Skip to content

Meninggalkan Sesuatu Karena Allah

ykkokut
7 menit baca
meninggalkan sesuatu karena Allah

Meninggalkan Sesuatu Karena Allah – Islam merupakan agama yang tidak hanya mengajarkan seorang muslim untuk mengerjakan berbagai amal saleh, tetapi juga mengajarkan agar meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah. Bahkan dalam banyak keadaan, meninggalkan sesuatu yang diharamkan atau sesuatu yang dapat melalaikan dari ketaatan merupakan bentuk ibadah yang sangat besar nilainya di sisi Allah. Prinsip ini dikenal dengan istilah at-tark lillāh (الترك لله), yaitu meninggalkan sesuatu semata-mata karena mengharap ridha Allah Ta’ala.

Konsep meninggalkan sesuatu karena Allah bukanlah sekadar menahan diri, melainkan merupakan manifestasi dari keimanan, ketakwaan, keikhlasan, serta keyakinan bahwa seluruh ketentuan Allah mengandung hikmah dan kebaikan bagi hamba-Nya. Oleh sebab itu, seseorang yang mampu meninggalkan sesuatu yang dicintainya demi Allah menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allah lebih besar dibandingkan kecintaannya terhadap hawa nafsu ataupun kepentingan dunia.

  1. Landasan Al-Qur’an

Prinsip meninggalkan sesuatu karena Allah berakar kuat dalam Al-Qur’an. Allah memerintahkan manusia agar menjauhi segala bentuk kemaksiatan serta mendahulukan keridaan Allah di atas kepentingan pribadi.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ  (٤٠)  فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ (٤١)

Artinya: “Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan dirinya dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya demi menaati Allah akan memperoleh balasan berupa surga. Dengan demikian, meninggalkan sesuatu karena Allah merupakan salah satu bentuk jihad melawan hawa nafsu (jihad an-nafs).

Selain itu Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍۢ وَأَشْهِدُوا۟ ذَوَىْ عَدْلٍۢ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا۟ ٱلشَّهَـٰدَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ ۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍۢ قَدْرًا (٣)

Artinya: “Maka apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (Q.S. Ath – Thalaq: 2 – 3)

Ayat ini menjadi salah satu dasar bahwa orang yang meninggalkan sesuatu demi Allah tidak akan disia-siakan. Allah akan memberikan solusi, kecukupan, serta pengganti yang lebih baik.

  • Landasan Hadis

Dalil utama mengenai pembahasan ini berasal dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ

Artinya: “Sesungguhnya engkau tidak akan meninggalkan sesuatu karena bertakwa kepada Allah, melainkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Ahmad, dinyatakan sahih oleh para ulama, di antaranya Syaikh Al-Albani)

Hadis ini menjadi kaidah penting dalam kehidupan seorang muslim. Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa penggantinya selalu berupa harta, tetapi “sesuatu yang lebih baik”. Pengganti tersebut dapat berupa:

  • ketenangan hati,
  • keberkahan hidup,
  • kemudahan urusan,
  • keluarga yang saleh,
  • ilmu yang bermanfaat,
  • kesehatan,
  • pahala di akhirat,
  • bahkan surga.

Karena itu, seorang mukmin tidak pernah benar-benar rugi ketika meninggalkan sesuatu karena Allah.


  • Hakikat Meninggalkan Sesuatu Karena Allah

Para ulama menjelaskan bahwa tidak semua orang yang meninggalkan suatu perkara akan memperoleh keutamaan sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Yang menjadi ukuran adalah niat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila seseorang meninggalkan maksiat karena malu kepada manusia, takut kehilangan jabatan, menjaga citra diri, atau alasan duniawi lainnya, maka ia tidak termasuk dalam makna hadis “Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Sebaliknya, apabila seseorang meninggalkan sesuatu semata-mata karena mengharap ridha Allah, walaupun hatinya masih menginginkannya, maka ia termasuk orang-orang yang mendapatkan janji tersebut.

  • Penjelasan Para Ulama
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Beliau menjelaskan bahwa seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah akan memperoleh pengganti yang lebih baik, baik berupa pengganti yang dapat dirasakan di dunia maupun yang disimpan Allah di akhirat.

