Tonggak-tonggak dalam perjalanan mencari ilmu (Para penuntut ilmu ketika berada di rumah)
Tonggak-tonggak dalam perjalanan mencari ilmu (Para penuntut ilmu ketika berada di rumah) – Penuntut ilmu itu ibarat hujan, kemana pun ia melangkah maka ia akan mendapatkan manfaat, dan manfaatnya yang paling besar adalah di rumahnya, maka sudah seharusnya manfaatnya itu nyata dan nyata di rumahnya.
Hendaknya ia memeriksa keluarganya dengan hal-hal ilmu yang mereka butuhkan, karena ia datang dari mengajar orang lain yang mengharapkan pahala membimbing mereka, maka kaumnya sendiri dan mereka yang berada di bawah asuhannya lebih utama, karena mereka adalah kawanannya dan termasuk di antara orang-orang istimewanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
كُلُّكُمْ رَاعٍ
Artinya: “Setiap kamu adalah pemimpin…” (Muttafaqun Alaih)
(1). Maka hendaknya ia memberi mereka bagian mereka, dan hendaknya ia bersegera mengajarkan mereka hal-hal yang paling penting dalam agama terlebih dahulu, dan yang paling bermanfaat dan paling besar di antara mereka, maka hendaknya ia mengajarkan mereka iman dan Islam, dan memperbarui bagi mereka ilmu tentang itu meskipun mereka telah mempelajarinya, dan hendaknya ia mengajarkan mereka kebaikan, dan hendaknya ia mengajarkan mereka wudhu dan mandi dan keterangannya, dan wudhu kering dan shalat, dan semua yang ada dalam hal itu dari tindakan wajib, tindakan yang dianjurkan dan keutamaan, dan segala sesuatu yang mereka butuhkan dari masalah agama mereka, yang paling penting kemudian yang paling penting” .
(2) Hendaknya ia rajin mengajarkan anak-anaknya dalam perkataan dan perbuatan, dan hendaknya ia rajin menerapkan Sunnah di hadapan mereka, agar tertanam kuat dalam pikiran mereka. Barangkali ini salah satu metode pengajaran yang paling bermanfaat, karena betapa banyak perkataan dan perbuatan yang telah dihafal anak-anaknya yang mereka lihat terpancar dari ayah dan ibu mereka, baik pagi maupun sore.
Dia harus sangat berhati-hati terhadap perilaku buruk dan tidak memperlihatkan kasih sayang dan kebaikan, karena hal itu merupakan salah satu hal terbesar yang menjauhkan orang dari dirinya dan pengetahuannya.
Yaqub bin Abdurrahman meriwayatkan dari Abu Hazim Rahimahullah, dia berkata:
السيئُ الخلق أشقى الناس به نفسُهُ التي بين جنبيه، هي مِنه في بلاء، ثم زوجتُهُ، ثم ولدُهُ، حتى أنه ليدخل بيته، وإنهم لفي سرور، فيسمعون صوته، فينفرون منه …
Artinya: “Masalah akhlak: Dia menyembuhkan manusia dengannya, yaitu hawa nafsu yang ada di antara kedua rusuknya, yang sedang dalam kesusahan, kemudian istrinya, kemudian anaknya, hingga dia masuk ke dalam rumahnya, sedang mereka bergembira, kemudian mereka mendengar suaranya, lalu lari darinya karena takut, dan hingga binatang buruannya menghindar dari lemparan batu, dan anjingnya melihatnya, lalu mundur ke dinding, bahkan kucingnya pun lari darinya.”
Hendaknya seorang muslim waspada terhadap akhlak yang buruk, dan hendaknya ia sering-sering membaca doa berikut: “Ya Allah, tuntunlah aku kepada akhlak yang terbaik, karena tidak ada yang dapat menuntun kepadaku akhlak yang terbaik kecuali Engkau, dan jauhkanlah dariku akhlak yang paling buruk, karena tidak ada yang dapat menolak akhlak yang paling buruk kecuali Engkau, dan doa-doa lain yang semisalnya yang telah diriwayatkan dalam surah ini.”
Saya akan sampaikan beberapa hadits dan riwayat yang berkaitan dengan kepedulian umat Islam terdahulu terhadap keluarga dan anak-anak mereka.
Imam al-Bukhari rahimahullah berkata:
باب تعليم الرجل أمته و أهله
“Bab tentang seorang laki-laki yang mengajar budak perempuannya dan keluarganya.”
