Iri Dengkimu Adalah Deritamu
Iri Dengkimu Adalah Deritamu – Sifat hasad atau dengki pada hakikatnya merupakan sumber penderitaan bagi pelakunya sendiri. Hasad adalah sebuah penyakit hati yang secara diam-diam akan menggerogoti dan memakan habis setiap pahala dan kebaikan yang telah dikumpulkan dengan susah payah oleh seorang hamba. Penghancuran kebaikan ini berlangsung dengan sangat cepat, layaknya api yang melahap kayu bakar yang telah mengering. Peringatan keras akan bahaya hasad ini secara tegas disampaikan di dalam hadits:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya: “Jauhilah oleh kalian sifat hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar yang kering.” (Hasan lighairihi, HR. Abu Dawud (4903))
Penggunaan kata hubung “fa” (فَ) yang berarti “maka/karena sesungguhnya” dalam hadis tersebut—bukan “wa” (وَ) yang berarti “dan”—menunjukkan betapa cepat dan seketikanya proses kehancuran pahala tersebut. Tidak ada jeda bagi kebaikan untuk bertahan ketika hasad sudah bersarang di dalam dada. Karenanya, hasad dimasukkan ke dalam golongan perbuatan yang lekat dengan tipu daya setan. Hal ini yang mendasari perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar setiap hamba selalu memohon perlindungan dari kejahatan pendengki, sebagaimana termaktub di dalam ayat Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wata’ala:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (٤) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (٥)
Artinya: “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.'” (QS. Al-Falaq: 1-5).
Sebagai manusia yang memiliki hawa nafsu, perasaan iri hati adalah sebuah tabiat yang sulit untuk dihilangkan secara total. Namun, syariat Islam yang sempurna telah memberikan alokasi yang tepat untuk menyalurkan perasaan tersebut pada tempat yang dibenarkan. Hasad yang diharamkan mutlak secara hukum, dikecualikan hanya pada dua perkara kebaikan (yang dalam istilah syariat dikenal sebagai Ghibtah). Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Artinya: “Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal: seseorang yang diberikan harta oleh Allah lalu ia pergunakan harta tersebut untuk menegakkan kebenaran, dan seseorang yang diberikan hikmah (ilmu) oleh Allah lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya.” (Muttafaq Alaih)
Perasaan iri diperbolehkan apabila ditujukan kepada seseorang yang dikaruniai kekayaan yang berlimpah, lalu seluruh kekayaan tersebut dikorbankan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Puncak dari keagungan agama ini adalah jihad, dan jihad yang paling utama senantiasa mendahulukan harta sebelum jiwa. Harta benda di dunia pada hakikatnya hanyalah sebuah titipan semata. Keyakinan bahwa harta adalah titipan akan melahirkan sebuah kedermawanan. Rezeki orang lain tak jarang dititipkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui tangan kita. Bersedekah tidak akan pernah mengurangi jumlah harta, justru mendatangkan keberkahan.
Dunia dan segala kemewahannya tidak boleh dijadikan sebagai tujuan utama. Keberadaan manusia di dunia hanyalah persinggahan yang teramat singkat. Dalam hadits disebutkan:
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Artinya: “Apalah artinya dunia ini bagiku. Tidaklah aku berada di dunia ini melainkan bagaikan seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, lalu beristirahat dan kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya (2377))
Segala makanan yang ditelan hanya akan berujung di pencernaan, segala pakaian yang dikenakan pada akhirnya akan usang dan hancur, namun apa yang disedekahkan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah yang akan kekal abadi. Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu, seorang sahabat mulia yang telah dijamin surga, tidak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk beribadah. Hal ini disadari penuh bahwa fase di Padang Mahsyar kelak akan sangat panjang, di mana satu hari terasa seperti seribu tahun, dengan manusia dibangkitkan dalam keadaan yang dipenuhi penderitaan sesuai amalannya. Waktu di dunia adalah modal satu-satunya untuk menghadapi hari perhitungan tersebut. Berbicara tanpa diiringi zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya akan mengeraskan hati, dan manusia yang paling jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah manusia yang berhati keras.
Definisi hasad secara bahasa adalah berharap hilangnya kenikmatan dari orang yang berhak mendapatkannya. Orang yang hasad adalah orang yang menolak takdir (qana’ah), secara tidak langsung ia melayangkan protes kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas pembagian rezeki-Nya. Sifat dengki yang merusak ini merupakan karakter mendarah daging dari orang-orang Yahudi yang sangat tidak rida melihat kelebihan dan karunia yang diturunkan kepada umat Islam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
Artinya: “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena rasa dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 109).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan kehasadan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
Artinya: “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa: 54).
