Sebab-Sebаb Наtі Menjadi Sakit
Ada beberapa sebab yang dapat membuat hati menjadi sakit. Maka kewajiban seorang muslim adalah mengetahui sebab-sebab tersebut dan berusaha untuk menjauhi dan meninggalkannya. Di antara sebab-sebab tersebut ialah:
- Syirik (menyekutukan Allah Ta’ala) dan nifaq
Syirik artinya menyekutukan Allah dengan sesuatu, memalingkan ibadah kepada selain Allah, syirik adalah menjadikan sekutu bagi Allah, misalnya menyembah patung, kubur, pohon, dan lainnya. Atau berdo’a kepada Allah di samping itu juga berdo’a ke-pada selain Allah, meminta pertolongan di saat sulit kepada penghuni kubur, apakah itu kuburnya Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , kuburan para Shahabat, Wali, atau yang selainnya. Semua ini adalah syirik besar.
Adapun syirik itu banyak macamnya; ada syirik besar, ada syirik kecil, ada syirik dalam masalah Rububiyyah, Uluhiyyah, maupun syirik dalam masalah al-Asmaa’ wash Shifaat. Orang-orang yang terus-menerus berbuat syirik dan tidak taslim (tunduk) kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, maka Allah tidak ingin untuk membersih-kan hati mereka. Seperti halnya dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik, dimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, yang artinya: “Wahai Rasul (Muhammad)! Janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman,” padahal hati mereka belum beriman; dan juga orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar (berita-berita) bohong dan sangat suka mendengar (perkataan-perkataan) orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya. Mereka mengatakan, “Jika ini yang diberikan kepadamu (yang sudah diubah) terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.” Barang siapa dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, sedikit pun engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya). Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dikehendaki Allah untuk menyucikan hati mereka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat akan mendapat adzab yang besar.” (QS. Al-Maa-idah: 41)
Begitu pula nifaq (sifat munafik), yaitu menampak-kan Islam namun hatinya benci kepada Islam. Orang munafik adalah orang yang hatinya sakit dan bertambah sakit.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:
فِي قُلُوبِهِم مرضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Artinya: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menam-bah penyakitnya itu; dan mereka mendapat adzab yang pedih, karena mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 10)
Orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya adalah orang-orang yang tidak diinginkan oleh Allah untuk membersihkan hati mereka. Adapun syirik adalah dosa besar yang paling besar, kezhaliman yang paling zhalim, kemungkaran yang paling mungkar, kotoran hati dan perusaknya. Orang yang berbuat syirik adalah najis hatinya dan keyakinannya.
Orang yang terus-menerus berbuat kesyirikan dan kemungkaran, maka hatinya akan gelap dan mati serta sulit diajak kepada kebenaran kecuali jika Allah memberikan hidayah taufiq.
- Bid’ah
Orang yang berbuat bid’ah adalah orang yang mengerjakan suatu amalan dalam agama Islam yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabiصَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ . Bid’ah adalah mengadakan sesuatu yang baru dalam agama. Orang yang berbuat bid’ah hatinya gelap, perkataannya gelap, dan akalnya gelap, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ [1]
Bid’ah sangat merusak agama dan lebih dicintai iblis daripada maksiat. Imam Sufyan ats-Tsauriحمة الله ( wafat th. 161 H) berkata:
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا.
“Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiatan. Pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatannya sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari ke-bid’ahannya.”[2]
Di dalam Islam tidak ada bid’ah hasanah. Sabda Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di atas, “Semua bid’ah adalah sesat” menunjuk-kan bahwa semua bid’ah adalah sesat, meskipun orang memandangnya baik.
Sebaik apa pun perbuatan bid’ah tidak akan di-terima oleh Allah, sebagaimana sabda Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدُّ.
Artinya: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama yang tidak ada contohnya dari kami maka ia tertolak.”[3]
Oleh karena itu, dalam dakwah Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa diulang-ulang tentang peringatan keras atas bahaya syirik dan bahaya bid’ah. Sebab, kedua perkara ini sangat berbahaya bagi kehidupan dunia dan akhirat seseorang, merusak agama, merusak hati, merusak akal, merusak persaudaraan, merusak persatuan, dan merusak kehormatan.
- Dosa dan maksiat
Setiap dosa dan maksiat akan merusak hati, seperti durhaka kepada orang tua, memutuskan silaturahim, minum khamr, candu narkoba, muamalah riba, berzina, berjudi, mengambil hak orang lain, mencuri, mendengarkan musik, dan lain sebagainya. Setan akan terus-menerus menggoda manusia agar manusia terperosok dalam kesyirikan, terjatuh dalam bid’ah, dan tenggelam dalam perbuatan dosa dan maksiat. Sebab, setan telah bersumpah: “Demi kemulian mu ya Allah, aku akan sesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba mu yang ikhlas” (QS. Shad: 82)
- Cinta dunia
Ada kabar mutawatir dari ulama Salaf mengatakan, “Cinta dunia merupakan induk dari segala kesalahan (dosa) dan merusak agama. Hal ini ditinjau dari beberapa segi:
Pertama: Mencintai dunia berarti mengagungkan dunia, padahal ia sangat hina di mata Allah. Termasuk dosa yang paling besar adalah mengagungkan sesuatu yang direndahkan oleh Allah Ta’ala.
