Mengobati Penyakit Hati
Mengobati Penyakit Hati – Setiap penyakit pasti ada obatnya, dan tidaklah Allah Ta’ala menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya. Hati yang sakit masih dapat diobati, dan diantara obat penyakit hati ialah :
- Mentauhidkan Allah dan menjauhkan syirik
Obat yang paling mujarab untuk membersihkan hati adalah dengan mentauhidkan Allah dan menjauhkan syirik, ikhlas, serta beriman dengan keimanan yang benar. Tidak ada kebaikan, kelezatan ,kenikmatan, dan kebaikan hati melainkan jika Allah sebagai Rabb-Nya, penciptanya yang maha esa, satu-satunya Dzat yang dibadahinya, puncak tujuannya, dan paling dicintainnya daripada yang lain. Setiap muslim wajib meyakini semua yang ada dilangit, di bumi, dan diantara keduanya, semua itu adalah milik Allah عز وجل, segala puji bagi-Nya. Oleh karena itu, wajib bagi makhluk untuk mentauhidkan Allah عز وجل, beribadah hanya kepadanya , merasa takut, harap, cinta, tawakkal, taubat, memohon, meminta hanya kepada Allah semata. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
إياك نعبد وإياك نستعين
Artinya: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah :5)
Dengan mentauhidkan Allah , hati menjadi hidup, sehat, selamat, dan bahagia. Ketahuilah bahwa nanti dihari kiamat setiap manusia akan ditanya tentang beberapa perkara :
Pertama, Bagaimana kita beribadah kepada Allah
Kedua , bagaimana kita mengikuti Nabi.
- Menuntut ilmu syar’i dan mengamalkannya, serta menerima kebenaran dan mengamalkannya
Menuntut ilmu syari adalah ladang penyubur iman. Nabi diutus oleh Allah kepada seluruh ummat manusia dengan membawa dua hal, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh. Karenanya, konsekuensi dari menuntut ilmu adalah menerima kebenaran dan mengamalkannya. Orang yang paling bahagia adalah orang yang menuntut ilmu syar’i ,ikhlas karena Allah , dan mengamalkannya.
- Menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat
Urutan dosa dan maksiat dari yang paling besar adalah syirik, kemudian bid’ah, lalu kemaksiatan secara umum. Kesemuanya ini harus dijauhkan dari amalan seorang muslim sehari-hari. Imam Ibnul Qayyim membahas hal ini secara khusus dalam kitab tersendiri berjudul ad-Daa’ wad Dawaa’ (penyakit dan obatnya).
- Berdzikir dan beristigfar
Berdzikir yang sesuai dengan sunnah nabi dapat mengobati hati yang sakit. Maka, hendaknya setiap muslim dan muslimah membiasakan diri berwirid dengan dzikir-dzikir yang berasal dari sunnah-sunnah Nabi, seperti dzikir ketika mau tidur, bangun dari tidur,dzikir pagi dan petang,dzikir ketika berangkat kemasjid,dzikir masuk dan keluar masjid,dzikir setelah shalat yang wajib, dzikir masuk dan keluar WC, dzikir ketika berpakaiyan, serta banyak beristighfar dan memohon ampun kepada Allah. Sebab dalam dzikir akan mendapatkan ketenangan hati, sebagaiman firman Allah Ta’ala:
الذين ءامنوا ويطمئن قلوبهم بذكر الله ألا بذكر الله تطمئن القلوب
Artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengigat Allah. Ingatlah , hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Allah Ta’ala berfirman:
وبالأسحار هم يستغفرون
Artinya: “Dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat: 18)
- Membaca Al-Qur’an setiap hari
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وننزل من القران ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد الظالمين إلا خسارا
Artinya: “Dan kami turunkan dari Al-Qur’an ( sesuatu ) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman,sedangkan bagi orang-orang dhzalim ( Al-Qur’an itu ) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82)
Allah Ta’ala berfirman:
يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Rabb-mu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” ( QS. Yunus: 57)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لاتجعلوا بيوتكم مقابر إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة
Artinya: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, karena sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqarah.” (Muttafaqun Alaih)
Setiap muslim dan muslimah harus membaca Al-Qur’an setiap hari, disertai tadabbur ( mempelajari dan memahami isinya ) dan mengamalkanya. Sebab, di dalam Al-Qur’an itu terkandung penawar hati yang sakit.
