Skip to content

Keikhlasan Dan Popularitas Dalam Menuntut Ilmu

ykkokut
9 menit baca
keikhlasan dan popularitas dalam menuntut ilmu

Keikhlasan Dan Popularitas Dalam Menuntut Ilmu – Ilmu adalah cahaya yang menuntun jiwa, pelita hati yang menyingkap gelapnya kebodohan dan ladang pahala yang tidak terlihat oleh mata namun terasa oleh nurani. Menuntut ilmu merupakan sebuah ibadah mulia yang harus diniatkan dengan penuh keikhlasan karena Allah. Ikhlas merupakan ruh yang menuntun hati agar tidak tersesat. Ikhlas juga kunci yang membedakan amal yang diterima Allah dari yang hanya sekadar perbuatan lahir. Tanpa ikhlas, segala amal termasuk menuntut ilmu, hanyalah gerakan lahir yang tampak indah, tetapi di dalamnya kosong tanpa nilai.

Zaman boleh berubah dan teknologi terus berkembang, tetapi hakikat ilmu tetap sama: ia tidak betah berada di hati yang ingin serba cepat. Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar informasi, melainkan penempaan jiwa yang menuntut ketenangan, kesabaran, dan kesediaan menjalani proses panjang. Imam Malik rahimahullah menyatakan bahwa ilmu bukan diukur dari banyaknya bacaan, tetapi cahaya yang Allah tanamkan di dalam hati. Sejalan dengan itu, riset pendidikan modern menunjukkan bahwa pemahaman mendalam hanya lahir dari belajar yang lambat, fokus, dan penuh perjuangan, bukan dari ringkasan instan atau kebiasaan multitasking.

Ulama salaf mengajarkan bahwa proses adalah inti pendidikan sejati. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menegaskan pentingnya mencatat, menghafal, dan mengulang, sementara Al-Qur’an sendiri menghadirkan kisah Musa dan Khidr ‘alaihimassalam sebagai pelajaran bahwa ilmu membutuhkan kesabaran (QS. Al-Kahfi: 67). Para ulama salaf, bahkan, menghabiskan puluhan tahun dalam pencarian ilmu dan menyimpulkan bahwa tak ada ilmu tanpa kesabaran. Ini ditegaskan pula oleh penelitian kontemporer yang membuktikan bahwa effortful learning membentuk daya ingat lebih kuat, pemahaman lebih dalam, dan kematangan sikap.

Ilmu sejati menuntut duduk lama, bukan sekadar secara fisik, tetapi juga mental: mengosongkan diri, tidak tergesa-gesa, dan rela mengulang sampai paham. Psikologi menyebutnya sustained attention, kemampuan fokus jangka panjang yang terbukti meningkatkan pemahaman hingga beberapa kali lipat.

Ringkasnya, proses lebih penting daripada hasil. Ia melatih kerendahan hati, membangun stamina belajar, menajamkan kehati-hatian memilih guru dan sumber, serta menumbuhkan keberkahan. Ilmu tidak memilih hati yang ingin serba cepat, tetapi menetap pada jiwa yang sabar menapaki perjalanan panjang menuju cahaya pemahaman.

Menuntut ilmu bukan sekadar membaca, menghafal atau menulis catatan, tapi ilmu adalah ibadah yang menuntut kesungguhan hati, menegakkan tauhid, menata jiwa dan menyalakan lentera bagi setiap amal. Ibnul Jauzi berkata, “Ilmu adalah ibadah hati.” Ilmu adalah ibadah hati yang memengaruhi ibadah fisik. Menuntut ilmu merupakan jalan mengenal Allah, menegakkan kebenaran dan menjadi cahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Syaikh Al-Utsaimin berkata, “Ilmu adalah amal shalih terbaik dan merupakan ibadah paling mulia, jauh lebih mulia dari segala jenis ibadah sunnah, karena menuntut ilmu bagian dari bentuk jihad.”

Menuntut ilmu harus dibangun di atas dasar tauhid yang murni, tanpa bercampur nafsu dunia atau keinginan untuk terlihat di mata manusia. Ikhlas bukan hanya ucapan, tetapi tercermin dalam tujuan belajar, cara menempuh jalan dalam menuntut ilmu, adab terhadap guru dan buah ilmu yang tampak dalam amal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. (HR. Al-Bukhari nomor 1, Muslim nomor 1907).

