Tag: pahala

  • Benar-Benar Hijrah

    Benar-Benar Hijrah

    Benar-Benar Hijrah – Istilah “hijrah” memang sedang tren beberapa tahun terakhir. Kalau kita ketikkan kata “hijrah” di halaman trends.google.com, Google akan mengonfirmasi hal itu. Masifnya fenomena hijrah di Indonesia konon turut menyumbang kebingungan massal bagi para ilmuwan sosial di Indonesia dan mancanegara. Pertanyaan mendasar mereka adalah, “Apa penyebab meningkatnya ketakwaan secara drastis dari para ‘muhajirin’ tersebut?” Terlebih, fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan santri, melainkan juga merembet ke institusi-institusi pendidikan sekuler, kalangan artis, bahkan para aparatur negara.

    Berbagai penelitian pun diadakan dan berbagai simpulan pun dipublikasikan. Hasilnya, alih-alih melihat ajaran Islam sebagai landasan berhijrah, publikasi ahli sosial itu lebih banyak menyoroti masalah kehampaan jiwa, transformasi mental, sampai mencari identitas diri. Pembahasan hijrah pun tidak jauh-jauh dari pelabelan dan simbolisasi seperti pemakaian bahasa Arab dasar dalam pergaulan sehari-hari dan pemakaian hijab atau celana cingkrang. Selebihnya, mereka memandang hijrah sebagai sesuatu yang layak diwaspadai dan diawasi. Tanggapan publik pun beragam. Sebagian melihatnya sebagai sesuatu yang positif, tetapi ada pula yang mencurigainya sebagai ancaman disertai nyinyiran dari berbagai sisi.

    Secara bahasa, hijrah berasal dari kata hajara (هجر) yang artinya at-tark (الترك), yaitu meninggalkan, berpaling, memutuskan, dan berpindah. Kata ini bertebaran di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, baik dalam bentuk fi’il maupun isim. Semuanya memuat makna-makna tersebut. Misalnya, firman Allah Ta’ala,

    وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا

    Artinya: “Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara meninggalkan yang baik.” (QS. Al-Muzzammil: 10)

    Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

    وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْۖ

    Artinya: “Dan segala (perbuatan) yang keji, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 5)

    Secara istilah, para ulama memberikan berbagai definisi atas kata “hijrah” ini. Mulai dari meninggalkan – secara fisik – negeri yang tidak aman (dalam melaksanakan agama) menuju negeri yang aman (dalam melaksanakan agama) sampai meninggalkan setiap hal yang tidak baik menuju kepada setiap hal yang baik menurut agama. Pendeknya, hijrah bisa diartikan secara fisik maupun maknawi.

    Secara fisik hijrah adalah berpindah dari negeri yang kufur, negeri yang tidak aman, dan negeri yang diliputi kejelekan sehingga peribadahan kepada Allah tidak dapat dipraktikkan secara leluasa menuju negeri mukmin, yang aman, dan negeri yang diliputi kebaikan di mana peribadahan kepada Allah bisa dilaksanakan dengan leluasa. Hijrah seperti ini hukumnya wajib bagi yang tinggal di lingkungan seperti disebutkan di atas serta memiliki kemampuan fisik dan mental, pengetahuan, dan finansial. Hukum ini tetap berlaku sampai hari kiamat berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

    لا تَنْقَطِعُ الهجرةُ حتى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ، ولا تنقطع التوبةُ حتى تَطْلُعَ الشمسُ من مَغْرِبِها

    Artinya: “Hijrah tidak terputus sampai tertutupnya pintu tobat, dan pintu tobat tidak akan tertutup sampai matahari terbit dari sebelah barat” (HR. Abu Dawud, Disebukan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, no. 2479)

    Secara maknawi, hijrah dapat dimaknai sebagai berpindah dari maksiat kepada taat. Meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah Subhanahu Wata’ala menuju kepada ketaatan kepada Allah. Dalilnya adalah sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam,

    الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

    Artinya: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala” (HR. Al-Bukhari)

    Mereka yang nyinyir dengan istilah hijrah kebanyakan berasumsi bahwa hijrah adalah perpindahan seseorang secara geografis saja. Namun, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, hakikat hijrah adalah menuju Allah dan Rasul-Nya, entah itu hijrah secara fisik maupun secara makna. Menurut beliau, inti hijrah kepada Allah adalah meninggalkan apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai-Nya. Dari syirik menuju tauhid, dari maksiat kepada ketaatan, dari berharap kepada makhluk menjadi berharap hanya kepada-Nya, dan sebagainya. Inilah makna lain dari tobat dan inilah hakikat dari apa yang Allah perintahkan dalam Al-Qur’an surah Adz-Dzariyat: 50:

    فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ

    Artinya: “Maka segeralah (berlari) menuju mentaati Allah.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)

    Adapun hijrah kepada rasul artinya berpindah menuju melaksanakan syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan memegang teguh sunnahnya dengan meninggalkan segala yang menyelisihinya. Inilah yang seringkali dilihat oleh pengamat sosial sebagai gerakan menutup aurat, berpakaian sesuai sunnah, meninggalkan riba, dan sebagainya. Inilah hijrah menuju sunnah Nabi yang tidak jarang pelaksanaannya banyak mendapatkan cibiran dari orang-orang sekitar. Mereka dianggap asing, aneh, berlebihan, bahkan kadang dianggap radikal hanya karena menjalankan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Inilah satu-satunya pilihan tujuan hijrah yang setiap mukmin hendaknya mengarahkan kompas hijrahnya ke sana: Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya.

    Banyak orang khawatir dengan tren hijrah yang terjadi. Salah satu kekhawatiran positif yang patut kita perhatikan adalah khawatir hijrah yang sedang dijalani tersebut salah arah. Oleh karena itu, perhatikan hal-hal berikut ini agar hijrah tidak salah arah.

    1. Bukan sekadar ikut tren.

    Meskipun tren hijrah adalah baik, namun kita perlu mewaspadai diri kita sendiri terkait hal ini. Apakah hijrah yang kita lakukan benar-benar berasal dari kesadaran diri kita atau sekadar mengikuti tren yang sedang populer. Kalau sekadar mengikuti tren, bisa jadi kita akan mudah berputar haluan jika tren berubah. Karena itu, tanamkanlah kesadaran untuk berhijrah dalam rangka menuju keridhaan Allah dan meninggalkan apa-apa yang dimurkainya.

    2. Luruskan niat.

    Setelah menanamkan kesadaran di dalam diri untuk berhijrah karena Allah Subhanahu Wata’ala, tugas kita selanjutnya adalah meluruskan niat sebelum melangkah. Niat yang ikhlas insyaallah akan menjadi kunci sukses hijrah seseorang dan senantiasa jadi pengingat agar hijrah tidak salah jalan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

    Artinya: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untukAllah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Al-Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907).

    3. Memohon pertolongan kepada Allah.

    Dialah yang akan kita tuju dan kepada-Nyalah kita meminta agar dimudahkan jalan hijrah kita. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

    اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ

    Artinya: “Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan segala sesuatu yang bermanfaat bagimu Dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali merasa lemah.” (HR. Muslim)

    Hendaknya kita memperbanyak doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

    يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

    Artinya: “Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3522)

    4. Kuatkan Fondasi, Bekali Diri dengan Ilmu.

    Kuatnya keinginan untuk berhijrah harus disertai dengan usaha untuk senantiasa menambah ilmu yang sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk memastikan jalan yang kita tempuh telah tepat. Pilihlah guru-guru yang amanah terhadap ilmunya, takut kepada Rabbnya, dan memiliki jalur keilmuan yang jelas kepada generasi salaf.

    5. Carilah “mentor”.

    Coaching dan mentoring bukan hanya berlaku dalam urusan-urusan dunia. Urusan akhirat yang kebanyakan bersifat ghaib dan bersumber dari wahyu lebih butuh terhadap mentoring yang berkualitas. Dengan mentoring yang tepat, seorang yang sedang berhijrah akan mendapatkan pengarahan yang tepat tentang kapan harus berjalan, kapan berlari, kapan beristirahat, dan sebagainya. Dengan demikian, bukan saja ia tidak tersesat jalan, melainkan ia juga akan selamat sampai tujuan. Insyaallah.

    Kalau pembahasan sebelumnya lebih kepada hijrah itu on the track, bahasan ini lebih kepada menjaga agar kita tidak “terdiskualifikasi” sepanjang menyusuri lintasan hijrah, sehingga kita bisa menjadi muhajir yang sukses sampai di finish.

    1. Ingatlah bahwa perjalanan hijrah tak selalu indah.

    Allah Subhanahu Wata’ala telah mengingatkan bahwa aneka rintangan sudah pasti menghadang di sepanjang perjalanan hijrah,

    اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ

    Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

    Pada saat kita memutuskan untuk berhijrah, bisa jadi kita akan mendapatkan tentangan dari orang-orang terdekat atau serangan dari pihak-pihak lain yang tidak menginginkan kita berada di jalur hijrah. Itu adalah sunnatullah yang hendaknya dipahami oleh para peniti jalan hijrah.

    2. Fokus! Abaikan nyinyiran “tetangga”.

    Agar perjalanan hijrah kita selamat sampai akhir, tetaplah fokus dalam meniti jalannya. Seringkali orang nyinyir dengan pilihan hidup yang kita jalani, termasuk hijrah ini. Padahal mereka tidak memahami hal yang mereka komentari.

    3. Cari komunitas yang mendukung.

    Bergabung dengan komunitas yang mendukung hijrah adalah salah satu kunci sukses seseorang dalam berhijrah. Itulah sebabnya, jika seseorang ingin berhijrah, ia harus meninggalkan lingkungannya yang kurang mendukung hijrah menuju lingkungan yang mendukung hijrah. Ia harus memilih teman-teman akrab yang menguatkan hijrahnya dibandingkan teman-teman akrab yang tidak mendukungnya berhijrah karena teman akrab pasti memiliki pengaruh yang kuat bagi terbentuknya kepribadian dan agamanya. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan,

    الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

    Artinya: “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah orang yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344)

    Oleh karena itu pulalah Allah Subhanahu Wata’ala mengatakan,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119).

    4. Baca kisah-kisah mereka yang telah sukses dalam berhijrah.

    Ketika semangat hijrah mengendur, coba baca atau lihatlah kisah-kisah indah mereka yang sukses dalam berhijrah. Bacalah kisah para sahabat, para tabi’in, dan para ulama dalam memperjuangkan diri mereka sendiri di dalam Islam dan memperjuangkan Islam dalam hidup mereka. Baca dan lihatlah kisah-kisah mereka yang berhasil meninggalkan kehidupan yang gelap menuju cahaya Islam dengan penuh suka dan duka. Insyaallah hal itu dapat memompa kembali semangat kita untuk tetap kokoh meniti jalan hijrah.

    5. Maraton seumur hidup.

    Ibarat lari, perjalanan hijrah bukanlah lari jarak pendek yang harus disikapi dengan ancang-ancang yang sigap kemudian lari sekencang-kencangnya. Ia adalah maraton seumur hidup yang memerlukan kesungguhan, kesabaran, stamina, dan strategi yang tepat. Seorang yang meniti jalan hijrah tidak boleh tergesa-gesa dan “over semangat” untuk segera menyelesaikan jalan hijrahnya. Nikmati semua prosesnya dengan sikap tenang dan hati-hati. Ikutilah jalannya selevel demi selevel. Artinya, dalam mempraktikkan fitrah Islam ini, lakukan pelan-pelan sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang kita serap.

    Ingatlah bahwa agama ini luas. Seseorang tidak akan bisa merengkuh semuanya sekaligus. Diperlukan proses dan tahapan sebagaimana agama ini sendiri diturunkan berangsur-angsur oleh Allah kepada Nabi dan umatnya. Jika kita mengambil agama ini pelan-pelan sesuai kadar yang kita miliki, maka kita akan mudah mengamalkannya, insyaallah. Sebaliknya, jika kita memaksakan diri untuk merengkuhnya sekaligus, bisa jadi kita sendiri yang akan hancur binasa. Bukankah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda,

    إِنَّ الدِّينَ يُسْر، وَلَنْ يَشادَّ الدينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

    Artinya: “Sesungguhnya agama (Islam) mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna).” (HR. Al-Bukhari, no. 39)

    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, di dalam Ar-Risalah At-Tabukiyah, menyebutkan bahwa keinginan untuk berhijrah dalam hati seorang mukmin adalah berbanding lurus dengan kecintaannya kepada Allah di dalam hatinya. Semakin besar cintanya kepada Allah, makin besar pula motivasi hijrahnya. Sebaliknya, semakin tipis kadar cintanya kepada Allah, makin menipis pula motivasi hijrahnya.

    Walhasil, hijrah adalah sebuah proses perjuangan yang panjang dalam membawa hati agar selamat hingga negeri akhirat. Untuk mencapainya pasti diperlukan usaha yang luar biasa dan pengorbanan yang tidak sedikit. Ujian pun pasti datang silih berganti dan aral pun melintang di mana-mana. Namun yakinlah bahwa hasil yang sebanding pasti sudah disiapkan oleh Allah apabila kita memang jujur dalam berhijrah. Kaidah fiqih mengatakan,

    مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلًا كَانَ أَكْثَرُ فَضْلًا

    Terjemahannya: “Amalan yang lebih banyak pengorbanannya akan lebih banyak keutamaannya.”

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun mengabarkan,

    إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ

    Artinya: “Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2320 dan Ibnu Majah, no. 4021 dengan sanad yang hasan)

    Referensi:

    Ditulis oleh: Ary Abu Ayyub dari Majalah HSI Edisi 31 Muharram 1443 H.

    Diringkas oleh: Aryadi Erwansah (Staf Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur).

    BACA JUGA:

  •  Meskipun Hanya Satu Biji Kurma

     Meskipun Hanya Satu Biji Kurma

    Meskipun Hanya Satu Biji Kurma – Segala puji hanya milik Allah rabb alam semesta, sholawat dan salam semoga tersampaikan kepada utusan-Nya nabi kita Muhammad, sholawat juga untuk para keluarga dan para sahabat beliau.