- Selalu bertaubat kepada Allah Ta’ala
Seorang yang beriman harus selalu bertaubat kepada Allah setiap hari. Nabi bertaubat sebanyak 100 kali dalam sehari. Bahkan pernah dalam satu majelis Nabi seratus kali mengucapkan:
رب اغفرلي وتب علي إنك أنت التواب الغفور
“Ya Allah, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat, Maha pengampun.”
Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengucapkan,
رب اغفرلي وتب على إنك أنت تواب رحيم
Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya engkau Maha penerima taubat , Maha penyayang.
- Berbuat baik kepada Manusia
Berbuat baik, membantu ,dan menolong manusia akan menjadikan hati itu menjadi sehat dan hidup. Adapun orang yang lebih berhaq supaya kita berbuat baik kepadanya adalah kedua orang tua kita. Allah Ta’ala memerintahkan kepada ummat manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وبالوٰلدين إحسٰنا
Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua…” (QS. An-Nisaa’: 36)
Berbuat baik kepada orang tua akan melapangkan dada, memudahkan urusan, dan dapat memasukkan seseorang ke dalam surga.
Kemudian setelah berbuat baik kepada orang tua kita harus berbuat baik kepada suamu atau istri,kepada anak, kepada sanak kerabat, kepada tetangga, dan seluruh kaum muslimin. Seorang muslim harus bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
خير الناس أنفعهم للناس
Artinya: “Sebaik – baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, dan lainnya)
- Membuang berbagai kotoran hati
Agar hati menjadi sehat ,maka seorang muslim harus selalu berusaha untuk membuang seluruh kotoran hati, seperti cinta dunia, tamak , sombong, ‘ujub ( bangga diri ), dikuasai hawa nafsu, hasad ( dengki/iri hati ), bakhil ( kikir/pelit ), nifaq ( kemunafikan ), riya’ ,senang dipuji, senang pamer, pengecut, curang, tidak bersikap jujur, dan yang lainnya. Semua ini wajib dibersihkan dari hati setiap muslim.
Di awal -awal masa diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai Rasul, beliau diperintah oleh Allah Subhanahu Wata’ala:
وثيابك فطهر
Artinya: “Dan pakaianmu hendaklah engkau bersihkan .” (QS. Al- Mudatstsir: 4)
Yang dimaksud dengan pakaian ثياب disini menurut penjelasan para ulama adalah hati قلب maksudnya adalah “ dan hatimu hendaklah engkau bersihkan.“
- Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف وفي كل خير احرص على ما ينفعك واستعن با الله ولا تعجز وإن أصابك شيء فلا تقل : لو أني فعلت كان كذا وكذا ولٰكن قل : قدر الله وماشاء فعل فإن لو تفتح عمل الشيطان.
Artinya: “mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah , dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah ( dalam segala urusanmu ) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, ‘seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, ‘tetapi katakanlah , ‘ini telah ditaqdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang dia kehendaki, ‘ karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka ( pintu ) perbuatan setan.” (HR. Muslim)
Setiap mukmin dan mukminah hendaknya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Betapa banyak orang muslim yang terlihat sibuk namun tidak melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya, seperti membicarakan aib orang lain, bermain -main yang tidak bermanfaat, berangan-angan kosong ,dan sebagainya.
Referensi:
Manhajs Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam Tazkiyatun Nufus karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, penerbit Pustaka At-Taqwa, Bab 6, hal 119-128.
BACA JUGA :
