Qona’ah: Telaga yang Tak Pernah Kering
Qona’ah: Telaga yang Tak Pernah Kering – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia seolah tidak pernah merasa cukup. Setiap hari muncul keinginan baru, kebutuhan baru, bahkan cita-cita baru yang tidak ada ujungnya. Orang berlomba-lomba memperbanyak harta, menaikkan status sosial, dan menampilkan kehidupan sempurna di hadapan orang lain. Namun di balik semua itu, banyak hati yang gersang, letih, dan kehilangan makna. Di sinilah pentingnya qana’ah — sikap merasa cukup dengan pemberian Allah — sebagai telaga hati yang tak pernah kering.
Qana’ah bukan berarti berhenti berusaha atau hidup seadanya. Ia justru adalah keseimbangan antara ikhtiar dan ridha. Seorang yang qana’ah tetap bekerja keras, tetap berdoa, dan tetap bermimpi, tetapi ia tidak menjadikan hasil dunia sebagai tolok ukur kebahagiaannya. Ia menerima dengan lapang apa pun yang Allah tetapkan, karena yakin bahwa setiap rezeki sudah diukur dengan penuh hikmah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس
Artinya: “Kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Betapa dalam makna sabda ini. Banyak orang yang hartanya melimpah tetapi hatinya gelisah, sebaliknya ada orang yang sederhana namun hidupnya tenteram. Kekayaan sejati tidak diukur dengan jumlah, melainkan dengan rasa cukup. Hati yang qana’ah adalah hati yang paling kaya, karena ia tidak mudah diombang-ambingkan oleh dunia. Ia tahu, sebanyak apa pun dunia dikumpulkan, tidak akan mengisi kekosongan hati bila Allah tidak memberkahi.
Manusia yang tidak memahami tujuan dan tabiat dunia, mereka akan dengan rakus mengumpulkan harta sehingga melalaikan alam akhirat yang abadi, bahkan mereka tidak me-ngerti untuk apa dia menghimpun harta, padahal Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Artinya: “Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17).
Kemiskinan bukanlah perkara tercela dan bukan suatu hal yang harus disesali bila menimpa seorang hamba. Bisa jadi dengan kemiskinan, Allah akan memuliakan dan mengangkat derajatnya apabila diterima dengan hati lapang dan qana’ah. Sehingga jiwa terhindar dari sifat tamak, tidak berharap nikmat yang ada di tangan manusia, dan tidak rakus mengejar harta dengan menghalalkan segala cara. Demikian itu hanya bisa didapat dengan sikap qana’ah dan mencari harta hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan makanan dan pakaian.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا.
Artinya: “Barang siapa di antara kalian yang memasuki waktu pagi dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya, dan dia memiliki makanan pada hari itu, maka seolaholah dia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya.”[1]
Qana’ah adalah harta simpanan yang tidak pernah habis dan telaga kehidupan yang tidak pernah kering mata tiga sifat ini maka akan menjadi sempurna akalnya: orang airnya, sehingga Abu Hazm berkata, “Siapa yang mempunyai yang mengenali dirinya, orang yang mampu menjaga lisannya dan orang bersikap qana’ah terhadap karunia Allah.”
Sebetulnya nikmat yang dikaruniakan Allah kepada hamba sangat banyak dan berlimpah tak terhingga. Allah Subhanahu Wata’ala befirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nahl: 18)
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: “Nikmat ada tiga macam: nikmat yang telah berhasil diraih dan dirasakan seorang hamba, nikmat yang sedang ditunggu kehadirannya, dan nikmat yang ada namun tidak dirasakan seorang hamba.”
Adapun rakus dan tamak merupakan sifat yang sangat tercela dan lebih berbahaya dibanding serigala yang sedang kelaparan dilepas pada seekor kambing, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:
مَا ذِنْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ.
Artinya: “Tidaklah ada dua serigala yang sedang kelaparan dilepas pada satu ekor kambing maka masih lebih merusak orang yang rakus harta dan ambisi kedudukan (mengorbankan) agamanya.”[2]
Dari Abdullah bin As-Syikhkhir dari bapaknya sampai kepada Nabi, bahwa beliau bersabda,
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ، قَالَ : يَقُوْلُ ابْنُ آدَمَ : مَالِي مَالِي، قَالَ: وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ.
Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” Beliau melanjutkan, “Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku’. Tidaklah engkau mendapatkan sesuatu apapun dari hartamu kecuali apa-apa yang engkau makan kemudian engkau buang, atau yang engkau kenakan kemudian engkau menjadikannya lusuh, atau apa-apa yang engkau sedekahkan kemudian engkau lupakan.”[3]
Pasrah dan tawakal kepada Allah menjadi solusi utama dalam menghadapi krisis ekonomi dan kehidupan serba keku-rangan, serta kerja yang tidak menentu, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكَّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرُ؛ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا.