    Allah menyifati hamba-hambanya yang bertakwa. Allah berfirman,

    كَانُوا قَلِيْلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ. وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ. وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُوْمِ[1]

    Artinya; “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” Q.S Adz Dzariyat: 17-19

    Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang dermawan lagi mulia dan Allah tidak akan menyelisihi janjinya,

    وَمَآ أَنفَقْتُمْ مِّن شَىءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ[2]

    Artinya: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” Q.S Saba’: 39

    Dan Allah memberikan ganjaran kepada orang-orang yang berinfak dengan sebaik-baik balasan yang banyak di dunia dan akhirat.

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

    اَلَّذِيْنَ يُنفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُوْنَ مَا أَنفَقُوْا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ[3]

    Artinya: “Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati” Q.S Al Baqarah: 262

    Ayat-ayat yang berkaitan dengan anjuran untuk berinfak sangatlah banyak dan ia merupakan pintu kebaikan yang sangat agung. Mengorbankan harta dalam islam setelah jihad di jalan Allah, bahkan jihad dengan dirinya pada seluruh ayat-ayat yang terdapat di dalamnya menyebutkan jihad di dalam Al Qur’an yang mulia kecuali hanya satu ayat saja yaitu firman Allah:

    إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمْ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُوْنَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيْلِ وَالْقُرْآنِ[4]

    Artinya: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menempati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.”

    Sedekah merupakan seutama-utama pendekatan diri kepada Allah, yaitu lebih utama dibandingkan dengan jihad, lebih-lebih apabila diberikan kepada yang sangat membutuhkan (orang yang kelaparan), terutama lagi penerimanya dari kalangan keluarga, lebih khusus kerabat dekat, dari orang-orang yang haji karena mereka ada yang melanggar dan hajinya sangat membutuhkan.

    Termasuk menyenangkan orang yang kesulitan yaitu mencukupi permintaan, mengenyangkan orang yang kelaparan, membahagiakan anak-anak, termasuk membahagiakan hati orang-orang yang dewasa, kegembiraan diantara kaum muslimin, menampakan sedekah dalam bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan, saling menyayangi diantara kaum muslimin.

    Dalam hadits Rasulullah sedekah dapat mendekatkan diri seseorang, hati menjadi gembira, dan sedekah dapat memotivasi seseorang melangkah menuju surga yang luasnya seluas tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi jalan yang aman dan menenangkan.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

    اِتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ[5]

    “Jauhkanlah diri kalian dari api neraka, meskipun hanya dengan satu biji kurma.”

    Sabda Nabi,

    الصَّوْمُ جُنَةٌ وَالصَدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَـمَا يُطْفِئُ النَّارَ الْمَاءُ[6]

    “Puasa adalah perisai dan sedekah dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api.”

    وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ: ((سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ)) وَذَكَرَ مِنْهُمْ رَجُلًا ((تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَاتُنْفِقُ يَمِيْنُهُ))[7]

    Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda: ((Ada tujuh golongan yang Allah melindungi mereka dalam lindungan-Nya pada hari kiamat, di hari Ketika tiada perlindungan selain perlindungan-Nya)) dan di sebutkan diantaranya seseorang ((yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak tahu menahu terhadap apa yang di sedekahkan tangan kanannya.(Muttafaq Alaih)

    Dan sungguh nabi memberikan permisalan seseorang dalam pemberian infak sehingga diri tergerak patuh dan hati menerima dengan lapang dada.

    Berkata Anas Radhiyallahu Anhu,

    مَا سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْإِسْلَامِ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ  قَالَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوْا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِي عَطَاءً لَا يَخْشَى الْفَاقَةَ[8]

    Artinya: “Tidak pernah Rasulullah dimintai sesuatu karena Islam, melainkan selalu dipenuhinya. Pada suatu hari datang kepada beliau seorang laki-laki, lalu diberinya seekor kambing di antara dua bukit. Kemudian orang itu pulang ke kampungnya dan berseru kepada kaumnya, “Hai, kaumku! Masuk Islamlah kalian semuanya! Sesungguhnya Muhammad telah memberiku suatu pemberian yang dia sendiri tidak takut miskin.(HR. Muslim)

    Untuk orang-orang yang pelit dan menyedikitkan belanja keluarga kami kabarkan kepada kalian sebuah hadits dari seorang yang benar (Muhammad) yaitu yang perkataannya tidak keluar dari hawa nafsunya beliau bersabda,

    مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ[9]

    “Sedekah itu tidak mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”

    قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ[10]

    “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, berinfaklah kamu niscaya Aku akan memberikan ganti kepadamu.”

    Gambaran ini merupakan gambaran berlomba-lomba dalam kebaikan diantara para sahabat nabi radhiallahu ‘anhum, dari Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu ia berkata,

    أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قُلْتُ مِثْلَهُ قَالَ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمْ اللهَ وَرَسُوْلَهُ قُلْتُ لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا[11]

    Artinya: “Rasulullah memerintahkan Kami agar bersedekah, dan hal tersebut bertepatan dengan keberadaan harta yang saya miliki. Lalu saya mengatakan: apabila aku dapat mendahului Abu Bakar pada suatu hari maka hari ini aku akan mendahuluinya. Kemudian saya datang dengan membawa setengah hartaku, lalu Rasulullah bersabda: “Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”Saya katakana: harta yang sama seperti itu. Ia berkata: kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh yang ia miliki. Lalu Rasulullah bersabda: “Wahai Abu Bakar, apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Ia berkata: saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya. Maka saya katakan: saya tidak akan dapat mendahuluimu kepada sesuatupun selamanya.” Hadits Riwayat: Abu Daud No. 1429 dan Tirmidzi

    Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah,

    Siapa yang berlaku lemah lembut dengan hamba-hamba Allah maka Allah  akan berlemah lembut dengannya, dan siapa yang menyayangi mereka maka Allah akan menyayanginya, siapa yang berbuat baik kepada mereka maka Allah akan berbuat baik kepadanya, siapa yang memberi dengan kemurahan hati kepada mereka maka Allah akan memberi dengan kemurahan atasnya, siapa yang menolong kepada mereka maka Allah akan memberi menolong kepadanya, siapa yang menutup aib mereka maka Allah akan menutup aibnya, siapa yang menahan mereka dari kebaikannya maka Allah akan menahan kebaikannya, siapa yang memperlakukan ciptaan-Nya dengan sifat yang Allah perlakukan dengan sifat itu di dunia dan akhirat, maka Allah Ta’ala kepada hambanya sesuai dengan perlakuan hamba terhadap makhluknya.

    Dalam gambaran diatas merupakan bentuk lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri  (Itsar) pada permulaan Islam yang masih di lestarikan dan di catat dalam sejarah silih berlalunya waktu dan zaman. Sebagaimana perkataan Umar radiallahu ‘anhu:

    “Salah seorang dari sahabat Nabi diberi hadiah kepala kambing, dia lalu berkata, “Sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kita.” Ibnu Umar mengatakan, “Maka ia kirim hadiah tersebut kepada yang lain, dan secara terus menerus hadiah itu dikirimkan dari satu orang kepada yang lain hingga berputar sampai tujuh rumah, dan akhirnya Kembali kepada orang yang pertama kali memberikan.”[12]

    Inilah akhlak dan sifat mereka para sahabat radhiallahu ‘anhum, mereka lebih mendahulukan orang lain daripada diri mereka sendiri walaupun sebenarnya ia lebih membutuhkan.

    Adalah Abdullah Ibnu Umar beliau sangat kagum dengan sesuatu dari hartanya yang menyebabkan ia dapat  mendekatkan diri kepada Allah, dan itu merupakan sesuai dengan firman Allah,

    لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِن شَيءٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيْمٌ [13]

    Artinya: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan Sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui” QS Al Imran: 92

    Kebanyakan manusia sekarang apabila pakaiannya telah robek atau sendalnya telah putus baru mereka memberikan kepada orang-orang faqir seakan-akan ia membuangnya!

    Wahai saudara-saudaraku! Berikan yang terbaik dari harta yang kita maliki, jadilah orang kaya disaat kita sedang kekurangan karena sebaik-baik sedekah adalah tatkala kita dalam keadaan tidak memiliki sesuatu.

    Referensi:

    1. Mushaf Al Kamil
    2. Walau bisyiqit tamrah buah karya Syaikh Abdul Malik Al Qosim (semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, dosa kedua orangtuannya dan dosa kaum muslimin

    [1] Q.S Adz Dzariyat: 17-19

    [2] Q.S Saba’: 39

    [3] Q.S Al Baqarah: 262

    [4] Q.S At Taubah: 111

    [5] Hadits Riwayat: Muttafaqun ‘alaihi

    [6] Hadits Riwayat Ibnu Majah No. 3963

    [7] Hadits Riwayat: Muttafaqun ‘alaihi

    [8] Hadits Riwayat: Muslim

    [9] Hadits Riwayat: Muslim No. 4689

    [10] Hadits Riwayat: Muslim No. 1658

    [11] Hadits Riwayat: Abu Daud No. 1429 dan Tirmidzi

    [12] Hadits Riwayat: Baihaqi 3/259

    [13] Q.S Al Imran: 92

    Oleh : Abu Fahman Nafis Al Faruq

    (Staf Pengajar di Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

    BACA JUGA :

  • Kala Kesedihan Melanda Hati

    Kala Kesedihan Melanda Hati

    Kala Kesedihan Melanda Hati – Hati manusia tidak mungkin tetap dalam suatu keadaan. Kebahagiaan selalu diselingi kebahagiaan begitupun sebaliknya, itulah hakikat kehidupan dunia yang jauh dari kesempurnaan. Dalam kehidupan kita pasti pernah mengalami musibah seperti kehilangan harta, ditinggal orang yang dikasihi, sakit, maupun dihadapkan pada kenyataan yang sedih dan pilu. Maka, kita harus tau apa yang sebaiknya dilakukan saat kesedihan mendera hati. Agar musibah dan kesedihan tersebut membawa kebaikan serta pahala, bukan membuat hati kita binasa.

    Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Sungguh menakjubkan urusan orang Mukmin, semua urusannya baik baginya, dan kebaikan ini hanya dimiliki oleh seorang Mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila tertimpa musibah ia bersabar, dan itulah yang terbaik untuknya.”[1]

    1. Allah memilih kita supaya menjadi orang yang sabar

    Ketahuilah, melalui musibah Allah memilih kita supaya menjadi seorang hamba yang sabar. Dia melihat apakah kita lulus ujian dan meraih gelar orang yang sabar, ataukah menjadi orang yang gagal. Maka kita wajib bersabar terhadap musibah ataupun kenyataan pahit yang menimpa. Di antara bentuk kesabaran adalah dengan menahan diri dari kemarahan, menahan lisan dari keluh kesah, juga menahan anggota badan dari perbuatan-perbuatan yang mengundang murka Allah seperti menampar pipi, mengoyak-ngoyak pakaian, mencakar wajah, mencabut rambut, dan meratap ala kaum Jahiliyah.

    Adapun hal-hal yang dapat membantu kita agar bersabar ialah meyakini bahwa kemarahan tidak akan mengembalikan apa yang telah Allah takdirkan, sama sekali tidak berpengaruh terhadap ketetapan-Nya. Kita tidak memetik hasil apapun kecuali kemarahan Rabb. Tetapi apabila bersabar, niscaya kita akan mendapat pahala. Apabila tidak bersabar, kita berdosa. Maka bersabarlah seperti kesabaran orang-orang yang bertakwa, sabar dengan penuh kerelaan.

    1. Mengharap pahala atas musibah yang menimpa

    Bersabarlah, dan tidak ada yang lebih baik bagi kita selain bersikap demikian, sambil mengharap janji Allah berupa balasan dan pahala. Sungguh, Dia menyuruh kita bersabar. Sebagaimana ditegaskan di dalam firmanNya:

    { وَٱصبِر عَلَىٰ مَاۤ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِن عَزمِ ٱلأُمُورِ }

    Artinya: ”Dan bersabarlah terhadap apa yang menimoa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman [31]: 17)

    Dan dalam ayat lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    {إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّابِرُونَ أَجرهُم بِغَيرِ حِسَاب}

    Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)

    Demikianlah, Allah telah menjanjikan pahala tanpa batas atas kesabaran dalam menghadapi musibah. Dengan syarat, kesabaran tersebut karena mengharap wajah-Nya semata. Allah berfirman:

    {وَٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ٱبتِغَاۤءَ وَجهِ رَبِّهِم}

    Artinya: “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya ….” (QS. Ar-Ra’d [13]: 22)

    Sabar itu harus ikhlas demi Allah, bukan karena terpaksa. Sabar di awal datangnya musibah, itulah kesabaran hakiki. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya sabar itu pada awal musibah.”[2]

    1. Mengucapkan kalimat istirja dan membaca doa musibah

    Manakala musibah datang, ucapkanlah kalimat istirja:

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali). Ya Allah, berikanlah aku pahala dari musibahku ini serta gantilah ia dengan sesuatu hal yang lebih baik daripadanya (yang hilang karena musibah).”[3]

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    {ٱلَّذِينَ إِذَاۤ أَصَابَتهُم مُّصِيبَة قَالُوۤا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّاۤ إِلَيهِ رَاجِعُونَ}

    Artinya: “Orang-orang yang apabila tertimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dari rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 156)

    Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Jika orang hamba tertimpa musibah lalu membaca doa yang diperintahkan Allah: ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali. Ya Allah, berikanlah aku pahala dari musibahku ini serta gantilah ia dengan sesuatu hal yang lebih baik daripadanya.’

    Melainkan Allah memberinya pahala atas musibah tersebut, dan memberinya ganti yang lebih baik daripada sesuatu yang hilang karenanya.”[4]

    Selain dianjurkan mengucapkan kalimat istirja, hendaklah seorang hamba juga membaca: “Rabbku adalah Allah, tiada sekutu bagi-Nya.”

    Seseungguhnya musibah dan bala yang menimpa manusia akan sirna dengan seizin Allah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Tidaklah seseorang tertimpa kesedihan, kepiluan, penyakit, maupun kesulitan kemudian mengucapkan: ‘Rabbku adalah Allah, tiada sekutu bagi-Nya.’ Niscaya akan sirnalah musibah tersebut dari dirinya.”[5][6]

    Demikian pula, kita disunnahkan membaca doa tertimpa kesulitan yang diajarkan oleh Nabi. dalam sebuah hadits beliau bersabda kepada para Sahabat. Doa tertimpa kesulitan yaitu: ‘Ya Allah, hanya rahmat-Mulah yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau biarkan aku tanpa pertolongan-Mu walau sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Engkau.’”