Pada hari ini, kita hidup di era digital, hampir setiap detik hidup manusia terekam dan dibagikan di media sosial. Tidak terkecuali para penuntut ilmu. Rak buku yang tertata rapi, catatan yang tertulis indah atau meja belajar yang bersih sering dijadikan konten yang dikagumi, di-like dan dibagikan. Fenomena ini tampak sepele bagi sebagian orang, tetapi bagi penuntut ilmu, ini merupakan ujian besar. Ada suatu hal penting yang tersembunyi di balik layar. Apakah catatan itu dibagikan untuk menginspirasi atau sekadar untuk dipuji? Apakah buku itu difoto untuk menebar manfaat atau untuk memamerkan diri? Apakah belajar itu direkam agar ilmu diamalkan atau agar terlihat rajin?

Allah Ta’ala menilai hati yang tidak tampak secara kasat mata, sementara manusia menilai apa yang mereka tatap pada layar. Ini titik penting dalam hidup penuntut ilmu untuk meneguhkan niat agar setiap langkah menuju ilmu tetap berada di jalan ikhlas, karena ilmu adalah ibadah dan niat adalah kuncinya. Bagi yang mem-posting, dilema ini halus tapi nyata. Menampilkan catatan, rak buku atau video belajar bisa menjadi jembatan pahala atau sarana menuju riya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْسَنَّفِيالْإِسْلَامِسُنَّةًحَسَنَةً،فَلَهُأَجْرُهَا،وَأَجْرُمَنْعَمِلَبِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ.

Artinya: Barang siapa memulai dalam Islam suatu sunnah yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. (HR. Muslim nomor 1017).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Artinya: Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya. (HR. Muslim nomor 1893).

Dua hadits ini membuka pintu pemahaman bahwa menampilkan amal, termasuk kegiatan saat belajar, dibolehkan jika niatnya untuk menebar manfaat. Jika seseorang mem-posting catatan atau rak buku untuk memotivasi orang lain agar mereka semangat menuntut ilmu atau mengambil manfaat dari catatannya, ia akan menuai pahala sebagaimana orang mengamalkan apa yang ada pada catatannya. Namun jika niatnya tercemar, hanya ingin dipuji atau membanggakan diri, sungguh Allah tidak akan menerima amal tersebut.

Setiap muslim hendaknya memahami bahwa ilmu yang dijadikan hiasan bukan untuk Allah akan membutakan hati dan ilmu yang seharusnya menuntun jiwa malah menjadi panggung untuk meraih ambisi. Panggung itu selalu ramai dengan tepuk tangan manusia yang fana, sementara pahala ibadah dalam menuntut ilmu itu tidak didapatkan. Menampakkan ibadah di hadapan manusia, apalagi itu hanya berpura-pura maka termasuk dosa yang sangat buruk sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi, “Termasuk dosa yang paling buruk adalah riya’, berpura-pura khusyuk, serta menampakkan zuhud di hadapan manusia. Alasannya, hal itu sama seperti beribadah untuk mereka, sementara sisi hak Allah Ta’ala diabaikan.”

Namun, jika memang diniatkan untuk kebaikan dan ternyata di tengah jalan, pujian dan like itu dirasakan membuka pintu hati untuk riya, kebaikan itu hendaknya tetap dilanjutkan. Dr. Misy’al Abdul Aziz Al-Falahi berkata, “Bisa saja riya dan kecintaan terhadap ketenaran menimpamu di awal perjalananmu melakukan kebaikan, maka jangan berhenti karena hal itu. Terus berjalan dan mintalah kepada Allah dengan memelas dalam doamu agar Allah menjauhkan engkau dari sifat buruk itu, menyelamatkan engkau dari pengaruh buruknya dan membantumu untuk mendapatkan kebaikan darinya. Siapa yang jujur untuk Allah maka Allah akan memudahkannya sampai pada tujuannya.”

Di sisi yang berbeda, penuntut ilmu lain yang menyaksikan postingan itu berada dalam pergulatan hati. Setiap unggahan berpotensi memancing iri, dengki atau prasangka buruk. Tentang hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

Artinya: Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta. (HR. Bukhari, nomor 4849).

Sebaliknya, kita berhusnuzhan kepada saudara kita sesama penuntut ilmu. Husnuzhan menjadi tameng hati, menjaga agar hati tetap bersih dari benih iri dan kebencian. Melihat unggahan orang lain, apalagi yang tampak lebih rajin atau lebih cerdas, bukan tugas kita untuk menuduhnya. Bisa jadi ia menampilkan catatan atau rak buku sebagai motivasi, sebagai syiar kebaikan atau pengingat bahwa belajar itu indah. Menuduh tanpa bukti hanya menumbuhkan benih kebencian, yang lambat laun bisa menghancurkan ketenangan jiwa. Hati-hati dalam hal ini!

