkaitan tentang kedustaan dan apa yang disiapkan dan diberikan bagi orang-orang yang melakukan kedustaan. Semoga kita dijauhkan dari kedustaan dan ketidak jujuran.
- Kedustaan merupakan identitas asli orang munafik
Dusta mencakup hati, ucapan dan perilaku. Ketika dusta sudah menjadi bagian hidupnya baik dari keyakinan, maupun perkataan dan terlebih lagi dalam amalan perbuatan, maka kemunafikan adalah identitas asli dirinya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (QS. An Nisa 145)
Syeikh As Sa’di rahimahullah berkata: Allah memberitahukan tentang tempat kembali orang munafik yaitu bahwa mereka berada pada derajat yang paling rendah dari siksaan dan yang paling buruk kedaan hukumannya, di bawah seluruh kaum kafir. Karena mereka ini bersekutu dengan kaum kafir dalam kufur kepada Allah dan memrangi RasulNya, namun orang-orang munafik itu melebihi kaum kafir dalam konspirasi, tipu muslihat, dan kemampuan untuk mempegunakan Berbagai macam cara untuk memerangi kaum Muslimin dalam bentuk yang tidak disadari dan tidak terlihat jelas. Dan akhirnya mereka akan memperoleh semua kelebihan itu yaitu berlakunya hukum-hukum islam atas mereka dan berhaknya mereka mendapaytkan apa yang tidak di dapatkan kaum kafir. Dengan itu mereka berhak mendapatkan siksaan yang paling keras dan mereka tidak memiliki tempat untuk melarikan diri dari siksaNya dan tidak pula penolonga yang membela mereka dari sebagian siksaanNya. (Taisirul karimirrahman fii tafsiiril kalaaml Mannan li syeikh abdirrahman as sa’di /230)
- Kedustaan akan menghantarkan kepada neraka.
Seseorang yang melakukan dusta maka dengan kedustaan tersebut akan melahirkan kedustaan berikutnya dan berikutnya, menjerumuskan kepada dosa dan kemaksiatan. Ketika dirinya telah menjadi hamba yang senantiasa berdusta dan dicap sebagai kadzdzaab, maka dirinya akan mendapatkan neraka yang menyala-nyala. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا،
Artinya :”Hendaknya kalian jujur karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang akan selalu jujur dan berusaha untuk jujur sehinga dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. (HR.Muttafaqun ‘alaih – Ṣaḥīḥ Muslim – 2607)
- Kedustaan akan mendatangkan keraguan dan was-was.
Orang yang berdusta takut kebohongonnya terbongkar dan diketahui oleh orang lain. Takut kesalahan dan penyelewengan nya diketahui oleh masyarakat atau BPK, dan sebaliknya kejujuran akan mendatangkan ketenangan, kenyamanan dalam hati.
Sikap jujur yang dilakukan seseorang, baik dari hati, lisan dan perbuatan akan mendatangkan ketenangan, karena dia tidak akan merasa takut dan was-was. Dia menerangkan dan melakukan apa adanya, sesuai dengan kenyataan dan sop yang ditetapkan. Hal ini selaras dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam :
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ
Artinya :Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukan. Sungguh, kejujuran itu mendatangkan ketenangan dan kebohongan itu mendatangkan keraguan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
- Kedustaan akan menyebabkan terhapusnya keberkahan
Di awal permasalahan mungkin terasa mendapatkan keberuntungan dan hasil yang menjanjikan, akan tetapi keberkahan dan kebahagian akan Allah cabut dan hilangkan, Sebagaimana yang diterangkan oleh baginda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam :
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Artinya: “Penjual dan pembeli memiliki hak memilih selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan saling menjelaskan (kondisi barang), maka diberkahi dalam jual belinya. Namun jika keduanya menyembunyikan dan berbohong, maka keberkahan jual belinya dihapus” [HR. Bukhari no. 2110, Muslim no. 1532]
- Kedustaan menjadi sebab ditolaknya amalan.