    Begitu juga membaca doa yang selalu dibaca Rasulullah: “Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan.”[7]

    1. Menjauhi perbuatan dan ucapan yang dimurkai Allah

    Perbuatan dan ucapan yang dimurkai Allah antara lain berkata buruk, menampar-nampar pipi, mengoyak pakaian, mencakari wajah, meratap, meraung-raung, mengeluh kepada orang lain, menggunduli kepala, berdoa meminta kematian, dan merintih-rintih sambil mengutuk. Semua itu dapat mengundang kemurkaan Allah. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi bersabda: “Bukan golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju, dan meratap seperti layaknya ratapan orang-orang Jahiliyah.”[8]

    Abu Malik al-Asyja’i meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

    “Ada empat perkara Jahiliyah pada umat-Ku yang tidak mereka tinggalkan, yaitu membanggakan kebesaran leluhur, mencela keturunan, menisbatkan turunnya hujan pada bintang-bintang, dan meratapi mayit.”

    Lalu beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Wanita yang meratapi orang mati, apabila tidak bertaubat sebelum meninggal, akan dibangkitkan pada hari Kiamat. Saat itulah dikenakan kepadanya pakaian yang berlumuran cairan tembaga serta mantel yang berupa penyakit kudis.”[9]

    1. Mengadu kepada Allah, tidak mengeluh kepada makhluk

    Mengeluh kepada makhluk itu merupakan perbuatan hina dina. Yaitu seseorang mengeluhkan penciptanya kepada manusia. Kita mengeluhkan Allah Yang Maha Penyayang, yang lebih sayang terhadap makhluk daripada diri dan ibunya sendiri. Lantas mengapa kita mengeluh kepada makhluk karena musibah yang menimpa? Adakah manusia yang lebih sayang terhadap diri kita selain Allah? Maka adukanlah masalah kita kepada Allah, mohonlah pertolongan kepada-Nya. Dalam hal ini Nabi Ya’qub telah memberikan teladan yang baik bagi kita. Allah Subhanahu Wata’ala bercerita tentang beliau:

    {قَالَ إِنَّمَاۤ أَشكُوا۟ بَثِّی وَحُزنِیۤ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعلَمُونَ}

    Artinya: “Ya’qub menjawab: ‘Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.’” (QS. Yusuf [12]: 86)

    1. Meringankan musibah dengann mengingat kematian dan mengingat wafatnya Nabi

    Mengingat kematian yang berupa hilangnya jiwa dari raga, keluarnya roh, dan terputusnya amal shalih itu membuat kita merasa ringan dalam menghadapi musibah yang menimpa. Semua musibah terasa ringan apabila kita membandingkannya dengan musibah kematian. Allah menyebut kematian sebagai musibah, sebagaimana dalam firman-Nya, Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian.” (QS. Al-Ma-idah [12]: 106)

    Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (kematian). sungguh, tidaklah seseorang mengingat kematian pada saat sempit melainkan itu akan membuatnya lapang. Dan tidaklah ia mengingat kematian pada saat lapang melainkan itu akan membuatnya sempit.”[10]

    Jadi yang harus kita lakukan adalah mengingat kematian, bukan meminta kematian. Lagi pula, kita dilarang meminta kematian yang erat kaitannya dengan ketetapan ilahi. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian menghadap kematian karena musibah yang menimpanya. Jika memang terpaksa harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa: ‘Ya Allah, panjangkanlah usiaku jika hidup itu lebih baik bagiku. Atau wafatkanlah aku, jika mati itu lebih baik bagiku.’”[11]

    Dengan mengingat musibah yang lebih besar, tentu saja musibah yang kecil terasa lebih ringan. Sementara musibah yang terbesar bagi setiap Muslimin adalah wafatnya Nabi. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian tertimpa musibah maka ingatlah musibah kehilangan diriku. Karena itu merupakan musibah yang terbesar baginya.”[12]

    Mengingat musibah terbesar ini meringankan hati insan atau musibah yang sedang dialaminya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Hiburlah kaum Muslimin terhadap musibah yang menimpa mereka dengan mengingat musibah kehilangan diriku.”[13]

    1. Di balik setiap musibah terdapat hikmah

    Kita harus selalu mengingat nikmat Allah. Sebab di balik musibah pasti ada nikmat-nikmat yang patut kita syukuri. Karena hakikatnya, itu adalah karunia dalam bentuk cobaan. Di antara hikmah-hikmah tersebut:

    • Bisa saja musibah yang akan terjadi lebih besar daripada musibah yang sudah terjadi atau sedang di alami. Maka tentu kita memilih kehilangan sebagian harta daripada kehilangan Tentulah lebih ringan kehilangan satu anak daripada kehilangan semuanya. Tentunya lebih ringan terkena satu penyakit daripada terkena berbagai macam penyakit atau meninggal. Sebagian musibah lebih ringan daripada sebagian lainnya. Lihatlah orang-orang di sekitar kita yang tertimpa musibah lebih besar lagi.
    • Pada umumnya musibah hanya menimpa urusan dunia, tidak menimpa agama seseorang M Seluruh musibah bisa tergantikan kecuali musibah yang menimpa agama. Sungguh ia tak tergantikan. Dan barangsiapa kehilangan agamanya berarti telah kehilangan segalanya.
    • Allah masih memberi kita kesabaran dalam menghadapi musibah, sebab Allah dapat mencabut kesabaran tersebut dari hati jika berkehendak, hingga kita kesal dan marah.

    Umar bin al-Khathab radhiyallahu’anhu pernah menyatakan: “Sungguh, tidaklah musibah menimpaku melainkan Allah menurunkan tiga nikmat atas diriku darinya. Pertama, musibah itu bukan pada agamaku. Kedua, musibah itu tidak lebih besar daripada musibah yang lain. Ketiga, Allah memberiku kesabaran dalam menghadapinya.”

    1. Segala sesuatu telah tertulis dalam suratan takdir

    Apabila kita meyakini bahwasanya setiap musibah telah tertulis dalam ketetapan-Nya pasti terjadi tanpa bisa dielakkan, meyakini bahwa ketetapan Allah tidak ada yang sia-sia tanpa ada hikmah dibaliknya, niscaya musibah tersebut terasa ringan dan kita pun terhibur dengannya. Allah Shallallahu Alaihi Wasallam berfirman:

    {مَاۤ أَصَابَ مِن مُّصِيبَة فِی ٱلأَرضِ وَلَا فِیۤ أَنفُسِكُم إِلَّا فِی كِتَـاب مِّن قَبلِ أَن نَّبرَأَهَاۤۚ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يسِير} {لِّكَيلَا تَأسَوا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُم وَلَا تَفرَحُوا۟ بِمَاۤ ءَاتَاكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يحِبُّ كُلَّ مُختَال فَخُورٍ}

    Artinya: “Tidak sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid [57]: 22-23)

    Maka apabila musibah menimpa, jangan sekali-kali kita membuka pintu syaitan untuk masuk  menyerang hati. Yaitu dengan ucapan: Seandainya tadi begini tentu hasilnya tidak begini. Namun ucapkanlah kalimat yang mengandung kepasrahan kepada Allah dan keimanan kepada takdir, yaitu ‘Ini takdir Allah, apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.’

    1. Harapkanlah pertolongan dari Allah semata

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.”[14]

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    {فَإِنَّ مَعَ ٱلعُسرِ يُسرًا }{إِنَّ مَعَ ٱلعُسرِ يُسرا}

    Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (QS. Ash-Sharh : 5-6). Tidak layak seorang Muslim menunggu pertolongan.

     

    REFERENSI:

    Diringkas Oleh : Yasmin Yuni Azrah (Pengabdian Ponpes DQH)

    Sumber : Buku Panduan Amalan Sshari Semalam karya Abu Ihsan al-Atsari dan Ummu Ihsan

    [1] Shahih Muslim (no.7500, 1259).

    [2] Muttafaq ‘alaihi: Al-Bukhari (no. 7154) dan Muslim (no. 2179).

    [3] HR. Muslim (no. 918) dari Ummu Salamah.

    [4] HR. Muslim (no.918).

    [5] HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabir (XXIV/396) dari Asma binti Umais. Lihat kitab Shahih al-Jami’ (no.6040).

    [6] HR. Ahmad (V/42), Abu Dawud (no.5090), Ibnu Hibban (no.966-al-Ihsan) dari Abu Bakrah. Lihat Shahih al-Jami’.

    [7] HR. At-Tirmidzi (no.3524) dari Anas bin Malik. Lihat Shahih al-Jami’.

    [8] HR. Al-Bukhari (no.1294) dan Muslim (no.103).

    [9] HR. Muslim (no.934).

    [10] HR. Al-Baihaqi dalam kitab asy-Syu’ab (10559, 10560) dan Ibnu Hibban (IV/282) dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (no.1211).

    [11] HR. Al-Bukhari (no. 5671, 6351) dan Muslim (no.2680).

    [12] HR. Al-Baihaqi dalam kitabnya, Syu’abul Iman (no. 10152) dan Ibnu Adi (V/174) dari Abdullah bin Abbas, serta ath-Thabrani dalam al-Kabir (VII/6718) dari Sabith al-Jumahi. Lihat Shahih al-Jami’n (no.347).

    [13] Dicantumkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (no. 5459).

    [14] HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Abbas, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi (no.2516).

     

    BACA JUGA :

  • Menjadi Pegawai Yang Amanah (Bagian 1)

    Menjadi Pegawai Yang Amanah (Bagian 1)

    A. Ayat-ayat yang Mulia Tentang Menunaikan Amanah

    Diantara ayat-ayat Alquran tentang menjaga amanah dan tidak  berkhianat adalah firman Allah Azza wa Jalla :

    إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

    Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa : 58)

    Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata dalam tafsir ayat ini, Allah Ta’ala memberitakan bahwasanya Ia memerintahkan untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya.

    Di dalam hadits yang hasan dari Samurah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    أَدِّاْلأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

    Artinya: “Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu menghianati orang yang mengkhianatimu.(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlus sunan)

    Dan ini mencakup semua bentuk amanah-amanah yang wajib atas manusia mulai dari hak-hak Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba Nya seperti : shalat, zakat, puasa, kaffarat, nazar-nazar dan lain sebagainya.  Dimana ia diamanahkan atasnya dan tidak seorang hamba pun mengetahuinya, sampai kepada hak-hak sesama hamba, seperti  titipan dan lain sebagainya dari apa-apa yang mereka amanahkan tanpa mengetahui adanya bukti atas itu. Maka Allah memerintahkan untuk menunaikannya, barangsiapa yang tidak menunaikannya di dunia diambil darinya pada hari Kiamat.

    Dan firman Allah Subhanahu Wata’ala:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul  dan juga janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui” (QS. Al-Anfal : 27)

    Ibnu Katsir berkata, “Dan khianat mencakup dosa-dosa kecil dan besar yang lazim yang tidak terkait dengan orang lain dan muta’addi /yang terkait dengan orang lain”.

    Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, dan kalian mengkhianati amanah-amanah kalian.  Amanah adalah ama-amal yang diamanahakn Allah kepada hamba-hamba Nya, yaitu faridhah (yang wajib).

    Allah berfirman : Janganlah kamu mengkhianati,  maksudnya  “Janganlah kamu merusaknya.”

    Dan dalam riwayat lain ia berkata, “Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul.” Ibnu Abbas berkata, “Yaitu dengan meninggalkan sunnahnya dan bermaksiat kepadanya.”

    Dan firman Allah Subhaanahu Wa Ta’aala:

    إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.(QS. Al-Ahzab:72)

    Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan pendapat-pendapat mengenai tafsir amanah, diantaranya ketaatan, kewajiban, agama, dan hukum-hukum had, ia berkata, Dan semua pendapat ini tidak saling bertentangan, bahkan ia sesuai dan kembali kepada satu makna, yaitu at-taklif serta menerima perintah dan larangan dengan syaratnya.

    Dan jika melaksanakan ia mendapat pahala, jika meninggalkannya dihukum, maka manusia menerimanya dengan kelemahan, kejahilan, dan kezalimannya kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah, dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan.

    Firman Allah Ta’ala.

    وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

    Artinya: “Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janji-janji.(Q.S Al-Mukminun: 8)

    Ibnu Katsir berkata, yaitu apabila mereka diberi kepercayaan mereka tidak berkhianat, dan apabila berjanji mereka tidak mungkir, ini adalah sifat-sifat orang mukminin dan lawannya adalah sifat-sifat munafikin, sebagaimana tercantum dalam hadis yang shahih :

    آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

    Artinya: “Tanda munafik ada tiga ,yaitu apabila berbicara berdusta, apabaila berjanji ia mungkir dan apabila diberi amanat dia berkhianat.Dalam riwayat lain:

    إذَا حَدَّثَ كَدَبَ، وَإذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

    Artinya: “Apabila berbicara ia berdusta, dan apabila berjanji ia mungkir dan apabila bertengkar ia berlaku keji.

    B. Hadits-Hadits Tentang Menunaikan Amanah

    Diantara hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kewajiban menjaga amanah dan ancaman dari meninggalkannya adalah :

    Hadits pertama :

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُهَدَّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيُّ فَقَالَ : مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ : سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَ قَالَ وَ قَالَ بَعْضُهُمْ : بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ : أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنِ السَا عَة؟ قَالَ : هَا أَنا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : فَإِذَاضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ قَالَ : كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ :إِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

    Artinya: Dari Abu Hurairah, ia berkata, Ketika Nabi di suatu majelis berbicara kepada orang-orang, datanglah seorang Arab badui lantas berkata:  Kapan terjadinya Kiamat ? Rasulullah terus berbicara, sebagian orang berkata, beliau mendengar apa yang dikatakannya dan beliau membencinya, sebagian lain mengatakan, Bahkan ia tidak mendengar,  sehingga tatkala beliau menyelesaikan pembicaraannya beliau berkata, Mana orang yang bertanya tentang hari Kiamat?  Ia berkata, Ini aku wahai Rasulullah, Rasul bersaba : ‘Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari Kiamat. Ia bertanya lagi, Bagaimana menyia-nyiakannya ?  Beliau menjawab, Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari Kiamat.” (HR. Bukhari : 59)

    Hadits kedua :

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِّاْلأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

    Artinya: Dari Abu Hurairah, ia berkata, ‘Rasulullah telah bersabda, Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, 3535 dan At-Tirmidzi, 1264, ia berkata, ini adalah hadits hasan gharib. Lihatlah As Silsilah Ash Shahihah oleh Al-Albani, 424)

    Hadits ketiga :

    عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوَّلُ مَا تَفْقَدُوْنَ مِنْ دِيْنِكُمُ اْلأَمَانَةَ وَ أَخِرُهُ الصَّلاَةَ

    Artinya: Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah shalat. (Diriwayatkan oleh Al-Khara-ithi dalam Makarimil Akhlak hal. 28; As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani, no. 173)

    Hadits keempat :

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

    Terjemahannya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tanda seorang munafik ada tiga : apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mungkir, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR.  Bukhari, no. 33  dan Muslim, no. 108)

     Pegawai Yang Menunaikan Pekerjaannya Dengan Ikhlas Mendapat Balasan Dunia Dan Akhirat

    Apabila seorang pegawai menunaikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh mengharapkan pahala dari Allah, maka ia telah menunaikan kewajibannya dan berhak mendapatkan balasan atas pekerjaannya di dunia dan beruntung dengan pahala di kampung akhirat.