Kedua: Allah mengutuk, memurkai, dan membenci dunia, kecuali yang ditujukan kepada-Nya. Karena itu, siapa yang mencintai apa yang dikutuk, dimurkai, dan dibenci Allah maka ia akan berhadapan dengan kutukan, murka, dan kebencian-Nya.
Ketiga: Mencintai dunia berarti menjadikan dunia sebagai tujuan dan menjadikan amal dan ciptaan Allah yang seharusnya menjadi sarana menuju kepada Allah dan negeri Akhirat berubah menjadi kepentingan dunia. Sehingga ia membalik persoalan dan memutar kebijaksanaan.
Di sini ada dua persoalan:
1. Menjadikan wasilah (sarana) sebagai tujuan.
2. Menjadikan amal akhirat sebagai alat untuk meng-gapai dunia.
Ini adalah keburukan yang terbalik dari semua sisi. Juga berarti membalik sesuatu pada posisi yang benar-benar terbalik. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)
Keempat: Mencintai dunia membuat manusia tidak sempat (terhalang) melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya di akhirat akibat kesibukannya dengan dunia dan kekasihnya.
Kelima: Cinta dunia menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar manusia.
Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: “Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan ke-kayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”[4]
Keenam: Pecinta dunia adalah orang yang paling banyak disiksa karena dunia, ia disiksa pada tiga keadaan. Ia disiksa di dunia berupa usaha, kerja keras untuk mendapatkannya, dan perebutan dengan sesama pecinta dunia. Dia disiksa di alam barzakh (kubur) dan disiksa pada hari Kiamat.
Ketujuh: Penggila harta dan pecinta dunia yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat adalah orang yang paling bodoh dan paling idiot. Sebab, ia lebih mengutamakan khayalan daripada kenyataan, lebih mengutamakan tidur daripada terjaga, lebih mengutamakan bayang-bayang yang segera hilang daripada kenikmatan yang kekal, lebih mengutama-kan rumah yang segera binasa dan menukar kehidupan yang abadi yang nyaman dengan kehidupan yang tidak lebih dari sekedar mimpi atau bayang-bayang yang segera hilang.
Seorang Muslim dan Muslimah tidak boleh tertipu oleh kehidupan dunia. Dan hendaklah ia mencurahkan waktunya untuk beribadah kepada Allah. Hadits-hadits tentang celaan terhadap dunia dan kehinaannya di sisi Allah sangat banyak.
Diriwayatkan dari Jabir رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ bahwasanya Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berjalan melewati pasar sedang manusia berada di sisi beliau. Beliau berjalan melewati anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil dan telah mati. Sambil memegang telinganya beliau bersabda, “Siapa diantara kalian yang suka membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau bersabda, “Apakah kalian suka jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allah, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau bersabda, “Demi Allah, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.”[5]
- Empat racun hati
Ada empat racun hati, yaitu berlebihan dalam berbicara, berlebihan dalam memandang, berlebihan dalam makan, dan berlebihan dalam bergaul.
- Berlebihan dalam bicara
Rasulullahصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”[6]
Orang yang banyak bicaranya maka ia banyak salahnya, dan kesalahan-kesalahannya itu dapat me-rusak dan membuat hatinya sakit.
- Berlebihan dalam makan
Allah Ta’ala berfirman: “…Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf: 31)
Orang yang banyak makan maka banyak tidur, lalai dan malas belajar, malas mengaji, dan malas beribadah kepada Allah Ta’ala karena banyak makan dan banyak tidur.
- Berlebihan dalam memandang
Memandang dan melihat sesuatu yang diharam-kan, menonton televisi, film, membaca koran, majalah, dan buku-buku porno semuanya akan merusak hati, akal, dan agama seseorang.
Yang harus diperhatikan oleh setiap muslim dan muslimah bahwa acara-acara televisi dan film-film yang ada dan disaksikan oleh kebanyakan orang sekarang ini acaranya 90% lebih adalah tontonan yang tidak bermanfaat, lebih merusak hati, dan agama.
- Berlebihan dalam bergaul
Orang yang pandai bergaul adalah orang yang ber-gaul dengan orang-orang yang dapat menyelamatkan dirinya dari kemurkaan dan siksa Allah Ta’ala. Dia bergaul dengan orang-orang shalih (baik) yang akan membawa dirinya pada ketaatan. Maka, pandai-pandai-lah dalam memilih teman agar kita selamat dunia dan akhirat.
Referensi:
Sebab-sebab sakit hati, ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas, cetakan ke 18, Jumadal Akhirah 1441 H/Februari 2020. Diringkas oleh: Nadia Dika Valency
[1] Lihat Ijtimaa’ul Juyusy al-Islaamiyyah (hlm. 8-9) karya Imam Ibnul Qayyim.
[2] Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no. 238).
[3] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 2697), Muslim (no. 1718 (17)), Abu Dawud (no. 4606), Ibnu Majah (no. 14), Ahmad (VI/240, 270), Ibnu”Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”82
[4] Shahih: HR. Ahmad (V/183), Ibnu Majah (no. 4105), Ibnu Hibban (no. 72-Mawaariduzh Zham-aan), dan al-Baihaqi dalam Syu’abul limaan )XII/539-540, no. 9855), dari Shahabat Zaid bin Tsabit رضاعة. Lafazh ini milik Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 950).
[5] Shahih: HR. Muslim (no. 2957).
[6] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 6018, 6138), Muslim (no. 47), dan at-Tirmidzi (no. 2500), dari Shahabat Abu Hurairah Radiallahu anhu.
BACA JUGA :