Menurut beliau, bentuk penggantian tidak harus sama dengan apa yang ditinggalkan. Seseorang yang meninggalkan pekerjaan haram belum tentu langsung memperoleh pekerjaan dengan gaji lebih besar, tetapi Allah mungkin menggantinya dengan ketenangan hati, keberkahan keluarga, kesehatan, atau kemudahan dalam ibadah.

  • Ibnu Rajab Al-Hanbali

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan syahwat yang haram demi Allah akan merasakan manisnya iman. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ bahwa salah satu tanda seseorang merasakan manisnya iman adalah ketika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya.

  • Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Beliau menegaskan bahwa meninggalkan maksiat merupakan bagian dari ketakwaan. Tidak cukup hanya memperbanyak ibadah, tetapi juga wajib meninggalkan segala bentuk larangan Allah.

  • Bentuk-Bentuk Meninggalkan Sesuatu Karena Allah

Implementasi hadis tersebut sangat luas dalam kehidupan seorang muslim. Di antaranya:

  1. Meninggalkan Maksiat

Misalnya:

  • meninggalkan riba,
  • meninggalkan zina,
  • meninggalkan musik yang melalaikan menurut pendapat yang mengharamkannya,
  • meninggalkan ghibah,
  • meninggalkan tontonan haram,
  • meninggalkan minuman keras,
  • meninggalkan judi.

Semua itu termasuk bentuk ibadah apabila dilakukan karena Allah.

  • Meninggalkan Penghasilan Haram

Seseorang yang meninggalkan pekerjaan yang mengandung unsur riba, penipuan, suap, atau transaksi haram sering kali merasa takut kehilangan penghasilan. Namun Allah menjanjikan pengganti yang lebih baik.

  • Meninggalkan Hubungan yang Haram

Hubungan pacaran, perselingkuhan, atau hubungan yang tidak diridhai Allah apabila ditinggalkan karena Allah termasuk bentuk pengorbanan besar. Banyak kisah ulama maupun kaum muslimin yang kemudian Allah ganti dengan pasangan yang jauh lebih baik.

  • Meninggalkan Syubhat

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ersabda:

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

Artinya: “Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa meninggalkan perkara yang meragukan juga merupakan bagian dari ketakwaan.

  • Hikmah Meninggalkan Sesuatu Karena Allah

Beberapa hikmah yang dapat diambil antara lain:

  1. Membersihkan hati

Seseorang menjadi lebih ikhlas dan lebih dekat kepada Allah.

  • Menguatkan iman

Setiap kali berhasil melawan hawa nafsu, keimanan seseorang semakin meningkat.

  • Mendatangkan keberkahan

Rezeki yang halal meskipun sedikit lebih diberkahi daripada rezeki yang banyak tetapi haram.

  • Mendapatkan ketenangan

Orang yang meninggalkan maksiat umumnya merasakan ketenangan batin yang tidak dapat dibeli dengan materi.

  • Mendapatkan pengganti yang lebih baik

Pengganti tersebut bisa berupa:

  • iman,
  • ilmu,
  • rezeki,
  • pasangan,
  • sahabat saleh,
  • kesempatan dakwah,
  • kesehatan,
  • ataupun pahala akhirat.
  • Implementasi dalam Kehidupan Modern

Pada era digital, bentuk meninggalkan sesuatu karena Allah semakin beragam. Seorang muslim dapat menerapkannya dengan cara:

  • meninggalkan konten pornografi,
  • meninggalkan media sosial yang melalaikan,
  • menghentikan praktik plagiarisme,
  • menolak suap dalam pekerjaan,
  • menolak manipulasi data,
  • meninggalkan bisnis yang haram,
  • menjaga lisan dari ujaran kebencian,
  • membatasi hiburan yang berlebihan,
  • memilih lingkungan pergaulan yang baik.