    Telah datang nash-nash syar’iyah yang menunjukkan bahwasanya upah dan pahala atas apa yang dikerjakan oleh seorang dari pekerjaan didapat dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah.

    Allah Azza Wajalla:

    لَّا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

    Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh manusia memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepada Nya pahala yang besar. (QS. An-Nisa : 114)

    Dari Abu Mas’ud bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda:

    إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ

    Artinya: “Apabila seseorang menafkahkan untuk keluarganya dengan ikhlas maka itu baginya adalah sedekah.(HR. Bukhari, no. 55 dan Muslim, no. 1002)

    Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘anhu:

    وَلَسْتُ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةُ تَجْعَلُهَا فِي فِيِّ امْرَ أَتِكَ

    Artinya: “Dan tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah karena mengharapkan wajah Allah melainkan engkau mendapatkan pahala dengannya hingga sesuap yang engkau suapkan di mulu istrimu. (HR. Bukhari, no. 5354 dan Muslim, no. 1628)

    Dalil-dalil  ini menunjukkan bahwasanya seorang muslim apabila ia menunaikan kewajibannya terhadap sesama hamba maka lepaslah tanggung jawabnya, dan bahwasanya ia hanya akan mendapatkan balasan dan pahala dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Wallahu A’lam Bisshowab.

     

    Bersambung, Insyaa Allah.

     

    REFERENSI:

    Diambil dari kitab “Menjadi Pegawai yang Amanah”,  Abdul Muhsin bin Hamad Al-Badr.

    Diringkas oleh : Husein Adek Putra (Staf Pengajar Ponpes Darul Qur’an wal Hadits OKU Timur)

     

    BACA JUGA :

  • Amalan-amalan Penggugur Dosa

    Amalan-amalan Penggugur Dosa

    Amalan-amalan Penggugur Dosa – Janganlah engkau berputus asa terhadap dosa-dosa Yang telah engkau lakukan tetapi hendaknya engkau mengingat betapa besarnya Rahmat Allah subhanahu wata’ala dan betapa luasnya ampunan Allah, dan tugas kita sebagai hamba adalah tidak bosan-bosannya untuk selalu berdoa dan meminta ampunan kepada Allah serta selalu melakukan amalan-amalan Sholih.

    Amalan-amalan penggugur dosa sebagaimana yang telah disampaikan adalah sebagai berikut :

    Amalan ke 1 : Masuk Islam

    Dari Abu said al-khudri Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

    إذا أسلم العبد فحسن إسلامه يكفر الله عنه كل سيئة كان زلفها وكان بعد ذلك القصاص الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف والسيئة بمثلها إلا أن يتجاوز الله عنها

    Artinya: “apabila seseorang masuk Islam dan bagus keislamannya maka Allah akan menghapus seluruh dosa yang pernah dia lakukan, lalu setelah itu ( amal perbuatan ) ada pembahasannya : satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, tapi satu kejahatan hanya dibalas dengan semisalnya kecuali kalau Allah mengampuni nya. “( HR. al-Bukhari)

    Berdasarkan hadits ini maka dapat disimpulkan bahwasanya orang kafir yang masuk Islam, maka Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni seluruh kesalahan yang dia lakukan sebelum Islam dan tidak akan menghisabnya. Hadist ini menjelaskan tentang betapa luasnya Rahmat Allah dan sekaligus menunjukkan tentang anjuran Allah subhanahu wa ta’ala agar manusia memeluk Islam meskipun telah mengerjakan banyak desa dan kesalahan.

    Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani ketika menjelaskan hadits di atas berkata,” yang dimaksud bagusnya keislaman seseorang adalah baik keislamannya dalam aqidah, keikhlasan, serta dia memeluk agama Islam secara lahir dan batin, juga merasakan kedekatan dan pengawasan enggak dalam setiap perbuatannya.”

    Dari abu syumasah al-muhry, dia berkata: Kami membesuk Amr bin al-Ash pada saat dia sedang sakaratul maut, tiba-tiba dia menangis dan memalingkan wajahnya ke dinding, lalu anaknya berkata, ‘wahai bapakku bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menjanjikan engkau begini dan begini ?’ maka Amr bin al-Ash menghadapkan wajahnya seraya berkata, ‘Amal perbuatan yang paling mulia untuk dipersiapkan adalah persaksikan bahwa tiada tuhan yang berhak di-ibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. sesungguhnya aku mengalami tiga masa kehidupan dulu, tidak ada seorangpun yang paling aku benci melebihi rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tidak ada yang mampu membuatku senang kecuali bisa membunuh beliau, seandainya aku mati pada saat itu pasti aku menjadi penghuni neraka. lalu tatkala Islam merasuk dalam hatiku, aku datang kepada beliau lalu aku berkata, ‘Ulurkan tangan kananmu untuk aku bai’at. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengulurkan tangan kanan beliau dan aku pegang erat-erat tangan beliau. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, ‘wahai Amr ada apa denganmu ?’ aku menjawab, Aku mempunyai sebuah syarat, beliau berkata, ‘apa syaratmu,’ Jawabku. diampuni dosaku,’ maka Rasulullah bersabda,’ tidakkah engkau tau, bahwasanya Islam itu menghapus seluruh ( dosa ) yang terjadi sebelumnya! Makanya tidak seorang pun yang lebih kucintai dan kuagungkan melebihi Rasulullah. Sampai aku tak kuasa memandangnya karena rasa hormat, seandainya aku mati pada saat itu maka, aku bisa berharap agar bisa menjadi penduduk surga, namun, ( setelah itu ) kita lewati banyak peristiwa, aku tidak tahu bagaimana posisiku pada saat itu, maka kalau aku mati, jangan ada yang meratapiku, dan jangan menyalakan api, lalu apabila kalian menguburku, taburkanlah tanah di atas tubuhku, kemudian berdiamlah di sekitar kuburku, selama waktu cukup menyembelih unta dan membagikan dagingnya sehingga aku bisa tenang dengan kalian dan aku lihat bagaimana menjawab pertanyaan utusan tuhanku’. “( Hr. muslim )

    Pelajaran yang dapat  diambil dari kisah ini adalah sabda nabi shallallahu alaihi wasallam

    أما علمت أن الإسلام يهدم ما كان قبله ؟

    Artinya: “tidakkah engkau tahu bahwa islam menghapuskan ( dosa )  yang terjadi sebelumnya ” (HR. Muslim)

    Amalan ke 2 : Bertakwa kepada Allah

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

    ذلك أمر الله أنزله إليكم ومن يتق الله يكفر عنه سيئاته ويعظم له أجرا

    Artinya: “itulah perintah yang diturunkanNya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. Ath-thalaq: 5)

    Bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala termasuk sebab utama untuk menghapus kesalahan, sebagaimana yang menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar dan masuk surga. Imam ath-Thabrani رحمة الله berkata, bahwa maksud Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :  ومن يتق الله يكفر عنه سيئاته  ” dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya ” adalah barang siapa yang takut dan bertakwa kepadaNya dengan meninggalkan kemaksiatan dan menjalankan kewajiban,niscaya Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya. sedangkan maksud Firman Allah, ويعظم له أجرا ” dan Allah akan melipat gandakan pahala baginya” yaitu Dia akan melipat gandakan pahala atas amal dan takwanya. yang mana konsekuensinya adalah memasukkannya ke surga, dan dia abadi di dalamnya.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

    يأيها الذين ءامنوا إن تتقوا الله يجعل لكم فرقانا ويكفر عنكم سيئاتكم ويغفرلكم والله ذوا الفضل العظيم

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)

    Muhammad bin ishaq rahimahullah berkata ” furqon adalah pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

    Imam ibnu katsir Rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini, sesungguhnya orang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengerjakan perintah dan menjauhi laranganNya, telah diberi Taufik untuk mengetahui mana yang haq dan yang batil, yang mana itu semua menjadi sebab memperoleh kemenangan, keselamatan, jalan keluar dari permasalahan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat serta terhapus dosa. Takwa adalah penghapusnya, dan penutup aibnya dari manusia, serta ia adalah jalan memperoleh pahala yang besar.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

    وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين ١٣٣

    Artinya: “dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali-Imran : 133)

    Imam al-Qurthubi  رحمه الله  berkata maksud firman Allah,

     وسارعوا     = Bergegaslah dan berlomba-lombalah kepada ampunan Tuhanmu yaitu :

    إلى مغفرة من ربكم   = Kepada apa yang menghapus dosa-dosamu karena rahmat-Nya dari siksa atau dosa.

    وجهة عرضها السموت والأرض = Juga bersegeralah mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, diriwayatkan bahwa maksudnya adalah : surga seluas tujuh langit dan tujuh bumi apabila semuanya dikumpulkan.

     أعدت للمتين   = bahwa surga yang seluas tujuh langit dan tujuh bumi disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang takut kepada Allah dengan taat kepadaNya dalam segala perintah dan larangan,  juga mereka tidak melanggar hukumNya dan tidak meninggalkan kewajiban, maka dengan itu semua mereka berhak untuk diampuni dosa-dosanya dan dimasukkan ke dalam surga.”

    Dengan ketakwaan, maka pengampunan dosa dan kenikmatan surga bisa di dapatkan. maka hendaknya kita senantiasa berusaha menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Alhamdulillah…..

     

    Sumber : buku yang berjudul ” 35 Amalan Pelebur dosa ” karya ” Fatin binti Abdul Aziz

    Diringkas oleh : Hesti opita sari ( pengabdian dqh )

     

    BACA JUGA :

  • Menuai Pahala Dengan Munculnya Uban

    Menuai Pahala Dengan Munculnya Uban

    Menuai Pahala Dengan Munculnya Uban – Kita semua sebagai hamba Allah diperintahkan untuk masuk ke dalam agama islam secara keseluruhan, sebagaimana diperintah untuk menjauhi semua jenis perbuatan dosa baik kecil maupun besar. Dalam sebuah hadits dari sahal bin Saad beliau  berkata,” Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersada:

    اياكم ومحقرات الذنوب, فأنما مثل محقرات اذنوب كمثل قوم نزلوا بطن واد, فجاء ذا بعود, وجاء ذا بعود,حتى حملوا ما أنضجوا به خبزهم,وان مخقرات اذنوب متى يأخذ بها صاحبها تهلكه

    Artinya: “Waspada kamu dari dosa-dosa yang dianggap remeh. Permisalan dosa-dosa kecil itu seperti suatu kaum singgah di suatu lembah, lalu yang ini membawa kayu bakar dan  yang itu membawa kayu bakar sehingga mereka memasak roti mereka hingga matang dengannya. Sesungguhnya dosa-dosa  kecil jika dilakukan terus  oleh pelakunya ia akan membakarnya.” (Shahih, Lihat Shahihul Jami’ (2686), syeikh Al-Albani menghukumi Shahih)

    Diantara dosa yang diremehkan banyak orang ialah dosa berkaitan dengan sikap mereka terhadap uban mereka, ada yang mencabuti uban, menyemir uban dengan warna hitam, atau yang lainnya. Oleh karena itu, pada pembahasan kali ini insyaallah kiita membahas bagaimana sikap yang benar dalam menyikapi uban baik yang di kepala atau selainnya menurut kacamata islam. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

    HIKMAH UBAN

    1.    Mengingatkan manusia akan dekatnya ajal dan memupus sifat rakus dunia

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    اولم نعمركم ما يتذكر فيه من تذكر وجاءكم انذير

    Artinya: “Bukankah kami telah memanjangkan umur yang cukup buatmu untuk berpikir bagi yang mau berpikir, dan telah datang kepadamu sang pemberi peringatan ?”. (QS Fathir[35]: 37)

    Imam ibnu katsir (di dalam tafsirnya 6/542) mengatakan bahwa para ahli tafsir seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, dan lainnya menegaskan bahwa “sang pemberi peringatan” adalah uban. Ketika umur manusia sempurna 40 tahun, biasanya mulai muncul uban dikepalanya, dan semakin bertambah usianya, uban semakin banyak. Itulah peringatan Allah عزوجل kepada hamba nya bahwa ajal semakin dekat, karena umur rata-rata umat nabi Muhammad adalah 60 hingga 70 tahun.

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    اعمارأمتي ما بين الستين,الى السبعين, وأقلهم من يجوزذلك

    Artinya: “Umur umatku ini antara 60 sampai 70 tahun dan sedikit yang melampauinya.” (Shahih, HR. Al-Hakim, dll)

    2.    Uban  menjadi cahaya yang menerangi pemiliknya di akhirat

    Setiap manusia membutuhkan cahaya  di akhirat kelak dan itu bisa didapatkan dengan amal kebajikan. Akan tetapi, ada cahaya yang akan diperoleh di hari kiamat hanya dengan adanya uban yang tumbuh pada diri seseoang jika dia tidak mencabutnya. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata,”Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    لا تنتقوا الشيب ما من مسلم يشيب شيبة في لاسلام الا كانت له نورا يوم القيامة

    Artinya: “Janganlah mencabut uban, tidaklah seorang muslim berubah sehelai uban pun dalam islamnya, melainkan (uban) itu menjadi cahaya (baginya) pada hari kiamat.” (hasan, HR. Abu dawud)

    3.    Uban mengangkat derajat pemiliknya dan menggugurkan dosa

    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

    لا تنتفوا الشيب فأنه نورالمسلم ما من مسلم يشيب شيبة في لاسلام الا كتب له بها حسنة ورفع بها درجة اوحط عنه بها خطيئة

    Artinya: “janganlah kalian mencabut uban karena (uban) itu cahanya orang islam (pada hari kiamat). Tidaklah seorang muslim beruban sehelai uban pun dalam islamnya, melainkan akan ditulis baginya (dengan uban itu) satu kebaikan, dan digugurkan dengannya satu dosanya.” (Hasan, HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya)

    4.    Menambah wibawa dan mendapat pengharhomatan di dunia sebelum di akhirat

    Dari Yahya bin said, beliau berkata: “ (Nabi) Ibrahim adalah orang yang pertama menjamu tamu, orang yang pertama berkhitan, orang yang pertama memotong kumis, dan orang yang pertama mendapati uban, lalu beliau berkata, ‘ini adalah wibawa, wahai Ibrahim.’ Lalu beliau  berkata ,’wahai tuhanku, tambahkanlah aku wibawa.’”