Dr. Misy’al Abdul Aziz Al-Falahi menyebutkan fenomena tersebut, “Niat itu amalan hati. Tidak seorang pun boleh menghukumi niat seseorang. Sedangkan hari ini orang mudah saja menghukumi niat orang lain dengan berkata, ‘Dia sebenarnya menginginkan ini,” “Sebenarnya dia melakukan ini.” Orang yang mem-posting bisa menegaskan niatnya melalui langkah sederhana, seperti menghadirkan niat ikhlas sebelum mengunggah, menekankan manfaat di caption atau konteks dan merenungkan perasaan setelah unggahan. Apakah puas karena memberi manfaat, atau karena like dan komentar?

Namun semua niat yang lurus, semua catatan yang rapi dan setiap video atau ilmu yang dibagikan akan kehilangan makna jika ilmu itu hanya berhenti di kepala. Bayangkan pohon yang manfaatnya ada pada buah, batangnya rindang, daunnya hijau, namun tidak pernah berbuah. Keindahannya memikat mata, tetapi tidak memberi manfaat bagi siapa pun, bahkan bagi pemiliknya sendiri. Begitu pula ilmu yang tidak diamalkan, ia bisa tampak mulia, tampak agung, bahkan bisa menjadi alasan orang memuji kita, namun ia tidak menuntun hati kepada Allah, tidak menumbuhkan ketakwaan dan tidak memberi cahaya bagi orang lain. Syaikh Saa’d Yusuf Muhammad menyebutkan di antara adab menuntut ilmu adalah mengamalkannya kemudian, dia berkata, “Pengamalan adalah tujuan utama dalam menuntut ilmu”

Ilmu yang tidak diamalkan menjadi bukti lemahnya iman. Allah Ta’ala berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

Artinya: Apakah kamu menyuruh manusia berbuat kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?.” (QS. Al-Baqarah: 44).

Inilah saatnya seorang penuntut ilmu menundukkan kepalanya dan bertanya jujur kepada hatinya. Apakah setiap pelajaran yang dipelajari telah menuntun diri kita pada amalan nyata atau hanya menjadi hiasan kosong yang membutakan jiwa? Apakah kita belajar agar Allah ridha, atau sekadar untuk menampilkan kesan rajin dan cerdas di hadapan manusia? Pertanyaan sederhana ini menjadi pengukur sejati, karena Allah tidak menilai catatan indah atau banyaknya buku yang dibaca, melainkan menilai buah amal yang lahir dari ilmu itu.

Lebih jauh lagi, hari ini seorang penuntut ilmu hidup di tengah keramaian syubhat dan hoaks yang mengalir deras di media digital. Setiap klik, unggahan dan komentar bisa menjadi jalan kebenaran atau kesesatan. Tidak sedikit orang terseret ke dalam arus informasi dangkal, menelan apa yang tampak indah, memuji yang viral dan menyebarkan apa yang populer, tanpa menimbang kebenaran atau memeriksa asal-usulnya. Menuntut ilmu bukan sekadar membaca, menonton, atau meniru tetapi menuntut kepastian dalam kebenaran. Seorang penuntut ilmu yang ikhlas dan bersungguh-sungguh menolak hoaks, tidak terseret opini lemah. Ia menempatkan ilmu sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, sehingga ia meneliti sumber, menimbang dalil dan menolak menyebarkan apa yang belum dipastikan kebenarannya. Akhirnya, kita menyadari bahwa menuntut ilmu adalah jalan menuju Allah, bukan jalan menuju popularitas. Ia adalah ibadah tauhid, bukan panggung pencitraan. Di zaman digital ini, ujian ikhlas semakin berat, tetapi pahala bagi orang yang jujur dan istiqamah juga semakin besar.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam menuntut ilmu, yang menjaga tauhid dalam niat, yang selamat dari riya yang tampak maupun tersembunyi, yang mengambil ilmu dari sumber yang jelas, serta yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan dengan mengamalkannya hingga akhir hayat. Amin.

Referensi:

Ditulis oleh : Abu Ady, Majalah HSI Edisi 85 Rajab 1447 H

Diringkas oleh : Aryadi Erwansah (Staf Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur).

BACA JUGA :

Bagikan:

Artikel Terkait

ilmu mu sudahkah di amalkan
Tarbiyah 07/03/2026

Ilmumu Sudahkah Diamalkan?

Ilmumu Sudahkah Diamalkan? – Segala puji hanya milik Allah rabb alam semesta, barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada utusan-Nya nabi kita Muhammad, shalawat juga untuk para keluarga dan […]

Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat
Adab 28/02/2026

Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat

Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat Pendahuluan Memaafkan merupakan salah satu akhlak agung dalam Islam. Allah mendidik kaum Muslimin agar menjadikan pemaaf sebagai karakter utama, karena sifat ini mencerminkan kelembutan hati, ketakwaan, dan kesempurnaan iman. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari kesalahan, perselisihan, dan kekhilafan. Di sinilah syariat mengajarkan bahwa memaafkan adalah jalan terbaik […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map