Menggapai Kepemimpinan Sejati
Kepemimpinan identik dengan tanggung jawab, sekalipun kebanyakan manusia menyamakan kepemimpinan dengan kekuasaan, kedudukan, peluang atau kekayaan. hawa nafsulah yang telah merubah cara pandang seseorang terhadap kepemimpinan, sehingga mereka berani berebut amanat yang mereka belum tentu mampu menunaikannya.
Amanat bukanlah perkara yang ringan. tanggung jawab besar ada di pelupuk mata. penyesalan dan kehinaan akan dipikul nya jika amanat disia-siakan. setiap pemimpin akan ditanya perihal kepemimpinannya. Allah azza wa jalla berfirman:
عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ, فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Artinya: “Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. [1]
bagaimana menjadi seorang pemimpin yang sejati? konsep yang semacam apa yang harus kita terapkan dalam menjalankan roda kepemimpinan? ikuti ulasan sederhana berikut ini.”
- Pemimpin yang baik berawal dari diri sendiri
Maksudnya adalah bahwa seorang pemimpin sejati harus membuktikan kepada diri sendiri sebelum memerintah atau melarang orang lain. dan inilah yang disebut hikmah dalam memimpin.Al-Mujahid rahimahullah berkata “Al-hikmah adalah ketetapan dalam ucapan dan perbuatan.” begitu juga perjalanan hidup para Nabi sebelum mereka menjadi pemimpin umatnya, mereka dikenal oleh kaum mereka dengan kemuliaan akhlak. di antara contohnya adalah Nabi Shalih ‘Alaihis salam.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
قَالُوْا يٰصٰلِحُ قَدْ كُنْتَ فِيْنَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هٰذَآ
Artinya: “Kaum Tsamud berkata: sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan.”[2]
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah berkata, ” ini adalah persaksian mereka atau kaum Stamud atas nabi mereka, yaitu Shalih bahwa beliau dikenal dengan kemuliaan akhlak dan kebaikan sifat. Dan beliau adalah orang yang terbaik di kaumnya.
Begitu pula para nabi, mereka adalah orang-orang yang berakhlak mulia dan memiliki citra positif di kalangan kaum mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Artinya: “Dan Zakaria, Yahya, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih.” (QS. al-An’am[6]: 85)
Maka pemimpin yang sejati adalah yang memulai kebaikan dari dirinya sendiri sebelum memerintahkan kepada orang lain.
- Sifat pemimpin sejati
Seorang pemimpin sejati akan senantiasa menjalankan amanah dan tugas yang diembankan kepadanya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِه ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah maha mendengar lagi maha melihat.” [3]
maka takutlah engkau wahai saudaraku berharap terhadap amanah yang ada di pundakmu. janganlah engkau melalaikannya karena mencari kelezatan dunia yang sifatnya sementara karena engkau akan ditanya tentang amanah ini!
- Jujur dan cakap dalam bekerja
Kejujuran adalah syarat mutlak bagi seorang yang bekerja karena bentuk menunaikan amanah adalah berbuat jujur dan tidak khianat. seorang pemimpin juga harus cakap dalam menunaikan tugas, bukan hanya menumpang nama tapi tidak pernah kerja, bukan hanya formalitas tapi tidak ada wujud kerja nyatanya: syarat dua ini jujur dan cakap Allah sebutkan dalam firmannya:
قَالَتْ اِحْدٰهُمَا يٰاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ
Artinya: “salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai bapakku Ambillah ia sebagai orang yang bekerja pada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja pada kita ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. “[4]
- Tawadhu’
pemimpin yang sukses adalah yang menyampaikan sikap tawadhu’ (rendah hati), menunjukkan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Apa yang diraih dari keberhasilan program, prestasi yang tinggi semata-mata karunia dari Allah bukan usaha pribadi. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
Artinya: “dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan berkali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”[5]
- Menjaga diri dari harta haram
posisi yang strategis dengan kursi yang megah dan empuk membuat sebagian pemimpin Buta Hati dan matanya. Proyek yang seharusnya tidak perlu malah disetujui. biaya yang seharusnya bisa dihemat malah dimanipulasi. semua ini harus dijauhi haram hukumnya karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.”[6]
maka wajib bagi para pemangku amanah untuk membersihkan dirinya dari harta yang haram Jadi janganlah posisinya sebagai pemimpin dijadikan alat untuk merengguk keuntungan pribadi dengan membuat tipu muslihat membuat laporan palsu korupsi, dan sebagainya.
- Berbuat adil, bijaksana dan tidak semena-mena
Adil secara bahasa adalah menghukumi dengan benar. yaitu pertengahan antara sifat berlebihan dan meremehkan. sungguh Keadilan adalah asas tegaknya kebaikan di muka bumi. sebaliknya kecurangan dan kezaliman adalah asas kejelekan dalam Setiap perkara. Allah berfirman mengisahkan Nabi Syu’aib radhiyallahu anhu berkata:
وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Artinya: “Hai kaumku, cukuplah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” [7]
Seorang pemimpin sejati adalah yang mampu berbuat adil dan bijaksana dalam mengurus bawahannya membagi pekerjaan secara adil, tidak memberatkan dan membebani di luar kesanggupan anak buahnya, selalu mawas diri untuk tidak berbuat aniaya karena perbuatan zalim adalah kegelapan pada hari kiamat.
- Berakhlak mulia
Orang yang punya akhlak sopan santun, dan adab adalah tanda jiwa yang mulia pemimpin yang punya tata krama dan akhlak akan tinggi derajatnya di mata orang lain. Pemimpin yang selalu menebar senyuman, bersifat lembut selalu berterima kasih terhadap pekerjaan yang baik mampu menahan emosi pemadam memudahkan urusan adalah tanda kebaikan jiwa sang pemimpin Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya: “Ya Allah, barang siapa yang mengurusi urusan umatku kemudian dia mempersulit mereka makalah kesulitan padanya. Dan barang siapa yang mengurusi urusan umatku dan dia mempermudah maka mudahkanlah dia. “
Referensi:
Majalah Al Furqan Edisi 9 tahun ke-13
Ditulis oleh ustadz Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman حفظه الله
Diringkas oleh: Alam Ramadhan (pengabdian)
[1] (QS. al-Hijr[15]:92-93)
[2] (QS Hud [11]:62)
[3] (QS. an-Nisa[4]:58)
[4] (QS. al- Qashash[28]:26)
[5] (QS. al-Isra[17]:37)
[6] (QS. an-Nisa’ [4]:29)
[7] (QS. Hud [11]: 85)
Baca juga artikel:

Leave a Reply