Kisah Nabi Ayyub alaihissalam

kisah

Kisah Nabi Ayyub alaihissalam

 

 

Nabi Ayyub termasuk orang yang sabar. ia sebaik-baik hamba Allah, Dan termasuk orang yang sangat taat kepada Allah.”

Adapun yang masyhur adalah, bahwasanya Nabi Ayyub ‘alaihissalam itu adalah termasuk anak keturunan dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Hal ini sebagaimana yang telah kami tegaskan pada bahasan sebelummnya, tepatnya yaitu pada penafsiran fiman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am:

وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ إِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ دَاوُۥدَ وَسُلَيْمَٰنَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ

”Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-An’am [6]: 84)

Ayyub adalah seorang Nabi yang secara tegas dinyatakan sebagai penerima wahyu, sebagaimana disebutkan pada firman-Nya:

۞ إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS An-Nisa [4]: 163)

Menurut pendapat yang lain, Nabi Ayyub ‘alaihissalam termasuk dalam urutan garis keturunan al-Ish bin Ishaq. Oleh karena itu, kami sebutkan hal itu disini. Selanjutnya, kami sambung dengan menyebutkan Nabi-Nabi Bani Israil setelah menyebutkan kisahnya, insya Allah. Hanya kepada-Nya kita percaya sepenuhnya dan hanya kepada-Nya pula kita bertawakkal.

 

  1. Kisah Nabi Ayyub di dalam al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-qur’an surah Al-Anbiya ayat 83-84:

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّه اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ ۚ

”Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

 

Dia juga berfirman dalam surah Shad ayat 41-44:

وَٱذْكُرْ عَبْدَنَآ أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلشَّيْطَٰنُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”.”

 

Para ahli tafsir, ahli sejarah, dan ilmuwan lainnya mengatakan: “Ayyub adalah seorang yang mempunyai banyak kekayaan dengan aneka ragam wujudnya, baik binatang ternak maupun tanah pertanian yang membentang di daerah Hauran.”

 

Ibnu Asakir menceritakan, bahwa suaminya itu adalah miliknya. Di samping itu ia mempunyai anak dan anggota keluarga yang sangat banyak. Lalu semua kekayaan itu diambil darinya, kemudian fisiknya diuji dengan berbagai macam penyakit, sehingga tidak ada satu pun anggota tubuhnya yang sehat melainkan hati dan lidahnya yang selalu berdzikir kepada Allah Ta’ala. Dengan penderitaan itu Dia tetap sabar dan tabah serta tetap selalu berdzikir kepada Allah pada siang dan malam hari, pagi dan sore hari.

Penyakit yang dideritanya itu berlangsung cukup lama hingga dia dikucilkan dan diusir dari kampungnya serta diputus dari interaksi dengan banyak orang. Tidak ada seorang pun yang menaruh kasihan kecuali istrinya saja, yang selalu memberikan perhatian yang dalam, dan dia tidak melupakan serta tetap menghargai kebaikan dan kasih sayang Ayyub ‘alaihissalam di masa-masa yang lalu. Istrinya tidak henti-hentinya mengurus segala yang dibutuhkannya, termasuk membantunya buang hajat dan semua keperluannya sehingga keadaan istrinya itu semakin lemah dan hartanya pun semakin menipis, hingga dia bekerja pada orang lain untuk dapat memberi makan suaminya serta mengobatinya. Semoga Allah meridhainya dan memberikan keridhaan kepadanya. Namun Nabi Ayyub tetap sabar dan tabah dengan peristiwa yang menimpanya dan dengan hilangnya kekayaan dan anak dari sisinya, serta penderitaan yang bertubi-tubi setelah sebelumnya dia benar-benar merasakan kenikmatan dan kemuliaan. Maka, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungghunya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali).

Dalam sebuah hadits ditegaskan bahwa Rasulullah bersabda:

 “Orang yang mendapat cobaan paling berat adalah para Nabi, lalu orang-orang shalih, kemudian yang semisal dan seterusnya. Seseorang itu diuji sesuai dengan tingkat keteguhannya berpegang pada agamanya. Jika dia benar-benar teguh, maka dia akan semakin ditambah ujiannya.”