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela hingga umat Islam mengikuti jalan dan kebiasaan mereka. Fenomena kemewahan (tana’um) yang menjangkiti umat Islam hari ini adalah sebuah kemunduran. Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu pernah memberikan nasihat tegas:
إِيَّاكُمْ وَالتَّنَعُّمَ وَزِيَّ الْعَجَمِ
Artinya: “Jauhilah oleh kalian hidup bermewah-mewah dan meniru gaya pakaian orang-orang asing (non-Arab/kafir).” (shahih, HR. Muslim (2069))
Banyak umat Islam hari ini yang merasa lebih bangga dengan gaya hidup dan pakaian buatan orang non-muslim dibandingkan dengan identitas keislaman. Perbankan dikuasai sistem konvensional ciptaan Yahudi, dan mode pakaian didikte oleh orang-orang Nasrani. Lebih jauh lagi, kehinaan yang mendera umat ini akibat meninggalkan syariat telah disabdakan jauh hari, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
Artinya: “Jika kalian berjual beli dengan sistem ‘inah (riba), kalian memegang ekor-ekor sapi, kalian ridha dengan bercocok tanam, dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Allah tidak akan mencabut kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud dalam sunannya)
Berbagai fitnah dan permusuhan akan terus diembuskan di tengah umat Islam, tak jarang datang dari orang-orang berkulit sama dan berbicara dengan bahasa yang sama, namun hati mereka jauh dari kebenaran. Kondisi ini menuntut persaudaraan yang kuat dan menjauhi segala bentuk pertikaian yang tak beralasan. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Artinya: “Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi (memutuskan hubungan), dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Muttafaq Alaih)
Salah satu manifestasi fatal dari penyakit hasad adalah ‘Ain, yaitu pandangan mata penuh ketakjuban yang bercampur kedengkian, yang mampu mendatangkan musibah bagi korbannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah dirukiah oleh Malaikat Jibril Alaihissalam akibat gangguan hasad ini:
بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ
Artinya: “Dengan nama Allah aku merukiahmu, dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang dengki. Allah-lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku merukiahmu.” (HR. Muslim)
Tindakan mengekspos kehidupan pribadi, memamerkan kelemahan, masalah rumah tangga, utang piutang, hingga memamerkan anak, kendaraan, dan rumah baru di media sosial adalah gerbang utama mengundang pandangan ‘Ain. Tidak ada satupun manfaat yang bisa diraih dengan membeberkan masalah di status media sosial, sebaliknya hal tersebut hanya menjadi konsumsi empuk bagi jiwa-jiwa pendengki.
Para ulama, seperti Ibnu Rajab, membagi golongan pendengki ke dalam tiga kelompok utama:
- Golongan pertama adalah mereka yang sekadar berusaha menghilangkan nikmat dari saudaranya, tanpa ada keinginan memindahkan nikmat itu untuk dirinya sendiri. Ini adalah kejahatan murni demi melihat orang lain menderita.
- Golongan kedua adalah mereka yang berupaya menjatuhkan dan merusak nama baik saudaranya dengan lisan dan perbuatan, untuk merampas kenikmatan tersebut agar menjadi miliknya.
- Golongan ketiga adalah mereka yang hasad di dalam batin. Mereka hanya berbicara di dalam hati seraya mengandai-andai agar nikmat tersebut berpindah padanya. Hal ini digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai kaum yang mendengki kekayaan Qarun:
يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Artinya: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Qashash: 79).
Untuk meredam penyakit batin ini, mengingat kematian (zikrul maut) adalah obat yang paling manjur. Abu Darda Radhiallahu ‘anhu pernah memberikan kaidah yang sangat indah: “Semakin banyak seorang hamba mengingat kematian, maka akan semakin berkuranglah kegembiraan (duniawinya) dan rasa dengki di dalam hatinya.” [9] Sejalan dengan hal itu, Ibnu Sirin turut menyatakan ketidakpeduliannya terhadap hasad: “Bagaimana mungkin aku mendengki seseorang karena urusan dunia? Jika dia adalah penduduk surga, dunia tidak ada harganya. Dan jika dia penduduk neraka, untuk apa aku mendengki kepada orang yang sedang berjalan menuju neraka?”
Kunci terbebasnya seseorang dari hasad adalah kebersihan dada terhadap sesama muslim. Sebuah riwayat masyhur mengisahkan bagaimana Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiallahu ‘anhuma membuntuti seorang sahabat Anshar yang dipersaksikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai ahli surga selama tiga kali berturut-turut. Setelah diamati, ternyata rahasia ahli surga tersebut bukanlah pada amalan salat atau puasanya yang luar biasa, melainkan pengakuannya: Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ
Artinya: “Tidak ada amalan selain apa yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan dalam diriku perasaan curang (dendam) terhadap seorang muslim pun, dan aku tidak pernah mendengki seseorang atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya.” (shahih, HR. AL-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (3535))
Guna melindungi diri dari keburukan orang-orang yang hasad, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah merumuskan beberapa kiat pelindung [12]: Pertama, selalu memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan orang-orang hasad. Kedua, bertakwa dengan sungguh-sungguh menjaga setiap perintah dan larangan syariat. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
Artinya: “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (QS. Ali Imran: 120).