Semua bentuk pengorbanan tersebut apabila dilakukan karena Allah termasuk dalam cakupan hadis Rasulullah bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

KESIMPULAN

Meninggalkan sesuatu karena Allah merupakan salah satu bentuk ibadah hati yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam. Konsep ini tidak hanya berkaitan dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga mencakup segala bentuk pengorbanan terhadap sesuatu yang dicintai apabila hal tersebut bertentangan dengan syariat Allah. Landasan mengenai prinsip ini bersumber dari Al-Qur’an, hadis Nabi, serta penjelasan para ulama yang menegaskan bahwa keikhlasan merupakan syarat utama diterimanya amal.

Hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa Allah akan mengganti sesuatu yang ditinggalkan karena-Nya dengan sesuatu yang lebih baik merupakan motivasi besar bagi setiap muslim untuk mendahulukan keridaan Allah daripada kepentingan dunia. Penggantian tersebut tidak selalu berupa materi, melainkan dapat berupa ketenangan hati, keberkahan hidup, kemudahan dalam beribadah, rezeki yang halal, keluarga yang saleh, hingga pahala yang besar di akhirat.

Dalam konteks kehidupan modern, implementasi konsep ini dapat diwujudkan dengan meninggalkan berbagai bentuk maksiat, transaksi yang haram, pergaulan yang tidak sesuai syariat, serta segala sesuatu yang dapat menjauhkan seorang muslim dari Allah SWT. Dengan demikian, prinsip meninggalkan sesuatu karena Allah bukan hanya menjadi bentuk ketakwaan individual, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun karakter muslim yang jujur, amanah, dan berintegritas.

DAFTAR PUSTAKA:

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.

Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim.

Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad.

Ibnu Rajab Al-Hanbali. Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-ikam.

Ibnu Taimiyah. Majmū’ al-Fatāwā.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Madarij as-Salikin.

Rumaysho. Meninggalkan Sesuatu Karena Allah. https://rumaysho.com/9596-meninggalkan-sesuatu-karena-allah.html

Muslim.or.id. Meninggalkan Sesuatu Karena Allah Ta’ala. https://muslim.or.id/29179-meninggalkan-sesuatu-karena-allah-taala.html

Firanda Andirja Official. Aku Meninggalkannya Karena Allah. https://firanda.com/aku-meninggalkannya-karena-allah/

Almanhaj. Meninggalkan Maksiat Karena Allah. https://almanhaj.or.id/81079-meninggalkan-maksiat-karena-allah.html

Bimbingan Islam. Saat Kamu Meninggalkan Sesuatu Karena Allah. https://bimbinganislam.com/saat-kamu-meninggalkan-sesuatu-karena-allah/

Bincang Syariah. Hikmah Pagi: Meninggalkan Sesuatu Karena Allah. https://bincangsyariah.com/kolom/hikmah-pagi-meninggalkan-sesuatu-karena-allah/

Hijrah App. Meninggalkan Sesuatu Karena Allah. https://hijrah.app/2021/07/28/meninggalkan-sesuatu-karena-allah/

Bagikan:

Artikel Terkait

di persimpangan jalan
Aqidah 19/09/2026

Di Persimpangan Jalan

Di Persimpangan Jalan – Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Seluruh ilmu pengetahuan umum yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia, seperti ilmu fisika maupun matematika, serta ilmu agama memiliki kegunaannya masing-masing. Ditinjau dari sisi manfaat, ilmu agama memiliki kedudukan dan manfaat yang jauh lebih besar karena mengajarkan tata cara meraih kebahagiaan hidup […]

SUMBER PENGAMBILAN AQIDAH ISLAM
Aqidah 19/09/2026

Sumber Pengambilan Aqidah Islam

Sumber Pengambilan Aqidah Islam Seperti telah diketahui bahwa nabi Muhammad adalah orang yang paling mengerti tentang Allah. Beliau orang yang paling antusias menasehati manusia dan yang paling fasih ungkapannya dalam memberikan penjelasan jadi, dalam diri beliau berpadu antara kesempurnaan ilmu, kemampuan dan kemauan. Sehingga dengannya beliau bisa memberikan penjelasan yang komplit terhadap masalah-masalah agama, baik […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
337 Tahun 2026 (29 Juli 2026 )

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map