Kemudian beliau mengutip rantai riwayatnya dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثلاثة لهم أجران: رجل من أهل الكتاب,آمن بنبيه و آمن بمحمد صلى الله عليه وسلم و العبد المملك إذا أدى حق الله وحقمواليه, ورجل كانت عنده أمة فأدبها فأحسن تأديبها, وعلمها فأحسنا تعليمها, ثم أعتقاها فتزوجها فله أجران
Artinya: “Tiga orang yang mendapatkan dua pahala: seorang laki-laki dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepada Muhammad, dan seorang budak…” Jika seorang hamba sahaya melanggar hak-hak Allah dan hak-hak keturunannya, dan seorang laki-laki memiliki seorang hamba sahaya lalu melanggar hak-haknya, lalu ia berbuat baik kepadanya, mendidiknya dengan baik, kemudian memerdekakannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala. (shahih, HR Bukhari dalam Adabul Mufrod (150))
Dalil dari hadits tersebut adalah sabdanya: “Dan seorang laki-laki yang mempunyai budak perempuan, lalu ia mendidik budaknya itu…” Maka jika seorang laki-laki diberi pahala karena mendidik budak perempuannya, lalu bagaimana dengan mendidik anak-anak dan keluarganya?
Di antara hal-hal yang termasuk dalam mendidik anak-anak adalah perintah Nabi kepada Ibnu Abbas tentang posisi makmum dalam kaitannya dengan imam. Hal ini terjadi ketika Ibnu Abbas -raḍiyallāhu ‘anhu- berdiri di sebelah kiri wanita itu, sehingga Nabi memegang telinga Ibnu Abbas –raḍiyallāhu ‘anhu- dan menyuruhnya berdiri di sebelah kanannya. Hadits ini tercatat dalam dua Shahih .
Dari Malik bin Al-Huwairith radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi bersama sekelompok besar kaumku, dan kami tinggal bersamanya selama dua puluh malam. Beliau sangat penyayang dan baik hati. Ketika beliau melihat kerinduan kami kepada keluarga, beliau bersabda: “Kembalilah dan berkumpullah dengan mereka, ajari mereka, dan salatlah. Ketika waktu salat tiba, hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan, dan hendaklah orang yang tertua di antara kalian mengimami salat kalian.” (HR. Al-Bukhari ).
Dalil dari hadits tersebut adalah sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam: “Maka jadilah kamu di tengah-tengah mereka dan ajarilah mereka”, dan di dalamnya terdapat anjuran untuk mengajari keluarga.
Hakikat ilmu adalah yang terbaik.
Imam Al-Bayhaqi rahimahullah berkata: Bab tentang kewajiban ayah dan ibu untuk mengajarkan anak-anaknya tentang bersuci dan shalat.
Kemudian dia mengutip mata rantai periwayatannya dan menyebutkan hadits Nabi, semoga Allah memberkahinya dan memberinya kedamaian: “Ajarilah anak laki-laki untuk shalat ketika dia berusia tujuh tahun, dan pukullah dia karena shalat itu ketika dia berusia sepuluh tahun” .
Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah berkata: “Apa yang telah diriwayatkan tentang laki-laki yang mengajari anak-anak dan istri-istri mereka, dan tentang tuan-tuan yang mengajari budak-budak laki-laki dan perempuan mereka, dan beliau mengutip beberapa riwayat, di antaranya:
Ibnu Umar –semoga Allah meridhoi mereka berdua- berkata kepada seorang laki-laki: “Didiklah anakmu, karena engkau bertanggung jawab atas apa yang engkau ajarkan kepada anakmu, dan dia bertanggung jawab atas kebaikan dan kepatuhannya kepadamu.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Hasan bin Ali mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, seraya berkata: “Kikh, kikh” hendak membuangnya. Kemudian ia berkata: “Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya kami tidak memakan sedekah?!”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan manfaat hadits ini: “Dibolehkan memasukkan anak-anak ke dalam masjid, mendidik mereka dengan apa yang bermanfaat bagi mereka, dan mencegah mereka dari apa yang membahayakan mereka dengan memakan yang haram, meskipun tidak wajib, agar mereka terlatih dengan hal itu.
REVERENSI:
Judul Buku : Ma’aalimun fii tholibul ‘Ilmi
Penulis : Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdillah Ash-sadhan
Diringkas oleh : Riris Lestiani (Pengabdian Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur OKU Timur)
BACA JUGA :