    Di dalam hadits yang lain, dari Abu Musa al-Asy’ari  Radhiyallahu Anhu berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    ان من احلال الله اكرام ذى اشيبة المسلم

    Artinya: “ sesungguhnya termasuk memuliakan Allah adalah menghormati pemilik uban yang muslim.” (HR. Abu Dawud)

    HUKUM MENCABUT UBAN

    Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, “Mencabut uban, jika uban itu ada di wajah, maka itu termasuk dosa besar karena nabi telah melaknati orang yang mencabut bulu di wajah dan orang yang minta di cabutkan bulu di wajah dan orang yang minta dicabutkan bulu di wajahnya. Adapun jika uban yang ada di selain wajah, seperti uban pada rambut kepala, maka para ulama memakruhkannya. Dan aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh orang yang beruban ini jika setiap kali muncul uban lalu dia mencabutnya, maka lama-lama rambutnya akan botak habis.” (fatawa Nur’ala ad- Darb 7/116)

    Demikianlah kebanyakan ulama seperti ulama mazhab malikki, syafii, dan Hanbali berpendapat bahwa mencabut uban di kepala hukumnya makruh tidak haram. Akan tetapi, sebagian ulama mengisyaratkan bahwa pendapat yang lebih dekat dengan dalil adalah yang mengharamkan mencabut uban di kepala.

    Berkata Imam Baghawi dan selainnya, “ jika dikatakan ‘mencabut uban hukumnya haram karena larangan-larangan yang sangat tegas’ maka pendapat ini benar tidak mustahil (kebenarannya), dan tidak beda hukumnya antar uban di kepala dengan uban di jenggot (mencabutnya sama-sama haram).”

    Pendapat tersebut lebih dekat dan lebih hati-hati karena dikuatkan oleh beberapahal, diantaranya:

    • Dalil-dalil larangan mencabut uban sangat tegas.
    • Hukum asal sebuah larangan menunjukkan hukum haram, selagi tidak ada dalil lain yang memalingkan hukum asalnya; dan di sini kita tidak menjumpai dalil lain yang memalingkan hukum asalnya
    • Setiap orang membutuhkan cahaya pada hari kiamat, dan mencabut uban hukumnya adalah akan dihilangkan cahayanya pada hari kiamat.
    • Allah akan mencatat setiap satu helai uban dicatat sebagai satu kebaikan, dan akan menggunakan satu dosa bagi orang yang tidak mencabut ubannya.

    PERINTAH MENYEMIR UBAN SELAIN HITAM HUKUMNYA SUNNAH         

    Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

    اتى بابي قحافة يوم فتح مكة ورأيه ولحيته كالثغامة بياضا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (غيروا هذا بشيء واجتنبوا اسواد

    Artinya: “Di datangkan Abu Quhafah pada saat penaklukan kota mekah, sedangkan rambut kepala jenggotnya berwarna putih seperti kapas, lalu rasulullah bersabda, ‘ubahlah (warna) uban ini dengan sesuatu, tetapi jauhi warna hitam,” (HR Muslim:  5631)

    Hadits di atas dan hadits-hadits yang semisal menguatkan pendapat bahwa lebih utama uban itu diubah warnanya agar tidak berwarna putih. Dan ini sekaligus melemahkan pendapat yang mengatakan bahwa lebih utama uban itu dibiarkan putih karena rata-rata hadits yang dibawakan hanya menceritakan bahwa sebagian sahabat Nabi tidak mengubah warna uban mereka.

    Imam Nawawi berkata,” Yang lebih benar dan lebih sesuai dengan sunnah adalah mazhab kami yang mengatakan ‘ sunnah bagi laki-laki dan perempuan mewarnai uban dengan warna merah atau kuning, dan haram hukumnya mewarnai uban dengan warna hitam’ , meskipun ada yang berpendapat makruh.”

    MENGAPA BANYAK ULAMA MEMBIARKAN UABNNYA BERWARNA PUTIH?

    Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya dengan pertanyaan semisal; beliau menjawab, “mengubah warna uban adalah sunnah yang diperintahkan Rasulullah beliau bersabda,’ ubahlah warna uban ini dan jauhilah warna hitam.’ Akan tetapi, banyak ulama tidak melakukannya karena mereka kesulitan menjaganya. Sebab, seorang yang meneymir uban harus perhatian dengan uban yang dismeir itu. Jika tidak maka akan segera tampak warna aslinya uban itu. Oleh karena itu, Imam Ahmad berkata(di dalam hal lain),’ memanjangkan rambut bagi laki-laki adalah sunnah. Kalau kami kuat, niscaya kami akan melakukannya. Akan tetapi, itu merepotkan dan perlu biaya sedangkan waktu dan harta mereka digunakan untuk sesuatu yang lebih maslahat. Itulah alasan para ulama sehingga mereka meninggalkan sunnah itu. Dahulu, guru kami, as-sa’di tidak mewarnai ubannya; dahulu mufti umum negeri ini juga tidak mengubah warna ubannya, demikian juga saudaranya; bahkan banyak para ulama yang kita lihat tidak mengubah warna ubannya. Akan tetapi, mewarnai uban (selain hitam) itu hukumnya tetap sunnah meskipun banyak ulama tidak melakukannya. Dan sepaututnya bagi seorang (yang beruban) untuk mewarnai ubannya dengan warna selain hitam karena warna hitam telah dilarang Rasulullah.”

    HIKMAH MENYEMIR UBAN DENGAN SELAIN HITAM UNTUK MENYELISIHI KAUM KAFIR

    Di antara hikamah menyemir uban dengan selain warna hitam adalah untuk melaksanakan sunnah Rasulullah dan mendapat pahala. Hikmah yang lain adalah untuk membedakan umat islam dengan kaum kafir. Dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Ibnu umar Radhiyallahu Anhuma beliau berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    غيروا الشيب ولا تشبهوا باليهود

    Artinya: “ ubahlah warna uban ini dan jangan menyerupai kaum yahudi.” (HR Nasai:5073, dan disahihkan oleh syaikh Albani di dalam ash-shahihah: 836)

    Lebih tegas lagi, di dalam hadits lain dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah memerintahkan agar kaum muslimin menyelisihi kaum yahudi dan nasrani; beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    ان اليهود والنصارى لايسبغون فخالفوهم

    Artinya: “Sesungguhnya yahudi dan Nasrani tidak menyemir rambut, maka selisihilah mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)

    LARANGAN MENYEMIR UBAN DENGAN WARNA HITAM

    Dari Jabir bin Abdullah beliau berkata, “ ketika didatangkan Abu Quhafah pada saat penaklukan kota mekkah, sedangkan rambut kepala dan jenggotnya berwarna putih semua seperti kapas

    “ ubahlah (warna) uban ini dengan sesuatu, tetapi jauhi warna hitam,” (HR Muslim)

    Di dalam hadits lain dari Ibn u Abbas Rasulullah bersabda:

    “ Akan ada suatu kaum pada akhir zaman orang-orang yang menyemir (ubannya) dengan warna hitam, seperti  sarang burung merpati, mereka tidak akan mencium baunya surga.” (HR. Abu Dawud)

    Beberapa hadits di atas menunjukkan secara lahir bahwa menyemir uban dengan warna hitam hukumnya haram. Bahkan Ibnu Hajar al-Haitami menyatakan bahwa perkara tersebut termasuk dosa besar.

    Adapun pendapat yang mengatakan bahwa menyemir uban dengan warna hitam hukumnya makruh, maka pendapat ini hanya didasari oleh keumunan perintah menyemir uban (baik hitam atau selainnya), dan didasari oleh perbuatan sebagian sahabat , dan perbuatan sebagian ulama seperti az-Zuhri yang menyemir ubannya dengan warna hitam ketika wajah masih terlihat muda, tetapi ketika sudah terlihat tua dia tidak lagi melakukannya.

    LARANGAN MENYEMIR UBAN MENJADI HITAM APAKAH BERLAKU BUAT WANTA

    Para ulama berbeda pendapat tentang hal itu sebagian pendapat bahwa larangan menyemir uban menjadi warna hitam hanya berlaku untuk kaum laki-laki saja. Qatadah mengatakan, “ dibolehkan menyemir rambut (uban) menjadi warna hitam untuk wanita.” Akan tetapi, kalau kita melihat kepada lahiriah dari hadits-hadits yang melarangnya, larangan tersebut bersifat umum baik untuk laki-laki atau perempuan.

    SEBAIK-BAIK PEWARNA UBAN

    Islam adalah agama yang sempurna ketika melarang sesuatu maka larangan itu pasti membawa kerusakan dan jika memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu pasti membawa kemaslahatan, seperti menggunakan bahan semir dari ini dan pacar.

    BOLEHKAH WANITA MENYEMIR RAMBUT HITAMNYA MENJADI PIRANG?

    Hukum asal segera urusan dunia adalah halal kecuali jika terdapat larangan agama maka tidak diperbolehkan.

    Syaikh Ibnu Utsaimin menyebutkan kaidah diatas dan membagi masalah ini menjadi tiga :
    pertama:  warna yang diperintahkan, seperti hinna yang digunakan untuk menyemir  uban menjadi kemerahan

    Kedua:  warna yang dilarang, yaitu warna hitam yang digunakan menyemir uban.

    Ketiga:  warna-warna yang tidak diperintahkan dan tidak dilarang, maka hukum asalnya adalah halal

    Dari keterangan diatas, beliau juga mengatakan, “wanita boleh mewarnai rambutnya dengan warna selain hitam dengan syarat bukan meniru/ menyerupai orang-orang kafir, karena menyerupai orang-orang kafir hukumnya haram.” ( diringkas dari fatwa Ibnu Utsaimin dalam Liqa al bab al-Maftuh 15/20 )

    Wallahu a’alam

    Demikianlah artikel ini saya buat semoga bermanfaat bagi kita semua. Jika ada salah kata dalam penulisan ini saya mohon maaf kepada Allah saya mohon ampun

     

    Referensi :

    Ustadz Muhammad Ali AM.Dzulhijjah 1436.Majalah Al-Furqon. Menuai pahala dengan munculnya uban.

    Diringkas oleh: Atsiilah Adridsaputri (Santriwati pengabdian Ponpes Darul Quran Wal Hadits OKU Timur)

     

    BACA JUGA:

     

  • Kado Istimewa Untukmu Yang Sakit

    Kado Istimewa Untukmu Yang Sakit

    Saudara dan saudariku semuslim, kehidupan yang kita jalani ini jika ada salah satu bagian tubuh kita yang sakit akan terasa sulit untuk dijalani, karena itu sangat penting kita menjaga kesehatan kita, dimana hampir 2 tahun terakhir ini kita sedang di uji dengan virus yang banyak mematikan manusia di seluruh dunia yaitu corona virus (covid 19). Di Indonesia sendiri setiap hari semakin meningkat kasus virus ini, karena virus ini yang sakit biasa seperti batuk, pilek sesak nafas, dll akan kena dampak bahkan dicurigai sebagai pasien yang punya gejala covid 19.

    Kesehatan adalah harta yang tidak ternilai, karena kesehatan merupakan sebuah modal dasar di dalam seluruh aktivitas kehidupan. Nilai Kesehatan ini sangat etrasa ketika sakit datang menghampiri. Ketahulilah saudara saudariku seiman, nikmat Kesehatan adalah anugrah dari Allah subhanallahu wa ta’ala yang sangat mahal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ أَصْبَحَ منْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَا فًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ فَكَاَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

    Artinya: “Barang siapa di pagi hari ,merasa aman dalam perjalanannya, badannya sehat dan dia mendapati makanan untuk hari itu, seolah-olah kebahagian dunia telah diraih olehnya”.[1]

    Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata,”inti kenikmatan itu ada 3; 1. Nikmat Islam, 2. Nikmat Sehat, 3. Nikmat Kecukupan.  Sungguh benar bahwa Kesehatan adlah nikmat yang besar, apalah artinya mempunyai harta melimpah tapi badan kita sakit-sakitan tidak bisa menggunakan harta terseut. Hal ini harusnya menjadikan kita sadar untuk memanfaatkan nikmat sehat dengan amlan shalih bukan malah kita kotori dengan lumpur maksiat!.

    Wahai saudara saudariku yang sedang berbaring di kasur putih, semoga Allah ta ‘ala memberikan kesembuhan kepadamu, ketahuilah suri tauladan kita yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

    اِغْتَنِم خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَا بَكَ قَبْلَ هَرَ مِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَا غَكَ قَبْلَ شُغُلِكَ وَحَيَا تَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

    Artinya: “manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain : masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, ketika kaya sebelum datang miskinmu, waktu luang sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu”.[2]

    Ketika sehat manfaatkanlah waktumu sebelum sakitmu datang karena apabila kamu sakit maka kenikmatan hidup berkurang, contohnya kecil saja setiap hari kita munim air putih, ketika kita sehat betapa nikmatnya minum segelas air putih, apalagi ketika saat puasa, tanpa kesusahan untuk meminumnya, namun ketika kita sakit mungkin kita suka susah menikmati air putih karena mulut kita ketika sakit terasa pahit jadi makanan dan minuman apapun yang masuk ke dalam mulut tidak begitu nikmat. Maka dari itu jadi lah kita seorang yang selalu bersyukur dengan keadaan yang dimiliki, selagi itu untuk Kesehatan maka lakukanlah.