(HR. At-tirmidzi no. 2398)

 

Ujian dan cobaan itu tidak menambah Ayyub ‘alaihissalam melainkan kesabaran, ketabahan, pujian, dan rasa syukur. Kisah diatas merupakan contoh kesabaran Ayyub ‘alaihissalam, serta beratnya bala’ dan ujian yang ia hadapi.

 

Para ahli tafsir dan sejarah berbeda pendapat mengenai masa cobaan yang dijalaninya. Adapun yang benar adalah sebagaimana diaebutkan didalam sunnah yang shahih.

Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi bersabda:

“Sesungguhnya, Nabi Allah Ayyub menjalani ujiannya selama delapan belas tahun. Lalu, kerabat dekat maupun jauh menyingkirkannya, kecuali dua orang saudaranya yang merupakan saudaranya yang paling istimewa baginya. Keduanya selalu datang menjenguknya pada pagi dan sore hari. Salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lainnya: ‘Tahukah kamu, demi Allah, Ayyub telah melakukan perbuatan dosa yang tidak pernah dikerjakan oleh seorang pun dari penduduk alam ini’ kemudian, yang lainnya berkata kepada saudaranya itu: ‘Apakah dosa tersebut?’ Dia menjawab: ‘Sejak delapan belas tahun Rabbnya tidak menyayanginya, sehingga menimpalah apa yang menimpanya.’ Ketika pada sore hari, keduanya pergi menjenguknya, yang salah seorang dari keduanya tidak sabar untuk mengatakan hal itu kepada Ayyub. Maka Ayyub berujar:’ Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan tadi, sedang Allah mengetahui bahwa aku pernah berjalan melewati dua orang laki-laki yang sedang bertengkar, lalu mereka menyebut-nyebut nama Allah. Lalu, aku kembali ke rumah dan mengkafirkan keduanya, karena aku tidak berharap nama Allah disebut kecuali dalam masalah yang haq.”

Lebih lanjut, Rasulullah bercerita:

“Ayyub pernah pergi menunaikan keperluannya, dan setelah selesai, istrinya menarik tangannya kembali pulang. Dan, pada suatu hari, istrinya dengan pelan mendatanginya, lalu Allah mewahyukan kepada Ayyub ketika sedang berada di tempatnya: “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk dan untuk minum.” (QS. Shad [38]: 42)

 

Istrinya mendatanginya perlahan-lahan dan memegangnya seraya melihatnya, sedang Ayyub menghadapkan dirinya kepada istrinya dan ternyata Allah telah melenyapkan semua penyakit yang dideritanya. Dia pulih dan sehat seperti semula. Setelah melihatnya seperti itu, istrinya berucap: ‘Semoga Allah memberikan berkah kepadamu. Apakah kamu, wahai Nabi Allah, mengetahui Dzat yang memberikan ujian itu. Hanya Allah yang berkuasa melakukan tersebut. Aku tidak pernah menyaksikan orang sepertimu jika dia dalam keadaan sehat?’ Ayyub menjawab: ‘Sungguh, akulah orangnya.”

Dia mengatakan: “Ayyub ‘alaihissalam memiliki dua tempat lumbung; satu untuk menimbun qamh (biji gandum) dan yang satu lagi untuk menimbun sya’ir. Lalu, Allah mengirim dua awan. Setelah salah satu awan itu berada ditempat penimbunan qamh tadi, maka dia mengisinya dengan emas sampai penuh. Sedangkan awan yang satu lagi mengisi tempat penimbunan sya’ir dengan dedaunan sampai penuh juga.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, dari Nabi, beliau bersabda:

“Setelah menyembuhkan Ayyub ‘alaihissalam, Allah menurunkan hujan berupa belalang emas kepadanya. Lalu, Ayyub mengambil sebagian darinya dengan tangannya dan menaruhnya pada bajunya.” Beliau Rasulullah melanjutkan: “Ditanyakan kepadanya:’Hai Ayyub, tidakkah engkau puas?’ Dia menjawab: ‘Ya Rabbku, siapakah yang pernah kenyang dari rahmat-Mu.'”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Rasulullah:

“Ketika Ayyub sedang mandi dalam keadaan telanjang, tiba-tiba sekumpulan belalang emas bersujud kepadanya, kemudian Ayyub meraupnya dan memasukkan ke bajunya, Rabbnya berseru kepadanya: ‘Hai Ayyub, bukankah Aku telah menjadikan kamu kaya seperti yang kamu saksikan?’ Ia menjawab: ‘ Banar, ya Rabbku, tetapi tidak pernah aku merasa cukup dengan berkah-Mu.'”