Artinya: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebe-nar-benarnya tawakal, maka kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, pergi pagi dalam kea-daan perutnya kosong dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang daan kenyang.”[4]
Sebagian ulama berkata, “Sifat rakus membuat penguasa apa-apa yang ada di tangan manusia membuat orang miskin menjadi terhina dan sikap putus asa (tidak mengharapkan terhormat.”
Sebagian ulama berkata, “Jika kamu bertanya kepada sifat rakus, ‘Siapa orang tuamu?’ Maka dia menjawab, ‘Ragu terhadap takdir. Jika kamu bertanya, ‘Apa profesimu?’ Maka dia menjawab, ‘Mencari kehinaan.’ Jika kamu bertanya, ‘Apa tujuanmu?’ Maka dia menjawab, Tertahannya harapan.”
Tanda-tanda orang bahagia adalah:
a. Semakin bertambah ilmunya, semakin rendah hati dan bertambah kasih sayangnya,
b. semakin bertambah amalnya, semakin bertambah rasa takutnya,
c. semakin bertambah umurnya, semakin berkurang perasaan rakusnya,
d. semakin bertambah hartanya, semakin bertambah keder-mawanan dan kemurahan hatinya, dan
e. semakin bertambah tinggi jabatannya, semakin dekat dengan rakyat.
Pokok dari segala urusan adalah sabar dan pendek angan-angan. Hendaknya seorang hamba itu bersabar, karena dunia hanyalah hari-hari yang sangat sedikit untuk meraih kenikmatan yang langgeng, seperti orang sakit bersabar dengan pahitnya obat demi kesembuhannya.
Sementara pemandangan yang ada sekarang adalah bagaimana tamaknya sebagian besar manusia terhadap dunia. Mereka pergi pagi-pagi mencari harta, bahkan dini hari sudah bertebaran di pasar-pasar. Shalat malam dan Shubuh, entah masih ada atau tidak dalam pikirannya.
Yang di kantor, yang di pabrik, terus saja asyik dengan pekerjaan lemburnya. Tukang pungli, tukang upeti, tukang tipu, tukang peras, dan semua pelaku maksiat terus saja memperebutkan dunia. Mereka saling sikut, saling tendang, saling jegal, takut rezekinya hilang atau dirampas orang. Mereka takut miskin, takut lapar, atau hidup serba pas-pasan.
Penjaja syahwat terus saja terlena, mempercantik diri, me-muluskan tubuh, mengumbar auratnya. Yang pelacur, yang artis, yang penari, yang foto model, yang peragawati terus saja beraksi tanpa malu-malu lagi. Mereka senantiasa bangga menciptakan jurus-jurus neraka, jurus ngebor, jurus patah-patah, jurus gergaji, dan entah jurus apa lagi, hanya untuk mengejar recehan.
Bukankah dunia seisinya di sisi Allah tidak lebih berharga dari bangkai anak kambing yang cacat? Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
فَوَاللَّهِ! لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هُذَا عَلَيْكُمْ.
Artinya: “Demi Allah, sungguh dunia itu benar-benar lebih hina di sisi Allah daripada (bangkai kambing) ini untuk kalian. “[5]
Aun bin Abdullah berkata, “Orang-orang bijak pada zaman dahulu saling menulis pesan untuk teman-temannya, ‘Siapa yang beramal untuk akhiratnya, maka Allah akan mencukupi keduniaannya, siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah 35, maka Dia akan memperbaiki hubungannya dengan manusia, dan siapa yang memperbaiki batinnya, maka Allah akan memperbaiki zhahirnya’,Perilaku mereka benar-benar mencerminkan dari ketidak tahuan mereka akan tabiat dunia. Bukankah dunia itu seperi air laut? Semakin engkau meminumnya, maka engkau akan semakin merasa dahaga.
Bandingkanlah, bagaimana orang-orang shalih bersikap terhadap dunia, dan bagaimana pula orang-orang awam begitu diperbudak oleh gemerlapnya dunia dan isinya.
REFERENSI:
Diambil dari buku Rintangan Setelah Kematian karya Ustaz Zainal Abidin Syamsuddin – Jakarta: Penerbit Imam Bonjol, 2021.
Oleh: Sahl Suyono, B.A (Staff Pengajar Ponpes Darul-Qur’an wal Hadis OKU Timur)
[1] HR. At-Tirmidzi
[2] HR. At-Tirmidzi
[3] HR. Muslim
[4] HR. At-Tirmidzi
[5] HR. Muslim
BACA JUGA :