    Untukmu yang sedang sakit… kita semua tentu tidak ingin merasakan sakit tapi ingatlah bahwa segala yang terjadi di dunia yang fan aini telah digariskan oleh Allah ta ‘ala. Seperti adanya bencana alam, musibah dan sakit semuanya adalah ketentuan dari Allah maka dari itu kita jangan bersedih, anggap saja sakit yang kita alami adalah salah satu upaya Allah untuk menggugurkan dosa-dosa kita. Wallahu ‘alam

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hadid: 22

    مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ

    Artinya: ”Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula ) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh mahfuzh ) sebelum kami menciptakannya. Sesungghnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al-Hadid :22)

    Musibah adalah sunatullah bagi seluruh makhluk sampai orang yang paling mulia pun merasakannya. Para nabi dan rasul mereka adalah orang yang paling berat cobaannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “sesungguhnya manusia yang paling berat cobaanya adalah para nabi. Kemudian yang setelahnya, yang setelahnya dan yang setelahnya”.[3] Hadits tersebut menunjukkan bahwa semakin kkuat keimanan seseorang makan akan semakin bertambah pula cobaannya. Dan hadits ini sebagai bantahan yang jelas terhadap anggapan orang-orang yang lemah akalnya bahwa seorang mukmin apabila diberi cobaan maka hal itu pertanda bahwa dia tidak diridhai disisi Allah. Ini adalah persangkaan yang salah. Rasulullah saja sebagai manusia yang paling mulia diberi cobaan. Cobaan disini secara umum adalah isyarat kebaikan bukan pertanda kejelekan.

    Janganlah kita berburuk sangka kepada Allah dengan apa yang diberikan meskipun yang kita anggap itu buruk untuk kita belum tentu bagi Allah itu buruk karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah memberikan cobaan di atas kemampuan kita. Ingatlah selalu hadits yang berbunyi :

    أَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ فَلْيَظُنَّ بِيْ مَا شَا ءَ,إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ

    Artinya: “Aku menuruti persangkaan baik para hamba kepadaku. Hendaklah ia berprasangka sekehendaknya, apabila ia berprasangka baik maka akan baik, apabila ia berprasangka buruk maka akan buruk pula”. (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya (639))

    Renungi hadits di atas, semoga Allah memberi pemahaman kepadamu bahwa Allah akan menuruti persangkaan seorang hamba. Berbaik sangkalah ketika kamu sakit, karena apabila Allah mengetahui ketulusan dan kejujuran niatmu dalam berprasangka baik maka engkau akan merasakan ketenangan jiwa dan ketentraman. Sebaliknya apablia engkau menuduh bahwa Allah tidak mengasihimu, tidak kasihan maka tidak mustahil sakitmu bertambah parah.

    Ada beberapa hal yang bisa membuatmu Bahagia ketika dirimu sakit, yaitu :

    1. Menghapus dosa

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;

    وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

    Artinya: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)”.(QS. Asy-syuraa : 30)

    2. Meraih derajat yang tinggi

    Orang yang sakit Allah ta ‘ala janjikan baginya kedudukan yang tinggi disisi-Nya. Berdasarkan hadits “ada seorang hamba yang meraih kedudukan mulia di sisi Allah bukan karena amlannya. Allah memberi cobaan dengan sesuatu yang ia benci hingga ia dapat meraih derajat mulia tersebut.”[4]

    3. Pahala terus mengalir walaupun sakit

    Apabila sakit jangan khawatir dengan amalan yang bias akita kerjakan. Karena Allah akan tetap menulisnya sebagaimana ketika kita sehat. Hal ini sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “ apabila seorang hamba sakit atau sedang berpergian akan tetap ditulis pahalanya seperti ketika dia mukmin dan sehat”. [5]

    4. Termasuk kebaikan insyaAllah

    sakit yang kita derita pertanda bahwa Allah masih menghendaki kebaikan pada hambanya. Betapa banyak orang yang sakit setelah sembuh dia menyadari kesalahannya dan kembali kepada Allah, renungilah hadits-hadits berikut ini wahai saudara dan saudariku..

    “ barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka Allah akan memberinya cobaan”[6]

    5. Ganjaran sesuai dengan musibah

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “sungguh besarnya balasan seimbang dengan besarnya musibah. Apabila Allah mencintai sebuah kaum maka Dia akan mengujinya. Barangsiapa yang ridha maka dia mendapat keridhaan dan barangsiapa yang benci maka baginya kebencian”.[7]

    Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

    Artinya: “Demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar”. (QS. Al-Jumu’ah: 4)

    Maka bersyukurlah wahai para hamba yang beriman atas karunia yang besar ini. Kita masih bisa meraih ganjaran walaupun dalam keadaan sakit, ini semata-mata adalah karunia Allah ta ‘ala yang diberikan kepada para hambanya. Renungkanlah mulai detik ini untuk memanfaatkan waktu sehat kita dengan bersyukur kepada-Nya dan menjalankan amalan shalih. Jangan ditunda-tunda! Mulailah untuk memperbaiki diri ketika sehat. Manfaatkan waktu sehat dengan ketaatan. Bertaubatlah kepada-Nya, ingatlah selalu bahwa kita akan ditanyakan akan nikmat Kesehatan ini.

    Tidak diragukan lagi bahwa sakit yang kita derita adalah ketentuan yang sudah Allah gariskan, maka kita sebagai muslim haruslah bersabar dalam menghadapi ujian yang Allah berikan. Kesabaran adalah salah satu tuntutan dari keimanan seseorang, karena Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang berbunyi :

    مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

    Artinya: “tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah , niscaya Dia akan memebri petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. At-Taghabun : 11)

    Semoga Allah ta ‘ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat. Menyembuhkan saudara – saudara kita kaum muslimin yang sedang sakit. Sesungguhnya Allah maha mendengar dan mangabulkan do’a. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin

     

    REFERENSI:

    Diringkas dari buku “kado istimewa untukmu yang sedang sakit“

    Karya : Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman

    Dibuat oleh : Marisa Daniati (Pengajar Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

     

    [1] HR.Tirmidzi no.2345, Ibnu Majah no.4141. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shahihah no.2318

    [2] HR. Hakim 4/306, Ibnu Abi Dunya dalam Qashr Amal 2/1/2. Syaikh al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Ta’liq Iqthidhaul ilmi al-Amal no.170.

    [3] HR.Ahmad 6/369, al-Muhamili dalam Amali 3/44/2. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-Shahihah no.145.

    [4] HR. abu Ya’la no.6095, Hakim 1/344. Lihat Shahihul Jami’ no.1625, as-Shahihah no. 2599 oleh al- Albani.

    [5] HR. Bukhari no.2996

    [6] HR. Bukhari no. 5654

    [7] HR. Tirmidzi 2/64, Ibnu Majah no.4031, Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam as-shahihah no.146

     

    BACA JUGA:

  • ADAB KETIKA TERTIMPA MUSIBAH DAN KESEDIHAN

    ADAB KETIKA TERTIMPA MUSIBAH DAN KESEDIHAN

    ADAB KETIKA TERTIMPA MUSIBAH DAN KESEDIHAN – Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, yang telah memberikan kepada kita begitu banyak kenikmatan, diantaranya nikmat islam, iman dan berada di atas jalan hidayah. Dan kita senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan keistiqomahan dalam menjalankan syariat islam dan juga menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

    Wahai saudaraku, ketahuilah bahwasanya setiap orang pasti akan mengalami musibah dan kesulitan dalam kehidupannya, diantaranya seperti kehilangan harta, anak, kehilangan orang yang dikasihi, menderita sakit, dan musibah – musibah lainnya yang Allah berikan padanya.Dan hendaklah seorang muslim harus mengetahui apa yang seharusnya ia lakukan ketika sedang tertimpa musibah, di antaranya yaitu:

    1. Bersabar dalam Menghadapi Musibah

    Sabar menghadapi musibah merupakan adab yang sangat agung. Maka dari itu, hendaklah seorang muslim bersabar atas musibah yang menimpa dirinya. Di antara bentuk kesabaran tersebut ialah menahan hati dari amarah, menahan lisan dari mengeluh, serta menahan anggota badan dari perbuatan yang mengundang murka Allah Ta’ala, seperti menampar pipi, mengoyak-ngoyak pakaian serta mencakar wajah, serta meratap seperti ratapan kaum jahiliyah. Dan hendaklah seorang muslim bersabar ketika musibah sedang menimpa dirinya.

    Anjuran itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

    إنما الصبر عند الدمة الأولى

    Artinya: “Kesabaran yang sesungguhnya adalah pada awal musibah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Sebagian orang, ketika datang kepadanya berita musibah, melakukan berbagai perbuatan yang di haramkan Allah, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Kemudian, apabila sudah mulai tenang barulah ia berkata:”Ya Allah, berikanlah pada kami kesabaran atas musibah ini”atau kata-kata semisalnya. Dan alangkah baiknya sekiranya ia mampu bersabar pada awal musibah!”

    Di antara perkara yang membantu seseorang dapat bersabar ialah menyakini bahwa kekesalan dan kemarahan tidak akan mengembalikan  apa yang telah Allah takdirkan. Perbuatan itu tidak mempengaruhi ketetapan Allah sama sekali, bahkan seseorang tidak akan memetik hasil apapun di balik itu kecuali kemarahan Allah. Akan tetapi, apabila seorang bersabar, niscaya ia mendapat pahala. Sesungguhnya ketetapan Allah pasti berlaku! Sementara itu, apabila seeorang tidak besabar, maka ia akan brdosa. Sesungguhnya qadha’ dan takdir Allah akan senantiasa berlaku. Oleh karena itu, hendaklah seseorang bersabar seperti kesabaran orang yang bertaqwa, yakni sabar dengan  penuh kerelaan serta keridhaan. Janganlah ia bersabar seperti sabarnya hewan ternak, yaitu sabar dikarenakan keterpaksaan.

    2. Mengharapkan Pahala atas Musibah dan Berusaha Bersabar Dalam Menjalaninya

    Hendaklah mengharap pahala dari Allah Ta’ala atas kesabarannya. Hendaklah bersabar  karena mengharapkan janji Allah berupa balasan dari pahala. Karena sesungguhnya Allah telah memerintahkannya untuk bersabar.

    Allah Ta’ala berfirman:

    …واصبر على ماأصابك إن ذلك من عزم الأمور

    Artinya: “…..Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpahmu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkata yang penting. “(QS. Luqman {31}: 17).

    Demikianlah, sesungguhnya Allah menjanjikan pahala yang besar atas kesabaran dalam menghadapi musibah. Akan tetapi, dengan syarat, kesabaran tersebut semata-mata karena mengharap wajah Allah Ta’ala.

    Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan:

    والذين صبروا ابتغاء وجه ربهم…..

    Artinya: “Dan orang yang sabar karena mengharap kerihdoan Rabbnya…..”(QS.Ar-Rad{13}: 22).

    3. Mengucapkan Kalimat Istirja’ dan Membaca Doa Tertimpa Musibah

    Apabila seseorang tertimpa musi-bah, hendaklah ia menggucapkan :

    “إنا لله وإنا إليه راجعون, اللهم أجرنى في مصيبتي, وأخلف لي خيرا منها.”

    Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada nyalah kami akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dari musibahku ini dan gantilah dengan sesuatu yang lebih baik dari padanya.” (HR. Muslim)

    Sebab, sesungguhnya musibah dan bencana yang menimpanya akan sirna dengan seizin Allah Ta’ala.

    4. Menjauhi Perbuatan yang Mengundang Kemarahan Allah

    Berusahalah untuk menjauhi ucapan-ucapan yang buruk, menampar pipi, mengoyak-ngoyak pakaian dan mencakari wajah, meratap, mengeluh kepada manusia, berdoa agar disegerakan kematiannya, merintih sambil mengutuk dan lain sebagainya. Semua perbuatan itu dapat mengundang kemarahan Allah serta dapat menghilangkan kesabaran dan kerihdoan dalam menghadapi dan menerima musibah.

    5. Tidak Mengeluh Pada Makhuk

    Mengeluh kepada mahluk merupakan tingkatan yang paling hina. Seseorang mengeluhkan penciptanya kepada manusia. Ia mengeluhkan Allah yang Maha Penyayang, yang mana Dia lebih sayang terhadap hamba-Nya melebihi rasa sayang seorang ibu kepada anaknya. Dan hal ini tidaklah pantas dilakukan oleh seorang hamba kepada Robbnya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    6. Menyadari adanya Nikmat Allah pada Musibah Yang Sedang Menimpanya

    Diantara adab seseorang muslim pada saat tertimpa musibah adalah menyadari bahwa di dalam musibah itu ada nikmat Allah Ta’ala atas darinya. Didalam musibah terkandung nikmat-nikmat Allah karena pada hakikatnya musi-bah adalah karunia dalam bentuk cobaan. Di antara nikmat-nikmat tersebut ialah:

    1. Bisa jadi musibah yang akan terjadi lebih besar dari pada yang sudah terjadi. Tentu akan lebih baik apabila seseorang kehilangan sebagian hartanya dari pada kehilangan semuanya. Tentu lebih baik jika ia kehilangan satu anak dari pada kehinangan seluruh anaknya. Tentu akan lebih baik kalau ia mengidap satu penyakit dari pada menderita berbagai macam penyakit atau bahkan meninggal dunia. Sebagian musibah lebih ringan dari pada sebagian lainnya, hendaklah ia melihat orang–orang yang ada disekitarnya yang tertimpa musi-bah lebih besar dari pada musibah yang sedang menimpah dirinya.
    2. Musibah itu hanya menimpa urusan dunianya, tidak menimpa urusan agamanya. Barang siapa yang kehilangan agamanya niscaya telah kehilangan segalanya.
    3. Bahwasannya Allah masih memberikan kepadanya kesabaran dalam menghadapi musi-bah. Bisa saja Allah tidak menberikan padanya taufiq sehingga ia tidak bisa bersabar. Dan akhirnya, ia kehilangan segala sesuatu karena kesal dan marah.

    7. Mengingat Qadha (Ketentuan Allah) yang Telah Tertulis Di Lauhul Mahfudz

    Sesungguhnya apabila seorang yang mukmin telah meyakini bahwa musibah yang menimpanya telah tertulis dan diterapkan, memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan ketetapan Allah yang harus terjadi tanpa bisa dielakkan, meyakini bahwasannya Allah telah menetapkan hikmah di balik musi-bah tersebut, maka dengan demikian akan terasa ringan musi-bah itu baginya dan ia akan terhibur karena mengingat hal-hal tersebut.