Seseorang tatkala melakukan sebuah amalan atau perbuatan, lalu melakukan sebuah pemabatal, walaupun dia tidak jujur maka perkara tersebut tetap merusak dan membatalkan amalan nya dan membuat amalan tersebut tidak diterima. Dalam hadits shahih disebutkan:
غَزا نَبيٌّ مِنَ الأنبياءِ، فقال لقَومِه: لا يَتبَعْني رَجُلٌ مَلَكَ بُضعَ امرَأةٍ وهو يُريدُ أن يَبنيَ بها ولَمَّا يَبنِ بها، ولا أحَدٌ بَنى بُيوتًا ولَم يَرفَعْ سُقوفَها، ولا أحَدٌ اشتَرى غَنَمًا أو خَلِفاتٍ وهو يَنتَظِرُ وِلادَها، فغَزا، فدَنا مِنَ القَريةِ صَلاةَ العَصرِ أو قَريبًا مِن ذلك، فقال للشَّمسِ: إنَّكِ مَأمورةٌ وأنا مَأمورٌ، اللهُمَّ احبِسْها علينا، فحُبِسَت حتَّى فتَحَ اللهُ عليه، فجَمَع الغَنائِمَ، فجاءَت -يَعني النَّارَ- لتَأكُلَها، فلَم تَطعَمْها، فقال: إنَّ فيكُم غُلولًا، فليُبايِعْني مِن كُلِّ قَبيلةٍ رَجُلٌ، فلَزِقَت يَدُ رَجُلٍ بيَدِه، فقال: فيكُمُ الغُلولُ، فليُبايِعْني قَبيلَتُكَ، فلَزِقَت يَدُ رَجُلَينِ أو ثَلاثةٍ بيَدِه، فقال: فيكُمُ الغُلولُ، فجاؤوا برَأسٍ مِثلِ رَأسِ بَقَرةٍ مِنَ الذَّهَبِ، فوضَعوها، فجاءَتِ النَّارُ، فأكَلَتها. ثُمَّ أحَلَّ اللهُ لَنا الغَنائِمَ؛ رَأى ضَعفَنا وعَجزَنا فأحَلَّها لَنا
Artinya : ‘Ada seorang Nabi dari Nabi-nabi Allah yang ingin berperang. Dia berkata pada kaumnya, ‘Tidak boleh ikut bersamaku dalam peperangan ini seorang laki-laki yang telah berkumpul dengan isterinya dan dari itu dia mengharapkan anak tapi masih belum mendapatkannya, begitu pula orang yang telah membangun rumah tapi atapnya belum selesai. Juga tidak boleh ikut bersamaku orang yang telah membeli kambing atau unta bunting yang dia tunggu kelahiran anaknya’. Maka berangkatlah Nabi itu berjihad, dia sudah berada di dekat desa/daerah yang dia tuju saat Ashar telah tiba atau hampir tiba. Maka dia berkata kepada matahari, ‘Hai matahari, engkau tunduk kepada perintah Allah dan aku pun juga demikian. Ya Allah, tahanlah matahari itu sejenak agar tidak terbenam.’ Maka Allah menahan matahari itu hingga Allah menaklukkan daerah tersebut. Setelah itu bala tentaranya mengumpulkan semua harta rampasan di sebuah tempat, kemudian ada api yang datang menyambar tetapi tidak membakarnya. Maka Nabi itu berkata, ‘Di antara kalian ada yang khianat, masih menyimpan sebagian dari harta rampasan. Aku harap dari setiap kabilah ada seorang yang bersumpah padaku.’ Maka mereka pun datang satu per satu untuk disumpah. Kedua tangan Nabi itu lengket pada tangan salah seorang di antara mereka, ia berkata, ‘Di antara kabilah kalian ada orang yang berkhianat, aku minta semua orang di kabilahmu untuk bersumpah.’ Satu per satu mereka disumpah. Tiba-tiba tangan Nabi itu lengket pada tangan dua atau tiga orang. ‘Kalian telah berkhianat,’ katanya pada mereka. Lalu mereka pun mengeluarkan emas sebesar kepala sapi. Emas itu kemudian dikumpulkan dengan harta rampasan lain yang telah dikumpulkan sebelumnya di sebuah lapangan. Tiba-tiba datanglah api menyambar dan melalapnya. Harta rampasan memang tidak pernah dihalalkan untuk umat sebelum kita. Dan dihalalkan untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita’.” (HR. Bukhari 3124 dan Muslim 1747)
Diantara tanda diterimanya ibadah jihad mereka adalah datangnya apai dari langit yang membakar ghanimah atau rampasan perang mereka, Ketika api tersebut tidak memakannya, menujukkan akan adanya pendusta dan penghianat pada diri mereka (https://dorar.net/hadith/sharh/79734)
Demikianlah sedikit efek buruk dari perbuatan dusta. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang jujur, terjauhkan dari dusta. Semoga Allah menjadikan kejujuran tersebar di masyarakat kita, dan kita dikumpulkan di surga Allah bersama para penegak kejujuran. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘alaa ashhabihi ajmain.
Referensi:
- Al Qur’an dan terjemahnya
- Taisirul karimirrahman fii tafsiiril kalaaml Mannan li syeikh abdirrahman as sa’di
- Shahih Bukhari
- Shahih Muslim
- Sunan Tirmidzi
- Musnad Imam Ahmad
- Riyadushshalihin li Imam An Annawawi
Ditulis oleh: Apriyanto, staff pengajar di pondok pesantren Daarul Qur’an Wal Hadits OKU Timur
BACA JUGA :