Ketiga, bersabar penuh atas setiap permusuhan tanpa perlu membalas atau mengeluhkannya di ruang publik. Keempat, bertawakal sepenuhnya dengan keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengaruniakan furqan (kemampuan membedakan hak dan batil). Kelima, memurnikan tauhid dan senantiasa mendekatkan diri (ikhlas). Keenam, memperbanyak istigfar dan taubat, karena gangguan dari musuh acapkali diakibatkan oleh dosa diri sendiri di masa lalu. Ketujuh, memadamkan rasa dengki musuh dengan membalasnya melalui kebaikan dan doa yang tulus. Menjawab keburukan dengan doa kebaikan justru akan diaminkan oleh para malaikat dan berbalik menjadi rahmat bagi yang mendoakan.
Pada prinsipnya, segala rezeki, maut, dan jodoh adalah ketetapan takdir yang telah tertulis rapi sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Tidak ada istilah “rezeki yang tertukar” atau “diambil oleh orang lain”. Harta yang hilang semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkannya demikian. Mencari rezeki harus ditempuh dengan jalur yang dihalalkan. Menghalalkan segala cara dengan alasan himpitan ekonomi, termasuk mendekati pinjaman riba yang mencekik, sangat diharamkan. Memakan harta riba merupakan kejahatan luar biasa, yang keparahannya disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
الرِّبَا سَبْعُونَ حُوبًا، أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ
Artinya: “Riba itu memiliki tujuh puluh pintu dosa. Yang paling ringan adalah seperti seseorang menzinai ibunya sendiri.” (shahih, HR. Ath-Thabrani (jilid 13/ hal 171)).
Terkait interaksi sosial, muamalah Islam senantiasa menjunjung tinggi nilai hukum asal barang. Dalam merespons pergerakan boikot produk yang perusahaannya terafiliasi membantu kejahatan musuh Islam (seperti Yahudi yang menindas saudara seiman di Gaza, Palestina), secara keilmuan fikih, hukum asal dari makanan atau minuman (selama tidak mengandung najis/babi dan disembelih secara syariat) tetaplah berstatus halal, tidak berubah menjadi haram. Meski demikian, semangat persaudaraan dan keimanan menuntut umat untuk senantiasa mendahulukan dan mendukung ekonomi sesama muslim yang terbebas dari afiliasi kemaksiatan. Segala doa terbaik harus terus dilangitkan untuk saudara muslim di Palestina karena urusan tersebut bukan semata persoalan politik, melainkan kemurnian pertahanan agama Islam.
Apabila cobaan hasad justru datang dari dalam rumah, seperti dari orang tua atau mertua sendiri, kewajiban anak tetaplah berbakti dengan cara memposisikan mereka sebagai sahabat terbaik. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Artinya: “Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).
Komunikasi yang intensif dan santun kepada orang tua akan menutup celah masuknya provokasi dari pihak-pihak luar yang dengki. Seluruh perjalanan hidup adalah tentang menjaga agama, memohon kelurusan hati, dan menolak terbawa arus keburukan yang sengaja diciptakan oleh mereka yang berpenyakit di dalam dadanya.
Referensi:
[1] Hadis Riwayat Abu Daud, No. 4903.
[2] Hadis Riwayat Bukhari, No. 73 dan Muslim, No. 816.
[3] Hadis Riwayat Tirmidzi, No. 2377 dan Ibnu Majah, No. 4109.
[4] Perkataan Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan dalam kitab musannaf/tarikh mengenai larangan tasyabbuh.
[5] Hadis Riwayat Abu Daud, No. 3462.
[6] Hadis Riwayat Bukhari, No. 6065 dan Muslim, No. 2559.
[7] Hadis Riwayat Muslim, No. 2186.
[8] Penjelasan Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali mengenai hakikat dan pembagian golongan Hasad.
[9] Perkataan sahabat Abu Darda Radhiallahu ‘anhu.
[10] Perkataan ulama Tabi’in, Muhammad bin Sirin (Ibnu Sirin).
[11] Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnadnya, No. 12697, mengenai kisah Abdullah bin Amr bin Al-Ash dan seorang pemuda Anshar.
[12] Penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam memaparkan sebab dan penangkal kedengkian.
[13] Hadis Riwayat Ibnu Majah, No. 2274.
Diringkas oleh: Dewi Sartika (pegawai ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)
Meringkas intisari kajian:
Iri Dengkimu Adalah Deritamu | USTADZ SUBHAN BAWAZIER