    8. Mengharapkan  Jalan Keluar dari Allah Ta’ala

    Tidak kayak apabila seorang menunggu pertolongan dari selain Allah. Perbuatan itu merupakan salah satu bentuk syirik kepada Allah. Demikian pula manusia tidak sepatutnya berputus asa dari rahmat Allah. Wajib bagi setiap muslim mengantungkan harapannya kepada Allah ketika sedang tertimpa musibah. Sebab, hanya Dia-lah yang berkuasa mengantinya dengan pertolongan dan mengiringinnya dengan kemudahan dan karunia dari-Nya. .

    Maka dari itu, sangatlah penting mengantungkan harapan padanya ketika tertimpa musibah, yakni ketika kebutuhan kepadanya sangat mendesak. Di saat itulah, hendaklah seseorang menghadapkan hatinya dengan penuh harapan agar Allah Ta’ala berkenan untuk menghilangkan musibah tersebut serta mengusur rasa sedih dan duka.

     

    REFERENSI:

    Demikianlah artikel ini saya buat dengan mengutip dari buku Ensiklopedi Adab Islami, Pustaka Imam Asy-Syafi’i karya Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada.

    Peringkas: Husain Gati Rianto (Staf Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

     

    BACA JUGA:

  • HARTAKU UNTUK IBADAHKU

    HARTAKU UNTUK IBADAHKU

     

    HARTAKU UNTUK IBADAHKU- Allāh azza wa jalla menciptakan dunia ini dengan segala pernak perniknya. Termasuk pula dicintakannya manusia terhadap harta. Harta apabila digunakan di jalan Allāh azza wa jalla maka akan bisa menyelamatkan pemiliknya dari adzab Allah Subhanahu wa ta’ala. Namun ada di antara manusia yang terfitnah oleh harta.

    1. Fitnah harta

    Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan di dalam Al-Qur’an bahwa di antara fitnah dan ujian bagi manusia adalah harta, sebagaimana firman-Nya;

    زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَـٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ

    ٱلْمُسَوَّمَةِوَٱلْأَنْعَـٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

    Artinya:

    “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada syahwat dari wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-Imran:14)

     

    Disebutkan di sini beberapa fitnah bagi manusia dimulai dari yang paling dahsyat yaitu fitnah wanita, kemudian fitnah kecintaan kepada anak laki-laki, kemudian fitnah harta, dan fitnah harta dengan berbagai macam jenisnya baik berupa emas dan perak, hewan ternak, dan juga tanam-tanaman.

    Selanjutnya Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan,

    ذَٰلِكَ مَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

    Artinya:

    “Yang demikian adalah kesenangan dunia, dan Allāh adalah sebaik-baik tempat kembali.” (QS. Ali-Imran :14)

     

    Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

     

    ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ  وَٱلْبَـٰقِيَـٰتُ ٱلصَّـٰلِحَـٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًۭا وَخَيْرٌ أَمَلًۭا

     

    Artinya:

    “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi :46)

     

    Tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adalah untuk beribadah dan Allāh tidak menciptakan dunia kecuali untuk menopang dan mendukung ibadah seorang hamba kepada-Nya. Seseorang tidak diperbolehkan menjadikan dunia sebagai tujuan utama sehingga melalaikan dia dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

    Seseorang apabila muwaffaq yaitu diberikan taufiq oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dia bisa memanfaatkan harta dunia yang Allah berikan kepadanya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan,

     

    وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ ۖ  وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا

    Artinya:

    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allāh kepadamu (kebahagiaan) negeriakhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

     

    Ini menunjukkan bahwasanya seseorang apabila diberikan taufiq oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka dia bisa menjadikan harta yang Allah berikan kepada dirinya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, Di antaranya menggunakan harta tersebut untuk mendukung ibadah seperti melakukan umrah, haji, menuntut ilmu, membeli buku, melakukan perjalanan di dalam mencari ilmu, dan lain-lain.

    1. Bershadaqah

    Shadaqah termasuk amalan yang memiliki fadhilah atau keutamaan. Beberapa keutamaan shadaqah berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadits adalah sebagai berikut.

    1. Shadaqah membersihkan jiwa

    Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

    خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةًۭ تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

    “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

    Shadaqah akan menghilangkan sifat bakhil dalam diri seseorang. Orang yang selamat dari kebakhilan maka dialah orang yang beruntung, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

    و من يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

    “Barangsiapa yang dijaga hatinya dari sifat bakhil merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun:16)

     

    1. Shadaqah adalah bukti iman seseorang

    Sebagaimana sabda Nabi,

    وَ الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

    “Shadaqah adalah bukti yang nyata.”

    1. Shadaqah mengembangkan harta seseorang

    Dalilnya adalah sabda Nabi:

    مَا نَقَصَ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

    “Tidak akan berkurang shadaqah dari harta.”

    Maksudnya adalah semakin banyak seorang hamba bershadaqah maka semakin banyak keberkahan dari harta yang dia miliki.

    1. Shadaqah termasuk sebab seseorang selamat dari musibah
    2. Shadaqah sebab seseorang mendapatkan naungan diakhirat

    Kelak di padang Mahsyar matahari akan didekatkan kepada manusia sehingga jarak antara mereka dengan matahari hanya 1 mil. Yang dimaksud dengan 1 mil di sini ada yang mengatakan jarak kurang lebih 1.6 km dan ada yang mengatakan bahwa mil di sini adalah celak mata. Ini menunjukkan bagaimana keadaan manusia saat matahari didekatkan kepada mereka sehingga mereka merasa kepanasan dan masing-masing mereka mengeluarkan keringat sesuai dengan dosa yang mereka miliki. Semakin banyak dosanya maka semakin banyak keringatnya.

    Namun di antara manusia ada 7 golongan yang diberi naungan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala saat itu, yang tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah Subhanahu wa ta’ala karena di sana tidak ada tempat untuk bernaung kecuali di dalam naungan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Di antara orang yang mendapatkan naungan pada hari tersebut adalah,

    رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا أَنْفَقَتْ يَمِيْنُهُ

    “Seseorang yang menyembunyikan shadaqahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.”

    1. Shadaqah adalah sebab seseorang mendapatkan do’a malaikat

    Di dalam sebuah hadits riwayat Imam Al-Bukhari Rasulullah mengatakan:

    مَا مِنْ يَوْمٍ يُصبِحُ العِبادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ

    أَعْطِمُ مْسِكًا تَلَفًا

    “Tidak ada suatu hari di mana para hamba memasuki waktu pagi kecuali akan turun dua malaikat dan berkata salah satu di antaranya keduanya, ‘Ya Allah berilah ganti kepada orang yang berinfaq!’ dan yang lain berkata , ‘Ya Allah berikanlah kerusakan kepada orang yang menahan diri dari shadaqah!’”

    1. Shadaqah menghilangkan dosa

    Semua orang ingin diampuni dosanya. Salah satu cara agar Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa seorang hamba adalah dengan cara bershadaqah. Rasulullāh bersabda,

    وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ

    “Shadaqah memadamkan kesalahan (menghapus kesalahan) sebagaimana air memadamkan api.”

    1. Shadah menjadi sebab sesorang terjaga dari neraka

    Shadaqah adalah sebagai perisai dari api neraka, sebagaimana ucapan Nabi di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim.

    اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

    “Hendaklah kalian menjaga diri kalian dari neraka walau hanya sedekah dengan separuh kurma.”

    Kalimat walau hanya dengan separuh kurma menunjukkan perintah Rasulullah untuk shadaqah sesuai dengan kemampuan diri. Apabila dia hanya memiliki kurma separuhnya untuk dia makan dan separuhnya dia shadaqahkan maka hendaknya dia lakukan karena itu adalah sebab seseorang terjaga dari api neraka.

     

    1. Shadaqah adalah harta kita yang sebenarnya

    Disebutkan dalam hadits bahwasanya Nabi bertanya kepada Aisyah Radiallahu’anha tentang seekor kambing yang mereka sembelih dan dishadaqahkan untuk orang lain. Kemudian Nabi bertanya, “Apa yang masih tersisa?” Aisyah Radiallahu’anha mengatakan, “Tidak tersisa dari kambing tersebut kecuali pahanya.” Kemudian Nabi mengatakan, “Yang disedekahkan untuk fakir miskin itulah yang langgeng di hari kiamat.”

    Artinya, yang dishadaqahkan atau yang dikeluarkan itulah harta kita yang sebenarnya. Dan orang yang bershadaqah dan menjaga shadaqahnya maka kelak dia akan memiliki pintu khusus yang dinamakan dengan babush shadaqah atau pintu shadaqah. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah, “Barangsiapa yang termasuk ahli shadaqah maka dia akan dipanggil daripintu Ash-Shadaqah.”

     

    Beberapa kaidah yang perlu diperhatikan ketika seseorang bershadaqah\

    1. Shadaqah kepada keluarga lebih diutamakan

    Hal ini sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

    يَسْـَٔلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ  قُلْ مَآ أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍۢ فَلِلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۗ

    وَمَاتَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍۢ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌۭ

    “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim,orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan’. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS.Al-Baqarah: 215)

    Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh An-Nassai dan Ibnu Majah Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya bershadaqah untuk orang miskin statusnya adalah shadaqah dan bershadaqah untuk keluarga maka statusnya dua, yang pertama shadaqah dan yang kedua bagian dari silaturahim.”

    1. Tidak boleh seseorang berlebih-lebihan di dalam bershadaqah

    Maksud berlebih-lebihan di sini adalah berlebih-lebihan sehingga memudarati dirinya atau keluarga yang menjadi tanggungannya. Berlebih-lebihan dalam shadaqah termasuk hal tercela di dalam agama. Allah Subhanahu wa ta’ala mensifati hamba-hamba-Nya dengan beberapa sifat, salah satunya apabila bershadaqah mereka tidak berlebihan sehingga memudarati dirinya namun mereka juga tidak pelit. Shadaqah mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak terlalu bakhil (pertengahan). Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al-Isrā’: 29,

    وَلَا تَجۡعَلۡ يَدَكَ مَغۡلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبۡسُطۡهَا كُلَّ ٱلۡبَسۡطِ فَتَقۡعُدَ مَلُوما مَّحۡسُورًا

    “Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.”

    1. Bershadaqah menggunakan harta yang halal karena harta haram tidak akan diterima oleh Allah

    Nabi ﷺ bersabda,

    إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً

    “Sesungguhnya Allāh adalah baik dan Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menerima kecuali yang baik.”

    Maka di dalam bershadaqah seseorang harus menggunakan harta yang halal, karena harta yang haram tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

    1. Berusaha untuk menyembunyikan shadaqah

    Dianjurkan untuk menyembunyikan shadaqah, karena yang demikian lebih ikhlas bagi orang yang melakukannya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

    إن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَـٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمْ ۗ وَٱللَّهُ

    بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ

    Artinya:

    “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)

     

    1. Shadaqah ketika sehat dan kuat lebih diutamakan daripada shadaqah ketika sakit

    Nabi bersabda, “Sebaik-baik shadaqah adalah engkau bershadaqah sedangkan engkau dalam keadaan shahih (sehat) dan engkau dalam keadaan sangat cinta dengan harta dan engkau dalam keadaan takut dari kefaqiran.”

    1. Memilih waktu yang afdhal (paling utama) untuk bershadaqah.

    Ada waktu-waktu yang diutamakan seseorang bershadaqah seperti bulan Ramadhan. Nabi

    bersabda, “Dahulu Nabi  adalah orang yang paling dermawan dan beliau paling dermawan ketika di bulan Ramadhan.” Karena Ramadhan adalah bulan ibadah dan beribadah di dalamnya dibesarkan pahalanya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, sangat diutamakan bershadaqah pada bulan ini.

    Demikan pula shadaqah pada sepuluh hari yang pertama bulan Dzuhijjah karena Nabi mengatakan, “Tidak ada hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.” Maka, demikian pula shadaqah diutamakan di waktu manusia sangat membutuhkan.

    Shadaqah bentuknya bermacam-macam, di antaranya, memberikan air, atau membuat sumur, atau memberikan makan, membangun masjid, dan sebagainya. Nabi bersabda, “Barang siapa yang membangun masjid karena mencari wajah Allah maka Allah akan membangunkan baginya rumah di dalam Surga.”

    Bentuk shadaqah yang lain misalnya nerinfaq dalam menyebarkan ilmu, seperti: mencetak buku, membiayai para dai ke pedalaman-pedalaman, membuat madrasah atau pesantren yang di situ diajarkan ilmu agama, dan lain-lain. Semua itu adalah bentuk shadaqah yang insyaallah pahalanya besar di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah memberikan kefahaman dan memberi taufik untuk mengamalkan. Wallahu Ta’ala A’lam.

     

    Referensi:

    Ditulis oleh: Avrie Pramoyo dari Majalah HSI edisi  014ـ Sya’ban 1441 H

    Diringkas oleh: Aryadi Erwansah (Staf Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur)

    Baca Juga Artikel:

    Berhati-hati Dalam Menjaga Harta Anak Yatim

    Jika Doa Tidak Dikabulkan

     

  • MERAUP PAHALA DALAM BERZIARAH KUBUR

    MERAUP PAHALA DALAM BERZIARAH KUBUR

    Meraup pahala dalam berziarah kubur

    Adab-Adab Dalam Berziarah Kubur

     

    Disyari’atkannya ziarah kubur

    Pada permulaan dakwah Islam Rosululloh J melarang kaum muslimin (para sahabat) dari berziarah kubur, dan larangan ini bersifat umum, baik untuk kaum laki-laki maupun perempuan. Hal itu dilakukan sebagai bentuk saddu adz-dzari’ah (menutup jalan sesuatu hal karena khwatir akan menjurus pada hal yang dilarang), dikarenakan bangsa arab pada masa jahiliyah suka mencela takdir dan marah serta tidak terima dengan ketetapan Alloh  berupa musibah yang menimpa mereka. Oleh karena itu Rosululloh J melarang para sahabatnya dari ziarah kubur disebabkan dekatnya mereka dari kejahiliyahan, sehingga ditakutkan akan timbul fitnah di antara mereka, sebagaimana fitnah itu telah menimpa orang-orang ahlu kitab dari kalangan yahudi maupun nasrani yang pada akhirnya mereka mengagungkan kubur-kubur pembesar dan ulama mereka serta menyembah kubur-kubur tersebut selain Alloh l .