Firman Allah Ta’al surah Shad ayat 42:

اُرکُض بِرِجلِك ۚ هذا مُغتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّ شَرَابٌ

”Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk dan untuk minum.” (QS. Shad [38]: 42)

Artinya, hentakkanlah kakimu ketanah. Maka Ayyub ‘alaihissalam pun menaati perintah-Nya, sehingga Allah membuatkan sumber air yang jernih, lalu menyuruhnya mandi dan minum dari air tersebut. Setelah mandi dan meminum air itu, lenyaplah semua penyakit yang dideritanya selama ini, baik yang lahir maupun batin.

 

Kemudian, Allah Ta’ala menggantinya dengan kesehatan lahir dan bathin, ketampanan yang sempurna dan harta kekayaan yang melimpah. Bahkan, Allah Ta’ala juga menurunkan hujan belalang emas kepadanya, serta mengembalikan keluarganya, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam surah Al-Anbiya ayat 84.

 

Ada yang berpendapat, Allah Ta’ala menghidupkan mereka secara keseluruhan. Dan, ada lagi yang berpendapat, Allah Ta’ala memberikan ganti kepadanya ketika di dunia dan menyatukan mereka kembali bersamanya kelak di akhirat.

Firman Allah dalam surah Al-Anbiya ayat 84:

فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَكَشَفْنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرٍّ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَٰبِدِينَ

“Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”

 

Maksudnya, Kami hilangkan kesusahan yang dideritanya dan Kami lenyapkan penderitaannya sebagai rahmat dari Kami sekaligus kasih sayang dan kebaikan Kami kepadanya. Yaitu, sebagai peringatan bagi orang yang mengalami cobaan, baik itu fisik, harta kekayaan, maupun anak keturunannya. Maka hendaklah dia menjadikan Nabi Ayyub ‘alaihissalam sebagai suri tauladan, karena beliau pernah diuji oleh Allah dengan cobaan yang lebih berat, lalu dia bersabar sehingga Allah menyembuhkannya kembali.

 

Dari ayat di atas ada beberapa orang menetapkan nama istri Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Dia mengatakan, yaitu bernama “Rahmah“.

 

Dan setelah itu, Nabi Ayyub sempat menjalani hidupnya selama tujuh puluh tahun di negri Romawi dengan memeluk agama yang hanif. Adapun orang-orang setelahnya, mereka mengubah agama Ibrahim ‘alaihissalam.

 

  1. Jika Bersumpah kepada Allah, Nabi Ayyub Menepatinya

 

Firman Allah Ta’ala dalam surah Shad ayat 44:

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَٱضْرِب بِّهِۦ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَٰهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ ٱلْعَبْدُ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ

“Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).”

 

Ada yang berpendapat, sumpahnya untuk memukul istrinya itu akibat tindakan istrinya menjual kepang rambutnya. Dan, ada juga yang berpendapat, bahwa yang demikian itu karena istrinya mau diperlihatkan kepadanya syaitan dalam wujud seorang tabib untuk mengobati Ayyub, lalu dia mengetahui bahwa itu adalah syaitan, sehingga dia bersumpah akan memukul istrinya seratus kali pukulan.

 

Setelah menyembuhkan Ayyub, Allah menyuruhnya agar mengambil seikat rumput dan memukulkannya sekali saja, dan hal itu sudah setara dengan pukulan seratus kali, dan selanjutnya ia diperintahkan untuk berbuat baik dan tidak melanggar sumpah.

 

Yang demikian itu merupakan bentuk keberuntungan dan jalan keluar yang diberikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa kepada-Nya dan menaati-Nya, apalagi terhadap seorang istri yang sangat sabar lagi penyayang, jujur, baik, lagi lurus. Wallahu a’lam

 

Referensi:

 

Terjemahan “Kisah Shahih Para Nabi” karya Al-Hafidz Ibnu Katsir, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’I, Dzulhijjah 1440H/ Agustus 2019M

Diringkas oleh: Lailatul Fadhilah (Pengajar Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

Baca Juga Artikel:

Meninggal Corona Syahid?

Jika doa Tidak Dikabulkan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.