    Tatkala iman telah masuk ke dalam dada-dada mereka, bersemayam di hati mereka, dan akidah telah mencengkram kuat dalam hati mereka, sehingga jiwa-jiwa mereka hanya bergantung pada Alloh, dengan hanya beribadah kepada-Nya semata, dan mengagungkan syari’at-syari’at-Nya, Rosululloh mengizinkan mereka untuk berziarah kubur secara syar’i sebagai media untuk mengingat kematian dan negeri akhirat. Dan hal ini dikhususkan untuk kaum laki-lakinya, tidak untuk kaum wanitanya sebagai mana yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka.[1]

    Dalil-dali disyar’iatkannya ziarah kubur

    Banyak dalil-dalil dari as-sunnah yang menjelaskan tentang disyari’atkannya ziarah kubur sebagai media untuk mengingatkan kita akan adanya kematian dan kehidupan akhirat yang kekal.

    Di antara dalil-dalil tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya, dari sahabat Buraidah bin Hushoib Al-Aslamy, beliau berkata, Rosululloh J bersabda,

    كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا. (رواه مسلم).

    Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka ziarahilah kubur-kubur oleh kalian.[2]

    Dan juga dari shabat Abu Huroiroh yang juga diriwayatkan oleh Imam muslim. Abu Huroiroh berkata, Nabi J menziarahi kubur ibundanya, kemudian beliau menangis sehingga orang-orang di sekeliling beliaupun ikut menangis, maka Nabi J bersabda,

    اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ.

    Aku meminta izin pada Robbku untuk memohonkan ampun bagi ibundaku, tapi Dia tidak memberiku izin, kemudian aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka aku diizinkan. Maka berziarahlah kalian ke kuburan, karena itu akan mengingatkan kalian akan kematian.[3]

    Ini adalah beberapa dalil yang menunjukan disyar’iatkannya ziarah kubur dan kami cukupkan dengan menyebutkan dua saja, dan masih banyak lagi yang tidak bisa kami sebutkan di sini. Dan para pembaca yang budiman bisa melihatnya di kitab-kitab hadits.

    Macam-macam ziarah kubur

    Setelah menjelaskan tentang disyari’atkannya ziarah kubur, kami merasa perlu dalam pembahasan ini untuk menyertakan poin yang satu ini, yaitu macam-macam atau bentuk bentuk ziarah kubur karena fenomena yang ada di kalangan kaum muslimin, agar nantinya kita benar-benar bisa mengetahui apakah ziarah kita selama ini termasuk yang syar’i, atau bahkan sebaliknya – wal iyadzu billah- termasuk dari ziarah yang dilarang.

    Para ulama telah membagi ziarah kubur menjadi tiga macam atau bentuk[4],

    Pertama: ziarah kubur yang syar’i

    Yaitu ziarah yang dimaksudkan dengannya untuk mengingat kematian dan negeri akhirat, mendoakan mayit, dan mengikuti sunnah dalam tatacaranya, serta memperhatikan adab-adab di dalamnya yang akan kita sebutkan insya Alloh setelah pembahasan point ini.

    Kedua: ziarah yang bid’ah

    Yaitu ziarah yang dimaksudkan dengannya untuk beribadah kepada Alloh di kuburan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin, dengan sangkaan mereka bahwa beribadah di kuburan itu lebih utama ( lebih afdhal) dan memiliki nilai lebih daripada ibadah yang dilakukan di masjid-masjid yang mana ia adalah tempat yang paling dicintai Alloh untuk beribadah. Banyak hadits-hadits shohih yang melarang sholat di kuburan dan menjadikannya sebagai masjid tempat beribadah kepada Alloh[5], dan ini perlu pembahasan yang khusus.

    Ketiga: ziarah yang syirik

    Yaitu ziarah yang dimaksudkan dengannya untuk mengagungkan pemilik kubur/mayit, dan meminta sesuatu padanya baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, atau berkorban untuknya, bernadzar dan lain-lainnya dari bentuk-bentuk ibadah yang pada dasarnya tidak boleh dikerjakan kecuali hanya untuk Alloh semata.

    Ini adalah kesyirikan yang nyata, yang mana Alloh tidak akan mengampuni para pelakunya sampai mereka bertaubat sebelum ajal menjemputnya, atau sebelum matahari terbit dari arah barat, Alloh berfirman,

    وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi[6].

    Walaupun begitu kita masih dapatkan banyak dari kaum muslimin yang melakukannya – wal iyadzu billah-, hal ini disebabkan karena jauhnya mereka dari ilmu dan bashirah, sehingga perkaranya pun menjadi rancu bagi mereka, padahal perkara tersebut sangatlah jelas bagi orang-orang yang berilmu dan mendapat hidayah.

    Maka benarlah apa yang dikatakan oleh amirul mukminin Umar bin khatab a , beliau berkata,

    إِنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إِذَا نَشَأَ فِيْ الْإِسْلَامِ مَنْ لَا يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةَ.

    Tali sumpul Islam akan terlepas seutas demi seutas apabila muncul dalam Islam generasi yang tidak mengetahui kejahiliyahan (perbuatan-perbuatan yang dilakukan kaum jahiliyah yang diselisihi oleh Rosululloh, dan diantaranya adalah kesyirikan). [7]

    Sehingga tatkala mereka tidak paham terhadap kesyirikan dan bentuk-bentuknya, merekapun terjatuh ke dalamnya, sedang mereka tidak menyadarinya – wal iyadzu billah-. Semoga Alloh menjaga kita, keluarga kita dan kaum muslimin sekalian dari kesyirikan dengan berbagai bentuknya.

    Adab-adab dalam berziarah kubur

    Setelah kita mengetahui macam-macam ziarah kubur, maka kita harus benar-benar memperhatikan hal ini, dan memperhatikan adab-adabnya supaya kita tidak terjebak dalam kebid’ahan ataupun kesyirikan ketika berziarah kubur.

    Adapun adab-adab yang harus kita perhatikan oleh setiap muslim ketika ziarah kubur adalah sebagai berikut,

    1. Meluruskan niat dalam berziarah kubur, hanya mengharapkan ridha Alloh dan pahala dari

    Ziarah kubur termasuk dari ibadah yang dianjurkan oleh Rosululloh J, beliau bersabda,

    قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ.

    Sungguh dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, dan telah diizinkan bagi Muhammad untuk menziarahi kubur Ibunya, maka berziarahlah kalian ke kubur-kubur, karena ia mengingatkan akan akhirat. [8]

    Jadi wajib bagi kita untuk meniatkan ziarah kubur kita dalam rangka mengikuti perintah Rosululloh, karena melaksanakan perintah beliau adalah bukti ketundukan dan kecintaan kita kepada Alloh l , Alloh berfirman,

     قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ.

     Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[9]

    Selain meniatkan ziarah kita untuk mengikuti perintah Rosululluh J karena Alloh, kita juga meniatkan ziarah kita untuk mengingat kematian dan akhirat sebagaiman telah hadir dalam hadits-hadits yang kami sebutkan.

    1. Melepaskan alas kaki ketika memasuki tanah pekuburan

    Dalam hal ini terdapat hadits dari Basyir Bin Al-Khoshoshiyyah a , ia berkata, ketika aku sedang berjalan bersama Rosulullah n ( di pekuburan kaum muslimin) tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berjalan di pekuburan dengan memakai sandalnya, maka Rosulullah J bersabda,

    “يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ”. فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا.

    “Wahai pemilik dua sandal, lepaskanlah sandalmu”. Laki-laki itupun menengok (pada pemilik suara), ketika ia mengetahui bahwa itu adalah Rosulullah J iapun melepaskan kedua sandalnya dan melemparkannya.[10]

    1. Mengucapkan salam dan mendoakan mayit yang di

    Ketika seorang muslim berziarah maka dianjurkan baginya untuk mengucapkan salam dan juga mendoakan mayit, bukan malah meminta kepada mereka seperti yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin – wal ‘Iyadzu billah-.

    Ada beberapa riwayat yang memberitahukan kita beberapa bentuk doa dan salam yang diajarkan oleh Rosululloh J kepada para sahabatnya, dan kami akan menyebutkan beberapa di antaranya – WAllôhul Musta`ân[11].

    1. Hadits Buraidah di Shohih Muslim

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلاَحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ.

    Keselamatan atas kalian wahai para penduduk negeri dari kalangan orang-orang yang beriman dan Islam, sesungguhnya kami dengan izin Alloh akan menyusul kalian (mati), aku meminta kepada Alloh keselamatan bagi kami dan kalian. [12]

    1. Hadits Aisyah di Shohih Muslim, Rosululloh J bersabda kepada Aisyah,

    قُولِى: السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ.

    Katakanlah wahai Aisyah, “ keselamatan atas penduduk negeri (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim, semoga Alloh merahmati orang – orang yang mendahului dan yang akan mengikuti (terakhir). Sesungguhnya kami dengan izin Alloh akan mengikuti kalian.”[13]

    1. Hadits Aisyah juga dalam Shohih Muslim, beliau berkata, Rosululloh J -pada malam-malam giliran Aisyah- keluar setiap akhir malam ke pekuburab Baqi’ dan berdoa,

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ غَدًا مُؤَجَّلُونَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، اللهُمَّ اغْفِر لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ.

    Keselamatan atas kalian wahai penduduk negeri (kubur) kaum mu’minin, telah datang pada kalian apa yang dijanjikan, sedang kami masih ditangguhkan sampai besok, sesungguhnya kami dengan izin Alloh akan mengikuti kalian, Ya Alloh ampunilah para penghuni baqi’ul ghorqod[14].

    Para ulama berpendapat bahwa ketika berdoa, disunnahkan untuk menghadap ke arah kiblat dan dalam keadaan berdiri.[15]

    1. Tidak duduk-duduk diatas kuburan

    Seorang muslim, kehormatannya harus dijaga, baik ketika ia masih hidup maupun setelah mati. Di antara bentuk penjagaan terhadap kehormatan mereka setelah mati adalah tidak duduk di atas kubur mereka. Ada sebuah riwayat dari Jabir yang menerangkan hal ini, beliau berkata,

    نَهَى رَسُولُ اللهِ J أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ.

    Rosululloh J melarang mengkapur (memplester) kubur, dan duduk di atasnya, serta membangunnya[16].

    Inilah beberapa adab dalam ziarah kubur yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi kami dan kaum muslimin sekalian, sehingga kita benar-benar akan dapat meraup pahala dalam berziarah kubur. Wa shollallôhu ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âlihi wa ashhâbihi ajma`în.

    Referensi

    • Majallatul Buhuts Al-Islamiyyah: Pembahasan mengenai ziyarah kubur dan hukumnya oleh Syaikh Yusuf Bin Sholih Al-Burqawi; edisi 63 Rabi’ul Awwal hingga Jumada Tsaniyah 1422 H.
    • Fatawa Lajnah Da’imah Darul Ashimah 1416 H
    • Ahkâmul Janâ-iz Maktabatul Ma’arif 1412 H
    • Al-Mausû`atu -Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 1426 H
    • Shohîh Fiqh As-Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal
    • Al-Qoulul Mufîd ‘Alâ Kitâb At-Tauhîd Syaikh Sholih Utsaimin Dar Ibnul Jauzi 1424 H

     

    [1] Lihat Al-Qoulul Mufîd ‘Alâ Kitâb At-Tauhîd, juz. 1, hal. 430-434, Cet. Ke-2 th. 1424 H, terbitan Dar Ibnu al-Jauzi, dan Fatawa Lajnah Da’imah juz. 9, Hal. 101.

    [2] Hadits Riwayat Muslim (no. 1977), Tirmidzi (no. 1054), Abu Dawud (no. 335) Nasai: [IV/ 89] dll.

    [3] Hadits riwayat muslim (no. 976), Ahmad [ V/355 ], Abu dawud (no. 3234) Ibnu Majah (no. 1572) dll.

    [4] . lihat Al-Qoulul Mufîd ‘Alâ Kitâb At-Tauhîd, juz: 1, hal. 427, cet. Ke-2 Penerbit, Dar Ibnu al-Jauzi. Dan Majallatul Buhuts Al-Islamiyyah edisi 63, diterbitkan bulan Robiul Awal sampai Jumadi Ats-Tsaniyah th. 1422.

    [5] . Silahkan pembaca melihat kitab  Ahkâmul Janâ-iz atau talkhishnya yang ditulis oleh Syaikh al-Albani.

    [6] . QS. Az-Zumar: 65.

    [7] . Tafsir Al-Manar, Muhammad Rosyid Ridha [ I/24]

    [8] Hadits riwayat Tirmidzi (no. 1054) dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Sunan At-Tirmidzi bi Ahkâm Al-Albani, dan Irwâ’ul Gholîl Juz. 3, hal. 224

    [9] . QS. Ali Imran: 31.

    [10] Hadits Riwayat Abu Dawud (no. 3230), Ibnu Majah (no. 1568), dan Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod (no. n755) dll. Dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwâ’ul Gholîl no. 760.

    [11] Shohîh Fiqh As-Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal, juz. I, hal. 699. Kata ‘ penghuni baqi’ al-gharqad, bisa kita ganti dengan nama mayit yang kita ziarahi, contoh: setelah kita mengucapkan salam kita berdoa, (  اللهم اغفر فلانا بن فلان  ) ya Allah ampunilah fulan bin fulan, atau kepada seluruh penghuni kubur yang muslim. Wallahu a’lam.

    [12] Hadits riwayat Muslim (no. 975), Nasa-i (no. 2040), dan Ibnu Majah (no. 1547).

    [13]  Hadits riwayat Muslim (no. 974), Nasa-i [ I/278] dll.

    [14]  Hadits Riwayat Muslim (no. 974), Ahmad [VI/221].

    [15]  Al-Mausû`atu -Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz. 24, hal. 89-90.

    [16] Hadits Riwayat Muslim (no. 970), Abu Dawud ( no. 3225) dll.

    Abu Ibrahim Abdul Kholiq

    Referensi : Majalah Lentera Qalbu

    Artikel lainnya :

    Nama Dan Sifat Allah, Kaidah Penting Dalamnya

    Ada Apa Dengan Cinta Pada Sang Ibu?